Temuan Dua Candi Baru Makin Menunjukkan Jabar Bagian dari Peta Penyebaran Hindu di Nusantara Selasa, 22/11/2011 - 06:38
BANDUNG, (PRLM).- Temuan dua candi baru di kawasan Batujaya, Kab. Karawang, semakin menunjukkan kawasan Batujaya sebagai kawasan percandian dan Jawa Barat bagian dari penyebaran Hindu di Nusantara. Sejak pertamakali dilakukan penelitian penjajakan 1975 dan diteruskan dengan penelitian (ekskavasi) tahun 1984 hingga Minggu (20/11) 2011 telah ditemukan 32 candi. Ditemukannya kembali dua candi Hindu di kawasan Batujaya, Kab. Karawang dalam satu pekan terakhir, menurut Kasi Kepurbakalaan Balai Kepurbakalaan, Sejarah dan Nilai Tradisional (BPKSNT) di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat (Disparbud Jabar) Dra. Romlah Rustandi, mampu “menjungkir-balikkan” fakta tentang arah penyebaran budaya dan agama Hindu di Nusantara. “Meski pada masa silam sejumlah kerajaan Hindu dan Budha, seperti Tarumanegara, Pajajaran hingga Kerajaan Sunda, namun wilayah Jawa Barat kurang mendapatkan tempat dalam sejarah Nusantara kuno karena sangat jarang yang memiliki tinggalan arkeologis,” ujar Romlah Rustandi dalam keterangannya kepada media diruang kerjanya, Senin (21/11) kemarin. Anggapan tersebut, menurut Romlah sedikit terbantahkan dengan diawali temuan candi Lanang dan Candi Wadon di Cibuaya, Kab. Karawang, diikuti percandian lain di Batujaya, Kab. Karawang, kemudian di Binangun (Pamarican) dan Pananjung di Kab. Ciamis, serta di Sagalaherang, Kab. Subang. “Dengan sudah ditemukannya tigapuluh dua candi di Batujaya, semakin menguatkan kalau Jawa Barat sebagai bagian dari peta penyebaran Hindu di Nusantara sekaligus mengarah pada perkiraan kawasan Batujaya sebagai kawasan percandian terluas di Asia,” ujar Romlah. Berdasarkan letaknya, Soni Prasetya Wibawa dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang (BP3 Serang), mengatakan kawasan situs Batujaya terdapat peninggalan dari masa klasik. Kawasan Batujaya mencakup wilayah yang cukup luas yaitu sekitar 5 km2, terbentang pada koordinat 06°02’52,10” - 06°03’34,17” Lintang Selatan dan 107°09’01,00” - 107°09’05,91” Bujur Timur. Secara administratif kawasan ini termasuk di wilayah Desa Segaran Kecamatan Batujaya dan desa Telagajaya Kecamatan Pakisjaya. Situs berada tidak jauh dari dari garis pantai utara Laut Jawa, pada areal persawahan dan sebagian pada areal pemukiman penduduk. “Di sebelah selatan situs terdapat aliran Sungai Citarum. Sungai dan persawahan tidak pernah mengalami masa kering dan sepanjang tahun basah oleh genangan serta air resapan yang diperkuat keterangan dari Dehann salah seorang ahli Belanda yang mengatakan tahun 1800an sekitar lokasi mengalami banjir periodic Sungai Citarum,” ujar Soni. Menurut Soni, rangkaian temuan candi di Batujaya Kab. Karawang tidak terlepas dari peran ahli arkeolog Universitas Indonesia, Hasan Djafar yang sejak 1984 terus melakukan penelitian. Hingga kini sudah ditemukan 32 candi hasil ekskavasi yang 15 diantaranya sudah diberikan penamaan. Tinggalan arkeologis di Batujaya tersebut tersebar di Desa Segaran dan Telagajaya sehingga dinamai SEG (Segaran) dan TLJ (Telagajaya). Adapun nama-nama candi tersebut adalah SEG I (Jiwa)SEG II (Lempeng)SEG III-A (Damar A)SEG III-B (Damar B) SEG V (Blandongan)TLJ I-A (Serut A)TLJ I-B (Serut B)TLJ I-C (Serut C)TLJ II (Lingga)TLJ III-B (Lamar B) TLJ V (Asem) TLJ VI-A (Silinder A)TLJ VI-B (Silinder B)TLJ VII (Gundul) TLJ XI (Sawah Kramat). Namun dari 32 candi yang paling monumental adalah Candi Blandongan dan Candi Jiwa yang berbentuk bujur sangkar dan bercorak Budha. “Kedua candi tersebut sangat berbeda dibandingkan candi-candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dibuat dengan bahan batu,” ujar Soni. Candi Blandongan dan Jiwa tersusun dari bata merah yang konon dicampur dengan kulit kerang. Maklum, ketika itu sangatlah sulit menemukan batuan andesit di lokasi yang tak jauh dari pantai utara Jawa. Sementara itu, lapisan dinding dan hiasan candinya menggunakan bahan yang unik, yakni stuko atau campuran dari pasir, kerikil, dan kulit kerang. Candi Blandongan berukuran lebih besar, dengan panjang dan lebar masing-masing 24,2 meter. Sementara candi yang ditemukan di Sawah Kramat milik Maska di Rabu (16/11) di Kampung Telagaherang, Desa Teluk Buyung, Kec. Pakisjaya, Kab. Karawang, berbentuk stupa segi delapan. “Ini semakin memperkaya hasil penelitian dan akan menjadi khasanah ilmu pengetahuan sejarah serta budaya bukan hanya bagi Jawa Barat, tetapi juga Nusantara,” ujar Soni. (A-87/das)*** http://www.pikiran-rakyat.com/node/166441
