Untuk Permudah Anamnesa, Mahasiswa FK Unpad Susun Buku “Bahasa Sunda untuk 
Praktik Kedokteran”

[Unpad.ac.id, 29/09/2011] Untuk memperoleh informasi mengenai rekam medis 
seorang pasien, dokter biasanya melakukan pendekatan secara subyektif dengan 
melakukan tanya-jawab atau biasa disebut dengan anamnesa. Namun, apa jadinya 
jika sang dokter tidak mengerti apa penyakit yang dikeluhkan oleh pasien? 
Kendala bahasa ternyata seringkali terjadi, seperti yang dialami sejumlah 
mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Unpad. Untuk itu, Forum Mahasiswa Pendidikan 
Profesi Dokter (P3D) membuat buku saku berjudul “Bahasa Sunda untuk Praktik 
kedokteran”. Buku setebal 209 halaman ini disusun sebagai pedoman untuk para 
dokter muda yang banyak terjun di daerah Jawa Barat.

Buku saku "Bahasa Sunda untuk Praktik Kedokteran" (Foto: Dadan T.)*

“Di FK sendiri kan tidak seluruhnya mahasiswa asal Jabar, ada yang dari luar 
daerah Jabar, bahkan luar negeri. Kami Forum Mahasiswa Pendidikan Profesi 
Dokter (P3D) berinisiatif membuat buku saku, Bahasa Sunda untuk Praktik 
Kedokteran,” kata Ditia Gilang Shah, mahasiswa Program Pendidikan Profesi 
Dokter (P3D) FK Unpad, saat ditemui di Lobi Gedung Rektorat, Gedung 1 Kampus 
Unpad, Jln. Dipati Ukur No.35 Bandung, Rabu (27/09).

Diawali dari penyebaran angket di kalangan mahasiswa Ko-as FK Unpad, bahwa 
salah satu poin yang ternyata diinginkan para mahasiswa selama Ko-as adalah 
diadakannya pelatihan bahasa Sunda. Sebagian besar, tambah Gilang mengaku tidak 
bisa bahasa sunda. Tidak hanya mahasiswa yang berasal dari luar daerah Jabar, 
mahasiswa asal Jabar pun ternyata tidak seluruhnya bisa bahasa Sunda.

“Kebanyakan ngaku-nya nggak bisa bahasa Sunda. Karena bagi kami pelatihan saja 
tidak cukup. Maka kami juga membuat buku saku untuk dapat digunakan setiap 
waktu,” jelasnya.

Bersama timnya yang terdiri dari 11 orang, proses pengerjaan buku berukuran 
4,13 x 5,83 inchi ini diakui Gilang hanya memakan waktu selama 6 bulan. 
Sembilan mahasiswa yang mengerjakan isi buku adalah Anggi Noviantini, Belni 
Pusmilasari, Deti Paridlah, Indra Permana S, Mochammad Rezza, Rasyid Muflih 
Malis, Ryni Tilawati, Yuki Andrianto, dan Yunisa Pamela. Sebagai ilustrator, 
Muhammas Mukhlis dan desain cover oleh Richard Chandra. Seluruhnya mahasiswa 
Ko-as FK Unpad.

Kemudian, Gilang melanjutkan, setiap bab dalam buku ini disusun sesuai dengan 
kepentingan anamnesa di lapangan. Pada bab pertama dijelaskan mengenai tata 
bahasa dalam bahasa sunda. Dimulai dari fonologi, jenis-jenis kata dalam bahasa 
sunda, imbuhan, tatakrama bahasa sunda, waktu, angka, bilangan, nama-nama hari, 
bagian-bagian tubuh dan organ dalam. Pada bab II diilustrasikan anatomi tubuh 
dan keluhan dalam bahasa sunda. Sementara pada bab III merupakan contoh 
percakapan anamnesa dalam bahasa sunda.

Sebagai pengagas dari pembuatan buku saku ini, Gilang yang merupakan mahasiswa 
asal Padang, Sumatera Barat ini mengaku masih banyak kekurangan yang ada dalam 
buku saku bahasa sunda tersebut. Dapat dikatakan, penulisan buku hanya 
berdasarkan pengalaman di lapangan dan kemampuan para penulisnya (mahasiwa 
Ko-as FK Unpad) dalam berbahasa Sunda.

“Buku saku ini kami akui masih jauh dari sempurna. Walaupun para penulis, 
sebagian besar mahasiswa asal Jabar, tetapi kami belum dibantu oleh ahli 
bahasa,” kata Gilang yang juga berharap adanya dukungan untuk dapat 
menyempurnakan buku saku tersebut.

Ia yakin, masih banyak istilah kesehatan dalam bahasa Sunda yang bisa 
memperkaya khazanah dunia kedokteran. Buku saku atau buku kamus untuk 
kesehatan, menurutnya akan sangat membantu para dokter muda, apalagi ketika 
harus ketika berhadapan dengan masyarakat Sunda.

“Selama ini belum ada referensi atau kamus bahasa Sunda yang khusus bagi 
kepentingan kedokteran. Bagi kami, kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang cukup 
mendesak, karena proses komunikasi anamnesis mempunyai pengaruh besar atas 
suatu proses keberhasilan treatment yang dilakukan untuk pasien. Jika 
komunikasi antara dokter dan pasien tidak berjalan baik, bagaimana kami bisa 
membantu para pasien kami,” cerita Gilang.

Buku saku yang dicetak hanya sekitar 150 eksemplar ini, jelas Gilang akan 
dibagikan kepada peserta pelatihan Bahasa Sunda di FK Unpad, yang akan digelar 
November 2011 mendatang. Ketika ditanya apakah akan dikomersialisasikan, Gilang 
bersama timnya belum berpikir untuk dapat mengomersilkan buku saku tersebut.

“Beberapa rekan dari Fakultas Kedokteran di sejumlah universitas di kota 
Bandung sudah ada yang menanyakan, dimana untuk bisa membeli buku ini. Tapi 
untuk saat ini, belum terpikirkan untuk dikomersilkan,” kata Gilang. Ia 
menambahkan tidak ada kata terlambat untuk belajar bahasa Sunda. Semua 
semata-mata hanya untuk kepentingan para pasien. *

Laporan oleh: Lydia Okva Anjelia.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke