Museum Perjuangan Bogor Setengah Abad Terlupakan, Kini Diserbu Pengunjung Senin, 25/04/2011 - 01:08
[image: KISMI DWI ASTUTI/"PRLM"] KISMI DWI ASTUTI/"PRLM" Anak-anak dari sebuah PAUD melihat-lihat senjata peninggalan para pejuang di Museum Perjuangan Bogor, Jln. Merdeka Kota Bogor, Sabtu (23/4). Hampir setengah abad lamanya, museum tersebut dilupakan orang sebelum kemudian dikelola dengan lebih baik pada tahun 2010 lalu.* LEBIH Setengah abad lamanya, Museum Perjuangan Bogor yang berlokasi di Jln. Merdeka, Kota Bogor hampir-hampir terlupakan. Jangankan pada hari biasa, pada musim liburan pun museum perjuangan tertua di Indonesia ini sepi pengunjung. Tidak ada guide yang mendampingi pengunjung diduga menjadi salah satu penyebab orang malas berkunjung ke museum ini. Bahkan, sejumlah warga negara Malaysia yang berkunjung ke museum ini beberapa tahun lalu sempat mengkritisi betapa buruknya perlakuan masyarakat Indonesia terhadap peninggalan sejarahnya. Namun, lain dulu lain sekarang. Sejak tahun 2010 lalu, museum yang dibuka pada 10 November 1957 ini akhirnya dibenahi pengelolaannya secara perlahan-lahan. Bahkan, Pemerintah Kota Bogor melalui Dinas Pendidikan Kota Bogor pun mengharuskan setiap sekolah untuk berkunjung ke museum ini sebagai salah satu media pembelajaran. Hasilnya, hampir setiap hari, terlebih saat musim liburan, museum yang memuat peninggalan sejarah antara tahun 1945 hingga 1950 di wilayah Karesidenan Bogor ini dipenuhi oleh pelajar mulai dari murid TK sampai mahasiswa. Jumlah pengunjung per hari pun untuk saat ini sudah mencapai ratusan orang. "Jika bukan bangsa sendiri yang menghargai peninggalan sejarah, siapa lagi? Terlebih, sejarah bangsa kita banyak yang dipelintir. Dengan berkunjung ke museum, generasi kita bisa tahu yang sebenar-benarnya perjuangan pendahulunya waktu itu," kata pemandu Museum Perjuangan Bogor, Mahruf ketika ditemui "PRLM" Sabtu (23/4). Dikatakan Mahruf, banyak hal yang kemungkinan tidak tercatat dalam buku sejarah yang dipelajari oleh siswa di sekolah. Museum, lanjut Mahruf, menyediakan informasi yang hilang itu dengan berbagai macam bukti sejarah berupa peninggalan para pejuang. Diakui Mahruf, beberapa siswa mengaku baru mengetahui sejarah yang sebenarnya ketika berkunjung ke Museum Perjuangan Bogor. Padahal, sebelumnya siswa hampir tidak tahu soal museum ini. Museum ini memuat sejumlah peninggalan perang yang terjadi di wilayah Karesidenan Bogor meliputi Cianjur, Sukabumi, Depok, dan Bogor. Museum ini mencatat perjuangan di antaranya pertempuran Bojongkokosan, Jambudipa, Kota Paris, Cemplang, Maseng, hingga pertempuran Kapten Tubagus Muslihat yang terkenal itu. Museum ini diprakasai dan diresmikan oleh Mayor Ishak Djuarsah PEKUMIL. Daerah Res. INF. 8 Suryakancana Devisi III Siliwangi. Gedung yang digunakan sebagai museum, sebelumnya adalah milik seorang pengusaha Belanda yang bernama Wilhelm Gustaf Wissner. Dibangun pada tahun 1879 yang pada awalnya digunakan sebagai gudang ekspor komoditas pertanian sebelum dikirim ke negara-negara di Eropa. Pada masa pergerakan gedung ini digunakan sebagai tempat kegiatan pemuda dibawah panji-panji Kepanduan Indonesia. Panjangnya sejarah perjuangan yang terjadi di wilayah Bogor dan sekitarnya yang kebanyakan tidak tercatat secara terperinci dalam diktat sejarah di sekolah dinilai Mahruf sebagai salah satu keharusan siswa datang ke museum ini. Sejumlah koleksi yang dipamerkan di dalam museum di antaranya berbagai macam senjata, pakaian bekas para pejuang, diorama pertempuran, serta sejumlah surat kabar pada masa perjuangan. (Kismi Dwi Astuti/"PRLM")*** http://www.pikiran-rakyat.com/node/142812
