Hadeuuuuuuuh Mang Sur bagaimana kumaha ieu? Mani raosnya "Ceu Kokom" bisa dapet 80 Milyar :((. Sementara kita mah rahayat leutik bikin izin usaha ajah susahnya minta ampyuuuun :((. Mani enak gituh yah bagi-2 duit. PSK wae kudu ngangkang heula + resiko kena HIV AIDs utk dapet duit... Ini mah haduuuuuh...iiih para kuruptor apa ngak malu atuuuh sama PSK :P.
Mang DI mudah-2an tidak ikut-2an yah... Kalo ikut-2an teh duuuuh http://www.ngerakeun.com weh!!! Ceu Kokom (Komisyooong) sepertinya sudah menjadi lumrah yah di Indonesyah? Jadi membayangkan dengan APBN yg sekitar 1600 Trilyun-an CMIIW, kira-2 dana yg bermutasi menjadi Ceu Kokom berapa % ya? Kalau misalnya Total Ceu Kokom itu 10% ajah berarti ada sekitar 160 Trilyun yah duit yg jadi Ceu Kokom yg menjadi Al Mubazirun :((. Kalo 160 Trilyun itu dibagi rata ke seluruh desa di Indonesia... bisa membangun ngak ya? Ceu Kokooom oooh Ceu Kokooom memang sexiiiiiw... Dirimu memang digemari semua orang ;). Nuhuuuuuns, Mang Kabayan www.dkabayan.com "ti urang, ku urang, keur balarea" -----Original Message----- From: "suryana" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Thu, 19 Jan 2012 02:14:19 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [kota-bogor] D.I ikut terlibat ? Laporan Wartawan Tribunnews.com Abdul Qodir TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Bendahara Partai Demokrat (PD) Muhammad Nazaruddin menyatakan Ketua Umum PD Anas Urbaningrum menerima fee dari proyek Pembangkit Listrik Negara (PLN) sebesar Rp 80 miliar. Hal itu diketahui Nazar dari pengakuan seorang pengusaha bernama Mila yang juga mempunyai peran dalam proyek tersebut. Mila melaporkan ke Nazar, bahwa Anas telah menerima fee Rp 80 miliar. Dan fee itu ditujukan untuk Anas dan Direktur Utama PLN, Dahlan Iskan. "Di BBM, (bilang) Bang, uangnya sudah dipegang sama Mbak Mila, untuk Anas dan Dahlan," ujar Nazar seusai menjalani sidangnya sebagai terdakwa kasus suap proyek Wisma Atlet di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (18/1/2012). Menurutnya, dirinya bersama rekannya di DPR dari Partai Demokrat di Sutan Batoeghana dan seorang pengusaha bernama Mila dipercayakan oleh Anas untuk mengurus proyek itu. Namun, karena uangnya telah diserahkan ke Anas, Nazar mengaku tidak tahu porsi fee untuk Anas dan Dahlan. Nazar menjelaskan, dana puluhan miliaran itu adalah fee dari proyek PLN di Kalimantan Timur dan Riau senilai Rp 2,2 triliun pada 2010. Untuk proyek pembangkit listrik di Kaltim dikerjakan oleh PT Adhi Karya dan di Riau oleh PT Rekayasa Industri. Dalam pengerjaan proyek itu, kedua perusahaan itu bekerja sama dengan perusahaan asal Cina. Namun, pemenangan proyek dilakukan melalui tender yang telah diatur sebelumnya. "Dan untuk Pak Anas (diberikan) oleh Bu Mila. Ada rekaman BB (BlackBerry) saya," ujarnya. Nazar menjelaskan, sebelum proyek dimenangkan, ia bersama Sutan Batoeghana, Direktur Marketing PT Anak Negeri Mindo Rosalina Manulang, dan perwakilan PT Adhi Karya melakukan pertemuan di Restoran Nippon Khan, Hotel Sultan, Jakarta, dalam rangka membahas proyek PLN tersebut. Menurutnya, sekitar dua pekan setelah pertemuan pertama dilaksanakan, dilakukan kembali pertemuan kedua yang juga dihadiri Dahlan Iskan. "Kalau Dahlan Iskan satu minggu atau dua minggu sebelumnya. Lokasinya di Nippon Khan juga. (Yang hadir) saya , Sutan, Pak Dahlan," ujarnya. Nazar mengatakan, keikutsertaan Dahlan Iskan di pertemuan itu, karena proyek PLN berhubungan dengannya. "Di PLN, maka pembicaraannya dengan Pak Dahlan," ujarnya. Tudingan terhadap Dahlan Iskan ini sudah lama terdengar. Dahlan sewaktu menjadi CEO PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Dahlan Iskan sempat menangkis tudingan M Nazaruddin bahwa ada indikasi korupsi dalam proyek PLN di Kaltim dan Riau.
