Nuhun Kang Iip, sok lah diantos guaranana.

2012/3/31 iip yahya <[email protected]>

> **
>
>
> Ke upami memoar Pak Kendo tos medal bakal langkung aheng sajarohna. Ieu
> mah dibagi sakedik, waktu Wld nyerang Jogja 19-12-49, Jend Sudirman nuju
> teu damang, Nasution sbg Komandan MBKD nuju di Jatim. Nya anu "katempuhan"
> nyalametkeun Djokja dina waktos anu paling genting pisan harita teu aya
> sanes Wakil MBKD, Letkol Sukanda Bratamanggala. Mung nya kitu, teu aya nu
> nyerat soal ieu.
> Sent via BlackBerry® from Vodafone
> ------------------------------
> *From: * Ki Hasan <[email protected]>
> *Sender: * [email protected]
> *Date: *Sat, 31 Mar 2012 11:21:55 +0800
> *To: *Ki Sunda<[email protected]>
> *ReplyTo: * [email protected]
> *Cc: *Urang Sunda<[email protected]>; Baraya Sunda<
> [email protected]>
> *Subject: *[Urang Sunda] Tokoh - Jend Hidayat Martaatmadja
>
> Ku uing dilabelan, Bah Waluya, ngarah gampang nyusudna deui.
>
> ---------- Forwarded message ----------
> From: Waluya <[email protected]>
> Date: 2012/3/30
> Subject: [Urang Sunda] Jend Hidayat Martaatmadja --> Re: DIVISI SILIWANGI
> To: [email protected]
>
>
> **
> > "mang jamal" <jamal@...> wrote:
>
> > Soal militer, di hindia belanda harita, pribumi munggaran nu sakola >
> militer di akademi us, hidayat sareng didi kartasasmita. Hidayat
> > ieu nu munggaran usul ka syafrudin prawiranagara nyieun pdri di
> > bukittinggi basa bk-hatta ditewak walanda.
>
> Keur ngalengkepan Mang J, ku kuring dicopy-pastekeun artikel Almarhum
> Rosihan Anwar perkawis Jenderal Hidayat. Geus sababraha balikan kuring maca
> artikel ieu, teuing bet boga perasaan reueus, hanjakal, keuheul campuraduk
> ....
>
> Mengenang Jenderal Hidayat Martaatmadja
> Soeharto: Senior Saya yang Masih Hidup...
>
> H Rosihan Anwar
>
> Lebih baik terlambat daripada tiada pernah. Inilah sebuah cerita tentang
> seorang anak bangsa, pejuang kemerdekaan pada zaman revolusi: Letnan
> Jenderal TNI- D (Purn) R Hidayat Martaatmadja.
>
> Ketika Jimmy Carter seorang gubernur dari Atlanta turun ke gelanggang
> pemilihan presiden pada dasawarsa 1970, banyak rakyat Amerika yang tidak
> mengenalnya, lalu bertanya: Carter who?, siapa Carter?
>
> Ketika Jenderal Hidayat meninggal dunia, banyak wartawan Indonesia dari
> generasi muda yang memegang kendali meja berita juga tidak kenal almarhum.
> Akibatnya, tiada sepatah kata pun ada beritanya. Hidayat who?, siapa
> Hidayat?
>
> Pagi itu, Senin, 24 Oktober 2005, Dewi Rais, mantan wartawan Harian
> Pedoman (tahun 1974) menelepon saya mengabarkan ayahnya, yaitu Hidayat,
> Letjen TNI (Purn), meninggal dunia dalam usia 90 tahun. Sejak beberapa
> waktu belakangan kesehatan almarhum menurun lantaran usia tua. Praktis
> tidak mengenal lagi orang, gejala penyakit alzheimer, yang juga dialami
> oleh Presiden AS Ronald Reagan dan wartawan Indonesia Mochtar Lubis.
>
> Jenderal Hidayat, putra seorang Wedana Cimahi pada zaman Hindia Belanda
> urang Sunda dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata, Jakarta. Keesokan
> harinya tidak ada koran, televisi, dan radio memberitakan meninggalnya
> almarhum. Apakah beliau sudah dilupakan? Ataukah karena generasi muda tidak
> mengenalnya? Hidayat who?
>
> Dewi Rais bercerita kepada saya bahwa semula Mabes AD menyediakan Wakil
> KSAD selaku inspektur upacara pemakaman. Suami Dewi, yaitu Letjen TNI AD
> (Purn) Rais Abin, mantan Panglima Pasukan Perdamaian PBB di Mesir-Israel
> dan mantan duta besar di Kuala Lumpur dan Singapura, berpendapat, Pak
> Hidayat patut diberi penghormatan terakhir yang setara.
> Almarhum selain jenderal juga pernah menjabat sebagai menteri kabinet.
> Minimal jenderal bintang empat bertindak selaku inspektur upacara. Rais
> Abin menelepon Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) yang dikenalnya baik dulu
> ketika bertugas di Makassar, yaitu saat JK baru pada awal karier sebagai
> saudagar dari NV Haji Kalla, lalu menerangkan situasi. Untung JK bertindak
> sigap. Ia minta
> pemakaman secara militer. Hal itu pun terjadi. Maka terpenuhilah bunyi
> peribahasa Belanda Ere wien ere toekomt, yang dalam terjemahan tokoh
> politik PNI almarhum Manai Sophian menjadi Kehormatan bagi yang berhak.
>
> Sama Didi Kartasasmita
> Hidayat termasuk urang Sunda yang pada zaman kolonial beroleh kesempatan
> menuntut pelajaran pada Akademi Militer Kerajaan di Breda untuk menjadi
> officier atau perwira tentara KNIL, Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Urang
> Sunda yang lain ialah Didi Kartasasmita yang tamat sekolah menengah HBS
> Bandung pada tahun 1934 naik kapal menuju Breda. Mereka kemudian dilantik
> sebagai letnan dua KNIL. Sementara itu, sebelum pecah perang dengan Jepang
> tahun 1941
> Hidayat yang sudah letnan satu keluar dari KNIL. Alasan formal karena
> sakit. Alasan sebenarnya karena Hidayat tak tahan melihat diskriminasi
> Belanda terhadap inlander alias pribumi.
>
> Orang Indonesia lain yang jadi perwira KNIL adalah Mayor Oerip
> Soemohardjo (yang pada awal revolusi sebagai letnan jenderal menjabat
> Kepala Staf Tentara), Mayor Suryo Santoso (yang memihak kepada tentara
> Nica-Belanda), Soedibio (yang sebagai mayor jenderal TNI mengepalai POPDA
> atau Panitia Oeroesan Pengembalian Djepang dan APWI), Suryadarma (yang
> kelak jadi Kepala Staf AURI).
>
> Akhir September 1945 Didi bertemu dengan Menteri Penerangan Amir
> Syarifudin untuk menjelaskan mengapa eks perwira KNIL bersikap menunggu
> untuk bergabung dengan tentara nasional. Sebabnya mereka dulu bersumpah
> setia kepada Ratu Belanda.
>
> Ajak mereka bergabung dengan Republik ujar Amir. Maka Didi dibantu oleh
> rekannya Soedibio dan Samidjo pergi ke Bandung serta Yogya menemui eks
> perwira KNIL, agar mereka menandatangani surat pernyataan setuju masuk
> tentara nasional. Dari 20 orang, 14 menandatanganinya. Dia bertemu dengan
> Letnan Satu KNIL Hidayat di Bandung, yang lalu mencari kontak dengan
> orang-orang Akademi Militer Bandung yang lebih muda usianya dan belum
> diambil sumpahnya sebagai officier. Kecuali satu orang, seluruh kelompok
> Bandung, sekitar AH Nasution dan
> TB Simatupang, menandatangani surat keterangan yang dibawa oleh Didi
> Kartasasmita.
>
> Setelah terbentuk tentara nasional pada tahun 1945 Didi mengepalai
> Komandemen I (Jawa Barat) di Purwakarta, sedangkan Hidayat adalah kepala
> staf. Kemudian Hidayat jadi Wakil Panglima Siliwangi di Tasikmalaya.
> Setelah aksi militer Belanda pertama tanggal 21 Juli 1947 tentara Siliwangi
> di Jawa Barat bergerilya melawan Belanda.
>
> Panglima Kolonel AH Nasution tinggal di satu tempat saja, berbeda dengan
> Hidayat yang mobile bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Kemudian
> Hidayat menjadi Kepala Staf Angkatan Perang (AP) I. Waktu PM Amir
> Syarifudin berunding di Jakarta menjelang perjanjian Renville, Hidayat ikut
> dalam delegasi Indonesia sebagai penasihat militer. Pada kesempatan itu
> saya berkenalan pertama kali dengan Hidayat. Orangnya santun, bisa bergaul
> dengan saya, wartawan yang tujuh
> tahun lebih muda usianya. Hidayat didikan Breda jadi biasa bercakap-cakap
> dengan saya dalam bahasa Belanda.
>
> Pembentukan PDRI
>
> Hidayat dipindahkan ke Sumatera menjadi Panglima Komando Sumatera.
> Mengingat situasi waktu itu, dia harus berjalan kaki untuk menginspeksi
> unit-unit tentara dengan didampingi oleh Kapten Islam Salim (putra Haji
> Agus Salim) sebagai ajudannya.
>
> Untuk sampai di Kotaraja, Aceh, mereka berjalan kaki. Suatu prestasi
> fisik luar biasa. Ketika pecah aksi militer Belanda ke-2, 19 Desember
> 1948, Hidayat berada di Sumatera Tengah. Soekarno-Hatta-Sjahrir-HA Salim
> sudah ditawan oleh militer Belanda, diasingkan ke Prapat dan Bangka.
>
> Telegram yang dikirim dari Yogya oleh kabinet tak pernah sampai kepada
> Syafrudin Prawiranegara, menteri yang bertugas di Bukittinggi. Toh,
> Syafrudin mengambil langkah untuk membentuk sebuah pemerintah darurat.
>
> Pembicaraan kurang lancar karena Syafrudin yang sarjana hukum berpikir
> terlalu legalistis. Datanglah Hidayat dan Islam Salim dan mereka mendesak
> supaya mengambil keputusan bersifat politis. Maka lahirnya PDRI (Pemerintah
> Darurat Republik Indonesia) yang diketuai oleh Syafrudin untuk melanjutkan
> perjuangan melawan Belanda. Tidak banyak orang yang tahu, inklusif
> sejarawan, mengenai peranan Hidayat dalam pembentukan PDRI.
>
> Kedaulatan
>
> Setelah penyerahan kedaulatan tanggal 27 Desember 1949 Kolonel Hidayat
> memimpin misi pembelian barang dan senjata di luar negeri. Dia sempat
> dituduh oleh Kolonel Suhud melakukan korupsi yang sama sekali tidak benar
> adanya.
>
> Karena Kolonel AH Nasution sebagai KSAD tidak berbuat apa-apa, maka
> Hidayat memilih keluar dari TNI. Ia pindah ke Cipanas, tinggal di sebuah
> gubuk di daerah pegunungan, sampai saatnya dia direhabilitasi nama baiknya
> oleh PM Wilopo dan Menteri Djuanda.
>
> Hidayat lalu menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan.
> Dia pernah dipanggil oleh Presiden Soekarno dan ditanya apakah mau menjadi
> KSAD menggantikan Nasution. Hidayat menolak. Alasannya? Ini soal corps
> d'sprit, ujarnya. Baginya penting mengutamakan semangat korps tentara dan
> setia kawan
> ketimbang mempromosikan kepentingan pribadi. Bung Karno kemudian
> mengangkat Hidayat sebagai Menteri Perhubungan Darat dan Pariwisata.
> Selanjutnya dia menjabat sebagai Duta Besar RI di Kanada dan Australia.
