ari kuring mah ningali kumaha daya serap SMK tina industri. da dikuma oge, 
industri nu bakal nyerap lulusanna. dina abdi oge teu kagungan data mengenai 
hal ini.
ari daya serap industri ageung, pasti teu eleh peminatna.

sincerely yours, R. Gautama MIS -geotechnical engineer- -in Grasberg_


________________________________
From: Ki Hasan <[email protected]>
To: Ki Sunda <[email protected]> 
Cc: Baraya Sunda <[email protected]>; Urang Sunda 
<[email protected]> 
Sent: Thursday, January 19, 2012 1:27 PM
Subject: [kisunda] Fwd: FW: Masyarakat Didorong Pilih SMK







---------- Forwarded message ----------
From: Suarsa, Roni <[email protected]>
Date: 2012/1/19
Subject: FW: Masyarakat Didorong Pilih SMK
To: Ki Hasan <[email protected]>



Tah geuning pipikiran kuring rada saeutik kajawab heuheuheu, da heeuh ketang 
lain deuk nyawad ka nu niat leuwih onjoy, keur nu boga waragad mah taya salahna 
ti SMK oge bisa neruskeun sakola lin mang? JJ 
 
 
http://edukasi.kompas.com/read/2012/01/19/09272154/Masyarakat.Didorong.Pilih.SMK
 
Indra Akuntono| Inggried Dwi Wedhaswary | Kamis, 19 Januari 2012 | 09:27 WIB 
JAKARTA, KOMPAS.com- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) 
menyatakan keseriussannya mendorong lebih banyak masyarakat ke Sekolah Menengah 
Kejuruan (SMK). Akan tetapi, upaya untuk "mempopulerkan" SMK akan dilakukan 
secara bertahap dan alamiah. Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Pendidikan 
Menengah (Dirjen Dikmen) Kemdikbud, Hamid Muhammad kepada Kompas.com, Rabu 
(18/1/2012) malam, di Jakarta.

Menurut Hamid, saat ini jumlah siswa SMK dan SMA cukup seimbang dengan proporsi 
50:50 dari jumlah seluruhnya (SMA/MA/SMK) yang mencapai 11,34 juta siswa.

"Ke depan memang kita dorong untuk masyarakat yang ingin langsung bekerja agar 
masuk ke SMK. Tapi kita tidak bisa menyulap, semua tergantung potensi daerah, 
dan secara alamiah proporsinya akan kita dorong menjadi 60:40," ujar Hamid.

Ia menjelaskan, SMK dan SMA memiliki segmentasi yang berbeda. SMK lebih 
mengedepankan kompetensi produktif, dan dipilih oleh mereka yang ingin segera 
bekerja, atau pun berwirausaha. Adapun SMA, lebih mengutamakan kemampuan 
akademik, dan umumnya dipilih oleh mereka yang ingin melanjutkan ke jenjang 
pendidikan tinggi.

"Tapi mutu keduanya tetap akan kita kawal. SMK dalam mutu produksi, dan SMA 
mutu akademiknya," kata Hamid.

Sebelumnya, Wamendikbud bidang Pendidikan Musliar Kasim mengatakan, ke 
depannya, jumlah SMK akan melebihi jumlah SMA yang ada saat ini. Senada dengan 
itu, Hamid menjelaskan, kementerian telah mengalokasikan Rp 1,9 triliun untuk 
pembangunan infrastruktur SMK dan SMA yang berasal dari anggaran 2012. Dana 
tersebut digunakan untuk pembangunan unit sekolah baru (USB), ruang kelas 
belajar (RKB), rehabilitasi, dan termasuk pembangunan ruang praktiknya. 
 

________________________________

RONI RA SUARSA
OPERATOR, YEP PP WET END
Saudi Yanbu Petrochemical Company
A SABIC Affiliate
Yanbu Industrial City 41912
Saudi Arabia
T +966 (4) 321 4276-4276
F 
E [email protected] 
--------------------------------
This e-mail and any attachments are for authorized use by the intended 
recipient(s) only. They may contain proprietary material or confidential 
information and/or be subject to legal privilege. They should not be copied, 
disclosed to, or used by any other party. 
If you have reason to believe that you are not one of the intended recipients 
of this e-mail, please notify the sender immediately by reply e-mail and 
immediately delete this e-mail and any of its attachments. Thank you.




Kirim email ke