24/12/2012

Picture
KH Jalaluddin Rakhmat

Sekitar lima puluh tahun setelah Nabi Muhammad SAW wafat, Gubernur
Madinah adalah Marwan bin Hakam. Sebagaimana lazimnya di zaman itu,
gubernur harus menjadi imam shalat di Masjid Nabi. Pada suatu shalat
Idul Fitri, Marwan berkhutbah sebelum shalat. Lalu seorang laki-laki
berdiri dan berseru, “Khutbah sebelum shalat?” Ia mempertanyakan
perilaku imam itu, karena sepanjang pengetahuannya Rasulullah SAW dan
para khalifah sebelumnya melakukan shalat dulu baru kemudian khutbah.
Jamaah tentu saja ramai. Maka jadilah perdebatan antara imam dengan
salah seorang makmum.
Abu Sa’id al-Khudhri, salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat
senior, maju menengahi diskusi yang tengah berlangsung. Ia berkata,
sambil menunjuk makmum yang memprotes imam itu, “Orang ini telah
melaksanakan apa yang aku dengar dari Rasulullah SAW. Beliau bersabda:
Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka hendaknya ia
mengubahnya dengan tangannya. Apabila ia tidak mampu, maka dengan
lidahnya. Apabila tidak mampu, maka dengan hatinya. Tetapi yang
demikian itu iman yang paling lemah”.

Peristiwa ini bukan saja menggambarkan keberanian rakyat biasa untuk
mengkritik pemimpinnnya (gubernur); juga bukan semata-mata
menggambarkan pentingnya amar makruf nahi mungkar. Kejadian tersebut
dimasukkan Imam Muslim ke dalam kitab shahih-nya sebagai bagian dari
Kitab Iman. Ia menamai bab yang bersangkutan dengan judul “Bab Nahi
Mungkar termasuk Bagian Iman”. Segera setelah hadis tersebut, Muslim
menurunkan hadis berikut:

Rasulullah SAW bersabda, “Setiap Nabi yan diutus Allah pada umat
sebelumku, mempunyai para pembelanya (hawariyyun) di antara umatnya
dan sahabat-sahabat yang berpegang pada sunnahnya serta mengikuti
perintahnya. Tetapi setelah mereka, datanglah generasi yang
mengucapkan apa yang tidak mereka lakukan dan mengerjakan apa yang
tidak diperintahkan. Barangsiapa yang berjihad terhadap mereka dengan
tangannya, ia mukmin. Barangsiapa yang berjihad terhadap mereka dengan
lidahnya, ia mukmin. Barangsiapa yang berjihad terhadap mereka dengan
hatinya, ia mukmin. Bila ia di luar kelompok-kelompok itu, tidak ada
di hatinya iman walau sebesar debu sekalipun.”

Di sini keimanan ditandai dengan keterlibatan dalam “aksi-aksi
sosial”. Bila dalam masyarakat sudah muncul orang-orang hipokrit, yang
mengucapkan apa yang tidak mereka lakukan, seorang mukmin harus
berjuang memperbaiki keadaan tersebut dengan tangannya, dengan
lidahnya, atau paling tidak dengan hatinya. Bila ia diam sama sekali,
bahkan hati pun tidak keberatan dengan apa yang terjadi, ia dianggap
sedikit pun tidak memiliki iman. “Sudah sepakat para imam Ahli Sunnah
wal Jama’ah bahwa iman adalah ucapan dan tindakan. Karena itulah
mereka sepakat bahwa iman bertambah dan berkurang. Sekiranya iman itu
hanyalah perbenaran dalam hati, tentulah tidak ada pertambahan dan
pengurangannnya,” ujar Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim.

Menarik untuk dicatat judul-judul tiga bab sebelum hadis Muslim yang
kita bicarakan: bab tentang petunjuk bahwa sebagian dari iman ialah
mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri; bab keterangan
tentang haramnya menyakiti tetangga; bab dorongan untuk memuliakan
tetangga, tamu dan membiasakan diam, kecuali dalam kebaikan dan bahwa
semuanya itu termasuk iman. Muslim memang senang memberi judul yang
panjang-panjang. Pada bab yang terakhir tersebut, ia menurunkan hadis
ini, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia
berkata yang baik atau diam saja. Barangsiapa beriman kepada Allah dan
hari akhir, hendaknya ia memuliakan tetangganya. Barangsiapa beriman
kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya.”

Kitab al-Iman adalah kitab pertama dalam Shahih Muslim, tetapi kitab
yang kedua dalam Shahih Al-Bukhari. Imam Al-Bukhari memulai
hadis-hadis tentang iman dengan menulis, “Iman itu ucapan dan
perbuatan. Bertambah dan berkurang. Allah berfirman: Supaya iman
mereka bertambah bersama keimanan mereka (QS. Al-Mudatsir: 31);
orang-orang yang sudah mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk
kepada mereka dan Ia berikan kepada mereka ketakwaannya (QS. Muhammad:
17); dan orang-orang beriman bertambah keimanannya (QS. Al-Fath: 4);
Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya (QS. At-Taubah); maka
takutilah mereka, maka perkataan itu menambah keimanan mereka (QS. Ali
Imran: 173); dan tidak menambah mereka kecuali iman dan kepasrahan
(QS. Al-Ahzab: 22). Cinta karena dan benci karena Allah adalah
termasuk iman. Umar bin Abdul ‘Aziz menulis surat kepada ‘Adi bin Adi,
“Sesungguhnya iman itu kewajiban, syariat, batas-batas, dan sunnah.
Siapa yang menjaga ini semua dengan sempurna, sempurnalah imannya.
Siapa yang tidak memeliharannya dengan sempurnah, tidak sempurnalah
imannya. Seperti Muslim, Bukhari pun menurunkan hadis-hadis yang
menjelaskan iman dengan ucapan dan perbuatan.

Dari hadis-hadis itu kita menyimpulkan bahwa keimanan bukanlah
semata-mata perkara hati yang tidak kelihatan. Keimanan muncul dalam
akhlak. Mukmin berarti yang berakhlak baik dan  bukan mukmin pastilah
berakhlak buruk.

Dalam banyak hadis, Nabi SAW memperinci karakteristik mukmin itu dari
akhlaknya. Perhatikanlah hadis-hadis iman yang dikumpulkan dalam Kanz
al-‘Ummal ini. Untuk memudahkan Anda, berikut ini kita turunkan
beserta nomor-nomornya. Mukmin ialah yang apabila orang berada
bersamanya harta dan jiwanya terlindungi (676). Mukmin itu menyayangi
dan disayangi. Tidak ada baiknya orang yang tidak dapat menyayangi dan
tidak disayangi (679). Mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar
menanggung gangguan mereka lebih baik dari mukmin yang tidak bergaul
dan tidak sabar atas gangguan mereka (686). Mukmin itu bermanfaat;
jika kamu berjalan bersamanya ia bermanfaat bagimu; jika kamu
berkonsultasi dengannya ia berguna bagi kamu; jika kamu berserikat
dengannya, ia juga bermanfaat bagi kamu. Seluruh perilakunya
bermanfaat (692). Jika kebaikan yang kamu lakukan membuat kamu bahagia
dan jika kejelekan yang kamu lakukan membuat kamu menderita, pastilah
kamu mukmin (699). Perumpamaan mukmin adalah seperti lebah. Ketika
makan, ia makan yang baik. Ketika membuang, ia membuang yang baik.
Bila ia hinggap di ranting yang rapuh, ranting itu tidak patah.
Perumpamaan mukmin juga seperti bongkahan emas, bila dibakar ia
menjadi merah, tetapi bila ditimbang, timbangannya tidak berkurang
(735).

Lalu, apa cirinya orang yang tidak beriman? Nabi SAW bersabda: Tidak
beriman seseorang sebelum aku lebih dicintai dari anaknya,
orangtuanya, dan seluruh manusia (92). Bukanlah seorang mukmin yang
makan kenyang sedangkan tetangganya kelaparan. Bukanlah mukmin yang
suka menusuk perasaan orang, yang suka melaknat, yang suka berkata
kotor, yang suka berkata kasar (720). Iman itu seperti kemeja, sekali
waktu dipakai dan pada waktu yang lain ditanggalkan. Ketika seseorang
berzinah, ia bukan mukmin lagi. Ketika seseorang mencuri, ia bukan
mukmin lagi. Ketika meminum minuman keras, ia bukan mukmin lagi.
Ketika ia membunuh, ia bukan mukmin lagi (1324).

Mukmin secara harfiah berarti yang mendatangkan rasa aman, yang
memberikan perlindungan, yang memberi dan menerima amanah. Bila Anda
duduk di dekat mukmin, hati Anda akan tentram, aman dan merasa
terlindung. Bila menitipkan sesuatu atau seseorang kepadanya, jiwa
Anda tenang karena ia akan menerima amanah Anda sebaik-baiknya. Dalam
hatinya ada kecintaan kepada Allah, Rasul-Nya dan sesama manusia. Ia
bergaul dengan manusia atas dasar kasih sayang. Kebahagiannya terletak
dalam menjalankan perbuatan baik. Seperti lebah, ia hanya memasukkan
ke mulutnya sari bunga yang indah dan bersih dan menebarkan madu di
tempat yang didatanginya. Secara singkat, mukmin dengan akhlaknya
menyebarkan rasa aman kepada diri dan lingkungannya.

Ibn Hajar al-‘Asqalani menyimpulkan hadis-hadis tentang iman dengan
mendaftar puluhan cabang iman. Ia mengkategorikannya ke dalam tiga
kelompok: (1) amal hati, seperti ikhlas, keyakinan, kecintaan kepada
Allah dan Rasul-Nya, bersihnya hati dari dengki, dendam dan
kesombongan; (2) amal lidah, seperti mempelajari dan mengajarkan ilmu,
berzikir dan menjauhi kata-kata yang tidak bermanfaat; (3) amal tubuh,
seperti beribadah, silaturrahim, memuliakan tetangga, mendamaikan yang
bertengkar dan sebagainya (Fath al-Bari 1:52-53).

Tinggalkanlah perincian cabang-cabang iman untuk sementara. Pindahlah
kepada hakikat Islam. Kita akan terkejut karena Islam pun
didefinisikan Nabi dengan akhlak. “Ketahuilah, aku kabarkan kepadamu
perihal mukmin. Mukmin ialah orang yang karena dia jiwa dan harta
manusia terlindungi (aman). Muslim ialah yang selamat orang lain dari
gangguan lidah dan tangannya. Mujahid ialah orang yang berjihad
melawan nafsunya ketika mentaati Allah. Muhajir ialah yang menjauhi
kesalahan dan dosa.” (Al-Hakim dan al-Thabrani).

Sekali waktu, ketika Nabi SAW masih berada di atas untanya di Arafah,
seseorang mendatanginya. Ia menarik kendali unta Nabi, sehingga
orang-orang berteriak. Para sahabat melihat perbuatan orang itu sangat
tidak beradab. Tetapi Nabi yang mulia tersenyum dan berkata, “Biarkan
dia. Kita perhatikan apa maunya.”  Orang itu bertanya, “Ya Rasul
Allah, tunjuki aku amal yang dapat mendekatkanku ke surga dan
menjauhkan aku dari neraka. Aku mohon engkau persingkat
pembicaraanmu.” Nabi SAW diam sejenak, lalu ia mengangkat kepalanya ke
langit. Kemudian ia menoleh kepada orang itu. “Beribadahlah kamu
kepada Allah dan jangan menyekutukan-Nya, engkau menegakkan shalat,
mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menyukai orang
lain mendapat kebaikan seperti kamu menyukai hal itu ada pada dirimu.
Engkau membenci sesuatu yang buruk menimpa orang lain seperti kamu
sendiri tidak mau hal itu menimpa dirimu sendiri. Jauhkanlah manusia
daripadanya. Lepaskan kendali unta.” (Kanz al-‘Ummal 1:280).

Walhasil, menurut Rasulullah SAW, iman dan Islam harus disempurnakan
dengan berusaha membahagiakan manusia lain sebagaimana kita berusaha
membahagiakan diri kita sendiri. Kepada Abu Sa’id, sufi besar yang
hidup pada abad 11 H, seorang murid bertanya, “Guru, tunjukkan jalan
untuk mencapai Tuhan.” Ia menjawab, “Jalan-jalan menuju Tuhan sama
banyaknya dengan ciptaan-Nya, tetapi jalan yang paling cepat dan
paling mudah ialah berkhidmat kepada orang lain, tidak mengganggu
mereka, dan membuat mereka bahagia.” Dan itulah iman dan Islam yang
hakiki. [majulah-ijabi.org]

****
http://www.majulah-ijabi.org/14/post/2012/12/mukmin-dan-muslim.html
-- 
http://www.kompasiana.com/ahsa


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke