KH Ahmad Sanusi ge, tos diusulkeun. Ngan asana harita teh tertunda. Kungsi diposting oge di ieu milis.
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=163847 2011/11/10 Sp Saprudin <[email protected]> > ** > > > > AHMAD SANUSIA, panginten ieu nami calon Pahlawan Nasional. > Anjeunna asal Sukabumi, anu tos gaduh jasa tina ngadirikeun PERSATUAN UMAT > ISLAM. Anjeunna oge tos gaduh jasa ngadirikeun rebuan sakola sareng yayasan > pendidikan Islam di Jawa Barat. > > > *Dari:* MRachmat Rawyani <[email protected]> > *Kepada:* urangsunda urangsunda <[email protected]> > *Cc:* "[email protected]" <[email protected]> > *Dikirim:* Kamis, 10 November 2011 13:47 > *Judul:* Fw: Bls: [kisunda] Re: Tokoh - Presiden Prawiranegara?...Kiai > Nawawi Al Bantani? > > > > ----- Forwarded Message ----- > *From:* MRachmat Rawyani <[email protected]> > *To:* "[email protected]" <[email protected]> > *Sent:* Tuesday, November 8, 2011 5:54 PM > *Subject:* Re: Bls: [kisunda] Re: Tokoh - Presiden Prawiranegara?...Kiai > Nawawi Al Bantani? > > > Asana teh A.M. Fatwa anu ngusulkeun Pa Syafruddin dileler gelar pahlawan > nasional. Kabehdieunakeun asana teh Bu Nina Lubis ngusulkeun salah saurang > tokoh Sunda janten pahlawan Nasional. Hilap deui saha nya? > > Saleresna mah sateuacan Buya Hamka, aya calon "kuat" urang Banten oge, > tapi leuwih kakoncara di luar Indonesia. Nyaeta Kiai Nawawi al Bantani, anu > dikurebkeun sa kompleks sareng Istri Rosulullah Ibu Siti Khadijah R.A, di > pajaratan Ma'la (?) Mekah. Kapaning kamari oge, SBY ngahadiran haulna di > Banten. Kuring kantos motret kuburanana ti katebihan, waktos munggah haji > taun 2008. Caket kuburanana teh aya tatangkalan, siga anu ngaiyuhan > pajaratanana. Di Ma'la mung aya hiji-hijina tatangkalan anu ngiuhan > kuburan. > > baktos, > > mrachmatrawyani > > *From:* Sp Saprudin <[email protected]> > *To:* "[email protected]" <[email protected]> > *Sent:* Tuesday, November 8, 2011 4:47 PM > *Subject:* Bls: [kisunda] Re: Tokoh - Presiden Prawiranegara? > > > Tah eta yen Mr. Syafruddin is may ancestor. I call him grandpa, baut I'm > confused, because I was not her > grandson...........................Syafrudin name is always popular, so > there are officials, technocrats, beraucrats, politicians, even some that a > thief clothesline....he..he..he..he... > Naon sia nyengir bae!!! > *Dari:* Ki Hasan <[email protected]> > *Kepada:* Ki Sunda <[email protected]> > *Dikirim:* Rabu, 9 November 2011 5:27 > *Judul:* [kisunda] Re: Tokoh - Presiden Prawiranegara? > > > Syafruddin dan Buya Hamka Pahlawan Nasional > SELASA, 08 NOVEMBER 2011 | 17:35 WIB > *TEMPO Interaktif*, *Jakarta* - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono > menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada tujuh orang yang dianggap > berjasa bagi bangsa. Tiga di antaranya Syafruddin Prawiranegara, Abdul > Malik Karim Abdullah atau Buya Hamka dan Sri Susuhunan Pakubuwono X. > Penyerahan gelar dilakukan di Istana Negara Jakarta, Selasa, 8 November > 2011. > > Syafruddin Prawiranegara adalah Ketua Pemerintah Darurat Republik > Indonesia yang berkedudukan di Sumatera Barat. Pemerintahan darurat > didirikan setelah Belanda melakukan Agresi Militer ke-II dan menduduki ibu > kota negara, Yogyakarta, pada 19 Desember 1949 dan menangkap Presiden > Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta. Syafruddin diperintahkan oleh > keduanya untuk mendirikan pemerintahan darurat. Mandat pemerintahan > diserahkan kembali ke Soekarno-Hatta pada 13 Juli 1949. > > Putra Syafruddin, Farid Prawiranegara, mengatakan dirinya mensyukuri gelar > pahlawan yang diberikan kepada orang tuanya. Tetapi, ia mengingatkan bahwa > perjuangan Syafruddin belum selesai. "Masih banyak hal-hal yang perlu > diperjuangkan. Ini merupakan warisan anak cucu yang nanti mudah-mudahan > bisa melaksanakan," katanya ketika ditemui usai penyerahan gelar siang ini. > > Sementara Buya Hamka adalah ulama, aktivis politik, dan penulis yang sudah > terjun ke dunia politik sejak 1925 serta ikut perang gerilya melawan > Belanda di Medan pada 1945. Ia pernah menjadi Ketua Barisan Pertahanan > Indonesia dan anggota Konstituante Masyumi pada 1947. Pada 1957 ia diangkat > menjadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan pada > 1981. > > Pakubuwono X diberi gelar pahlawan nasional karena peran-perannya semasa > penjajahan Belanda. Empat orang lain yang dianugerahi gelar pahlawan > nasional adalah pejuang dari Kalimantan Selatan Idham Chalid, pejuang dari > Yogyakarta Ki Sarmidi Mangunsarkoro, pejuang dari Bali I Gusti Ketut Pudja, > dan pejuang dari Yogyakarta Ignatius Joseph Kasimo. > > Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan yang juga Ketua > Dewan Gelar Djoko Suyanti mengatakan syarat khusus untuk mendapat gelar > pahlawan nasional adalah pernah memmpin dan melakukan perjuangan bersenjata > atau perjuangan politik atau perjuangan di bidang lain. "Untuk mencapai dan > mempertahankan dan mengisi kemerdekaan serta mengisi persatuan dan kesatuan > bangsa," kata dia. > > Selain itu, mereka juga harus tidak pernah menyerah kepada musuh, serta > melakukan pengabdian dan perjuangan sepanjang hidupnya, melahirkan gagasan > kepemimpinan besar dan menghasilkan karya besar, memberikan konsistensi di > dalam perjuangannya. Selain itu, perjuangannya harus bersifat nasional. > > *KARTIKA CANDRA* > > http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2011/11/08/brk,20111108-365516,id.html > > 2011/3/28 Ki Hasan <[email protected]> > > > Presiden Prawiranegara yang Dilupakan > > > LIFE/James Burke > Kolonel Dahlan Djambek (paling kiri), Burhanuddin Harahap, pemimpin > Dewan Revolusi Ahmad Husein, Mr Sjafruddin Prawiranegara, dan Maludin > Simbolon. > Foto yang diambil Maret 1958 ini menunjukkan mereka sebagai pemimpin > Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) berkedudukan di > Bukittinggi, melawan rezim Soekarno. > Senin, 28 Maret 2011 | 06:52 WIB > *JAKARTA, KOMPAS.com <http://kompas.com/> *— Kiprah tokoh Sjafruddin > Prawiranegara yang berperan penting di era Pemerintahan Darurat Republik > Indonesia (PDRI) kini diangkat ke dalam novel. Penulisnya, Akmal Nasery > Basral, menggarapnya dengan judul *Presiden Prawiranegara*. > Akmal, novelis kelahiran Jakarta, 28 April 1968, menekuni dunia > jurnalistik selama 16 tahun, di antaranya sebagai wartawan *Tempo*.** > "Saya ingin menggambarkan sebagai novelis bahwa ada satu masa dalam > kehidupan Pak Sjafruddin yang selama ini kurang dijelaskan," kata Akmal > seusai acara peluncuran bukunya di Jakarta, Minggu (27/3/2011). > Akmal melihat Sjafruddin sebagai pemimpin yang prorakyat dan memiliki > pengorbanan yang tidak kenal pamrih. Namun, ia tak banyak dikenalkan di > sekolah, sebagaimana nama Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, dan H Agus Salim. > Padahal, katanya, Sjafruddin Prawiranegara pernah menjadi menteri > keuangan, gubernur pertama Bank Indonesia, dan ada banyak jabatan lagi. > Akmal termasuk yang menempatkan Sjafruddin sebagai salah satu Presiden RI. > "Sebetulnya, kalaupun pemerintah tidak menulis itu sebagai presiden tapi > Ketua PDRI, mestinya tetap bisa ditulis, yang masih menjadi masalah adalah > sebutan presidennya, tapi sebetulnya ia kepala negara setelah Bung Karno," > ujarnya. > Menurut dia, 10 tahun setelah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia > (PDRI), ada problem manajemen nasional sehingga muncul Pemerintahan > Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Pemerintah pusat menganggap PRRI > sebagai pemberontakan. > Keterlibatan Sjafruddin dalam PRRI itu membuat peran pentingnya hilang > selama era Orde Lama ataupun Orde Baru. Sjafruddin bahkan ikut meneken > Petisi 50 bersama Ali Sadikin dan oleh Orde Baru hal itu juga dianggap > sebagai upaya makar. > Bagi Akmal, reputasi Sjafruddin di era kemerdekaan itu tak seharusnya > membuat dia juga dicoret dari daftar nama Presiden RI. Ia mencontohkan, > mantan Presiden Amerika Serikat Richard Nixon pernah terbukti salah dalam > skandal Watergate, tetapi dalam sejarah tetap diakui sebagai presiden. > Akmal mengungkapkan, Sjafruddin pun tidak mendapat penghargaan pahlawan > nasional. Namun, namanya dipakai sebagai nama menara di kompleks kantor > Bank Indonesia dan nama gedung di kantor Kementerian Pertahanan karena ia > pernah menjadi menteri pertahanan dalam kabinet PDRI. "Itu, kan, lucu. Ada > bagian pemerintah yang mengakui, tetapi secara legitimasi tidak diakui," > ujarnya. > Sementara itu, politisi Fadli Zon yang juga menjadi narasumber dalam > peluncuran buku novel itu mengatakan, Akmal berhasil mengangkat periode > sejarah yang terlupakan atau bahkan mungkin dilupakan melalui judul yang > cukup provokatif. > "Kalau Pemerintah RI tak mau mengakui Sjafruddin sebagai pahlawan, saya > kira itu keliru besar. Penentuan pahlawan itu bukan lewat lobi atau tekanan > politik, tetapi melalui suatu kajian, dan peran PDRI itu amat penting," > katanya. > Sementara putri kedua Sjafruddin, Sofiah Y Prawiranegara, yang juga > menjadi narasumber, bercerita, mendiang ayahnya juga senang musik. Ia > pernah menciptakan mars Masyumi. > Masyumi adalah Majelis Syuro Muslimin Indonesia, partai politik yang > dilarang Orde Lama dan dilanggengkan oleh Orde Baru. > > *Dapatkan artikel ini di URL:* > > http://www.kompas.com/read/xml/2011/03/28/0652185/Presiden.Prawiranegara.yang.Dilupakan > > > > > > > > > > > > >
