Legenda ”Si Gombar”
Saat KA Bersahabat dengan Garut
Minggu, 17/04/2011 - 01:54

 [image: DOK. "PR"/"PRLM"]
DOK. "PR"/"PRLM"
KESABARAN para calon penumpang kereta api di depan Halte Cinunuk, Kecamatan
Wanaraja (1978), menunggu KA jurusan Cibatu-Garut. Kini, bangunan halte
peninggalan sejarah KA itu nyaris sirna tanpa sisa.*

BENAR, tiada kesetiaan seteguh semburat mentari setiap hari. Terbukti,
meskipun peluit petugas DKA (Djawatan Kereta Api) sekian lama tak terdengar
lagi, tetapi sang surya pagi masih abadi menyapa wajah areal stasiun KA
Garut. Isyarat kedatangan kereta api dari jurusan Cibatu dan Cikajang itu,
kini menjadi milik sejarah. Tak seorang pun menduga, jika riwayat
perkeretaapian di Garut tinggal cerita. Lebur terkubur putaran roda zaman.

Layanan jasa KA di Garut yang menggelar lakon panjang sejak zaman Belanda,
mengunci riwayatnya pada pertengahan tahun 1984. Akan tetapi, itu tak
mengeringkan kenangan. Masih terngiang saat bunyi peluit menerpa hilir-mudik
manusia di stasiun. Semua orang menoleh ke arah timur. Kepulan asap hitam
lok KA, melatari sasak gantung yang menggantung di atas rel lintasan kereta
api di Jln. Ciwalen. Sebatas kasatmata masih bebas pandang.

Di sepanjang rel itu, belum ada permukiman yang tak beraturan. Manakala
kereta harus menanti sinyal dibuka, gumpalan asap hitam dari cerobong lok
makin membubung. Lalu terdengar lengking nyaring hatong uapnya sebagai
klakson dari lokomotif bergelar ”Si Kuik” dan ”Si Gombar” itu. Dari arah
timur itu, KA Cibatu-Garut menyeruak. Kereta lain jurusan Cikajang, muncul
dari arah barat stasiun. Lengkingan hatong KA bersahutan, seolah bertegur
sapa.

Gemuruh mesin lok kereta mengusik penduduk di perdesaan hingga pusat
perkotaan Garut. Tak lain, karena lokasi stasiun terhampar di jantung
perkotaan. Dari arah Pengkolan (Jln. A.Yani) stasiun berada di ujung Jln.
Kenari (Veteran) menikung ke Jln. Bank. Di seberang stasiun, markas Kodim
0611 berhadapan dengan Kantor CPM. Di depan stasiun, ada pom bensin yang
hanya disekat Jln. Kamuning. Jalan kecil sarat bisnis para pedagang beras
dan kelontongan.

Dalam kondisi Garut masa silam, penempatan stasiun KA seperti itu dinilai
amat strategis. Stasiun tidak didekatkan ke terminal bis, dan pangkalan
opelet, yang memanjang di depan reruntuhan ”Villadolce” mulai dari batas
pintu KA Jln. Melati (Pramuka) hingga tikungan Jln. Guntur. Semua fasilitas
umum, terkonsentrasi ke arah stasiun. Itu menguntungkan warung soto Mang
Juhro di Jln. Kamuning, yang bersebelahan dengan tempat gunting rambut.

Warung kecil itu berbatas tumbuhan panjang, pemagar permukiman para pejabat
DKA ke arah stasiun. Warung soto itu pula menjadi pilihan konsumen karena
kemasyhuran soto Mang Ahri, yang menetap di gang sebelah Toko Daging
”Hardjo” Jln. Mandalagiri. Kedua warung soto legendaris Garut pun, tak
tersisih gengsi Warung Nasi ”Endjon” di Pengkolan, yang kini berganti RM
”Wan Sa Min-A”. Stasiun KA menjadi titik sentral dari keramaian kota.

Bongkar-muat beras, gula pasir, minyak goreng, dan minyak tanah, hingga
banjir jeruk Garut dan kesemek Cikajang, menjadi pemandangan rutin di depan
stasiun. Itu menguatkan bursa ekonomi rakyat di ”Pasar Garoet” (kini
pertokoan ”Garut Plaza”), yang tak jauh dari stasiun. Oleh karena itu,
hatong lokomotif KA terdengar nyaring, menyibak hiruk-pikuk aktivitas warga
kota Garut. Adakalanya lengkingan hatong lok bagai ”kereta malam”, saat
kereta api telat datang dan kemalaman. Terkadang, bunyinya mirip tangis
memilukan. (Dok. Pariwisata, "PR"; 16/4/11)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/141929

Kirim email ke