Anom wae, najan tos sepuh ge Si Abah mah. Kamari senen cenah tos
ngantunkeun. *Inna lillahi wa inna ilaihi* raji'un Di lembur tatangga loba
muridna, oge aya sababaraha cabang majlis taklimna.

====
Abah Anom Suryalaya

Posted by redaksi On 23 June 2007

*Pendiri Pesantren Inabah, Suryalaya*

Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin adalah nama asli Abah Anom. Lahir 1 Januari
1915 di Suryalaya, Tasikmalaya. Ia anak kelima dari Syekh Abdullah Mubarok
bin Nur Muhammad, atau Abah Sepuh, pendiri Pesantren Suryalaya. Sebuah
pesantren tasawuf yang khusus mengajarkan Thariqat Qadiriyyah Naqsabandiyah
(TQN).

Ia memasuki bangku sekolah dasar (Vervooleg school) di Ciamis, pada usia 8
tahun. Lima tahun kemudian melanjutkan ke madrasah tsanawiyah di kota yang
sama. Usai tsanawiyah, barulah ia belajar ilmu agama Islam, secara lebih
khusus di berbagai pesantren.

Ia keluar masuk berbagai macam pesantren yang ada di sekitar Jawa Barat
seperti, Pesantren Cicariang dan Pesantren Jambudwipa di Cianjur untuk
ilmu-ilmu alat dan ushuluddin. Sedangkan di Pesantren Cireungas, ia juga
belajar ilmu silat. Minatnya untuk belajar silat diperdalam ke Pesantren
Citengah yang dipimpin oleh Haji Djunaedi yang terkenal ahli “alat”, jago
silat dan ahli hikmat.

Kegemarannya menuntut ilmu, menyebabkan Abah Anom menguasai berbagai macam
ilmu keislaman pada usia relatif muda (18 tahun). Didukung dengan
ketertarikannya pada dunia pesantren, telah mendorong ayahnya yang dedengkot
Thoriqot Qadiriyah Naqsabandiyah (TQN) untuk mengajarinya dzikir TQN.
Sehingga ia menjadi wakil talqin ayahnya pada usia relatif muda.

Mungkin sejak itulah, ia lebih di kenal dengan sebutan Abah Anom. Ia resmi
menjadi mursyid (pembimbing) TQN di Pesantren tasawuf itu sejak tahun 1950.
Sebuah masa yang rawan dengan berbagai kekerasan bersenjata antar berbagai
kelompok yang ada di masyarakat, terutama antara DI/TII melawan TNI.

“Tasawuf tidak hanya produk asli Islam, tapi ia telah berhasil mengembalikan
umat Islam kepada keaslian agamanya pada kurun-kurun tertentu,” tegas Abah
Anom, tentang eksistensi tasawuf dalam ajaran Islam.

Tasawuf yang dipahami Abah Anom, bukanlah kebanyakan tasawuf yang cenderung
mengabaikan syari’ah karena mengutamakan dhauq (rasa). Menurutnya, sufi dan
pengamal tarekat tidak boleh meninggalkan ilmu syari’ah atau ilmu fiqih.
Bahkan, menurutnya lagi, ilmu syari’ah adalah jalan menuju ma’rifat.

Ia, sebagaimana lazimnya sosok sufi, tak ingin terkenal. “Ia amat sulit
untuk diwawancarai wartawan, karena beliau tak ingin dikenal orang,” ungkap
Ustadz Wahfiudin, mubaligh Jakarta yang menjadi salah seorang muridnya.

Kendati demikian, ia bukanlah sosok sufi yang lari ke hutan-hutan dan
gunung-gunung, seperti legenda sufi yang sering mampir ke telinga kita. Yang
hidup untuk dirinya sendiri, dan menuding masyarakat sebagai musuh yang
menghalangi dirinya dari Allah swt. Ia akrab dengan berbagai medan
kehidupan, mulai dari pertanian sampai pertempuran.

Pada tahun 50-60-an kondisi perekonomian rakyat amat mengkhawatirkan. Abah
Anom turun sebagai pelopor pemberdayaan ekonomi umat. Ia aktif membangun
irigasi untuk mengatur pertanian, juga pembangunan kincir angin untuk
pembangkit tenaga listrik.

Bahkan Abah Anom membuat semacam program swasembada beras di kalangan
masyarakat Jawa Barat untuk mengantisipasi krisis pangan. Aktivitas ini
telah memaksa Menteri Kesejahteraan Rakyat Suprayogi dan Jendral A. H.
Nasution untuk berkunjung dan meninjau aktifitas itu di Pesantren Suryalaya.

Medan pertempuran bukanlah wilayah asing bagi Abah Anom. Pada masa-masa
perang kemerdekaan, bersama Brig. Jend. Akil bahu-membahu memulihkan
keamanan dan ketertiban di wilayahnya. Ketika pemberontakan PKI meletus
(1965), ia bersama para santrinya melakukan perlawanan bersenjata.

Bahkan tidak hanya sampai di situ, Abah Anom membuat program “rehabilitasi
ruhani” bagi para mantan PKI. Tak heran, jika Abah mendapat berbagai
penghargaan dari Jawatan Rohani Islam Kodam VI Siliwangi, Gubernur Jawa
Barat dan instansi lainnya.

Medan pendidikan juga tak luput dari ruang aktivitasnya. Mulai dari
pendirian Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah ‘Aliyah pada tahun 1977, sampai
pendirian Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah pada tahun 1986.

Kiprahnya yang utuh di berbagai bidang kehidupan manusia, ternyata berawal
dari pemahamannya tentang makna zuhud. Jika kebanyakan kaum sufi berpendapat
zuhud adalah meninggalkan dunia, yang berdampak pada kemunduran umat Islam.
Maka menurut pendapat Abah Anom,

“Zuhud adalah qasr al-’amal artinya, pendek angan-angan, tidak banyak
mengkhayal dan bersikap realistis. Jadi zuhud bukan berarti makan ala
kadarnya dan berpakaian compang camping.”

Abah merujuk pada surat An-Nur ayat 37 yaitu, “Laki-laki yang tidak
dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat
Allah dan dari mendirikan shalat, (dari) membayarkan zakat. Mereka takut
kepada suatu hari yang (di hari itu) hati menjadi guncang.”

Jadi, menurut beliau seorang yang zuhud adalah orang yang mampu
mengendalikan harta kekayaannya untuk menjadi pelayannya, sedangkan ia
sendiri dapat berkhidmat kepada Allah swt semata. Atau seperti dikatakan
Syekh Abdul Qadir Jailani,

“Dudukkanlah dirimu bersama kehidupan duniawi, sedangkan kalbumu bersama
kehidupan akhirat, dan rasamu bersama Rabbmu.”

Inabah

Mengentaskan manusia dari limbah kenistaan bukanlah perkara mudah. Abah Anom
memiliki landasan teoritis yang kuat untuk merumuskan metode penyembuhan
ruhani, semuanya ada dalam nama pesantren itu sendiri yaitu, Inabah.

Abah Anom menjadikan Inabah tidak hanya sekedar nama bagi pesantrennya, tapi
lebih dari itu, ia adalah landasan teoritis untuk membebaskan pasien dari
gangguan kejiwaan karena ketergantungan terhadap obat-obat terlarang. Dalam
kacamata tasawuf, ia adalah nama sebuah peringkat ruhani (maqam), yang harus
dilalui seorang sufi dalam perjalanan ruhani menuju Allah swt.

“..Salah satu hasil dari muraqabatullah adalah al-inabah yang maknanya
kembali dari maksiat menuju kepada ketaatan kepada Allah swt karena merasa
malu ‘melihat’ Allah,” jelas Abah yang merujuk pada kitab Taharat Al-Qulub.

Dalam teori inabah, untuk menancapkan iman dalam qalbu, tak ada cara lain
kecuali dengan dzikir laa ilaha ilallah, cara ini di kalangan TQN disebut
talqin. Demikian juga dalam mesikapi mereka yang dirawat di pesantren
Inabah. Mereka harus diberikan ‘pedang’ untuk menghalau musuh-musuh di dalam
hati mereka, pedang itu adalah dzikrullah.

Orang-orang yang dirawat di Inabah diperlakukan seperti orang yang terkena
penyakit hati, yang terjebak dalam kesulitan, kebingungan dan kesedihan.
Mereka telah dilalaikan dan disesatkan setan sehingga tak mampu lagi
berdzikir pada-Nya. Ibarat orang yang tak memiliki senjata lagi menghadapi
musuh-musuhnya. Walhasil, obat untuk mereka adalah dzikir.

Shalat adalah salah satu bentuk dzikir. Menurut pandangan Abah Anom, para
pasien itu belum dapat shalat karena masih dalam keadaan mabuk (sukara),
karena itu langkah awalnya adalah menyadarkan mereka dari keadaan mabuk
dengan mandi junub. Apalagi sifat pemabuk adalah ghadab (pemarah), yang
merupakan perbuatan syaithan yang terbuat dari api. Obatnya tiada lain
kecuali air.

Jadi, selain dzikir dan shalat, untuk menyembuhkan para pasien itu digunakan
metode wudlu dan mandi junub. Perpaduan kedua metode itu sampai kini tetap
digunakan Abah Anom untuk mengobati para pasiennya dari yang paling ringan
sampai yang paling berat, dan cukup berhasil. Buktinya, cabang Inabah tak
hanya di Indonesia, di Singapura langsung berdiri sebuah cabang serta
Malaysia dua buah cabang. Belum lagi tamu-tamu yang mengalir dari berbagai
benua seperti Afrika, Eropa dan Amerika.

dari Suara Hidayatullah, 1999
sumber:
http://muslimdelft.nl/titian_ilmu/biografi/abah_anom_sufi_yang_tak_menyendiri.php

http://www.kisah.web.id/tokoh-islam/abah-anom-suryalaya.html

Kirim email ke