Perjuangan Para Dokter

Oleh Prof. Dr. Nina Herlina L., M.S.

Enam puluh tiga tahun sudah kita merdeka. Agar kita tetap punya semangat
menuju keadaan yang lebih baik, ada baiknya kita mengingat kembali awal
kemerdekaan negeri tercinta ini, menghentikan waktu sejenak dan menoleh
ke belakang. Kalau kita tahu betapa berat kemerdekaan negeri ini
diperjuangkan oleh para pejuang, para pahlawan, mungkin kita akan
sungkan untuk menggerogotinya, apalagi meruntuhkannya dengan cara-cara
yang kurang beradab. Siapakah yang telah memperjuangkan kemerdekaan
republik kita ini? Ada banyak pejuang, mulai dari para pemuda, pelajar,
tentara, ulama, seniman, dan juga para dokter. Untuk golongan yang
terakhir ini, jarang dibincangkan orang, padahal mereka berjuang sejak
awal pergerakan kemerdekaan melalui Boedi Oetomo. Ya, siswa-siswa STOVIA
(Sekolah Pendidikan Dokter Pribumi) yang mendirikan Boedi Oetomo itu.
Oleh karena itu, marilah kita kenang sejenak perjuangan para dokter,
terutama yang terjadi pada awal perang kemerdekaan tahun 1946.

Para pahlawan

Dalam buku Sejarah Kesehatan Nasional Indonesia Jilid 1 (1978:221)
dilampirkan daftar dokter yang gugur, tewas, atau hilang selama masa
pendudukan Jepang dan masa perang kemerdekaan. Tercatat 36 dokter yang
gugur di berbagai daerah di Indonesia. Mereka adalah Ismangil, Prof. A.
Mochtar, Marah Achmad, Soelaiman Siregar, Kayadu, Kariadi, Susilo,
Rubini, Achmad Diponegoro, Sunaryo, Agusdjam, Ismail, Tumangkol, J.J.
Dungus, Kanuyoso, Lukardi, D. Pesik, Gurojo, Moh. Goro, Usmani, Dustira,
Prof. Abdul Rahman saleh, Supraun, Hadiono Singgih, Ridwan, Muwardi,
Susanto Mangun Supontjo, Loekmono Hadi, Suwandar, Purnomo, Pratiknyo,
Sudjono Purwosuprodjo, Subandi, Djasamin Saragih, G. Tobing, dan Piet Ali.

Para dokter yang gugur tersebut adalah pahlawan yang diabadikan namanya
menjadi nama jalan (di Bandung misalnya ada nama Jalan dr. Susilo, Jln.
dr. Rubini), ada juga yang diabadikan menjadi nama rumah sakit (misalnya
Rumah Sakit Dustira di Cimahi dan Rumah Sakit dr. Kariadi di Semarang).
Nama para dokter yang sudah diangkat sebagai pahlawan nasional (dari
kalangan pergerakan) juga diabadikan menjadi nama rumah sakit, selain
nama jalan. Misalnya RS Tjipto Mangunkusumo di Jakarta dan RS dr. Sutomo
di Surabaya. Ada juga dokter yang gugur dalam tugas memberantas
penyakit, misalnya dr. Slamet, yang terkena penyakit pes yang sedang
ditanganinya di Garut sehingga namanya diabadikan menjadi nama RSU di
Garut dan nama jalan di Bandung

Ada dua nama yang menarik untuk diketengahkan perjuangannya kali ini,
yaitu dr. Dustira dan dr. Kariadi. Kedua dokter ini gugur pada masa awal
perang kemerdekaan. Marilah kita kenali siapa mereka ini.

