---------- Forwarded message ----------
From: Ki Hasan <[email protected]>
Date: 2012/4/14
Subject: Re: [Urang Sunda] Re: [kisunda] Re: Tokoh - Sinta Ridwan, Bandung
To: [email protected]


Cobi inbox ka FB-na Kang JK, https://www.facebook.com/sintaridwan

2012/4/14 <[email protected]>

 **
>
>
> ** Assalamualaikum,
> Dupi aya wargi nu tiasa masihan kontak Neng Sinta Ridwan? Simkuring
> peryogi pisan.
> Hatur nuhun sateuacana.
>
> Darmawan Sepriyossa
> Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
> ------------------------------
> *From: * Ki Hasan <[email protected]>
> *Sender: * [email protected]
> *Date: *Sat, 14 Apr 2012 21:58:10 +0800
> *To: *Ki Sunda<[email protected]>
> *ReplyTo: * [email protected]
> *Cc: *Baraya Sunda<[email protected]>; Urang Sunda<
> [email protected]>
> *Subject: *[kisunda] Re: Tokoh - Sinta Ridwan, Bandung
>
>
>
> Sinta Ridwan: “Berteman Dengan Kematian”, “Bersahabat Dengan Makna
> Kehidupan”
>  14 Oct
>
>  JIKA ada ungkapan, bahwa musibah adalah berkah, rupanya itu bukanlah
> mengada-ada atau ucapan pelipur lara. Mungkin banyak orang yang pernah
> ditimpa misibah, kemudian ia mengambil hikmahnya dan akhirnya ia sadar
> bahwa itu berkah.
>
> Orang miskin belum tentu sengsara, orang sakit belum tentu menderita.
> Banyak orang miskin dan orang sakit justru bisa hidup bahagia. Mengapa?
> Jawabanya dapat disimak ketika Dewi Kunti berdialog dengan Krishna dalam
> epos Mahabharata. Suatu hari Krishna berkata, “Bibi, tampaknya bibi hidup
> menderita, hidup dalam serba kekurangan. Kalau bibi mau, aku akan beri bibi
> hidup dengan segala kemewahan.”
>
> Apa jawab Kunti? “Nak, bibimu ini tidak menginginkan kemewahan duniawi.
> Bibi justru merasa bahagia dalam penderitaan. Karena dengan hidup seperti
> ini, bibimu selalu berdoa, menyebut nama Tuhan berulang-ulang sehingga
> merasa selalu dekat dengan Tuhan. Adakah yang lebih bahagia selain dekat
> dengan Tuhan?”
>
> Dialog Krishna dan Kunti itu rupanya memiliki makna yang sama, jika kita
> menyimak pengakuan Sinta dalam bkunya: “Berteman Dengan Kematian”. Di atas
> planet bumi ini, mungkin tidak banyak orang seperti Sinta. Seorang gadis
> pengidap lupus, suatu penyakit yang setara dengan HIV/AIDS yang belum ada
> obatnya. Penyakit itu membuat tubuhnya melemah dari hari kehari.
>
> Penampilannya  selalu  percaya   diri  dan  penuh   senyum.  Jika  Anda
> pertama kali melihatnya, mungkin  tak  akan menyangka,  jika   gadis
> berusia 26 tahun  ini  adalah  penyandang lupus, penyakit  yang   hingga
> kini belum ada  obatnya.
>
> Namun ironisnya, penyakit itu justru membuat Sinta tampak tegar. Penyakit
> itu membuat ia sadar, bahwa Dewa Kematian selalu tersenyum, melambaikan
> tangan di depannya. Karena itu pula, Sinta ingin memberi makna hidup ini
> agar lebih berarti. Mumpung masih hidup, Sinta ingin berbuat sesuatu yang
> berguna dan penuh makna.
>
> Itu bisa ia buktikan, terbukti ia berhasil merogoh mutiara hidup dalam
> penderitaannya. Sinta yang lahir dari keluarga broken home dapat membiayai
> hidup dan kuliahnya sendiri. Bahkan ia menanggung kuliah adiknya, dan
> justru memberikan semangat hidup buat orang-orang di sekelilingnya.
> Jangankan orang sakit, orang sehatpun jarang seperti itu.
>
> Sinta yang baru menamatkan kuliah S2 di jurusan  Filiologi Universitas
> Padjajaran ini   menganggap obat yang paling mujarap dari segala penyakit
> adalah rasa  bahagia.“ Jadi kalau kita sakit, jangan dirasakan kalau kita
> sakit, tetapi kita  harus berpikir sesuatu yang menyenangkan dan terus
> tersenyum walaupun kita  sedang sakit,” ucap Sinta.
>
> Pengalaman Sinta dengan penyakit lupus yang telah dideritanya sejak  tahun
> 2005 lalu dia catatkan dalam sebuah buku otobiografi berbentuk  novel
> berjudul “Berteman  Dengan Kematian”.  Dalam buku itu Sinta menceritakan
> tentang perjuangan dirinya untuk berjuang  melawan lupus yang  bersemayam
> di dalam  tubuhnya.
>
> Untuk mengisi hari-harinya wanita yang hobi membuat puisi ini berusaha
> untuk memberikan manfaat bagi orang sekitarnya. Salah satu upaya Sinta
> untuk  memberikan arti hidupnya bagi orang lain dan bangsa ini adalah
> dengan cara  mengajarkan naskah kuno sesuai dengan latar belakangnya
> sebagai seorang Fiolog.
>
> Dengan ilmu itu Sinta membuka kelas aksara kuno di Gedung  Indonesia
> Menggugat, di  Jalan Perintis  kemerdekaan Bandung. Kelas aksara kuno atau
> yang disingkat kelas Aksakun ini  pertama kali dibentuk pada tahun 2009
> atas dasar gagasan dari seniman-seniman  beraliran  metal yang beralamat di
> Ujung Berung, Bandung.
>
> Dari dorongan para seniman yang biasa memainkan musik cadas itulah kelas
> aksakun  berdiri dengan jumlah murid sebanyak 35 orang. Pengikut aksakun
> mengalami  pasang surut. Tercatat  dari awal beridiri hingga sekarang
> orang-orang yang pernah naskah kuno oleh  Sinta sekitar 200 orang.
>
> Murid yang mengikuti kelas aksakun terdiri dari pelajar, mahasiswa, hingga
> masyarakat  umum. Sinta mengaku tujuan dibentuknya kelas  aksakun ini
> adalah untuk menjaga dan melestarikan naskah-naskah kuno yang  merupakan
> warisan masa lalu.
>
> “Tidak ada masa kini tanpa adanya masa lalu, dan itu semua  tertuang di
> dalam naskah kuno,” ungkapnya. Sinta membebaskan teman-temanya yang
> mengikuti pelajaran naskah kuno itu untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat
> sesuai dengan keinginannya masing-masing.
>
> Banyak dari murid Sinta yang membuat tulisan kuno  untuk dijadikan *design
> * dalam sebuah  kaos, dan poster-poster. Selain itu ada juga murid yang
> membuat lirik lagu yang mengadaptasi dari  naskah-naskah kuno.
>
> Menurut Sinta di dalam naskah kuno itu terdapat  berbagai macam kandungan
> diantaranya gaya hidup, kesehatan, tuntutan manusia agar dapat  menghargai
> alam, dan sastra orang-orang masa laliu.
>
> Kecintaan Sinta terhadap naskah kuno mengalahkan rasa  sakit akibat lupus.
> Sinta mengaku jika sedang tidak enak badan tidak  menyurutkan dia untuk
> absen tidak mengajar kelas aksara kuno, “karena dengan  mengajar saya
> menjadi bahagia dan itu bisa mengalihkan rasa sakit saya,”  akunya.
>
> Selain itu Sinta di tengah keterbatasan fisiknya  akibat lupus itu
> bercita-cita ingin membangun sebuah museum digital yang akan  diberi nama
> ensiklopedia naskah kuno. Tujuan dari pembuatan museum digital itu  adalah
> untuk memudahkan orang-orang agar dapat mengakses naskah kuno dengan  mudah.
>
> Sinta  beranggapan selama ini orang-orang jarang mempelajari ataupun
> membaca  naskah-naskah kuno itu karena sulitnya mengakses catatan-catatan
> orang-orang  dari masa lalu yang tersebebar di seluruh penjuru nusantara.
> Dengan hadirnya  museum digital itu akan memudahkan orang-orang untuk
> mempelajari sejarahnya  langsung dari sumber sejarah tanpa harus berusasah
> payah pergi ke museum.
>
> Sumber:
>
>    1.
>    
> www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberitaminggu&kid=15&id=44373<http://www.kickandy.com/hope/hope/sinopsis/profilenarsum/read/1867/Sinta-Ridwan.html>
>    2.
>    
> www.kickandy.com/hope/hope/sinopsis/profilenarsum/read/1867/Sinta-Ridwan.html
>
> Related articles, courtesy of Zemanta:
>
>
>   
>

Kirim email ke