Where to Go In Bandung
Sakola Kautamaan Istri, Kepedulian Dewi Sartika
Senin, 02/05/2011 - 00:50
 [image: DOK. "PRLM"]
DOK. "PRLM"

*SAKOLA* Kautamaan Istri, yang sekarang menjadi Sekolah Dewi Sartika
didirikan oleh Raden Dewi Sartika pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda.
Tepatnya pada 16 Januari 1904, sekolah ini berdiri dengan nama “Sakola
Istri”. Sebelum mendirikan sekolah, Raden Dewi memang sudah senang mengajar,
meski tanpa dinaungi lembaga resmi berlabel sekolah. Sekitar tahun 1902,
Dewi Sartika mulai mengajarkan keterampilan-keterampilan seperti merenda,
memasak, menjahit juga membaca dan menulis kepada saudara-saudaranya.
Kegiatan ini tercium oleh Pemerintah Hindia Belanda. Namun, ternyata
kegiatan ini justru didukung oleh C. Den Hammer, Inspektur Pengajaran Hindia
Belanda saat itu dengan menyarankan Raden Dewi menemui R.A. Martanegara yang
saat itu menjadi Bupati Bandung untuk mendukung pendirian sekolah wanita
bagi pribumi.

Bupati Bandung akhirnya menyetujui permintaan ini. Ia pun mengizinkan Dewi
Sartika menggunakan ruang Paseban Barat di halaman depan rumah Bupati
Bandung sebagai tempat mengajar. “Sakola Istri” akhirnya berdiri dengan 60
siswi yang berasal dari masyarakat kebanyakan. Pengajar sekolah ini adalah
Dewi sartika sendiri, dibantu saudara misannya Nyi Poerwa dan Nyi Oewit.
Semakin lama sekolah ini semakin berkembang. Murid semakin bertambah,
pelajaran pun beragam, seperti membatik dan bahasa Belanda. Ruangan kelas
pun tak lagi cukup, hingga sekolah ini dipindah ke Jalan Ciguriang-Kebon Cau
(sekarang Jalan Kautamaan Istri) setahun setelah berdiri.

Tahun 1910 sekolah ini berganti nama menjadi Sakola Kautamaan Istri. Diambil
dari nama perkumpulan bentukan Residen Priangan yang mendukung pengembangan
dan pembangunan sekolah wanita bumi putera saat itu. Nama ini pula yang
sekarang dipakai sebagai nama jalan tempat sekolah ini berada.

Pada masa penjajahan Jepang, sekolah ini diambil alih dan diganti menjadi
Sekolah Gadis No. 29, setelah sebelumnya sempat bernama Sekolah Raden Dewi.
Saat itu, semua sekolah dasar dijadikan sekolah rakyat oleh Jepang. Namun,
Dewi Sartika menolak terlibat dalam sekolah bentukan Jepang, karena
kurikulumnya harus berubah, tak lagi khusus kewanitaan. Sekolah pun ditutup
hingga akhirnya bisa dibuka kembali oleh Yayasan Raden Dewi Sartika pada
tahun 1951. Selama dikelola yayasan, nama sekolah ini juga sempat berganti
nama beberapa kali menjadi Sekolah Guru Bawah (SGB) Puteri (1951), Sekolah
Kepandaian Puteri (SKP) Dewi Sartika (1961), Sekolah Kejuruan Kepandaian
Putri (SKKP) Dewi Sartika (1963). Bahkan lokasinya sempat berpindah ke Jalan
Cibadak, saat sekolah digunakan sebagai markas tentara Siliwangi. Sekarang,
sekolah ini telah menjadi SD dan SMP Dewi Sartika, adapun TK berada di
lokasi berbeda.

Hingga kini bangunan asli sekolah, yang terdiri dari enam kelas masih
dipertahankan dan digunakan sebagai lokal belajar siswa SMP. Satu dari enam
kelas tersebut dijadikan “museum”. Peralatan dalam kelas, seperti bangku,
masih asli sejak sekolah didirikan. Di kelas ini juga dipasangi foto Dewi
Sartika saat masih mengajar. Ciri khas bangunan asli ini adalah tiang-tiang
penyangga yang terbuat dari kayu dan jendela dari ram kawat. Perbaikan dan
pemeliharaan dilakukan tanpa mengubah bentuk asli bangunan. Di luar sekolah,
ada dua tugu penanda sebagai penghargaan kepada Dewi Sartika. Satu tugu
berbentuk obor dibangun oleh tentara Siliwangi dan satu lagi penanda situs
yang diresmikan oleh Prof. Dr. Haryati Soebadio, Dirjen Kebudayaan pada
tahun 1982. (Dok. “PR”)***

Lokasi Jalan Kautamaan Istri No. 12 Bandung
Tahun Berdiri 16 Januari 1904
Luas lahan 1.428 m2
Fungsi SD dan SMP Dewi Sartika
Rincian Bangunan Enam lokal belajar asli dan tambahan ruang kelas SD di
samping dan di belakang bangunan asli, musala, perpustakaan, laboratorium,
laboratorium komputer dan ruang guru.***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/143644

Kirim email ke