Dokter Dustira

Pada 1887 telah didirikan Rumah Sakit Militer (Militaire Hospital) di
Cimahi. Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), rumah sakit ini
dipergunakan sebagai tempat perawatan tawanan tentara Belanda dan
perawatan tentara Jepang. Pada 1945-1947, rumah sakit ini dikuasai NICA.
Setelah pengakuan kedaulatan RI oleh pemerintah Kerajaan Belanda (1949),
Militaire Hospital diserahkan oleh militer Belanda kepada TNI yang
diwakili Letkol Dr. Rd. K. Singawinata (pangkat terakhir kolonel). Sejak
saat itu, Militaire Hospital diubah namanya menjadi Rumah Sakit
Territorium III dan Letkol. Dr. Rd. K. Singawinata diangkat sebagai
kepala rumah sakit itu. Pada 19 Mei 1956, dalam rangka Hari Ulang Tahun
Territorium III/Siliwangi yang ke-10, Rumah Sakit Territorium III diberi
nama Rumah Sakit Dustira oleh Panglima Territorium III, Kolonel
Kawilarang, sebagai penghargaan terhadap jasa-jasa Mayor dr. Dustira
Prawiraamidjaya. Siapakah dokter yang berjasa ini?

Dustira dilahirkan di Tasikmalaya pada 25 Juli 1919, sebagai anak Rd. S.
Prawiraamidjaya. Pendidikan yang ditempuhnya dimulai di Europeesche
Lagere School (ELS) Bandung, kemudian dilanjutkan ke Hogere Burger
School (HBS), lima tahun di Bandung. Selanjutnya ia menempuh pendidikan
di Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta (Geneeskundige Hogeschool,
kemudian pada zaman pendudukan Jepang disebut Ika Daigaku).

Pada 1945, semua mahasiswa tingkat akhir Ika Daigaku, termasuk di
antaranya Dustira Prawiraamidjaya, menyatakan ingin turut berjuang di
Front Surabaya yang sedang memanas, yang kemudian dikenal sebagai
Peristiwa 10 November 1945. Namun, keinginan tersebut ditolak dan
diperintahkan menunggu perkembangan selanjutnya. Para mahasiswa tingkat
akhir itu lulus dan diberikan ijazah dokter lalu dilatih kemiliteran di
Tasikmalaya sekitar dua minggu. Selesai pendidikan kemiliteran, dr.
Dustira ditugaskan ke Resimen 9 Divisi Siliwangi yang menguasai Front
Padalarang, Cililin, dan Batujajar.

Waktu itu, semua serba kekurangan, baik personel maupun obat-obatan.
Dokter Dustira berusaha siang malam menolong korban di front-front
tersebut. Melihat banyaknya korban yang jatuh, baik dari kalangan
masyarakat sipil maupun para pejuang kemerdekaan, dr. Dustira merasa
sedih sekali karena tidak bisa memberikan pertolongan dengan
sebaik-baiknya. Ketika terjadi kecelakaan kereta api di Padalarang
dengan korban ratusan penumpang, dr. Dustira berusaha memberikan
pertolongan, namun obat-obatan yang ada sangat terbatas. Melihat begitu
banyak korban, tanpa dapat memberikan pertolongan yang memuaskan hatinya
sebab kekurangan obat, mengakibatkan tekanan mental yang luar biasa bagi
dr. Dustira. Akhirnya karena kelelahan fisik dan juga kelelahan mental,
dr. Dustira jatuh sakit. Ia dirawat di Rumah Sakit Immanuel di Situ
Saeur Bandung. Namun jiwanya tidak tertolong lagi dan pada 17 Maret
1946, ia dikebumikan di Pemakaman Umum Astana Anyar Bandung. Pada 8
Maret 1973, kerangka dr. Dustira dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan
Cikutra Bandung.

Dokter Kariadi

Kariadi lahir di Kota Malang, pada 15 September 1905. Pendidikannya
dimulai di Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Malang dan ditamatkan
di HIS Sidoardjo, Surabaya, lulus pada 1920. Pada 1921, ia berhasil
memasuki Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) atau Sekolah
Kedokteran untuk Pribumi di Surabaya dan lulus pada 1931. Begitu lulus,
dr. Kariadi bekerja sebagai asisten tokoh pergerakan, dr. Soetomo, di
Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ) di Surabaya. Setelah
berdinas tiga tahun, dr. Kariadi ditugaskan ke Manokwari, Tanah Papua.