>
> Keluar dari jabatan pemerintah Hidayat bekerja di bidang bisnis. Ia punya
> hubungan dengan Cygma Insurance, dengan perusahaan Jerman Eisenbau
> Ferrostahl yang berperan dalam proyek Krakatau Steel di Banten. Namun, dia
> tidak pernah menonjol karena tabiatnya yang suka berada di latar belakang
> dan menegakkan profil rendah.
>
> Dia setia kepada istrinya, Ratu Aminah, yang 10 tahun lebih tua usianya.
> Mereka menikah tahun 1941. Pada zaman Jepang hidup mereka cukup susah.
> Hidayat pernah menjadi sopir mobil. Bahkan pada zaman Republik, Hidayat
> tidak punya rumah. Lalu ada rumah di Jalan Cik di Tiro dan dia berkata
> kepada Kolonel Suprayogi yang menteri, Ibu belum punya rumah.
>
> Harga rumah itu Rp 40.000 dan dengan pertolongan pengusaha Markam yang
> mengasih duit, rumah bisa dibeli Hidayat yang menemukan dalam diri Ratu
> Aminah, his soulmate, yang apabila sakit dijaga dan dirawatnya dengan penuh
> dedikasi.
>
> Sifat Hidayat adalah tidak suka bicara jelek tentang orang lain. Dia
> orang yang religius sekali. Waktu jadi dubes dia taat melakukan shalat
> lima waktu. Dia selalu berkata money is not everything, uang bukanlah
> segala-galanya.
>
> Ratu Aminah berbeda dengan Hidayat yang aktif di dunia politik. Semasa
> muda Ratu pengagum Bung Karno. Kemudian dia jadi Ketua Umum Partai IPKI
> (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia). Setelah Ratu Aminah meninggal
> dunia, Hidayat menikah lagi dengan seorang janda, yakni Bu Annie, dari
> keluarga Natakusuma.
>
> Teman sekolah
>
> Annie adalah temannya satu sekolah di HBS Bandung zaman Belanda. Bu Annie
> merupakan cucu Prof Snouch Hurgronje, ilmuwan dan advise voor Inlandsche
> Zaken Pemerintah Hindia Belanda, pakar dalam masalah Aceh dan agama Islam,
> yang kawin dengan gadis Sunda.
>
> Hidayat dan Annie dulu ibarat school sweethearts, kekasih di sekolah.
> Tatkala saya bersama Herawati Diah, Zuraida Rosihan, dan Babe Laurens
> datang menyampaikan belasungkawa kepada Bu Annie di rumahnya, kami
> mendapatkan seorang perempuan tua yang masih sehat, kecuali pendengaran
> berkurang, usia 91 tahun, ingat sering berpapasan jalan kaki dengan saya di
> daerah Menteng bila dia dan
> Pak Hidayat berolahraga pagi. Itu dulu waktu Hidayat belum kena penyakit
> alzheimer.
>
> Enam bulan yang lalu mantan Presiden Soeharto lewat Bob Hasan menanyakan
> bagaimana keadaan Hidayat, bagaimana soal ekonomi-keuangannya. Rais Abin
> pun datang ke Jalan Cendana dan menceritakan keadaan Hidayat. Tak bisa
> berbuat apa-apa lagi karena penyakit alzheimer itu. Lalu Rais Abin bertanya
> kenapa Soeharto menaruh minat terhadap Hidayat. Pak Harto menjawab, Pak
> Hidayat adalah senior saya satu-satunya yang masih hidup. Ketika Hidayat
> dikebumikan di Kalibata. Soeharto bermaksud mau menghadiri, tapi terhalang
> karena kesehatannya terganggu.
>
> Jenderal Hidayat Martaatmadja sudah tidak ada lagi. Semoga arwahnya
> diterima oleh Tuhan di sisiNya. Beristirahatlah dalam kedamaian di alam
> barzakh.
>
>
> http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/02/opini/2256766.htm
>
>
>
>   
>

Kirim email ke