Untuk Orang Asli Bogor apakah ada yang tahu tentang kejadian ini? Baca
Blog-nya Kang Jojo Pradipta merinding juga ya :(((... Mamang soalnya mulai
pindah ke Bogor dan jadi Urang Bogor sejak Desember 2000, begitu Lulus
Kuliah dari Teknik Arsitektur ITB tahun 2000, alhamdulillah waktu itu Tugas
Akhir Mamang membikin Pusat Kabudayaan Sunda dan mendapatkan nilai A++,
Subhanalloh. Mamang juga dari Rektor ITB Kang Lilik waktu itu mendapatkan
Penghargaan Mahasiswa Terbaik dari Teknik Arsitektur ITB dan dari Dekan
Fakultas Teknik Sipil & Perencanaan Pak Joko kalo ngak salah mendapat
penghargaan Mahasiswa Berprestasi xixixi.. Nah Mamang melamar di CDC ITB
diantaranya ke HM Sampurna, Perusahaan Farmasi di Bandung, Beberapa Bank dan
ke PT. Anugrah Jaya Agung yang waktu itu pemegang saham Mayoritasnya Alumni
EL ITB. Kuasa Alloh SWT ternyata Mamang malah memilih kerja di PT. Anugrah
Jaya Agung di Bogor padahal di Perusahaan Farmasi Bandung juga diterima
dengan gaji yang kurang lebih sama dan di Bandung lagi jadi tidak perlu
pindah/ Kost. Entah kenapa Magnet yang mengarahkan ke PT. Anugrah Jaya Agung
xixixi ternyata semuanya ada Hikmahnya... Mamang bisa menyaksikan secara
langsung Tanda-tanda kebesaran Alloh SWT, bisa melihat langsung memang benar
Keluarga Pak Cecep Adireja yang merusak Kabuyutan Siliwangi Pajajaran Bukit
Badigul menjualnya ke Perusahaan Real Estate menjadikan Lapangan Golf
Rancamaya meninggal dengan tragis dan juga Pak Cecep yang sebelumnya
pemegang saham mayoritas 100% PT. Anugrah Jaya Aung terdelusi dan Mayoritas
saham sekarang dimiliki oleh Alumni EL ITB. Gusti Alloh Ora Sare... Apa yang
ditanam itu yang dituai... Pa ma ya mal miskola darotin hoiroy yaroh... wa
ma ya mal miskola darotin saroy yaroh.... Subhanalloh... Allohuakbar :).

Kamis, 15 Desember 2011
114 ORANG TEWAS JADI TUMBAL KERAMAT BADIGUL 
Buldoser dan 2 becko tak sanggup menggeser batu menhir di bukit Badigul.
Malah tiga sopir alat-alat berat itu sekarat tanpa sebab. Korban-korban lain
pun berjatuhan....

Badigul, begitu orang menyebut bukit kecil di kota Bogor bagian Selatan ini.
Selintas tak ada yang nampak istimewa pada segundukan tanah di atas lahan
seluas 5000 meter persegi itu. Hanya ruput halus lapangan golf yang
mengelilinginya. Di sisi barat berdiri sebuah bangunan sport center milik
perumahan elite Rancamaya. Di sisi lain nampak sebuah gedung megah pusat
penelitian dan pengembangan agama Budha. Bukit itu sendiri kini telah
menjadi miliki perumahan Rancamaya.
Namun 20 tahun lalu, sebelum Badigul digusur pengembang Rancamaya, bukit ini
adalah sebuah tempat yang amat dikeramatkan masyarakat Sunda. Betapa tidak,
Badigul diyakini sebagai tempat mandapa Prabu Siliwangi. Di bukit ini sang
Prabu sering semedi hingga kemudian ngahiyang menghadap Sang Pencipta. Dulu
orang berbondong-bondong berziarah pada leluhur mereka di bukit Badigul yang
luasnya masih 5 hektar. Saat itu masih terdapat beberapa alat gamelan sunda
yang memiliki kekuatan magis, namun kini menghilang entah ke mana.
"Dulu bukit itu masih tinggi. Badigul dikelilingi sebuah telaga yang bernama
Renawijaya. Jika orang ingin ke puncak bukit, mereka harus menyeberangi
telaga dan mengambil air wudlu di sana," tutur Ki Cheppy Rancamaya, 53
tahun, saat ditemui Misteri di rumahnya.
Berkisah tentang Badigul, Ki Cheppy, spiritualis dan budayawan ini, merasa
miris mengingat masa lalunya. Ia adalah orang yang mati-matian
mempertahankan tempat keramat itu. Namun kekuatan rezim Orde Baru dan
pengaruh uang dari pengusaha membuatnya harus mengakui kekalahan. Badigul
digusur, ia diculik Kopassus dan dipenjarakan tanpa pengadilan. Setahun
lebih Ki Cheppy harus meringkuk di penjara Paledang, Januari 1992-1993. Tak
cukup sampai di situ, setelah keluar Ki Cheppy kembali melakukan perlawanan
terhadap penguasa. Tapi akhirnya ia pun harus kembali meringkuk di tahanan
untuk ke dua kalinya.
Sebuah pengalaman mistik pun dialami Cheppy saat ia menghuni Blok B 8 Rutan
Paledang, Bogor. Saat itu ia dipanggil sipir, katanya ada keluarganya yang
hendak menjenguknya. Cheppy pun keluar dari ruang tahannya. Namun belum
genap 10 langkah ia meninggalkan ruang tahanan itu, tiba-tiba terdengar
bunyi menggelegar dari ruang tahannya. Sebuah petir yang menghebohkan seisi
napi Paledang menjebolkan tembok kamar tahanan Cheppy yang tebalnya 75 cm.
"Saat itu memang hujan rintik-rintik. Petir itu membuat lubang berdiameter
50 cm pada dinding penjara. Jika saya ada di dalam tentu saya sudah mati.
Belakangan saya baru tahu kalau petir itu adalah santet kiriman anak buah
Cecep Adireja," tutur Cheppy.
Keberanian Cheppy untuk mempertahankan Badigul memang bukan tanpa alasan. Ia
yakin seyakin-yakinnya, Badigul adalah tempat keramat peninggalan leluhur
Pakuan Pajajaran. Keyakinan Cheppy itu juga diperkuat oleh keyakinan banyak
masyarakat di sana. Budayawan-budayawan Sunda pun telah menetapkan situs
Badigul sebagai Cagar Budaya yang patut dilestarikan. Bahkan Solihin GP,
tokoh masyarakat Sunda yang kala itu menjabat Sesdalopbang pun melarang
penggusuran keramat Badigul dengan mengeluarkan nota pribadinya kepada
Walikota Bogor. "Siapapun yang merusak tempat keramat akan kena supata
(karma-Red.)," tutur Cheppy.
Cerita-cerita mistik dan supata yang dilontarkan Cheppy memang terbukti.
Seratus orang buruh bangunan telah mati menjadi tumbal saat bukit Badigul
dibuldoser. Namun ambisi pengusaha real estate untuk meratakan bukit Badigul
tidak pernah luntur. Bukit itu tetap diratakan untuk perumahan dan lapangan
golf hingga ketinggiannya berkurang 6 meteran.
Saat puncak badigul telah tercukur 6 meter itu muncul sebuah batu menhir
sebesar mobil sedan. Anehnya batu sebesar itu sama sekali tak goyang saat
dibuldoser. Penasaran dengan itu, pihak perumahan mendatangkan dua becko
untuk menarik batu keramat itu. Tapi dua becko itu pun tak sanggup
menggoyangkan batu itu. Bahkan satu becko malah patah saat menariknya.
Secara logika batu itu seharusnya dapat digusur oleh buldoser. Saat itulah
kesadaran para buruh tentang kekuatan mistik bukit Badigul mulai terbuka.
"Tapi mereka terlambat, 3 orang supir alat berat itu pun mati," tutur
Cheppy.
Mengingat keanehan-keanehan yang terjadi, akhirnya pihak perumahan sepakat
untuk tidak memindahkan batu itu. Batu itu tetap di tempatnya kemudian
dibenamkan dan kembali timbun dengan tanah. Jadilah bukit Badigul kini
sebagai lapangan golf dengan sport center dan pusat penelitian agama Budha
di sebelahnya.
Memang ironis, hanya untuk membuat sebuah lapangan golf dan pusat kebugaran,
pihak pengembang harus menghancurkan cagar budaya. Mereka juga harus
bertentangan dengan kepercayaan masyarakat sekitar yang meyakini
kekeramatkan Badigul. Alhasil mereka harus menumbalkan 114 orang buruh untuk
mencukur 6 meter bukit Badigul. "Kita berurusan dengan makhluk di dunia
lain. Tapi mereka juga punya tempat dan habitat di bumi ini. Jika mereka
diganggu, mereka pun bisa mengganggu kita," jelas Cheppy.
Tentang kekeramatan bukit Badigul, mungkin hanya Cheppy yang pernah menyibak
tabir mistiknya. Ia adalah penduduk asli Rancamaya, Bogor Selatan. Ia adalah
orang yang paling rajin bermunajat di sana. Ia sering melakukan kontak batin
dengan penguasa gaib bukit Badigul. Bahkan ia juga pernah melakukan meditasi
dan puasa selama 100 hari di bukit itu.
Dikisahkan Cheppy, suatu malam ia tengah melakukan meditasi di puncak
Badigul. Menjelang tengah malam, ia melihat seekor anjing hitam yang diapit
dua ekor anjing kecil berbulu putih di kiri kanannya. Dalam hati, Cheppy
yakin itu bukan binatang sungguhan. Sebab tak mungkin binatang-binatang itu
tiba-tiba muncul di hadapannya tanpa diketahui dari mana datangnya. Tidak
mungkin pula anjing itu bisa ke puncak Badigul, sebab harus menyeberangi
telaga Renawijaya.
Binatang-binatang yang tampak gagah itu memandang heran ke arah Cheppy. Tapi
sedikit pun Cheppy tak bergeming dari tempatnya duduk. Cheppy tetap
konsentrasi dengan meditasinya. Sesaat ia melihat ajing berbulu hitam itu
menengadahkan kepalanya pada Cheppy. Tapi ia tak mengerti apa maksudnya. Dan
dalam ketidak mengertian itu, sekedipan mata saja anjing-anjing aneh itu
hilang dari pandangan Cheppy.
Malam yang lainnya, Cheppy juga pernah menemukan fenomena mistik yang sulit
diterima akal sehatnya. Malam itu, Cheppy sengaja datang ke Badigul untuk
melanjutkan meditasinya. Dari rumah, ia membawa segala perlengkapan sajen
yang diperlukan di keramat Badigul. Cheppy berharap malam itu ia akan
mendapatkan sesuatu yang selama ini ia cita-citakan.
Lepas Maghrib Cheppy duduk tepekur menghadap Kiblat. Tepat tengah malam,
ketika Cheppy tengah khusuk meditasi sambil memejamkan matanya. Tiba-tiba ia
melihat sepertinya matahari terbit dari balik gunung Salak. Sinarnya
terlihat benderang menerangi seantero alam. Gunung Salak terlihat jelas,
pohon besar hingga rumput kecil dan perumahan penduduk di kaki gunung itu
terlihat jelas.
Sesaat Cheppy tak yakin, ia sadar bahwa gunung salak itu berada di sebelah
barat. Mana mungkin matahari terbit dari arah barat. Ia lalu mengusap-usap
matanya. Dan seketika itu pula bumi kembali gelap gulita. Tak nampak lagi
matahari yang benderang di balik gunung salak itu. Yang tertinggal hanya
kedipan-kedipan kecil dari lampu yang terpasang di rumah-rumah penduduk.
"Itu benar-benar aneh dan saya mengalaminya sendiri. Kekuatan mistik Badigul
memang nyata," jelas Cheppy.
Kisah lain yang lebih unik juga diceritakan Cheppy. Malam itu ia tengah
wirid di Badigul. Karena penat, ia celentang merebahkan dirinya di tengah
padang rumput puncak Badigul. Tapi sesaat kemudian ia tersentak kaget. Dari
atas langit ia melihat seperti seberkas sinar keperakan jatuh menimpa
dadanya. Seketika ia memegangi dadanya yang terasa sesak. Dan mendadak,
tangannya menyentuh benda pipih yang dingin. Ia pun langsung menggenggamnya.
Kini di tangannya tergenggam sebilah kujang --- sebuah pusaka Pajajaran yang
keampuhannya tak perlu diragukan lagi. Dan tatkala Misteri mencoba,
ternyata, kujang itu memiliki daya kekebalan bagi siapa pun yang
memegangnya.
Masih seputar fenomena mistik Badigul, Cheppy menceritakan suatu hari di
tahun 1994 warga Bogor dihebohkan oleh penemuan telapak kaki raksasa di
Batutulis dan Rancamaya. Berita yang menghebohkan itu pun diliput oleh
media-media cetak dan elektronik di Jabotabek. Di Jalan Batutulis terdapat
sebuah telapak kaki kiri sepanjang 1 meter. Jelas sekali telapak kaki itu
bukan rekayasa manusia.
Sementara di Rancamaya juga terdapat sebuah telapak kaki kanan yang
panjangnya sama dengan yang ditemukan di Batutulis. Lalu orang berimajinasi,
kalau kaki itu adalah milik gaib Prabu Siliwangi. Sang Prabu sengaja
mendatangi Batutulis kemudian loncat ke Rancamaya hanya dengan sekali
langkah saja. Tak cuma itu, ternyata di sekitar puncak Badigul terdapat
empat telapak kaki yang panjang dan besarnya sama. "Sang Prabu ke Batutulis
lalu ke Rancamaya dan mengelilingi puncak Badigul," begitu jelas Ki Cheppy
ketika ditanyai wartawan saat itu.
Kekeramatan bukit Badigul memang meyakinkan. Tak seorang warga Rancamaya pun
yang dihubungi Misteri meragukan keangkerannya. Sejak batu keramat itu tak
sanggup dibuldoser, tak seorang buruh pun yang mau melanjutkan pekerjaan di
sana. Mereka takut terkena kutuk atau supata Eyang Prabu Siliwangi. "Kami
tidak mau mati jadi tumbal," tutur Ujang warga Rancamaya yang waktu itu ikut
melakukan pembabatan lahan di Badigul.
Ketakutan Ujang memang beralasan. Ia menceritakn beberapa orang rekannya
yang mati akibat ikut meratakan tanah di bukit Badigul. Waktu itu, Herman
dan beberapa teman Ujang diperintahkan untuk mengeruk tanah di puncak
Badigul. Lewat tengah hari setelah mereka istirahat pekerjaan itu
dilanjutkan. Namun alangkah terkejutnya Herman dan kawan-kawannya. Mereka
melihat seekor ular hitam di atas tanah merah bukit Badigul. Tanpa pikir
panjang ular itu mereka pukul ramai-ramai dengan batang kayu dan batu. "Esok
harinya, Herman dan dua orang temannya itu dikabarkan sakit meriang lalu
sore harinya mati semua," kisah Ujang pada Misteri.
Tentang Supata yang didawuhkan Prabu Siliwangi itu ternyata tidak hanya
menimpa kuli bangunan atau buruh pekerja perumahan Rancamaya. Tapi juga
menimpa seluruh penggede-penggede Perumahan elit itu. Cecep Adireja
misalnya, tuan tanah yang menguasai pembebasan lahan untuk perumahan itu
akhirnya mati mengenaskan. Tuan tanah yang disebut-sebut pemilik Hotel
Salak, Bogor, ini meninggal setelah mengalami sakit berkepanjangan yang tak
jelas sebab musababnya. Begitu pun dengan kakak dan adik Cecep, mereka mati
setelah mengalami sakit yang tak sanggup diobati dokter. "Tidak hanya
keluarga Cecep, supata itu juga diterima Kapolsek Ciawi dan lurah Rancamaya
waktu itu. Mereka juga mati setelah mengalami sakit parah yang tak jelas
penyakitnya," jelas Cheppy. 

Sumber:
http://jojopradipta.blogspot.com/2011/12/114-orang-tewas-jadi-tumbal-keramat
.html

nuhuuuns,
mang kabayan
www.udarider.com





------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke