On 12/24/2012 6:09 AM, mang kaby wrote:
[Attachment(s) <#TopText> from mang kaby included below]
Dear Prens,
Wilujeng, selamat, congrat... Merry Christmas n' Happy New Year 2013.
Semoga kita semua selalu ada dalam keberkahan Alloh SWT dan tentunya
tahun 2013 lebih baik dari tahun-2 sebelumnya.
Wilujeng berlibur bersama keluarga. Dari Kaki Gunung Salak Bogor
menemani keluarga teman yg lagi kemping asoy di Balong :).
Alhamdulillah Muji Syukur Ka Nu Agung langit bengras caang bintang-2
ge muncul, belum hujan euy, barokah ya Alloh.
nuhuuuuns,
mang kabayan
Toleransi Islam untuk 25 Desember
Posted felixsiauw
Natal jelas bukan perayaan kaum Muslim, dan kaum Muslim harusnya tidak
berkepentingan dengan itu. Namun jelas ada hubungannya dengan kaum
Muslim mengingat sebagian besar daripada kita juga berhubungan dengan
sesama kita yang merayakannya. Karena itu menjadi penting kiranya kita
membahas bagaimana pandangan Islam tentang Natal dan seputarnya serta
toleransi kita di dalamnya.
Sebagaimana yang kita ketahui, 25 Desember bukanlah hari kelahiran Yesus
Sang Mesias (Isa Al-Masih). Walaupun gereja Katolik menganggapnya begitu.
Encyclopedia Britannica (1946), menjelaskan, "Natal bukanlah
upacara-upacara awal gereja. Yesus Kristus atau para muridnya tidak
pernah menyelenggarakannya, dan Bible (Alkitab) juga tidak pernah
menganjurkannya. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan kafir
penyembah berhala."
Secara sains, dibuktikan tanggal 25 Desember adalah pertama kalinya
matahari bergerak ke arah utara dan memberikan kehangatan setelah
matahari berada di titik terendah di selatan pada 22-24 Desember (winter
solstice) yang menyebabkan bumi berada di titik terdingin.
Karena itulah orang Yunani pada masa awal merayakan lahirnya Dewa Mithra
pada 25 Desember, dan orang Latin merayakan hari yang sama sebagai
kelahiran kembali Sol Invictus (Dewa Matahari pula)
Singkatnya, Bila kelahiran Yesus disangka 25 Desember, maka itu adalah
kesalahan yang nyata
Namun, bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah bahwa umat Kristen telah
menjadikan tanggal 25 bukan hanya sebagai peringatan, tapi perayaan
kelahiran 'Tuhan Yesus' bagi mereka. Sehingga permasalahannya berubah
menjadi permasalahan aqidah.
Karena itulah dalam Islam, kita pun dilarang ikut-ikutan merayakan
Natal, karena itu adalah perayaan aqidah. Termasuk ikut memberikan
'selamat natal' atau sekadar ucapan 'selamat' saja. Karena sama saja
kita mengakui bahwa Natal adalah hari lahir 'Tuhan Yesus' bagi mereka
Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah
salah seorang dari yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada Tuhan
selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang
mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan
ditimpa siksaan yang pedih (TQS al-Maaidah [5] : 73)
Seringkali kita beralasan, "Tapi kan nggak enak, dia bos saya / teman
saya / dll, masak saya nggak ngucapin, kalo dalam hati mengingkari kan
gak papa, yang penting niatnya! Toleransi dong!"
Perlu kita sampaikan, niat apapun yang kita punya, apabila kita
melakukan hal itu, maka sama saja hukumnya. Dan toleransi bukanlah
mengikuti perayaan aqidah umat lain. Oleh karena itu harusnya kita lebih
takut kepada Allah dibanding kepada manusia.
Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah
kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang
sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan
Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir (TQS al-Maaidah [5]
: 44)
Lalu bagaimana toleransi Islam terhadap agama lain? Toleransi kita hanya
membiarkan mereka melakukan apa yang mereka yakini tanpa kita ganggu.
Itulah toleransi kita.
Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku (TQS al-Kaafiruun [109] : 6)
Toleransi bukannya ikut-ikutan dengan kebablasan dan justru terjebak
dalam kekufuran. Sebagai Muslim harusnya kita menyampaikan bahwa
perayaan semacam ini adalah salah. Dan kalaupun toleransi, bukan berarti
mengorbankan aqidah kita, mari kita ingat pesan Rasulullah
"Sungguh kamu akan mengikuti (dan meniru) tradisi umat-umat sebelum kamu
bagaikan bulu anak panah yang serupa dengan bulu anak panah lainnya,
sampai kalaupun mereka masuk liang biawak niscaya kamu akan masuk ke
dalamnya pula". Sebagian sahabat bertanya: "Ya Rasulullah, orang-orang
Yahudi dan Nasrani-kah?" Beliau menjawab: "Siapa lagi (kalau bukan
mereka)?" (HR Bukhari dan Muslim)
Walhasil sekali lagi kita mengingatkan bahwa haram hukumnya di dalam
Islam mengikuti perayaan Natal, juga termasuk mengucapkan 'Selamat
Natal/Selamat' ataupun yang semisalnya. Mudah-mudahan Allah menunjuki
kita dan mereka,