Lain Bah, karek maca judulna oge jol muriang heuheuheu..

Asa teu harayang teuing macana, punten ah kasadayana. 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of
Abbas
Sent: Saturday, April 14, 2012 1:31 AM
To: [email protected]
Subject: [kisunda] Re: Respon Fatwa Konyol Mufti Wahabi

 

  

pecak sabeulah teu bisa dipercaya

--- In [email protected] <mailto:kisunda%40yahoogroups.com> , Ahsa
<ahmadsahidin@...> wrote:
>
> Respon Fatwa Konyol Mufti Wahabi
> Islam Times- Seorang penulis asal Saudi Arabia, Turki al-Hamad dalam
mengomentari fatwa tersebut menanyakan, "Bagaimana jika mereka memperlakukan
kita seperti ini, kemudian menghancurkan masjid-masjid kita di Amerika dan
Eropa? Apa sikap kita? Menghukum mereka?" 
> 
> Dikeluarkannya sebuah fatwa baru oleh Mufti Takfiri Wahabi Saudi Arabia,
adalah amunisi baru buat ekstremis Wahabi untuk mengencangkan brutalitas dan
mendistorsi wajah Islam di dunia. Selain itu fatwa tersebut semakin
mendorong kebencian dan kemarahan umat Kristen di seluruh dunia kepada umat
Islam.
> 
> Pada 9 Maret lalu, Mufti kerajaan Arab Saudi, Abdul Aziz bin Abdullah Al
al-Sheikh, mengeluarkan fatwa baru bahwa "adalah hukumnya wajib untuk
menghancurkan semua gereja di Semenanjung Arab". 
> 
> Para syekh Wahabi, yang mewakili otoritas keagamaan tertinggi di Arab
Saudi, memutuskan, bahwa Jazirah Arab hanya tunduk kepada hukum agama Islam
dan membiarkan keberadaan gereja-gereja di beberapa negara di wilayah ini
adalah pengakuan akan kebenaran agama-agama ini.
> 
> Jelas, fatwa tersebut memicu gelombang kekhawatiran di kalangan minoritas
Kristen yang tinggal di Jazirah Arab, terutama Arab Saudi, Yaman, Oman, dan
Kuwait.
> 
> Berikut dibawah ini adalah tanggapan beberapa ulama, penulis dan
organisasi dunia Islam dan Kristen dalam merespon fatwa ulama Wahabi Takfiri
tersebut.
> 
> Seorang penulis asal Saudi Arabia, Turki al-Hamad dalam mengomentari fatwa
tersebut menanyakan, "Bagaimana jika mereka memperlakukan kita seperti ini,
kemudian menghancurkan masjid-masjid kita di Amerika dan Eropa? Apa sikap
kita? Menghukum mereka?" Al-Hamad menambahkan, "Berapa banyak lagi yang kita
butuhkan dari sebuah wacana agama dan politik baru di negeri ini? Wacana
agama yang saling menghormati keyakinan orang lain dan wacana politik yang
menerima perbedaan dalam masyarakat."
> 
> Guru Besar Universitas Al-Azhar, Dr Ahmed karimah, juga mengutuk fatwa
Sheikh Saudi dan mengatakan, "Alangkah baiknya jika mufti Saudi tersebut
mengeluarkan fatwa melawan penjajah AS di Negeri Muslim daripada
mengeluarkan fatwa penghancuran gereja-gereja Kristen."
> 
> "Beberapa penduduk negara-negara Arab adalah pemeluk Kristen, jadi
bagaimana bisa mereka tidak dapat memiliki tempat ibadah?", tanyanya.
> 
> "Menurut Alquran yang suci, masjid adalah tempat di mana nama Allah
dikumandangkan, Gereja juga adalah tempat di mana nama Allah dikumandangkan,
oleh karena itu mereka harus dihormati" tambahnya.
> 
> Seorang aktivis hak asasi manusia, Dr Najib Jibril, menyebut bahwa fatwa
Abdul Aziz adalah sebuah keputusan rasis dan berkata, "Fatwa dari Sheikh
bertentangan dengan dialog antar agama, wilayah Islam selalu aman untuk
semua agama, dan Fatwa tersebut adalah rasis terhadap agama lain". Kemudian
ia mendesak kepada segenap organisasi Islam termasuk Al-Azhar untuk melarang
fatwa rasis seperti itu.
> 
> Majmak Ahlul Bait (Alul Bayt World Assembly) juga mengutuk keras fatwa
Syekh Abdul Aziz dan berkata, "Fatwa semacam ini, yang dikeluarkan oleh
ulama Saudi adalah ungkapan realitas kerajaan Arab Saudi dan identitas
Wahabisme yang menunjukkan dengan jelas bahwa mereka bukan wakil Islam yang
sebenarnya".
> 
> Gereja Keuskupan Eropa Eropa juga mengutuk fatwa tersebut.
> 
> Dewan Uskup Kristen di Jerman, Austria dan Rusia juga mengkritik tajam.
Dalam pernyataan terpisah yang dirilis pada hari Jumat 23/03/12, uskup
Katolik Roma di Jerman dan Austria mengutuk keras putusan fatwa Grand Mufti
Sheikh Abdulaziz Al al-Syaikh dan dianggap sebagai bentuk pengingkaran atas
hak asasi manusia dan tidak dapat diterima oleh jutaan pekerja asing di
kawasan Teluk.
> 
> Uskup Agung Yegoryevsk, kepala departemen Ortodoks Rusia untuk
gereja-gereja di luar negeri, menyebutkan fatwa tersebut "mengkhawatirkan". 
> 
> Uskup Agung Robert Zollitsch, ketua Konferensi Uskup Jerman, mengatakan,
putusan Sheikh Abdulaziz tidak menunjukkan penghormatan terhadap kebebasan
beragama. "Ini akan menjadi sebuah tamparan di wajah orang-orang Kristen
jika beberapa gereja mereka dihancurkan," katanya.
> 
> Pada hari Jumat, Dewan Uskup Austria juga mengutuk keras atas fatwa yang
dibuat oleh mufti Kerajaan Arab Saudi Abdul Aziz bin Abdullah Al al-Sheikh.
> 
> Dalam rilis pers yang dikeluarkan pada akhir pertemuan di Tainach, selatan
Austria, Dewan uskup Austria berkata, "Bagi kami sebagai uskup, deklarasi
model seperti ini benar-benar tidak dapat diterima dan dimengerti, ketika
pada saat yang sama ada sejumlah inisiatif untuk dialog antar agama di
Jazirah Arab".
> 
> Para uskup Austria mengatakan bahwa deklarasi jenis ini tidak hanya
mengancam orang-orang Kristen di Semenanjung Arab, tetapi juga seluruh
dunia. Dewan Uskup menambahkan, "Dalam situasi seperti yang kita lewati
hari-hari ini, ketika revolusi Arab menyebabkan gangguan di seluruh wilayah,
deklarasi model ini tidak akan membantu orang."
> 
> Kantor Berita Austria mengumumkan bahwa pada Jumat lalu, para uskup Jerman
yang diwakili oleh Uskup Robert Zollitsch, juga mengutuk fatwa untuk
menghancurkan gereja-gereja di Semenanjung Arab.
> 
> Pada Oktober tahun lalu, Austria dan Arab Saudi membuka pusat dialog antar
agama di Wina. Dan kritikan dari Austria datang karena fatwa tersebut keluar
dari negara inisiator Dialog Antar Agama, Arab Saudi, yang mendanai dan
mengatur ideologi ekstremis Wahabi. Sementara itu, Nuncio Apostolik di
Kuwait menyatakan fatwa tersebut adalah "kejutan besar" dimana ada kewajiban
agama untuk menghancurkan semua gereja di Semenanjung Arab.
> 
> Tiga Puluh Gereja Melayani Tiga Juta Pemeluk Kristen di Teluk
> 
> Diperkirakan, saat ini jumlah penduduk di negara-negara Dewan Kerjasama
Teluk mencapai hampir 46.800.000 orang, dan di antaranya 13 juta adalah
imigran, sementara antara 20% adalah pemeluk Kristen, ini berarti ada
sekitar tiga juta orang Kristen hidup di Teluk. Mereka tersebar di enam
negara, bahkan jumlah terbesarnya ditemukan di Arab Saudi, dimana disana
tidak ada gereja sama sekali atau non-Islam yang memiliki tempat ibadah.
Betul-betul diskriminatif!.
> 
> Umat Kristen dari Teluk kebanyakan adalah blasteran dari Arab, Asia, dan
Eropa dan jumlah ini tidak termasuk Hindu, Budha, atau Sikh. Ini hanya
mencakup Ortodoks, Katolik, dan Protestans, dengan mayoritasnya adalah
Koptik. 
> 
> Apakah mufti Saudi Arabia yang Wahabi dengan fatwa tersebut akan membantai
tiga juta pemeluk agama minoritas? Apakah ekstrimis Wahabi Saudi Arabia akan
menjadikan negara Teluk sebagai lautan darah manusia?. [Islam
Times/on/berbagai sumber]
http://www.islamtimes.org/vdchk6nzi23nk-d.yrt2.html
>  
> www.ahmadsahidin.wordpress.com
>



<<image001.jpg>>

<<image002.jpg>>

Kirim email ke