---------- Forwarded message ----------
From: iip yahya <[email protected]>
Date: 2013/1/18
Subject: [Urang Sunda] sual Nagara Pasundan
To: "[email protected]" <[email protected]>


**


Sampurasun,
Aya info ti sdr Hendi Jo perkawis Nagara Pasundan, mugi2 janten "lalawuh"
sarapan enjing ieu:

KRONI BELANDA VAN GAROET. Sekitar tahun 1920-an, Prof. C.C. Berg membawa
kembali naskah Kidung Sundayana ke Indonesia. Ilmuwan Universitas Leiden
yang dicurigai alat politik Gubernur Jenderal Hindia Belanda, menyebut
bahwa naskah yang bercerita tentang palagan Bubat itu menjadi dasar shahih
ketidakcocokan antara dua suku terbesar di Hindia Belanda: Sunda dan Jawa.

Tak dinyana, puluhan tahun kemudian pernyataan Berg itu menjadi dalih
Residen Priangan, M. Klaassen untuk memprovokasi berdirinya Negara
Pasundan. Dalam laporan yang ditulis pada 27 Desember 1946 tersebut, M.
Klaassen menyebut bahwa pemerintah Kerajaan Belanda wajib hukumnya
mendukung PRP pipmpinan eks Bupati Garut Raden Soeria Kartalegawa (Partai
Rakjat Pasoendan) yang bercita-cita mendirikan Negara Pasundan. Alasannya
(sama seperti yang diungkapkan Berg) sejak berabad-abad lamanya ada
persaingan antara orang-orang Jawa dan Sunda. Ini akibat perbedaan dalam
adat, kebiasaan dan mentalitas.

Banyak pejabat Belanda di Jawa Barat setuju dengan Klaassen.
Asisten-Residen M. Hins di Bogor mengatakan gerakan PRP harus didukung
betapa pun di antara pimpinannya terdapat orang yang tidak seluruhnya bisa
dipercaya, cuma mengutamakan kepentingan diri sendiri dan bukan karena
mencintai tanah Pasundan. Pendapat ini juga disetujui oleh Gubernur
Abbenhuis. Merespon tuntutan itu, Letnan Gubernur Jenderal Van Mook setuju
saja Negara Pasundan didiriikan, namun ia tak setuju jika negara boneka ini
kelak harus dipimpin oleh Soeria Kartalegawa, "Ia tokoh yang sangat korup
selama menjadi Bupati Garut,”ungkap Van Mook.

Padahal dalam "Nationalism and Revolution in Indonesia" , George McTurnan
Kahin menyebut bahwa Kartalegawa mendapat ide untuk membentuk PRP justru
dari mantan perwira KNIL Kolonel Santoso, penasehat politik Van Mook.
Realisasinya kemudia dibantu oleh NEFIS, badan intel militer Belanda.


Tidak adanya gayung bersambut dari Van Mook, membuat Kartalegawa nekad.
Menurut Rosihan Anwar yang sempat meliput soal pendirian Negara Pasundan
ini, tampilnya Kartalegawa sebagai pimpinan Negara Pasundan tak lepas dari
dukungan para pegawai Belanda di Jawa Barat. Pada 4 Mei 1947, mereka
menyokong sepenuhnya secara logistik dan politik proklamasi Negara Pasundan
di Bandung yang dihadiri oleh sekitar 5000 orang tersebut.

Karena aksi petualangan politiknya itu, pers Republik menjuluki Kartalegawa
sebagai : "Soeria ‘NICA’ Legawa". NICA merupakan singkatan dari
Nederlandsch Indië Civil Administratie atau Pemerintah Sipil Hindia
Belanda. Nasib selanjutnya Negara Pasundan tidak mendapat dukungan dari
rakyat Jawa Barat. Ketika akhir bulan Mei Presiden Soekarno datang dari
Yogya meninjau Jawa Barat, ratusan ribu rakyat Jawa Barat berduyun-duyun
datang ke beberapa lapangan tempat Bung Karno berpidato dalam bahasa Sunda.
“Rahayat Pasoendan tukangeun Karno-Hatta (Rakyat Pasundan di belakang
Soekarno-Hatta)” demikian bunyi salah satu spanduk yang mereka bawa dalam
sebuah rapat politik di Bandung. (hendijo)

Iip D. Yahya
Clayton, Victoria 3168

 

Kirim email ke