Uing kaasup nu ngoleksi lalakon DI teh, sabab lalakona menarik
Aya sababaraha dokumentasi, nu bisa dijadikeun eunteung.
Ke dipostingkeun, sugan teu poho nya.
Hehehe

2011/10/21 oman abdurahman <[email protected]>

> **
>
>
> Lalakon Dahlan Iskan utamana oleh-oleh salila anjeunna mimpin PLN nepi ka
> dipilihna ku Presiden jadi Menteri BUMN, dibejaanana pas anjeunna rek hiber
> ka LN, kenging ti hiji milist. Nyanggakeun, hapunten henteu ditarjamahkeun
> kana basa Sunda.
>
> manar
>
>
> #Oleh: Dahlan Iskan CEO PLN
>
> Malam itu saya sudah di ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Siap
> berangkat ke Amsterdam, Belanda. Tas sudah masuk bagasi. Saya cek lagi
> paspor untuk melihat dokumen imigrasi. Semua beres. Saya pun siap-siap
> sebentar lagi boarding. Istri saya sudah di Eropa tiga hari lebih dulu.
> Mendampingi anak sulung saya yang menjabat Dirut Jawa Pos, yang menerima
> penghargaan dari persatuan koran sedunia. Jawa Pos terpilih sebagai koran
> terbaik dunia tahun ini.
>
> Saya pun kirim BBM kepada direksi PLN untuk memberitahu saat boarding sudah
> dekat. "Kapan pulangnya, Pak Dis?," tanya seorang direktur. "Tanggal 21
> Oktober. Setelah kabinet baru diumumkan," jawab saya.
> "Ooh, ini kepergian untuk nge-lesi ya," guraunya.
> Saya memang tidak kepingin jadi menteri. Saya sudah terlanjur jatuh cinta
> dengan PLN. Instansi yang dulu saya benci mati-matian ini telah membuat saya
> sangat bergairah dan serasa muda kembali. Bukan karena tergiur fasilitas dan
> gaji besar, tapi saya merasa telah menemukan model transformasi korporasi
> yang sangat besar yang biasanya sulit untuk berubah. Saya juga tidak habis
> pikir mengapa PLN bisa berubah menjadi begitu dinamis. Beberapa faktor
> terlintas di pikiran saya.
>
> Pertama, mayoritas orang PLN adalah orang yang otaknya encer.
> Problem-problem sulit cepat mereka pecahkan. Sejak dari konsep, roadmap
> sampai aplikasi teknisnya. Kedua, latar belakang pendidikan orang PLN
> umumnya teknologi sehingga sudah terbiasa untuk berpikir logis. Ketiga,
> gelombang internal yang menghendaki agar PLN menjadi perusahaan yang
> baik/maju ternyata sangat-sangat besar. Keempat, intervensi dari luar yang
> biasanya merusak sangat minimal. Kelima, iklim yang diciptakan oleh Menneg
> BUMN Bapak Mustafa Abubakar sangat kondusif yang memungkinkan lahirnya
> inisiatif-inisiatif besar dari korporasi.
>
> Lima faktor itu yang membuat saya hidup bahagia di PLN. Dengan modal lima
> hal itu pula komitmen apa pun untuk menyelesaikan persoalan rakyat di bidang
> kelistrikan bisa cepat terwujud. Itulah sebabnya saya berani membayangkan,
> akhir tahun 2012 adalah saat yang sangat mengesankan bagi PLN. Pada hari itu
> nanti, energy mix sudah sangat baik. Berarti penghematan bisa mencapai angka
> triliunan. Jumlah mati lampu sudah mencapai standar internasional untuk
> negara sekelas Indonesia. Penggunaan meter prabayar sudah menjadi yang
> terbesar di dunia. Ratio elektrifikasi sudah di atas 75%. Propinsi- propinsi
> yang selama ini dihina dengan cap "ayam mati di lumbung" sudah terbebas dari
> ejekan itu. Sumsel, Riau, Kalsel, Kaltim, Kalteng yang selama ini menjadi
> simbol "ayam mati di lumbung energi" sudah surplus listriknya.
>
> Pada akhir tahun 2012 itu nanti, tepat tiga tahun saya di PLN, saatnya saya
> mengambil keputusan untuk kepentingan diri saya sendiri: berhenti! Saya
> ingin kembali jadi orang bebas. Tidak ada kebahagiaan melebihi kebahagiaan
> orang bebas. Apalagi orang bebas yang sehat, punya istri, punya anak, punya
> cucu dan he he punya uang! Bisa ke mana pun mau pergi dan bisa mendapatkan
> apa pun yang dimau. Saya tahu masa jabatan saya memang lima tahun, tapi saya
> sudah sepakat dengan istri untuk hanya tiga tahun. Niat seperti itu sudah
> sering saya kemukakan kepada sesama direksi. Terutama di bulan-bulan pertama
> dulu. Tapi mereka melarang saya menyampaikannya secara terbuka. Khawatir
> menganggu kestabilan internal PLN. Mengapa? "Takut sejak jauh-jauh hari
> sudah banyak yang memasang strategi mengincar kursi Dirut, ujarnya. "Bukan
> strategi memajukan PLN," tambahnya. "Lebih baik, selama tiga tahun itu kita
> menyusun perkuatan internal agar sewaktu-waktu Pak Dis meninggalkan PLN
> kultur internal kita sudah baik," katanya pula.
>
> Saya setuju untuk menyimpan "dendam tiga tahun" itu. Organisasi sebesar PLN
> memang tidak boleh sering goncang. Terlalu besar muatannya. Kalau
> kendaraannya terguncang-guncang terus bisa mabuk penumpangnya. Kalau 50.000
> orang karyawan PLN mabuk semua, muntahannya akan menenggelamkan perusahaan.
>
> Sepeninggal saya ini pun tidak boleh ada guncangan. Saya akan mengusulkan
> ke Menteri BUMN yang baru untuk memilih salah satu dari direksi yang ada
> sekarang, yang terbukti sangat mampu memajukan PLN. Kalau di antara direksi
> sendiri ada yang ternyata berebut, saya akan usulkan untuk diberhentikan
> sekalian. Tapi tidak mungkin direksi yang ada sekarang punya sifat seperti
> itu.
>
> Saya sudah menyelaminya selama hampir dua tahun. Saya merasakan tim direksi
> PLN ini benar-benar satu-hati, satu-rasa, dan satu-tekad. Ini sudah
> dibuktikan ketika PLN menerima tekanan intervensi yang luar biasa besar,
> direksi sangat kompak menepisnya.
> Kekompakan seperti itu yang juga membuat saya semakin bergairah untuk
> bekerja keras mempercepat transformasi PLN. Saya menyadari waktu tidak
> banyak. Keinginan untuk bisa segera menjadi orang bebas tidak boleh
> menyisakan agenda yang menyulitkan masa depan PLN. Itulah sebabnya motto PLN
> yang lama yang berbunyi "listrik untuk kehidupan yang lebih baik", kita
> ganti untuk sementara dengan motto yang lebih sederhana tapi nyata: Kerja!
> Kerja! Kerja!
>
> Tanggal 27 Oktober 2011 nanti, bertepatan dengan Hari Listrik Nasional,
> motto baru itu akan digemakan ke seluruh Indonesia. Kerja! Kerja! Kerja!
> Sebenarnya ada satu kalimat yang saya usulkan sebelum kata kerja! kerja!
> kerja! itu. Lengkapnya begini: Jauhi politik! Kerja! Kerja! Kerja!
>
> Tapi teman-teman PLN menyarankan kalimat awal itu dihapus saja agar tidak
> menimbulkan komplikasi politik. Tentu saya setuju. Saya tahu, berniat
> menjauhi politik pun bisa kena masalah politik! Sudah lama saya ingin naik
> business class yang baru dari Garuda Indonesia. Kesempatan ke Eropa ini saya
> pergunakan dengan baik. Toh bayar dengan uang pribadi. Saya dengar business
> classnya Garuda sekarang tidak kalah mewah dengan penerbangan terkenal
> lainnya.
>
> Saya ingin merasakannya. Saya ingin membandingkannya. Kebetulan saat umroh
> Lebaran lalu saya sempat naik business class pesawat terbaru Emirat A380
> yang ada bar-nya itu. Sejak awal, sejak sebelum menjabat CEO PLN, saya
> memang mengagumi transformasi yang dilakukan Garuda. Saya dengar di
> Singapura pun kini Garuda sudah mendarat di terminal tiga. Lambang presitise
> dan keunggulan. Tidak lagi mendarat di terminal 1 yang sering menimbulkan
> ejekan "ini kan pesawat Indonesia, taruh saja di terminal 1 yang paling lama
> itu!".
>
> Beberapa menit lagi saya akan merasakan untuk pertama kali business class
> jarak jauh Garuda yang baru. Saya seperti tidak sabar menunggu boarding. Di
> saat seperti itulah tiba-tiba.... "Ini ada tilpon untuk Pak Dahlan," ujar
> keluarga saya yang akan sama-sama ke Eropa sambil menyodorkan HP-nya.
>
> Telpon pun saya terima. Saya tercenung. "Tidak boleh berangkat! Ini
> perintah Presiden!" bunyi telpon itu.
> "Wah, saya kena cekal," kata saya dalam hati.
> Mendapat perintah untuk membatalkan terbang ke Eropa, pikiran saya langsung
> terbang ke mana-mana. Ke Wamena yang listriknya harus cukup dan 100% harus
> dari tenaga air tahun depan. Ke Buol yang baru saya putuskan segera bangun
> PLTGB (pembangkit listrik tenaga gas batubara) agar dalam 8 bulan sudah
> menghasilkan listrik. Ke PLTU Amurang yang tidak selesai-selesai. Ke Flores
> yang membuat saya bersumpah untuk menyelesaikan PLTP (pembangkit listrik
> tenaga panas bumi) Ulumbu sebelum Natal ini.
> Saya tahu teman-teman di Ulumbu bekerja amat keras agar sumpah itu tidak
> menimbulkan kutukan. Pikiran saya juga terbang Lombok yang kelistrikannya
> selalu mengganggu pikiran saya. Sampai-sampai mendadak saya putuskan harus
> ada mini LNG di Lombok dalam waktu cepat. Ini saya simpulkan setelah kembali
> meninjau Lombok malam-malam minggu lalu. Saya tidak yakin PLTU di sana bisa
> menyelesaikan masalah Lombok dengan tuntas. Pikiran saya terbang ke Bali
> membayangkan transmisi Bali Crossing yang akan menjadi tower tertinggi di
> dunia. Ke Banten selatan dan Jabar selatan yang tegangan listriknya begitu
> rendah seperti takut menyetrum Nyi Roro Kidul.
> Meski masih tercenung di ruang tunggu Garuda, pikiran saya juga terbang ke
> Lampung yang enam bulan lagi akan surplus listrik dengan selesainya PLTU
> baru dan geothermal Ulubellu. Juga teringat GM Lampung Agung Suteja yang
> saya beri beban berat untuk menyelesaikan nasib 10.000 petambak udang di
> Dipasena dalam waktu tiga bulan. Padahal dia baru dapat beban berat
> menyelesaikan 80.000 warga yang harus secara massal pindah mendadak dari
> listrik koperasi ke listrik PLN.
>
> Pikiran saya juga terbang ke Manna di selatan Bengkulu. Saya kepikir apakah
> saya masih boleh datang ke Manna tanggal 30 Desember, seperti yang saya
> janjikan untuk bersama-sama rakyat setempat syukuran terselesaikannya
> masalah listrik yang rumit di Manna. Saya terpikir Rengat, Tembilahan,
> Selatpanjang, Siak dan Bagan Siapi-sapi yang saya programkan tahun depan
> harus beres.
>
> Saya teringat Medan dan Tapanuli: alangkah hebatnya kawasan ini kalau
> listriknya tercukupi, tapi juga ingat alangkah beratnya persoalan di situ:
> proyek Pangkalan Susu yang ruwet, ijin Asahan 3 yang belum keluar, PLTP
> Sarulla yang bertele-tele dan bandara Silangit yang belum juga dibesarkan.
> Pikiran saya terus melayang ke Jambi yang akan jadi percontohan penyelesaian
> problem terpelik system kelistrikan: problem peaker. Di sana lagi dibangun
> terminal compressed gas storage (CNG) yang kalau berhasil akan jadi model
> untuk seluruh Indonesia. Saya ingin sekali melihatnya mulai beroperasi
> beberapa bulan lagi. Masihkah saya boleh menengok bayi Jambi itu nanti?
>
> Juga ingat Seram di Maluku yang harus segera membangun mini hidro. Lalu
> bagaimana nasib program 100 pulau harus berlistrik 100% tenaga matahari.
> Ingat Halmahera, Sumba, Timika
>
> Tentu saya juga ingat Pacitan. PLTU di Pacitan belum menemukan jalan
> keluar. Yakni bagaimana mengatasi gelombang dahsyat yang mencapai 8 meter di
> situ. Ini sangat menyulitkan dalam membangun breakwater untuk melindungi
> pelabuhan batubara.
> Dan Rabu 23 Oktober lusa saya janji ke Nias. Dan bermalam di situ. Empat
> bupati di kepulauan Nias sudah bertekad mendiskusikan bersama bagaimana
> membangun Nias dengan lebih dulu mengatasi masalah listriknya.
>
> Yang paling membuat saya gundah adalah ini: saya melihat dan merasakan
> betapa bergairahnya seluruh jajaran PLN saat ini untuk bekerja keras
> memperbaiki diri. Saya seperti ingat satu persatu wajah teman- teman PLN di
> seluruh Indonesia yang pernah saya datangi.
>
> Dengan pikiran yang gundah seperti itulah saya berdiri. Mengurus pembatalan
> terbang ke Eropa. Menarik kembali bagasi, membatalkan boarding, mengusahakan
> stempel imigrasi dan meninggalkan bandara.
>
> Hati saya malam itu sangat galau. Saya sudah terlanjur jatuh cinta setengah
> mati kepada orang yang dulu saya benci: PLN. Tapi belum lagi saya bisa
> merayakan bulan madunya saya harus meninggalkannya. Inikah yang disebut
> kasih tak sampai?
>
> CEO's Notes, Jakarta, 18 Oktober 2011 ini disebarkan oleh :
>
> LUTHFI HANI
> Kepala Bidang Komunikasi Korporat
> PT
> Indonesia Power-A Subsidiary of PT PLN (Persero)
> Jln. Jend. Gatot Subroto Kav 18-Jakarta 12950 Indonesia
> Tlp
> +62 21 5267666 ext 6200Fax
> +62 21 5251923 /
> 5252623
> email :
> [email protected]
>
>
> 2011/10/21 Ki Hasan <[email protected]>
>
>> **
>>
>>
>> Aya nu kurang, jigana DI pohoeun kitu: "Jelema nu sok dikencarkeun wae,
>> diabur, bakal jadi kebo"
>> Hehehe. Di alam nyata mah moal aya hirup ukur ku hiji kacenderungan.
>> Tangtuna ge bakal kapangaruhan ku ti sisi, ti gigir, ku babacaan, ku
>> pangalaman. Sanes kitu baraya.
>>
>> Uing mah ninggalina, DI tipikal jelema otodidak nu kabeneran sukses. Mun
>> ku urang dicoba dibandingkeun sakur jelema otodidak sukses, asana karakterna
>> sok ampir sarimbag. Coba urang Sunda ge aya pan, nu otodidak  sukses lin?
>>
>> 2011/10/21 Sp Saprudin <[email protected]>
>>
>>> **
>>>
>>>
>>> Ceuk Dahlan Iskan :
>>> "Jelema anu sok mindeng dibere arahan bakal jadi bebek. Jelema anu sok
>>> mindeng dibere instruksi bakal jadi besi. Jelema anu sok mindeng dibere
>>> pepeling bakal kasieunan. Jelema anu sok mindeng dibere "kuliahan" engkena
>>> sok mindeng menta patunjuk".
>>>
>>>
>>>
>>>
>>
>  
>

Kirim email ke