"culik" wae Menteri BUMN, sina jalan-jalanka Ujung Kulon. Ngarah kanyahoan ku 
Gan Dahlan Iskan kumaha kaayaan sabudeureun di wewengkon Tambang emas Cibaliung.
aya wargi Kusnet/Kisunda anu gaduh akses ka Menteri BUMN?

mrachmatrawyani

--- On Sat, 5/11/13, Gunawan Yusuf <[email protected]> wrote:

From: Gunawan Yusuf <[email protected]>
Subject: [kisunda] Paradoks Kehidupan Masyarakat Disekitar Tambang Emas 
Cibaliung
To: "WongBanten" <[email protected]>, "kisunda" 
<[email protected]>
Date: Saturday, May 11, 2013, 9:51 AM
















 



  


    
      
      
      Pandeglang  (10/5/2013)
 - Emas merupakan logam mulia yang sangat bernilai. Harga di pasaran pun
 saat ini berkisar Rp 450-490 ribu per satu gramnya. 
Harga
 yang sangat tinggi tersebut ternyata tidak membuat Kecamatan Cimanggu 
mudah untuk diakses. Bahkan beberapa kampung disekitarnya, seperti Dukuh
 Handap dan Cikeyeup di Desa Batu Hideung dan Kampung Cegok dan Kampung 
Aer Jeruk di Kecamatan Cimanggu Kabupaten Pandeglang Banten, masih 
terisolir karena akses jalan yang rusak parah, bahkan tidak ada akses 
jembatan yang menghubungkan jalur antar kampung.
Padahal
 Tambang Emas Cibaliung yang berada di Kecamatan Cimanggu sudah 
beroperasi sejak April 2010 lalu. Tambang Emas milik Antam ini berjarak 
sekitar 8 Km dari Kampung Dukuh Handap yang terisolir tadi.
Ironisnya,
 Dukuh Handap juga hanya berjarak sekitar 50 Km dari PLTU Labuan sebagai
 salah satu penghasil listrik di Pulau Jawa. Namun jalan menuju kampung 
ini gelap gulita bila waktu Maghrib telah tiba.
Kecamatan Cimanggu juga bersebelahan dengan Taman Nasional

 Ujung Kulon sebagai lokasi konservasi badak bercula satu yang mendunia.
 Akan tetapi sayang sekali infrastruktur jalannya rusak parah luar 
biasa.
Masyarakat
 di sekitar kawasan sudah berulang kali mengeluhkan buruknya 
infrastruktur diwilayah ini, namun sayangnya para wakil rakyat seolah 
tidak pernah menepati janji mereka saat kampanye.
“Kami
 sudah frustasi dengan janji dari pemerintah dan wakil rakyat, saat ini 
siapapun yang akan membangun desa kami, selalu kami terima,” ujar 
Zakaria, tokoh masyarakat Aer Jeruk.
Sementara
 itu, Muhammad Koni Ketua RT Cikeyeup mengungkapkan kekesalannya karena 
janji anggota DPRD selalu tidak pernah ditepati. “Saya bosan dengan 
janji anggota DPRD, setiap kampanye akan membangun desa kami, tapi 
selalu diingkari saat sudah duduk di parlemen,” ungkap Koni kepada 
Bantenesia.
Dilain
 pihak, Warti selaku Kepala Desa Ranca Pinang Kecamatan Cimanggu tidak 
pernah bosan mengajukan perbaikan jalan di desanya, namun ajuan tersebt 
selalu tertolak saat musrenbang. (Acel/Rudi/B16)


    
     

    
    






  








Kirim email ke