Boa politik 4 beungeut, Bah Willy. Hahahaha.
--- In [email protected], "Waluya" <waluya56@...> wrote:
>
> Uing mah satuju kana opini koran Tempo dihandap ieu:
>
> Politik Bermuka Dua
> Sabtu, 31 Maret 2012 | 08:25 WIB
>
> Partai politik tampak terjebak dalam politik pencitraan yang berlebihan. Ini
> menyebabkan pengambilan keputusan mengenai kenaikan harga bahan bakar minyak
> di
> Dewan Perwakilan Rakyat sungguh bertele-tele. Kalangan partai, terutama dari
> partai koalisi, bersikap seolah-seolah menolak kenaikan harga BBM. Tapi
> sebetulnya mereka memberi lampau hijau terhadap usul pemerintah.
>
> Sikap bermuka dua itulah yang membuat kompromi di kalangan partai koalisi tak
> mudah dicapai. Partai seperti Golkar, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai
> Kebangkitan Bangsa menyatakan menolak kenaikan harga BBM. Pernyataan yang
> disampaikan dalam pemandangan fraksi rapat pleno DPR kemarin itu terkesan
> hanya
> untuk pencitraan. Soalnya, mereka juga bersedia diajak berunding mengenai
> klausul tambahan yang dituangkan dalam Pasal 7 ayat 6A Rancangan Undang-Undang
> APBN Perubahan 2012.
>
> Klausul itu memberi wewenang kepada pemerintah untuk menaikkan atau menurunkan
> harga BBM bila ada fluktuasi harga Indonesian Crude Price (ICP). Besarnya
> persentase kenaikan ICP kemudian menjadi perdebatan di antara partai-partai
> koalisi. Inilah yang membuat lobi di antara mereka memakan waktu lama. Partai
> PKS, misalnya, menginginkan angka 20 persen dari harga ICP yang diasumsikan
> dalam APBN. Adapun Demokrat menghendaki 5 persen.
>
> Partai yang selama ini menolak kenaikan harga BBM, seperti PDI Perjuangan,
> Gerindra, dan Hanura, berkukuh pada sikap mereka. Partai-partai ini sama
> sekali
> tak membuka pintu bagi kenaikan harga BBM. Sikap ini, terutama PDIP,
> sebetulnya
> tidak konsisten. Soalnya, ketika memerintah, partai ini juga pernah menaikkan
> harga BBM.
>
> Sikap partai-partai yang lebih menonjolkan politik pencitraan itulah yang
> memprihatinkan. Mereka tak berusaha mencari formula terbaik demi menyelesaikan
> persoalan akibat kenaikan harga minyak mentah dunia itu. Partai-partai justru
> memanfaatkan isu kenaikan harga BBM untuk menaikkan popularitasnya demi pemilu
> 2014.
>
> Pikiran yang sehat sebetulnya akan mudah memahami kuatnya alasan menaikkan
> harga
> BBM. Postur APBN 2012 sudah sangat tertekan akibat beban subsidi bahan bakar
> minyak yang melonjak. Saat harga minyak mentah dunia naik menjadi US$ 105 per
> barel, anggaran subsidi BBM membengkak menjadi Rp 178,67 triliun. Ini berarti
> ada selisih Rp 55 triliun dari yang dianggarkan. Padahal harga bahan bakar
> fosil
> ini di masa depan diyakini akan terus meningkat dalam beberapa bulan
> mendatang.
> Perkiraan moderat menyebutkan, dalam waktu dekat harganya bakal naik menjadi
> US$
> 160.
>
> Bila kenaikan harga BBM tidak dilakukan, hampir bisa dipastikan subsidi yang
> diberikan akan terus menggunung. Ini bahkan bisa menjadi beban untuk
> pemerintah
> di masa mendatang. Dengan harga yang relatif murah, konsumsi BBM juga akan
> cenderung meningkat. Padahal subsidi ini lebih banyak dinikmati golongan
> masyarakat yang mampu, setidaknya memiliki sepeda motor.
>
> Politik pencitraan dan politik bermuka dua membuat masyarakat kurang
> mendapatkan
> argumen yang logis dan jernih tentang kenaikan harga BBM. Pola komunikasi yang
> tak jujur seperti itu semestinya dihentikan. Soalnya, cara ini sama sekali
> tidak
> mendidik, bahkan membodohi rakyat.
>
> http://www.tempo.co/read/opiniKT/2012/04/01/1802/Politik-Bermuka-Dua
>
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/