PESANTREN SUKAMISKIN, BANDUNG
Santri Putri Bersarung Sudah Jadi Tradisi
Jumat, 19 Agustus 2011 | 10:11 WIB

 *SORE *itu, bakda asar, para santri di Pondok Pesantren Sukamiskin, Jalan
AH Nasution Bandung, terlihat sedang mengaji. Mereka didampingi oleh seorang
guru.

Santri dibagi ke dalam kelas-kelas berdasarkan tingkatan. Di setiap
kelasnya, tempat duduk santri putra dan putri dipisahkan oleh pembatas.

Selain mengaji, mereka juga belajar tafsir Alquran dalam bahasa Sunda.
Beberapa santri yang tidak berasal dari daerah Jawa Barat, jadi harus
belajar bahasa Sunda. Mereka yang pada awalnya mengalami kesulitan, nantinya
akan terbiasa juga.

Mengaji memang menjadi kegiatan utama para santri di bulan Ramadan ini.
Setelah salat subuh hingga pukul 05.30, para santri mulai mengaji. Pukul
07.30 mereka bersekolah. Sepulang sekolah, sekitar pukul 12.00 para santri
diberi waktu untuk istirahat. Dua jam kemudian, para santri akan mulai
mengaji hingga waktu asar.

Setelah itu mengaji lagi hingga pukul 17.00. Menjelang magrib, para santri
diberikan waktu untuk istirahat. Setelah buka puasa, salat magrib berjemaah,
dan salat tarawih, santri akan kembali mengaji hingga pukul 22.00. Setelah
itu barulah santri dapat kembali ke kamar masing-masing.

Para santri memang diwajibkan utuk khatam Alquran selama bulan Ramadan ini.
Minggu (14/8) lalu, Majlis Dzikir Bandung Beriman mengadakan tadarus bersama
untuk menamatkan Alquran. Pada saat itu, santri putra dan putri
masing-masing membaca sebanyak 15 juz. Para santri ini mampu khatam Alquran
bersama-sama hanya dalam hitungan jam.

Selain mengaji dan belajar tafsir, para santri juga diberi tugas menghafal.
Menurut Nisa Yusri Arofah (25), guru di pesantren sekaligus putri pemilik
pesantren, hafalan itu nantinya akan dilombakan. "Lomba itu jadi seperti tes
kemampuan mereka," ujar wanita yang akrab disapa Icha ini.

Kegiatan pesantren ketika Ramadan itu memang terbilang padat. Sedikit waktu
luang yang dimiliki santri biasanya dimanfaatkan untuk beristirahat dengan
tidur atau bermain dan mengobrol dengan teman-teman. Para santri
mengistirahatkan diri mereka agar stamina mereka untuk menjalani kegiatan di
bulan Ramadan tetap stabil.

Ratna (13) dan beberapa temannya yang telah menyelesaikan pelajaran di
kelasnya terlihat sedang asyik bermain bekel dan mengobrol sambil menunggu
waktu magrib tiba di teras asrama. Namun ada penampilan yang tidak biasa
dengan mereka. Ratna dan para santri putri lainnya terlihat mengenakan
sarung.

Menurut Icha, santri putri mengenakan sarung itu sudah jadi tradisi
pesantren yang berdiri sejak 1881 ini sejak dulu. "Sudah sejak pertama
didirikan, santri putri di pesantren ini diwajibkan untuk mengenakan
sarung," ujar wanita lulusan UIN Sunan Gunung Djati ini.

Ratna yang berasal dari Ciamis mengaku kebiasaan mengenakan sarung ini kerap
terbawa ketika sedang pulang ke rumah. "Kadang suka jadi pakai sarung juga
di rumah karena sudah jadi kebiasaan," ujar siswa kelas 1 Madrasah
Tsanawiyah ini.

Di pesantren, para santri putri memang terbiasa mengenakan  sarung, bahkan
ketika keluar untuk membeli sesuatu pun mereka mengenakan sarung. Penggunaan
sarung itu juga sudah menjadi identitas mereka sebagai santri.

Selain untuk menimba ilmu agama, pesantren ini juga mempunyai sekolah
formal, yaitu Madrasah Tsanawiyah setingkat SMP dan Madrasah Aliyah
setingkat SMA. Para santri pondok pesantren ini kebanyakan bersekolah di
madrasah ini meski ada juga beberapa dari mereka yang bersekolah di tempat
lain. Siswa lain yang bersekolah di madrasah ini berasal dari daerah
sekitar. (*)

Penulis : Andra Nur Oktaviani Editor : Darajat Arianto
http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/61066/Santri-Putri-Bersarung-Sudah-Jadi-Tradisi

Kirim email ke