Arti Kemerdekaan dan Makna Merah Putih Bagi Masyarakat Kabuyutan & Kampung
Cipaku, Darmaraja, Sumedang, sangat ironis sekali Kabuyutan Cipaku dimana
Ada dua Situs Kabuyutan Peninggalan Jaman Megalitikum Prasejarah dan Sejarah
dengan Hutan Keramatnya yang masih lestari pohon-2 besar tinggi menjulang
masih tegak berdiri. Situs-2 Kabuyutan yang begitu melekat di hati
masyarakat, sudah berdiri jauuuuh sebelum Indonesia ada, dimana di areal
situsnya ternyata dililit oleh Bendera Merah Putih ternyata pada akhirnya
Situs- situs tersebut bersamaan dengan 38 situs bersejarah lainnya akan
ditenggelamkan melalui Proyek Waduk Jatigede karena ada kepentingan para
pemilik modal/ kapitalist (Bung Karno: Imperialismeu Modern). 

 

Mamang jadi mempertanyakan apa arti kemerdekaan sesungguhnya? Ketika Kakek
Mamang dahulu ikut berjuang bersama Mang Ihin, Solihin GP untuk memberantas
Gerombolan DI/ TI dimana waktu itu Kakek dan Warga Kabuyutan Cipaku pergi ke
Gunung Cakrabuana dengan berbekal misting dan beras untuk ngaliwet dengan
jalan kaki pergi ke Kaki Gunung Cakrabuana ikut membantu Kodam III Siliwangi
menghentikan DI/ TII yang mengancam kedaulatan Negara Republik Indonesia.
Malahan Bapak Mamang juga waktu itu yang masih anak- anak ikut pergi ke
Gunung Cakrabuana untuk mengepung Gerombolan, mendirikan rumah-2 pohon dan
membawa kentungan dari bambu. 

 

Namun ternyata balasannya untuk perjuangan yang telah dilakukan Kakek Mamang
beserta Masyarakat Kabuyutan Cipaku adalah Kampungnya dan Kabuyutannya
dihancurkan oleh Pemerintah Indonesia melalui Proyek Waduk Jatigede. Jati
kasilih ku junti, kebaikan dikalahkan sama keburukan. Inalillahi wa ina
ilaihi rojiun. Sedihnya lagi Pemerintah Propinsi Jawa Barat dan Pemrintah
Kabupaten Sumedang beserta para wakil rakyatnya setuju dan tega sekali
menenggelamkan Kabuyutan Karuhunnya? Dimana kah hati nurani mu wahai aparat
pemerintah dan para wakil rakyat? Masih layak kah kita mengibarkan bendera
merah putih sepenuh tiang? Atau kah sebaliknya kita cukup mengibarkannya
setengah tiang?

 

Kemanakah kami harus mengadu dan kemanakah kami harus memohon untuk
menghentikan ketidak adilan ini? Do'a tulus selalu kami panjatkan kepada
Alloh SWT, Tuhan semesta Alam dimana dalam kabuyutan itu ada Batu Tunggal
yang merupakan Simbol keberadaan Mu ya Alloh yang masih diyakini oleh
seluruh masyarakat. Hanya kepada Mu kami menyembah, dan hanya kepada Mu pula
kami memohon pertolongan.

 

nuhuuuns,

mang kabayan

www.udarider.com

 

Kirim email ke