Alhamdulillah hari Sabtu acara Halal Bil Halal Komunitas Urang Sunda di
Internet lancar jaya dan terbilang sukses dihadiri sekitar 25 keluarga,
datang lengkap dengan anak, istri, dll anak-2 pada enjoy sekali mancing n'
berenang :). Peserta terjauh adalah Apih Sidik dari Korea datang bersama
Istri, Anak & Menantu, peserta terjauh kedua Abah Abas Amien dari Kalimantan
datang bersama keluarga, ada juga dari Wado Sumedang Teh Roro & Teh Eme,
sebagian besar dari Jabodetabekjur dan Bandung para senior seperti Abah
Toto, Kang Yuyun, Bah Willy, Kang Hendri, Kang Ikmal, dll. Mang Jamal pun
menyempatkan hadir walopun agak telat datang karena harus menghadiri acara
penerimaan mahasiswa baru di Itenas, Dekan kudu hadir, luar biasa walopun
dari Bandung sore tetap menyempatkan hadir di Bogor. Alhamdulillah acara
walaupun sederhana tapi bermakna mempererat tali sitalurahim dan mengukuhkan
kembali kasundaan, apa yang bisa kita kontribusikan untuk masyarakat Sunda
dan Indonesia tentunya, Ti Urang, Ku Urang, Keur Balarea: dari kita, oleh
kita, untuk semua.

 

Yang membikin terharu dukungan dari para senior Kang Yuyun, dkk tentang
penyelamatan Kabuyutan luar biasa pisan, sedemikian sehingga walaupun acara
HBH beres jam 12 malam. Besok paginya setelah melihat Balong karena ada
teman yg mau halal bil halal keluarga juga sekitar jam 9.30-an Mamang
meluncur ke Sumedang untuk bertemu dengan Masyarakat Kampung Cipaku dan
mendengar langsung aspirasi dari mereka, tentunya yang menemani adalah Bi
Iteung Land Rover Series 2A tahun 70. Perjalanan woles bin santey banget
nyampe Rest Area Toll Cileunyi Bandung jam 13.00 makan siang dan Dzuhur dulu
sambil refreshing biar ngak ngantuk. Mushola-nya bersih banget dan sarungnya
harum. barokah buat pengelola rest area-nya, maklum Mamang cuman pake kolor
jadi suka pake sarung yang ada di Mushola hehehe. Abis itu langsung
melanjutkan perjalan ke Sumedang menuju Kampung Cipaku, nyampe Jam 4.30-an
tidak lupa berhenti dulu di Kota membeli Tahu panas untuk dimakan sepanjang
jalan dan oleh-2 untuk Kakek n' Mertua. 

 

Habis magrib ngariung bersama warga dan tokoh masyarakat di Pos Yandu
lesehan sambil ngobrol mendengarkan langsung aspirasi dari mereka, luar
biasa Mamang sangat terharu banget, dihadiri oleh orang tua, muda, dan juga
Ibu-ibu sangat antusias sekali menyampaikan harapan/ aspirasi mereka dan
menceritakan perjalanan perjuangan mereka menolak Waduk Jatigede. Mereka
telah terombang- ambing selama 30-an tahun, berbagai cara sudah dilakukan
untuk menolak Waduk Jatigede ini, mereka sudah berjuang bersama DPKLTS dan
LSM lainnya termasuk LBH dari Bandung pergi kemana-2 dari mulai menghadap
Presiden, Menteri Lingkungan Hidup, Gubernur, DPR, DPRD Prop, Komnas Ham,
dlsb namun aspirasi mereka tidak didengar katanya proyek tetap berlanjut,
dulu bahkan banyak diantara mereka yang ditekan oleh pemerintah. Bahkan
mereka pernah membuat Tenda menginap di lokasi proyek untuk menyetop
Jatigede tapi tetap tidak membuahkan hasil, pemerintah tetap bersikukuh
ingin menengggelamkan Kampung dan Situs Kabuyutan mereka. 

 

Yang bikin Mamang sedih banget mereka sampai keluar Statement bahwa kalau
pemerintah benar-2 akan menggenangi tanggal 1 Oktober malah ada yang bilang
30 September bertepatan dengan memperingati G30SPKI/ Kesaktian Pancasila?
Maka mereka akan tetap diam dan bertahan di Kampungnya. Biarlah dunia
melihat kekejaman pemerintah yang menganggap mereka bagai tikus yang diusir
dengan cara Waduk digenangi langsung. Ada upaya-2 juga katanya dari
pemerintah yang akan memindahkan Situs Kabuyutan Aji Putih yang sudah ada
sejak jaman Megalitikum sangat-2 menyayat hati mereka bagaimana mungkin
Kabuyutan yang melekat di hati mereka itu bisa dipindah? Secara tidak
mungkin dipindah karena kalau dipindah ya sudah tidak ada artinya lagi sudah
hilang symbol kearifannya. Justru Keberadaan dan Pelestarian Situs Kabuyutan
itulah salah satu nilai-2 kearifannya, dimana Kabuyutan adalah symbol-2
kebaikan disanalah diajarkan tentang moral dan etika yang baik juga symbol
Ketuhanan Yang Maha Esa. 

 

Ada juga rencana dari pemerintah untuk melakukan bedol desa mereka
menyampaikan walaupun dibedol desa belum tentu ditempat baru terbentuk
Tatanan Sosial Masyarakat dan Budaya seperti sekarang ini dan malah mungkin
mereka akan dimiskinkan karena sawahnya hilang, ternaknya juga tidak
terurus, dlsb bahkan rumah yang dibangun pun pastinya alakadarnya. Jadi yang
ada bukannya membangun untuk menjadi lebih baik yang ada justru malahan
memiskinkan masyarakat. Walaupun ada pihak-2 yang memecah belah dan
mengkondisikan dengan berbagai cara, LSM abal-2 yang hanya nyari duit yang
setuju terhadap Proyek Waduk Jatigede mereka / masyarakat Kampung yang
aslinya tetap konsisten menolak dan bagaimanapun akan tetap bertahan disana.
Mereka tetap Panceg Dina Galur, Ngajaga Lembur, Cadu Mundur, Najan Awak
Lebur! Mereka tetap berkomitmen untuk menjaga kampungnya, dan ngak akan
mundur walaupun badan mereka hancur!

 

Mamang menyampaikan bahwa aspirasi mereka Mamang ingat selalu dan akan
menyampaikannya tgl 1 September di Riungan Komunitas Peduli Jatigede dan
kepada siapapun yang peduli terhadap Jatigede ini sehingga mudah-2an bisa
mengetuk hati nurani dan akal sehat pemerintah untuk membatalkan
Penenggelaman Kampung dan Kabuyutan Mereka. 

 

Untuk yang peduli kepada kemanusiaan dan Jatigede, mangga klik
https://www.facebook.com/savejatigede dan tanda tangan petisi penolakan
http://jatigede.org/wp/?page_id=22 jangan sampai kesewenang-2an pemerintah
terus dibiarkan. Saat ini Kabuyutan Jatigede yang akan ditenggelamkan
mungkin berikutnya Baduy Kanekes, Ciptagelar, Suku Anak Dalam, Dayak, dan
lainnya. Dulu waktu tahun 98 berteriak Rakyat Bersatu Tak Bisa Dikalakan. 

 

Kalau ada yang memiliki jaringan ke Media Massa, TV, dlsb. kalau ingin
melihat dan mendengar langsung atau meliputnya. bisa kontek Mamang. Nanti
Mamang antar kesana, pasti hati akan bergetar melihat pohon-2 yang sebesar
rumah yang jumlahnya puluhan di satu situs sementara ada 25 situs bersejarah
yang akan ditenggelamkan. Belum lagi Tatanan Kehidupan Masyarakatnya yang
masih Alami, Harmonis, dan Agamis. Rasanya tidak akan tega siapapun kalau
memiliki hati nurani menenggelamkannya.

 

Ancaman dari Prabu Darmasiksa raja Galuh-Sunda (memerintah 1175 - 1297 M, ia
naik tahta 16 tahun pasca Prabu Jayabaya 1135 - 1159 M) dalam Amanah
Galunggung, terjemahannya: "Raja/ anak bangsa yang tidak bisa mempertahankan
kabuyutan di wilayah kekuasaannya ia lebih hina ketimbang kulit musang yang
tercampak di tempat sampah". Ancaman dari Raja Sri Jayabupati (raja Sunda,
memerintah tahun 1030 atau semasa dgn pemerintahan raja Airlangga di Jawa
Timur) dalam Prasasti Sanghyang Tapak (juga dikenal sebagai Prasasti
Jayabupati atau Prasasti Cicatih), lebih berat lagi: hukuman mati bagi
peruksak kabuyutan. 

 

Kabuyutan ~ Buyut ~ Aturan / Norma/ Nilai/ Norms & Values/ Rule of Thumbs,
penjaga etika moral. Prof E. Gumbira Sa'id menyampaikan Segitiga Kehidupan
itu ada tiga. Pangan, Energi, Moral! Indonesia seharusnya menjadi Negara
yang Supeeeeer Maju dan juara Pangan dan Energi bukan masalah besar namun
karena MORAL-nya bobrok (Corruption Perception Index-nya Jeblok) maka ya
beginilah adanya.

 

Bakti Ku, Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater. Merdekaaaa???

 

nuhuuuns,

mang kabayan

www.udarider.com

 

Kirim email ke