Hahaha Bang Ken akhirnya sadar juga xixixi. BTW Mamang ngak bicara mistis lho ya mengenai kutukan-2 atau supata atau ancaman karuhun itu xixixi. Karuhun mah sangat MAKE SENSE, sederhana namun bermakna. Semuanya pakai logika akal sehat saja.
Coba renungkan Karuhun itu membuat Kabuyutan ngak sembarangan, ngak asal dan ngak ujug-2 wkkkk. Mereka membangun Kabuyutan/ tempat pendidikan moral n' spiritual itu memang ditempat-2 kritikal/ penting untuk kehidupan kita. Coba perhatikan ajaran Pak Prof Egum, segitiga kehidupan katanya Pangan, Energi, dan Moral. Sekarang coba perhatikan apa kata Karuhun looooong time ago sederhana saja "gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak, buyut teu meunang dirempak" bukannya Pak Prof Egum itu menyampaikan yang disampaikan Karuhun. Gunung : Sumber energi (geothermal), sumber hutan, sumber resapan air bersih, sumber paru-paru dunia, kaya akan keanekaragaman hayati, lava-nya menyuburkan, dlsb. Lebak: Daerah Aliran Sungai itu pan urusannya sama Sumber Pangan, drainase nyambung ke pertanian, perikanan, dan perkebunan. Bagaimana kita bisa menanam segala macem kalau sumber airnya ngak bagus ato malah ngak ada/ rusak? Buyut: Aturan, Norms n' Values, Moral n' Spiritual, Kabuyutan itu Pendidikan/ Sekolah. Itu pan yang penting pisan, Sumber Daya Manusia bukannya disetiap negara, perusahaan, itu justru yg paling penting. Yg penting bukan the gun-nya tapi man behind the gun pan xixixi. Jadi Karuhun mah ngak mistis-2an maennya Common Sense atau Akal Sehat hehehe. Pan sederhana... When Common sense doesn't work there must be some thing hidden!! Negara ini kusyut pan bukan karena Zionis atau Amriki atau apapun... Salaaah Sendiri, Bangsa ini terlalu Kusyut sagala rupa dibikin riweuh karena ya itu banyak HIDDEN AGENDA-nya yang ujung-2nya Jang Ka Imah hehehe. 25 Situs Kabuyutan Jatigede mah hanya Simbol saja Eksistensi Penjaga Moral, the most important itu man behind the gun-nya... Tapi bagaimana bisa mengharapkan man behind the gun bagus kalau simbol kabuyutan saja mau ditenggelamkan. Artinya Buyut sudah dirempak, aturan sudah dilanggar ya lihat saja buktinya pan banyak pejabat yg kena tangkap KPK dll.. Itupan artinya melanggar aturan. Karuhun itu cerdas ternyata, akal sehat-nya jalan hehehe. nuhuuuuns, mang kabayan www.udarider.com -----Original Message----- From: "Ken" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Thu, 29 Aug 2013 06:59:52 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [alumni-ipb] Waduk Jatigede, kutukan Mang Kaby terbukti? Kemarin2 ini Mang Kaby cukup sering bercerita tentang nasib sial para pejabat yang mendukung pembangunan waduk Jatigede. Ngak tahu apakah ada effeknya atau tidak. Meskipun biasanya rakyat Indonesia sangat percaya hal-hal mistis, tapi mungkin "ancaman" yang disampaikan masih kurang mengigit.....he...he...he.... Tapi kita bicara tentang fakta saja saat ini. Suhu di Bogor sudah mencapai 33°C. Wow, sekitar 15 tahun lalu, suhu terpanas di Jakarta saja paling2 31°C. Dan itu pun sudah sangat panas bila dibandingkan dengan Bogor yang paling banter 27°C. Waktu jaman nyokap ane masuk Bogor, saat itu temperatur saat pagi bisa cuman belasan derajat celcius. Makanya dulu dikatakan di Bogor itu adem. Ane baru sadar bahwa suhu tertinggi tercatat di bogor itu sudah sampai 38°C....gile hampir mirip sama Arab Saudi saat musim panas. Ngak normal ini buat negara kepulauan, apalagi yang di kaki gunung. Memang kalau dirata-ratakan suhu masih sekitar 26-27°C. Tapi fluktuasi antara pagi dan siang bisa hingga 10°C. Ini cukup tinggi untuk bahkan ukuran Indonesia sekalipun. Karena seharusnya dengan kelembapan di bogor sekitar 70%, perbedaan suhu tidaklah sedrastis ini. Suhu yang tinggi plus kelembapan yang tinggi bukanlah kombinasi yang baik. Semakin tinggi suhu harus diimbangi dengan semakin intensifnya berkeringat, tapi bila kelembapan tinggi maka proses berkeringat bisa terhambat. Ini cukup berbahaya bagi kesehatan. Akan semakin banyak warga bogor terkena penyakit2 yang berhubungan dengan saluran pernafasan, penyakit2 yang berhubungan dengan syaraf. Murid2 dan karyawan semakin sulit untuk berkonsentrasi, maka produktifitas pun berkurang. Jadi apa hubungannya denga waduk Jatigede yang di Sumedang? Apalagi dengan kutukan2 yang disampaikan Mang Kaby. Mungkin memang tidak langsung. Tapi karena ketidak perdulian kita dengan kelesetarian lingkungan maka kutukan2 yang nyata akan segera dirasakan. Wassalam Ken
