Analis ekonom, hilap deui namina (CC Wei kitu?). Nyebatkeun yen fondamen/dasar 
kapitalis adalah ketamakan/kasarakahan. Ieu jadi dadasar pikeun persaingan 
"sehat", kepemilikan jeung
semangat/antusias diri-diri pelaku ekonomi. Mung dina praktekna, mucunghul epek 
negatip
umpamana ayana konglomerasi badan/institusi ekonomi anu ngagiles ekonomi kecil, 
kitu
oge soal monopoli. Epek nu gaduh dua sisi nu sanes umpamana perdagangan mata 
uang sareng saham. Penggelembungan nilai ekonomi, bari teu aya pakuat-pakaitna 
jeung ekonomi
nyata/riel di masyarakat. 
RRC ngadopsi kapitalisme mung tiasa oge ngikis epek negatipna tina kapitalisme. 
Umpamana teu aya nu namina perdagangan mata uang, sareng mata uang na dipatok. 
Pikeun ngarojong ketaklengkah/sepakterjang nu sepertos RRC meryogikeun kakuatan 
negara(state power) nu kuat ti pelaku penyelenggara nagara. Kakuatan ieu aya 
didukung kunu namina PKC (partai komunis cina), numana dina negakeun hukumna 
kalintan teges pisan, pamingpina daek diteukteuk beuheung lamun dirina terbukti 
terlibat dina urusan korupsi. 
Prediksi sim kuring, pelaku penyelenggaran nagara di RRC, didominasi ku anggota 
(polit) biro PKC, upami dibandingkeun jeung Indonesia mah, sepertos PNS anu 
kapungkurmah 99,99% GOLKAR.

Di RRC jelas teu aya nu namina demokrasi, kebebasan berekspresi, kebebasan 
berorganisasi, atanapi kebebasan berserikat/ngadamel ormas atanapi parpol.
Sadayana parantos lebet/melekat ka urusan PKC. 
Moal aya nunamina sepertos FPI, IJABI, Ahlulsunah NU, PERSIS, Muhammadiyah.

Indonesia ayeuna, teu puguh kiblatna, ari struktur organisasi nagara masih 
serbanagara,
ari penyelenggara nagara (pucuk pimpinanna) mucunghul ti partai politik hasil 
proses demokrasi tea. Jadina kitu loba nu aji mungpung aing keur berkuasa, 
kumaha carana meunangkeun proyek-proyek pikeun kapentingan partaina. Ieu pisan 
nu kajadian dina partai Demokrat ayeuna. Rebut-rebutan kakawasaan antara 
aparatur birokrat (nu baheulana
99,99% golkar) verses anggota elit partai politik nu keur berkuasa.

Salam
mz

------------------------------
Pada Jum, 17 Feb 2012 11:00 ICT Waluya menulis:

>Panganteur:  Caping Tempo 13/2/2012, ceuk kuring mah lumayan "menarik",
>sabab nyaritakeun SARAKAH atawa KASARAKAHAN, bari ilustrasina Cina Komunis.
>30-40 taun katukang di Cina teu aya kapamilikan pribadi, kabeh milik
>komunal, jelema digawe keur kapentingan sarerea, lir ibarat "masyarakat"
>nyiruan.  Tapi ayeuna di Cina geus lahir jalma-jalma beunghar siga di nagara
>kapitalis.  Nyanggakeun artikelna kanggo lenyepaneun:
>
>
>Tamak
>Senin, 13 Februari 2012
>
>Apa yang baru? Berubahkah manusia? Selama ribuan tahun, kita mendengar
>petuah para nabi, pemimpin berbagai agama, dan para aulia yang mengecam
>keserakahan. Hari-hari ini, di Amerika Serikat, debat politik berkecamuk
>tentang orang-orang kaya yang cuma sedikit membayar pajak, seperti di
>Indonesia. Tak hanya itu: di negeri ini (tapi juga di negeri lain) tiap hari
>orang bercerita tentang politikus dan pejabat yang tak puas-puasnya
>melakukan korupsi. 
>
>Dengan kata lain: keserakahan, sebuah tema universal, adalah kisah lama,
>variasi baru. 
>
>Dan kita pun terusik: jangan-jangan rakus memang amat dekat dengan sifat
>manusia. Jangan-jangan Milton Friedman benar. Ekonom pembela kapitalisme itu
>meminta kita berpikir kembali: "Adakah sebuah masyarakat yang bisa
>berlangsung tanpa berdasarkan keserakahan?" 
>
>"You think China doesn't run on greed?" ia bertanya.
>
>Cina memang sebuah contoh yang baik. Dalam sejarahnya yang panjang, ia
>pernah beberapa kali cemas mengalami akibat buruk sifat tamak: akumulasi
>kekayaan di tangan sejumlah kecil orang yang mengakibatkan penindasan, rasa
>cemburu, dan konflik sosial yang tajam. 
>
>Di abad ke-11, di bawah Dinasti Sung, dengan kecemasan itu Perdana Menteri
>Wang Anshi menjadikan Cina sebuah negeri "sosialis" sebelum kata itu
>ditemukan. "Negara," kata Wang, "harus mengambil alih seluruh pengelolaan
>niaga, industri, dan pertanian, menjaga agar pekerja yang jelata tertolong
>dari kesulitan dan tak diluluh-lantakkan oleh mereka yang kaya."
>
>Di abad ke-20, Mao Zedong melakukan yang serupa. Bentuknya yang ekstrem
>tampak waktu ia melancarkan Revolusi Kebudayaan. Sebagaimana dikisahkan
>Liang Heng dalam Tragedi Anak Revolusi, pada 1969 para kader Partai Komunis
>dikirim ke pedesaan. Mereka harus "memotong ekor kapitalisme" di pedalaman.
>Artinya, penduduk dusun harus melenyapkan peternakan itik, babi, dan bebek
>milik mereka. Seorang petani akhirnya membunuh semua bebek di kandangnya.
>
>Di abad ke-11, eksperimen Wang Anshi gagal. Untuk mengelola pelbagai sendi
>kehidupan, ia membutuhkan biaya besar dan birokrasi yang berlipat-lipat.
>Korupsi merebak. Akhirnya, seperti ditulis Will Durant dalam The Story of
>Civilization, Cina, seperti banyak negeri sejak itu, "Harus menghadapi
>pilihan yang tua dan pahit, antara kerakusan swasta dan korupsi negara."
>
>Di abad ke-20, pilihannya berbeda: antara kekuasaan negara yang menjaga
>semangat kolektif dan kebutuhan warga yang tak bisa dipenuhi oleh
>kolektivitas itu. Yang sama adalah bahwa, seperti Wang Anshi, ide Mao juga
>gagal.
>
>Pada 1979, dua tahun setelah ia wafat, di Dusun Xiaogang sejumlah petani
>membuat sebuah kesepakatan rahasia. Idenya dibisikkan oleh Yen Jinchang,
>seorang pemuda berumur 19 tahun: mereka hendak mengecoh sistem pertanian
>kolektif.
>
>Waktu itu, seperti di seluruh pedusunan Cina, di Xiaogang para petani
>mengolah tanah yang tak bisa jadi miliknya pribadi. "Bahkan sebatang galah
>pun milik kelompok," kata Yen. Ada satu anekdot: dalam sebuah rapat umum
>desa, seorang petani bertanya kepada kader Partai Komunis yang memimpin:
>"Apakah gigi di mulutku juga bukan milikku?" Jawabnya: tidak.
>
>Tanpa memiliki apa-apa, seorang warga dianggap sebagai penyumbang bagi
>kebersamaan. Ada yang mulia dalam ide ini-tapi ia telah membuat para petani
>tak bergairah. Kepentingannya sendiri tak dianggap ada.
>
>Sadar bahwa produktivitas turun-dan dengan demikian imbalan yang didapat pun
>turun-para petani menyetujui usul Yen. Secara rahasia mereka membagi-bagi
>tanah kolektif itu. Tiap keluarga akan mendapat sepetak, dan hasil tanam
>mereka sebagian diserahkan ke pemerintah dan ke lumbung kolektif-tapi
>sebagian mereka makan sendiri. 
>
>Perbuatan seperti itu berbahaya; ia melanggar garis Partai. Takut akan yang
>mungkin terjadi, dalam perjanjian itu disebutkan: jika ada di antara mereka
>yang dipenjarakan atau dihukum mati, anggota kelompok lain akan memelihara
>anak yang ditinggalkan sampai umur 18. Setelah mereka tandatangani, naskah
>itu pun disimpan dalam sepotong bambu yang disembunyikan di atap rumah Yen.
>
>Hasilnya: secara tersembunyi pula para petani Xiaogang itu merasa
>memiliki-dan sebab itu mereka bekerja lebih bersemangat, karena hasilnya
>akan mereka nikmati sendiri. Produksi naik drastis. Dan semua berakhir baik.
>Mereka tak dihukum. Bahkan di bawah pemerintahan Deng Xiaoping, sistem yang
>disarankan Yen akhirnya diadopsi sebagai sistem yang tepat: dengan empunya,
>dari milik, ada antusiasme. 
>
>Tapi kapan "milik" tetap menjadi "milik", tak tumbuh jadi sesuatu yang lain?
>
>
>Di Cina, pertanyaan itu tak sempat ditanyakan-apalagi dicoba dijawab. Dengan
>pesat, milik dan kerakusan berbaur. Yen yang sekadar mencoba hidup dari
>sepetak tanah dengan segera jadi tokoh kuno. Kisah Cina sekarang kisah Liu
>Yikian.
>
>Liu, lahir 1963, mula-mula berjualan tas di tepi jalan Shanghai. Hasil
>kerjanya bertambah sejak kapitalisme merasuk ke kehidupan Cina pada 1980.
>Hartanya membubung ke langit. Oktober 2010, Liu mampu membayar sekitar US$
>11 juta untuk sebuah mahkota antik dari zaman Dinasti Qing. Kini ia termasuk
>dari sebuah kelas yang bisa membeli kue pengantin seharga US$ 314 ribu dari
>toko roti Angsa Hitam di Beijing.
>
>Orang akan mengatakan, Liu tak berdosa karena kemewahan itu; uang itu hasil
>jerih payahnya sendiri. Tapi saya termasuk mereka yang ingin menjawab:
>sejauh mana "milik" bisa jeda dan tak jadi "kemewahan", dan "kemewahan" jeda
>dan tak jadi "keserakahan"? 
>
>Tema lama, tentu. Variasi baru. Tapi bila itu seperti berulang mungkin
>karena manusia tak kunjung sepenuhnya mengerti sifatnya sendiri.
>
>Goenawan Mohamad
>



------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke