Insya Allah, Bunda Teresa aya di syurga Tuhan. Tuhan sakabeh umat manusa. Tuhan skabeh makhkuk alam. Lain Tuhan cek urang Islam, lain Tuhan cek urang Kistiani, Lain Tuhan cek urang Hindu, Budha, kejawen, sunda wiwitan, jrrd. Tapi Tuhan anu ngarajaan sakabeh makhlkuk...... (Cek uing mah, agama jeung kaparcayaan mung saukur jalan ibadah/nyembah ka Tuhan).
Sie Aliy Powered by Sinyal Telkomsel Odong-odongĀ® -----Original Message----- From: "Waluya" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Mon, 24 Dec 2012 02:09:10 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [kisunda] Fw: Tuhan, Engkau Tempatkan Di Mana Bunda Teresa Kini? Supaya rada haneut dina usum tariris kieu, ieu aya artikel lumayan hade ti Kompasiana. Nu nulisna ngakuna urang Bandung jeung urang pasantren. Nyanggakeun sareng wilujeng ngalenyepan: Tuhan, Engkau Tempatkan Di Mana Bunda Teresa Kini? Oleh: Dewa Gilang Bunda Teresa (1910-1997), terlahir sebagai Agnes Gonxha Bojaxhiu, adalah biarawati keturunan Albania dan berkewarganegaraan India yang mendirikan Missionaries of Charity di daerah Kalkuta, India, pada tahun 1950. Ketika berusia 8 tahun, ayahnya meninggal dunia, dan meninggalkan keluarganya dengan kesulitan finansial. Meski demikian, ibunya merawat Gonxha dan ketiga saudaranya dengan penuh kasih sayang. Di kemudian hari, Teresa mengakui bahwa Ibunya sangat memengaruhi karakter dan panggilan layanan Gonxha. Awalnya ia mengepalai sebuah sekolah dan hidup dalam biara. Namun, setelah melihat kenyataan, ia turun ke jalan-jalan dan kemudian memutuskan untuk hidup dan bekerja di tengah-tengah kaum termiskin di kawasan kumuh di luar biara. Ia merasa tak tak nyaman hidup di dalam biara, sementara realita kemiskinan, kekerasan, dan jerit kelaparan terhampar di luar biara. Bunda Teresa berbeda dengan pemuka agama lainnya. Ia tak ingin terkukung oleh ibadah ritual saleh samata. Baginya, ibadah yang sebenarnya ialah ibadah ritual sosial. Dan itu tak akan ia temukan dengan hanya berdiam diri, membaca doa Rossario sembari menghitung biji butiran tasbih di dalam biara. Ia keluar dari biara. Ia sentuh seluruh penjuru dunia dengan "tangan" kemanusiaannya. Rasa humanisnya membuat ia berani mendobrak sekat-sekat agama dan bangsa. Suatu waktu Teresa pernah ditanya perihal sebab ia melakukan semua ini. Rela meninggalkan seluruh kenyamanan yang mungkin ia dapatkan dalam biara. Dengan lugas Teresa menjawab, "Saya melihat Tuhan di dalam diri setiap orang. Ketika saya membersihkan luka dari orang yang menderita lepra, saya merasa sedang merawat Tuhan itu sendiri. Bukankah ini merupakan pengalaman yang indah?". Bunda benar. Itu merupakan pengalaman yang indah. Saat tak menemukan Tuhan di dalam biara, Bunda justru menemukan Tuhan ketika tangannya mengusap penderita kusta nun jauh di Iran. Ia menemukan Tuhan takkala menyuapi bocah yang kelaparan di belahan bumi tandus, Ethopia. Baginya, Tuhan bukan berada dalam biara, tetapi di luar biara. Ketika pada tahun 1979 ia menerima uang sebesar 6000 dollar sebagai hadiah bagi nobel perdamaian, ia tak menolaknya. Ia tak gunakan uang itu untuk memuaskan syahwat duniawinya. Ia sumbangkan uang sebesar itu kepada orang-orang yang tengah meregang kelaparan di Kalkuta, India. Uang yang cukup memberi makan ratusan orang kala itu. Pelayanan keimanannya kerap disalahartikan oleh sebagian individu. Ketika hal ini disampaikan kepadanya, Teresa hanya tersenyum simpul. Ia menjawab; "Sejak semula tidak pernah sekali pun saya meminta imbalan. Saya rindu melayani kaum miskin hanya dengan kasih kepada Allah. Saya ingin kaum miskin menerima dengan cuma-cuma apa yang kaum berpunya dapat dengan uang mereka." Teresa merasa terlalu picik bila kasih diartikan hanya milik agama tertentu. Kasih seharusnya menjadi milik seluruh umat manusia. Bukankah rasa kasih ialah fitrah, yang dibawa oleh manusia sedari lahir? Lalu mengapa kasih harus tersekat oelh perbedaan? Tapi Teresa tetap lah manusia. Ia tak kuasa melawan takdirnya. Pada tanggal 5 September 1979, Teresa menghembuskan nafas terakhirnya. Ia tak kuasa melawan kerentaannya dan penyakit TBC yang telah lama diidapnya. Ia dipanggil Sang Khaliq. Tak lama setelah berita tentang wafatnya, jutaan manusia menitikkan air mata. Lautan manusia menghadiri pemakamannya sebagai penghormatan terakhir bagi Teresa. Penghormatan yang hanya pantas bagi orang-orang yang memiliki jiwa kasih dan rasa kemanusiaan layaknya Bunda Teresa. Dan itu belum layak bagi kita. Iya, kita yang memutuskan untuk tak berbagi dengan sesama. Kita yang tak pernah memikirkan nasib tetangga sekitarnya yang menjerit lapar di kala malam. Kita yang menghabiskan rizki di malam Lebaran, Natal, dan Tahun Baru dengan berpesta pora tanpa sempat sedikit pun memicingkan mata bagi mereka. Mereka yang menurut Bunda sebagai "anak-anak Tuhan" yang sebenarnya. Kini aku termenung. Mataku menatap kosong. Membaca biografinya seakan aku mengenal Beliau. Dan aku merasa kehilangan. Kehilangan sosok Bunda yang sebenarnya Bunda. Da mungkin tak akan aku temukan lagi. Aku melihat sekali lagi pernyataan terkenal dari Beliau: "By Blood, I am Albanian, By Citizenship, an Indian. By Faith, I am a Catholic nun. As to my calling, I belong to the world. As to my heart, iI belong entirely to the heart of Jesus." Oh, kata yang sungguh terangkai dengan indah dari sosok wanita yang penuh ketulusan kasih. Di sela-sela adzan subuh yang berkumandang di pondok pesantren, aku bergumam lirih, bertanya, "Tuhan, Engaku tenpatkan di mana Bunda Teresa kini? Di Surga-Mu kah atau di Neraka-Mu?. Selamat hari Natal Bunda. Selamat hari Natal bagi yang merayakannya. Semoga kasih dan damai Natal mampu membawa kedamaian bagi kita semua. Gitu aja koq repot. Selamat menikmati hidangan. Penulis ialah santri di salah satu pesantren terkenal di Kota Bandung, Gusdurian, dan pendukung PSSI. http://sosbud.kompasiana.com/2012/12/24/tuhan-engkau-tempatkan-di-mana-bunda-teresa-kini-519243.html
