Sanes posisi tawar atuh panginten nya? harga penawaran rendah sigana mah langkung cocogna. Sigana mah tina kabiasaan nga-mark-up harga tateh...:P
>________________________________ >From: Ki Hasan <[email protected]> >To: Ki Sunda <[email protected]> >Cc: Baraya Sunda <[email protected]>; Urang Sunda ><[email protected]> >Sent: Friday, 30 September 2011 7:13 AM >Subject: [kisunda] "Garuda Dijejek Gajah"? > > > >Posisi Tawar Indonesia Rendah, Thailand Batalkan Ekspor Beras >KAMIS, 29 SEPTEMBER 2011 | 15:56 WIBTEMPO Interaktif, Jakarta - Komisi >Pertanian Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan pembatalan ekspor 300 ribu ton >beras Thailand ke Indonesia harus menjadi pembelajaran bagi pemerintah. >Pemerintah dalam hal ini Bulog diminta harus bisa memaksimalkan penyerapan >gabah dan beras petani. > >Anggota Komisi Pertanian DPR Rofi’ Munawar mengatakan pembatalan penjualan >beras ke Indonesia tersebut menunjukkan bahwa Thailand tengah memproteksi >pangan bagi petani dalam kebijakannya. “Tapi pembatalan itu juga menunjukkan >rendahnya posisi tawar Pemerintah Indonesia,” kata Rofi’, Kamis, 29 September >2011. > >Sebelumnya Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra beralasan tidak mau >menjual berasnya ke Indonesia karena harga penawaran beras oleh Indonesia >terlalu rendah. Ditambah dengan rencana pemerintahan baru Thailand membeli >beras petani lokal seharga 15.000 baht atau US$ 481 per Oktober mendatang atau >lebih tinggi ketimbang harga pasar 8.000 baht selama Agustus membuat petani >menahan stok berasnya. > >Proses jual-beli beras dengan Indonesia yang disepakati pada Agustus lalu >menyebutkan harga beras pecahan 15 persen US$ 550 per ton dengan pola >penyerahan cost & freight (C&F) atau US$ 515 per ton dengan pola free on >board (FOB). Dalam perhitungan awal, Bulog harus mengeluarkan anggaran sebesar >Rp 1,2 triliun untuk mengimpor 300 ribu ton beras. > >“Momentum ini menjadi peringatan yang sangat penting bagi pemerintah guna >memperbaiki konsep ketahanan pangan yang selama ini ada serta kembali bertumpu >pada kekuatan pangan nasional,” ujar Rofi’ yang merupakan politikus dari >Fraksi Partai Keadilan Sejahtera. > >Menurut dia, pembatalan itu harus menjadi pelajaran berharga bagi Bulog bahwa >kebijakan perberasan tidak dapat bergantung pada skema impor. “Kejadian ini >tidak boleh terulang kembali karena dapat mengancam ketahanan pangan >nasional,” katanya. > >Sebagai catatan, Bulog juga telah menandatangani kontrak impor dengan Vietnam >sebesar 900 ribu ton dengan realisasinya baru sekitar 300 ribu ton. > >Rofi’ meminta Pemerintah Indonesia tidak begitu saja bergantung dan menuruti >harga yang ditetapkan Thailand. Alasannya, dengan revisi harga, Bulog >sebenarnya lebih baik menggunakan anggarannya untuk membeli gabah dan beras >petani. > >Kebijakan fleksibilitas penyerapan beras petani oleh Bulog sudah diperkuat >melalui Inpres Nomor 8 Tahun 2011. Inpres tersebut mengamanatkan kepada Bulog >untuk dapat menyerap beras petani semaksimal mungkin dengan tingkat >fleksibilitas harga yang memperhatikan harga pasar sesuai dengan data Badan >Pusat Statistik. > >ROSALINA >http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2011/09/29/brk,20110929-359015,id.html > > > >
