TAFSIR
AYAT

 

Sungguh
tidak sedikit ayat Qur_an yang belum bisa kita Tafsirkan dengan tepat, sehingga
memang wajar kalau yang masih belum sepenuhnya memahami Isi Al Qur_an itu
banyak sekali jumlahnya, walaupun mereka sudah mengaku Islam sejak bayi; dengan
demikian akibat selanjutnya adalah “pada kwalitas keimanan”; tidak mengherankan
apabila setelah besar bayi tersebut kemudian pindah agama; atau bahkan jadi
atheis sama sekali.

Walau
di surat 2 ayat 2 dst. dinyatakan : tiada keraguan, bahwa Risalah itu ( Al
Qur_an adalah petunjuk bagi oraang yang Taqwa ).

Disini
selain terjemahan, kita berhadapan lagi dengan penafsiraan ayat. Tidak ada
keraguan maksudnya adalah memang Risalah itu adalah petunjuk dan pegangan bagi
manusia yang taqwa atau siap Taqwa; tapi tak ada jaminan bahwa si yang BACA
akan MENGERTI.

Jadi
ayat tersebut harus ditafsirkan memang pegangan yang bagus, bagi yang MENGERTI,
dan mau mengerti itu yaaa atas KEHENDAKNYA jua. Kita bisa berusaaha; tetap saja
Tuhan juga yang menentukan si manusia bisa mengerti atau tidak.

Benar2
makin terbukti Innalloha alaa kulli Syaai’in Qodiir.

Seperti
contoh ayat ini : Allahu ladzii kholaqossamaawaati wal ardho, wa maa baina
humaa, fii sittati ayyamin tsummastawaa ‘alal Arsy. Maa lakum min duunihii
miwwaliyyiwwalaa syafii’I; apalaa tatazakkaaruun.

Terjemahan
dari Depag : Tuhanlah Yang menciptakan outer space dan bumi ( katanya dalam 6
masa ) ; dan juga antara keduanya; kemudian Tuhan bersemayan diatas Arsy yang
Agung. Tak ada yang bisa memberi Syafaat kecuali DIA; apakah kalian tak
memikirkannya?

Yang
masih membingungkan dalam ayat ini, adalah Al Arsy; kemudian dihubungkannya
dengan Syafaat.

Jadi
bagaimana kita menafsirkan ayat ini ?

Kita
tahu Tuhan itu Al’A_laa, artinyaa Maha Tinggi ( tingginya jauuuuh sekali ).

Jadi
jelas diatas.

Al
Arsy, apakah itu suatu tempat ? kita harus tolak pengertian ini; karena Tuhan
tak memerlukan tempat. Jadi duduk atau bersemayam diatas Arsy, bagaimana
menterjemahkanNya ?

Bersemayam
disini, jangan diterjemahkan DUDUK seperti pada manusia. Tapi haruslah berpikir
bahwa bersemayam = POSISI. Posisi Tuhan ada diatas Alam semesta; mungkin yang
dimaksud istilah arsy disini adalah Alam Semesta.

Ini tidak
berarti Tuhan bertempat tinggal; sebab memang posisi Tuhan ada diatas  atau 
seluruh alam semesta ada didalam Tuhan;
maka dari manapun melihat; pasti Dia ada diatas. Dan diatas itu , adalah dari
sudut pandang manusia.

Yang
dimaksud bertempat tinggal adalah seluruh apa saja yang berada di ALAM SEMESTA;
sementara TUHAN ada diluar Alam Semesta.

Jadi
HUKUM Alam berlaku bagi seluruh penghuni alam semesta; tapi Tuhan diluar Hukum
Alam; karena Tuhan diluar alam semesta. Maka dari itu “Ulama” menterjemahkannya
sebagai yang tak bertempat tinggal. Tapi mereka tak bisa lebih jauh lagi
menguraikannya; malah dikatakan jangan menyelidiki tentang Tuhan; tapi
selidikilah CIPTAANNYA !

Tapi
walau bagaimanapun, kalau berusaha kearah itu bisa, kenapa tidak !?Setelah itu, 
yaitu setelah bersemayam bagaimana ? Kaum Mutazillaah berpendaapaat bahwaa 
Tuhaan diam saja, hanya memperhatikan tingkah laku manusia. Dan Netral, tak 
ikut campur. Jelas pandangan ini salah besar; padahal Tuhan kan Al Qoddir; maka 
Tuhan tak pernah istirahat barang sekejappun; kerjaan Tuhan banyak sekali; 
yaitu mengontrol seluruh Makhluqnya termasuk Alam Semessta; menerima do'a dan 
harapan; mengonrol program takdir dlsb. mencatat semua perbuaatan dari seluruh 
manusia; yang memang termasuk programnya. Jadi tak ada sekejappun diam; Tuhaan 
selalu bekerja keras; daan tentu saja bekerja keras Tuhan tak bisa dibaandingi 
oleh kerja kerasnya manusia. 


Untuk
sementara tulisan saya; yang tetap merupakan “Brain Storming” saya aakhiri
sampai disini dulu. Lain waktu kita sambung lagi.

Billahi
Taufiq wal hidayah, wassalaaamu’alaikum warahmaatullahi wabarakaatuh.

Kirim email ke