Dokter Kariadi menikah dengan drg. Soenarti, lulusan STOVIT (Sekolah
Kedokteran Gigi) di Surabaya. Soenarti lulus sebagai dokter gigi pribumi
pertama di Hindia Belanda. Setelah bertugas selama tiga tahun di
Manokwari, dr. Kariadi kemudian dipindahkan ke Kroya (Banyumas). Baru
dua tahun bertugas di sini, dr. Kariadi ditugaskan lagi ke luar Jawa,
yaitu ke Martapura dan selesai bertugas 15 Mei 1942. Setelah itu,
tepatnya 1 Juli 1942, dr. Kariadi ditugaskan sebagai Kepala Laboratorium
Malaria di RS Pusat Rumah Sakit Rakyat (Purusara) di Semarang

Perang kemerdekaan terjadi tidak lama setelah proklamasi dikumandangkan,
termasuk di Semarang. Para pemuda terus berusaha merebut persenjataan
milik tentara Jepang. Pada 13 Oktober 1945 suasana di Semarang sangat
mencekam. Tanggal 14 Oktober, Mayor Kido menolak penyerahan senjata sama
sekali. Para pemuda pun marah dan rakyat mulai bergerak sendiri-sendiri.
Aula Rumah Sakit Purusara dijadikan markas perjuangan. Para pemuda rumah
sakit pun tidak tinggal diam dan ikut aktif dalam upaya menghadapi Jepang.

Pada Minggu, 14 Oktober 1945, pukul 6.30 WIB, pemuda-pemuda rumah sakit
mendapat instruksi untuk mencegat dan memeriksa mobil Jepang yang lewat
di depan RS Purusara. Mereka menyita sedan milik Kempetai dan merampas
senjata mereka. Sore harinya, para pemuda ikut aktif mencari tentara
Jepang dan kemudian menjebloskannya ke Penjara Bulu. Sekitar pukul 18.00
WIB, pasukan Jepang bersenjata lengkap melancarkan serangan mendadak
sekaligus melucuti delapan anggota polisi istimewa yang waktu itu sedang
menjaga sumber air minum bagi warga Kota Semarang Reservoir Siranda di
Candilama. Kedelapan anggota Polisi Istimewa itu disiksa dan dibawa ke
markas Kidobutai di Jatingaleh. Sore itu tersiar kabar tentara Jepang
menebarkan racun ke dalam reservoir itu. Rakyat pun menjadi gelisah.

Selepas Magrib, ada telefon dari pimpinan Rumah Sakit Purusara, yang
memberitahukan agar dr. Kariadi segera memeriksa Reservoir Siranda
karena berita Jepang menebarkan racun itu. Dokter Kariadi, yang bertugas
sebagai Kepala Laboratorium Rumah Sakit Purusara pun dengan cepat
memutuskan harus segera pergi ke sana. Suasana sangat berbahaya karena
tentara Jepang telah melakukan serangan di beberapa tempat termasuk di
jalan menuju ke Reservoir Siranda. Isteri dr. Kariadi, drg. Soenarti
mencoba mencegah suaminya pergi mengingat keadaan yang sangat genting
itu. Namun dr. Kariadi berpendapat lain, ia harus menyelidiki kebenaran
desas-desus itu karena menyangkut nyawa ribuan warga Semarang. Akhirnya
drg. Soenarti tidak bisa berbuat apa-apa.

Tengah malam telefon berdering di rumah dr. Kariadi. Soenarti mengangkat
telefon itu, ternyata dari Rumah Sakit Purusara: dr. Kariadi ditembak
tentara Jepang dan tidak tertolong lagi nyawanya. Soenarti pun menangis.
Hingga keesokan harinya, keluarga dr. Kariadi kebingungan karena tidak
bisa datang ke rumah sakit, di mana jasad dr. Kariadi terbaring penuh
luka karena suara tembakan terus terdengar di luar rumah.

Ternyata dalam perjalanan menuju Reservoir Siranda itu, mobil yang
ditumpangi dr. Kariadi dicegat tentara Jepang di Jalan Pandanaran.
Bersama tentara pelajar yang menyopiri mobil yang ditumpanginya, dr.
Kariadi ditembak secara keji. Ia sempat dibawa ke rumah sakit sekitar
pukul 23.30 WIB. Ketika tiba di kamar bedah, keadaan dr. Kariadi sudah
sangat gawat. Nyawa dokter muda itu tidak dapat diselamatkan. Ia gugur
dalam usia 40 tahun satu bulan.

Sekitar pukul 3.oo WIB, 15 Oktober 1945, Mayor Kido memerintahkan
sekitar 1.000 tentaranya untuk melakukan penyerangan ke pusat Kota
Semarang. Sementara itu, berita gugurnya dr. Kariadi yang dengan cepat
tersebar, menyulut kemarahan warga Semarang. Hari berikutnya,
pertempuran meluas ke berbagai penjuru kota. Korban berjatuhan di
mana-mana. Pada 17 Oktober 1945, tentara Jepang minta gencatan senjata,
namun diam-diam mereka melakukan serangan ke berbagai kampung.

Sementara itu, karena kesibukan yang luar biasa dan situasi yang sangat
gawat, jenazah dr. Kariadi belum dapat dimakamkan. Barulah pada 17
Oktober 1945, jenazah dimakamkan di halaman rumah sakit. Pemakaman
berlangsung khidmat dengan naungan bendera Merah Putih meskipun sering
terganggu dengan tembakan musuh. Anak-anak dr. Kariadi hadir di
pemakaman, sedangkan istrinya merasa tidak mampu menyaksikan.

Pada 19 Oktober 1945, pertempuran terus terjadi di berbagai penjuru Kota
Semarang. Pertempuran ini berlangsung lima hari dan memakan korban 2.000
orang Indonesia dan 850 orang Jepang. Di antara yang gugur, termasuk dr.
Kariadi dan delapan karyawan RS Purusara.

Pada 5 November 1961, kerangka dr. Kariadi dipindahkan dari halaman RS
Purusara ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal Semarang. Menurut
putrinya, Prof. Dr. Sri Hartini K.S. Kariadi, dr., Sp.PD-KEMD, ketika
kerangka ayahandanya dipindahkan itu, ia sempat ikut memeriksa
tulang-belulang ayahandanya. Sebagai mahasiswa kedokteran (waktu itu) ia
melihat di tengkorak terdapat retakan membentuk celah, yang menunjukkan
bekas pukulan benda tajam (mungkin dipukul dengan sangkur, sebelum
ditembak).

Sebagai penghargaan atas jasa-jasa dr. Kariadi, pada 1964, RSUP Purusara
(yang sejak 1949 menjadi RSUP Semarang), diganti namanya menjadi "Rumah
Sakit Dokter Kariadi", dan pada Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1968,
dr. Kariadi dianugerahi Satyalencana Kebaktian Sosial oleh Presiden
Soeharto, secara Anumerta. Sebenarnya dr. Kariadi juga telah
menghasilkan karya besar di bidang pemberantasan penyakit malaria
melalui dan menemukan minyak "Oleum Pro-microscopieKar" yang sangat
penting dalam menangani penyakit malaria dan filariasis yang berjangkit
di berbagai daerah di Indonesia.

Penutup

Masih banyak kisah perjuangan para dokter lainnya yang bisa diungkapkan,
namun dua contoh itu setidaknya memberikan gambaran bahwa perjuangan
menuju kemerdekaan dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang sudah
didapat itu, ternyata bukan hanya milik tentara atau laskar pejuang. Di
samping perjuangan bersenjata, ada juga perjuangan kemanusiaan, yang
juga ditebus dengan darah dan air mata. Kalau memang kita punya nurani,
masihkah kita tidak mau menghargai mereka yang sudah mengorbankan
jiwanya untuk mendirikan negara ini dengan memelihara negeri yang sudah
diperjuangkan itu?***

Penulis, Guru Besar Ilmu Sejarah Unpad, Ketua Masyarakat Sejarawan
Indonesia Cabang Jawa Barat, Ketua Pusat Kebudayaan Sunda Fakultas
Sastra Unpad.


http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=28874
http://www.mail-archive.com/[email protected]/msg15295.html

Kirim email ke