25 Hari Tamat Satu Kitab
Kamis, 11 Agustus 2011 | 10:49 WIB

SEJUMLAH santri duduk terdiam dan dengan saksama mendengarkan ceramah
dari sang ustaz, di sebuah ruangan kecil. Sekitar pukul 10.30, mereka
membubarkan diri dan beranjak ke kamar tidur masing-masing.

Itulah pemandangan di Pesantren Benda Kerep, yang terletak di
Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Rabu (10/8)
pagi.

Pada bulan suci Ramadan, santri-santri itu memiliki agenda lebih padat
dibandingkan pada bulan biasanya. Bulan ini mereka memiliki kewajiban
menamatkan satu kitab dalam 25 hari. Dari ilmu fikih, tafsir, hadis,
dan tata bahasa Arab alias nahwu saraf.

Pondok pesantren yang terletak di pinggir Kota Cirebon itu memiliki
240 santri pria dan sekitar 100 santri perempuan. Namun, pada saat
bulan suci Ramadan, jumlahnya meningkat dan bisa mencapai lebih dari
300 santri. Mereka tidak hanya berasal dari wilayah III Cirebon, tapi
ada juga yang berasal dari Bandung, Jakarta, dan Banten.

Salah satu pengurus Pondok Pesantren Benda Kerep, Ustaz Miftah,
mengatakan, beberapa santri di antaranya merupakan anak-anak yang
putus sekolah karena tidak memiliki biaya. Jumlahnya mencapai sekitar
40 santri.

Menurut dia, anak-anak itu tetap harus dijaga dan mendapat pendidikan,
khususnya pendidikan agama.

"Orang tua mereka sudah menitipkan. Daripada mereka di luar menjadi
macam-macam, lebih baik di pesantren untuk dididik dan mendapat
pendidikan agama. Di sini mereka juga memiliki banyak kegiatan," kata
pria berusia 42 tahun ini ketika ditemui di rumahnya, di bagian
belakang pesantren, kemarin.

Selama ini, pesantren hidup dari penghasilan sawah dan perkebunan
milik Miftah. Selain itu, ada sumbangan dari sejumlah alumni yang
memiliki cerita kesuksesan di Ibu Kota. Ayah dua anak ini enggan
mengajukan proposal atau meminta sumbangan kepada pihak lain.

"Kalau ada yang mau ngasih, monggo aja. Tapi pantangannya adalah
meminta. Kami juga tidak suka mengajukan proposal. Lebih utama tangan
di atas dibandingkan dengan tangan di bawah. Ulama salaf dari dulu
tidak ada yang seperti itu," katanya.

Miftah menganggap cara-cara meminta merupakan hal yang memalukan,
terutama terhadap agama lain. Menurut dia, tidak baik memaksakan
keadaan yang tidak mampu.

Anak-anak tidak mampu sekolah, semakin banyak yang belajar di
pesantren yang dibangun pada 1862 oleh Mbah Sepuh Soleh ini. Kalau
tidak ada sangu untuk anak-anak ini, dia lebih memilih bantuan dari
kerabatnya, dibandingkan meminta kepada pihak lain.

"Ya, kami terbuka dari usia sekolah dasar sampai tingkat perguruan
tinggi. Apalagi bagi mereka yang ingin memperdalam kitab kuning atau
Alquran. Pesantren ini kan dibangun  untuk membantu dakwah Sunan
Gunung Jati dan wali sanga pada umumnya," ujarnya. (*)


Dapatkan artikel ini di URL:
http://jabar.tribunnews.com/60290/25 Hari Tamat Satu Kitab


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke