Mamah Iyar Wiarsih "Mojang Priangan" Siap Turunkan Ilmu Sabtu, 07/01/2012 - 21:10 [image: RETNO HY/"PRLM"] RETNO HY/"PRLM" MAMAH Iyar Wiarsih (kiri) saat menceritakan pengalamannya kepada Kepala Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, Dra. Hj. Rosdiana Rachmiwaty, M.Si., saat ditemui dirumahnya Kampung Rancabali RT02...
BANDUNG, (PRLM).- Setelah puluhan tahun memilih untuk mengasuh cucu dan cicit, pesinden Iyar Wiarsih (80) menyanggupi tawaran Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat (BPTB Jabar) untuk mewariskan keahliannya pada peserta Program Pewarisan Seni Tradisional Jawa Barat 2012. Pengarang sekaligus pelantun tembang “Mojang Priangan” ini tidak hanya akan mewariskan lagu-lagu yang hingga kini masih tersusun rapih dalam buku catatannya, tetapi juga akan mewariskan gaya panggung dan warna suaranya. “Antara tahun 1950 hingga 1960-an sempat memiliki murid sampai empat puluh orang, tapi tidak ada satupun yang menerima ilmu secara utuh dengan kemampuan sama persis dengan Mamah. Demikian pula dalam beberapa tahun ini, ada banyak calon penyanyi (lagu sunda) ataupun pesinden yang meminta diajarkan gaya Mamah, tapi karena setelah bisa satu dua lagu tidak datang lagi, jadi tidak semua ilmu diterima,” ujar Mamah Iyar, kepada Kepala BPTB Jabar Dra. Hj. Rosdiana Rachmiwaty, M.Si., yang menemuinya di rumahnya Kampung Rancabali RT 02/02, Ds. Kertamulya, Kec. Padalarang, Kab. Bandung Barat. Sejak meninggalnya Warsa Muharam, suaminya, pada tahun 1982 bubar pula grup Sundayana. Mamah Iyar Wiarsih nyaris menghentikan aktivitas berkeseniannya sebagai juru tembang (pesinden). Tapi karena tidak mengecewakan yang menggundang, sesekali masih suka naik panggung dan menerima pesinden atau calon sinden yang berguru pada dirinya. Di sejumlah daerah priangan Mamah Iyar dikenal sebagai "Mojang Priangan", di kawasan Pantura (Pantai Utara) dikenal sebagai "Si Jago Dermayon". Sudah sejak usia 15 tahun naik panggung dan hampir 100 lagu diciptakannya, yang dua diantaranya sangat legendaries adalah “Mojang Priangan” dan “Dikantun Tugas”. Meski dianggap dan diakui turut andil di medan juang, hingga usia senjanya Mamah Iyar tidak mendapat pengakuan khusus apalagi santunan dari pemerintah sebagai pejuang. Karena sikap rendah hati, sederet penghargaan yang di antaranya dari Menteri Penerangan RI (1977), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1981), Gubernur Jawa Barat (1985), dan Bupati Bandung (1993) serta terakhir Anugerah Budaya dari Disparbud Pemkot Bandung (2009), telah membuatnya bahagia. (A-87/A-88)*** http://www.pikiran-rakyat.com/node/172207
