Wooooooow juaraaaaaaaaa, hooooorseeeeeey bahagia n' senangnya, ada harapan 
Indonesia menjadi lebih baik :). Hiduuuuuup Jokowooooow ajiiiiib pisaaaaan 
(yes).

Mudah-2an Mang Emil ngak kalah sakti n' canggih dari Jokowi - Ahok, Mamang 
yakin Mang Emil selaku Walikota Bandung bisa memberikan suri tauladan yang baik 
kepada Mamang n' junior-2 Alumni ITB lainnya. Geuuuus bosen pisan nempo nu 
pajabat nu teu eucreuuug tur borokokok!! Hayooooh wae mikirkeun jangka imah!! 
Ceuk Mang Ihiiin oge naha teu eraaaaaa!!! Asa panuju Mang Ihin (Solihin GP) 
harita nyarekan Mang Dada basa Demo Baksil di Bandung tea xixixi. Kapan lagi 
Indonesia bisa maju kalo bukan sekarang :). 

Dahsyaaaaat euy, deeeer aaah pruuuuuuung!! Mudah-2an menginspirasi yg lainnyah 
para pemimpin berlomba-2 dalam kebaikan memberikan kontribusi nyata pada 
masyarakat!!! Laina hayoooh wae ngagugulung harta jeung wanita hehehe. 

Mamang ngado'akeun pisan lah :).

nuhuuuuns,
mang kabayan
www.udarider.com

-----Original Message-----
From: "minfra23 ." <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Tue, 25 Jun 2013 13:37:09 
To: tm-itb-bandung<[email protected]>; <[email protected]>; 
Senyum-ITB<[email protected]>; <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [Senyum-ITB] Fwd: Kaget, Pelayanan Kelurahan DKI sudah Berubah

 Subhanallah....
Alhamdulillah....
Virus Jokowi-Ahok ini harus ditularkan kemana2 nich....
Yang bagus2nya patut dan harus ditiru....
Kalau yang jelek... harus di-improve... Jokowi-Ahok selalu menerima
kritikan.... dan biasanya langsung di-execute....

Surabaya juga bagus.... Bandung mudah2an akan jadi lebih bagus... amiin...

 Mudah2an aja ada yang baca dan tergerak untuk jadi lebih baik... amiin....

Salam,
Morry Infra
---------- Forwarded message ----------
From: Ganis Supriadi <>
Date: 2013/6/25
Subject:  Kaget, Pelayanan Kelurahan DKI sudah Berubah

http://jakarta.kompasiana.com/layanan-publik/2013/06/25/kaget-pelayanan-kelurahan-dki-sudah-berubah-571806.html
  Kaget, Pelayanan Kelurahan DKI sudah Berubah
Oleh: Dwi M <http://m.kompasiana.com/dwim> | 24 June 2013 | 22:34 WIB

Terakhir kali saya mengurus administrasi di kantor kelurahan, kira-kira
sudah lewat satu tahun lalu. Waktu itu ada panggilan untuk mengambil e-KTP.
Rasanya malas sekali meninggalkan pekerjaan untuk berdesak-desakan, dan
berpanas-panasan di kantor kelurahan. Banyak waktu terbuang sia-sia untuk
menunggu dokumen yang sedang dikerjakan oleh staff kelurahan di wilayah
Jakarta Timur ini. Kalau tidak terpaksa sekali sih, saya memilih untuk
tidak pernah datang ke tempat yang namanya kantor kelurahan.

Tapi siang ini saya harus kembali ke kantor kelurahan Cililitan dengan
terpaksa. Masalahnya, anak saya yang bersekolah di SMP Depok akan
melanjutkan ke SMA Negeri Depok. Dan ada kebutuhan melegalisir Kartu
Keluarga untuk pendaftaran di sekolah nanti. Ya sudah, tekad sudah
dibulatkan untuk mengantri lagi berdesakan dan berpanas-panasan di kantor
kelurahan. Namanya juga sayang anak.

Saya memarkir mobil di parkiran kantor kelurahan Cililitan yang relatif
sepi. Pintu tertutup semua, hanya ada satu orang sedang duduk di luar di
bangku teras. Pikiran saya yang negatif sudah langsung menghakimi, “Ini
pasti staff kelurahan sudah kabur makan siang semua, urusan bakalan jadi
lama deh”. Orang yang duduk di luar tadi tadi, mempersilakan saya masuk ke
pintu itu. Maka saya buka pintu dan masuk ke dalam.

Begitu masuk, saya langsung terpana. Di dalamnya suasana dingin ber-AC.
Saya sempat bingung. Ini kantor kelurahan, atau Bank Swasta sih ?. Ada 4
petugas kelurahan berbaju resmi duduk di belakang meja seperti meja
Customer Service bank, semuanya wanita. Yang paling ujung kiri, bekerja
dengan laptop. Ada seorang staff kelurahan yang tersenyum pada saya, dan
kursi di depannya kosong. Langsung saya duduk disitu. Saya sungguh masih
bingung. Mana loket tempat mengurus surat-surat seperti biasa ?. Mana
tukang ketik yang biasa sibuk ketak-ketik seperti kelurahan pada umumnya ?.
Ada sekitar 4 orang tamu duduk di ruang tunggu, tapi tidak mirip orang
mengantri.

Ibu yang tersenyum tadi langsung melayani saya. Foto Copy Kartu Keluarga
saya langsung dicap dan ditulis-tulis, dan dimasukkan buku registrasi. Kami
mengobrol ngalor-ngidul, dia bertanya kenapa anak saya tidak sekolah di DKI
Jakarta saya, kan bagus ? Lalu anak saya apakah tinggal dengan nenek-nya di
Depok ?, dan sebagainya. Prosesnya cuma 3 menit. Yang luarbiasa, tiba-tiba
ada seseorang yang mungkin Lurah Cililitan duduk di samping saya dan
menandatangani fotocopy Kartu Keluarga saya. Beres. Total waktu cuma 4
menit. Semua lembar tadi diserahkan kepada saya yang masih kaget.

Lho, ini beneran sudah selesai ?. Dari rumah tadi saya sudah siapkan waktu
sekitar 3 jam untuk mengurus legalisir Kartu Keluarga ini, tapi sekarang
cuma dilayani 4 menit saja di tempat yang dingin dan mirip kantor Bank
Swasta ini.

Lalu saya salaman dengan ibu tadi sambil memberi salam tempel 2 lembaran
rupiah. Saya memberi uang ini bukan untuk menyogok, sebab pekerjaan sudah
selesai. Tapi lebih kepada kepuasan dan terima kasih. Ibu itu mengatakan,
“Wah bapak saya beri kupon ya pak. Sebab bapak sudah memberikan uang kepada
saya”. Saya heran, kupon apaan ?. Dia menyobek 2 lembar kupon. Ternyata itu
adalah kupon amal untuk sebuah panti asuhan. Ternyata uang saya akan
dihibahkan lagi untuk anak-anak yatim yang tertulis di kupon itu. Saya jadi
tambah kagum lagi dengan kantor kelurahan ini. Hati yang tadinya kesal
karena berpikir akan antri lama di kantor kelurahan, sudah diubah menjadi
kepuasan yang tak terhingga atas pelayanan kantor kelurahan Cililitan ini
yang tidak lebih dari 5 menit.

Sepanjang perjalanan pulang, di dalam diri saya tumbuh yang namanya sebuah
harapan. Tadinya saya sudah apatis melihat negara dan bangsa Indonesia.
Tidak mungkin mental bobrok pejabat dari atas sampai bawah bisa diubah.
Namun sejak gubernur yang baru memimpin Jakarta, perlahan-lahan Jakarta
berubah melayani warganya. Hati saya rasanya puas dan gembira sekali.
Harapan baru tumbuh untuk Jakarta yang baru, dan juga nanti menyongsong
Indonesia baru.

Lewat blog Kompasiana ini saya menitipkan terima kasih untuk pak Jokowi,
pak Ahok dan juga pak Lurah Cililitan beserta staf-stafnya. Saya yakin di
kelurahan lain di DKI Jakarta juga sudah berubah baik seperti Kelurahan
Cililitan. Berubah untuk melayani warga Jakarta.

Sekarang, datang ke kantor Kelurahan sama mengasyikkan  seperti datang ke
kantor cabang bank Swasta. Selamat datang Jakarta baru.

Kirim email ke