Catatan Seorang Klayaban: INDONESIA DAN KEINDONESIAAN TIDAK MEMERLUKAN EGOISME DAN FANATISME
Lama saya menahan diri untuk tidak memberi komentar terhadap pernyataan-pernyataan dan sikap Amin Rais yang memang saya ikuti sejak lama secara khusus sejak Kasus Harian Kompas, Jakarta, ketika memberitakan tentang kegiatan FIS [Front Islam Pembebasan] di Aljazair beberapa tahun lalu. Harian Kompas dipermasalahakn dan kalau tidak keliru, terpaksa membayar "ganti rugi" dan meminta maaf secara terbuka atas pemberitaan yang dianggap telah "menghina Islam" tersebut. Saya juga masih ingat bahwa bagaimana Amin Rais untuk menolak Megawati menjadi Presiden Republik Indonesia [RI] sekalipun keluar sebagai partai pemenang pemilu, dengan menggunakan dalil ajaran Islam bahwa perempuan tidak bisa menjadi orang pertama negara. Kemudian orang yang sama, yaitu Amin Rais pula yang melakukan aliansi dan kegiatan mengangkat seorang perempuan yaitu Megawati menjadi Presiden R.I. dan menjatuhkan Gus Dur dari kursi ke presidenan. Dari rentetan tindakan yang sedikit ini saja nampak betapa Amin Rais tidak konsisten dengan pendapatnya dan bagaimana ia menjilat ludahnya sendiri. Sesungguhnya ia adalah bintang politik yang sedang luruh dan membicarakannya menjadi kurang relevan untuk konteks politik dewasa ini [apalagi ketika Amin Rais dengan perolehan suara yang dikumpulkannya, tidak bakal bisa serta dalam pemilihan capres ronde kedua], tapi saya sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar terhadap pernyataannya yang disiarkan oleh berbagai milis antara lain milis [EMAIL PROTECTED] berjudul "PERNYATAAN BERSAYAP KAUM RASIS" [Lihat: milis [EMAIL PROTECTED] , 13 Juli 2004]. Dalam artikel ini, disebutkan bahwa antara lain bahwa Amin Rais berkata atau menyatakan : "selama ini, golongan Islam telah terpinggirkan, telah mengalami ketidak adilan ekonomi, pemerintah telah melakukan politik diskriminasi !!!" Pernyataan tipe ini memang sering kita baca dan dengar, bukan hanya dari Amin Rais. Hanya saja ketika ia keluar dari mulut Amin Rais yang sekarang masih menjadi ketua MPR, dengan meyandang gelar Profesor dan doktor, akan mempunyai bobot sendiri walaupun Amin Rais tidak "menjajajakan" gelar dan jabatan kenegaraan tersebut. Saya tidak menyasar dan tidak menitikberatkan permasalahan pada pribadi Amin Rais, tapi lebih pada pendapat "golongan Islam telah terpinggirkan". Benarkah "golongan Islam telah terpinggirkan"? Kemudian saya pertanyakan juga mengapa di dalam Republik Indonesia yang "bhinneka tunggal ika" yang dipermasalahkan agama: satu agama? Jika berangkat dari titiktolak pikiran begini di mana lalu makna "bhinneka tunggal ika" dan apa itu Indonesia? Apakah Indonesia sama dengan Islam? Jika demikian, di mana lalu tempat etnik-etnik lain yang tidak beragama Islam? Apakah mereka yang bukan Islam lalu tidak dianggap Indonesia dan harus dilikwidasi? Inikah Indonesia yang kita inginkan ketika RI diprtoklamasikan pada 17 Agustus 1945 dan inikah sari Sumpah Pemuda? Mengenai pertanyaan "golongan Islam telah dipinggirkan" kalau kita membaca sejarah negeri ini, semua Presiden RI adalah Islam semua Perdana Menteri pun [bukan penjabat sementara!] siapakah yang bukan Islam? Bahwa golongan Islam terdiri dari berbagai macam aliran dan pandangan, ini adalah masalah lain, adalah masalah intern kalangan "golongan Islam" sendiri. Jika demikian apa yang dimaksudkan dengan "golongan Islam telah dipinggirkan" sementara semua orang pertama negeri ini tidak lain berasal dari "golongan Islam " yang dikatakan sebagai "telah terpinggirkan"? Apakah yang dimaksudkan dengan pendapat ini agar Islam menjadi penentu hukum , benar dan salah, adik dan tidak adil, manusiawi dan tidak manusiawi di negeri dan majemuk ini? Jika demikian di mana tempat warganegara yang bukan Islam? Apakah yang punya hak hidup dengan pola pikir begini hanya yang beragama Islam? Saya sebagai anak Dayak Indonesia, merasa dan secara hukum punya hak sama dengan siapapun di negeri ini, sekalipun saya bukan Islam. Apakah hak dan kewajiban saya sebagai orang Indonesia bisa dinegasi karena saya bukan Islam? Apakah orang Kawanua yang Protestan, Papua dan Flores yang Katolik, Dayak yang Kaharingan, lalu tidak mempunyai hak sama dengan warga negara yang beragama Islam di Republik Indonesia? Indonesia yang Republik! Dari segi sejarah lahirnya RI, saya mengatakan bahwa RI adalah republik dari sebuah bangsa dan negeri majemuk, bukan dan tidak milik Islam saja. RI didirikan dan diperjuangkan kelahirannya bukan hanya oleh warganegara yang beragama Islam dan juga bukan oleh satu dua etnik. Apakah saya salah membaca sejarah RI? Masalah terpinggirkan saya kira adalah keliru besar menggunakan istilah Islam untuk bicara soal terpinggirkan . Dalalm hal ini kita perlu bicara kongkret. Dayak dari Kalimantan Tengah, misalnya, ada yang Islam, Protestan, Katolik dan Kaharingan. Mereka tidak menyentuh soal agama ketika berbicara tentang soal keterpinggiran. Dayak dari semua agama, termasuk orang-orang yang terpinggirkan. Ini lebih riil dan bebas manipulasi. Orang-orang Dayak tertawa ketika ada usaha pihak elite lokal mencetuskan konflik berdarah antara Dayak beragama Islam dan Kristen. Mencetuskan konflik begini, sama dengan mengobarkan pertumpahan darah di kalangan orang-orang sedarah. Karena dalam satu keluarga kandung ada yang beragama Katolik, Protestan, Kaharingan dan ada pula yang Islam. Haruskah kami saling bunuh-membunuh? Tempat berkubur pun setelah mati tidak ada pemisahan.Patahu [tempat sajian orang Kaharingan] berdampingan dengan gereja dan mesjid. Membaca dan mendengar pernyataan "golongan Islam telah terpinggirkan" saya hanya berkesan bahwa agama sudah dipolisitir oleh para politisi dan tidak punya dasar sejarah dan kenyataan. Konsep ini hampa dan jauh dari konsep pemberdayaan dan pembangunan sesungguhnya, apalagi usaha memanusiawikan manusia. Konsep egois dan fanatik yang mengancam eksistensi Indonesia. Pernyataan orang yang ingin memaksakan kehendaknya dan tidak kenal Indonesia sebagaimana adanya Indonesia yang majemuk. Bicara tentang rasialisme pun sebenarnya, kiranya patut dipahami bahwa rasialisme itu tidak terbatas disasarkan pada etnik Tionghoa. Ia juga disasarkan kepada orang Papua, Ambon yang secara ras atau antropologi tidak sama dengan warganegara yang terdapat di Jawa. Indonesia bukan hanya Jawa. Minoritas pun bisa jadi orang Papua dan Maluku lebih kecil jumlahnya dari etnik Tionghoa, bahkan dari etnik Dayak. Yang saya persoalkan di sini tidak lain agar kita berhati-hati menggunakan istilah. Jangan berbicara seakan anti rasialisme tapi sebenarnya sangat egoistik kolektif. Kongkretnya ketika kita bicara tentang masalah rasialisme. Ketidaksamaan di depan hukum. Jika demikian, tidakkah yang terbaik jika kita kembali meresapi apa yang disebut bangsa Indonesia dan keindonesiaan? Memahami dan meresapi apa arti sebuah republik dan nilai-nilainya? Pertanyaan-pertanyaan begini saya ajukan jika kita masih ingin Indonesia sebagai bangsa dan negeri tetap eksis. Indonesia dan keindonesiaan tidak memerlukan egoisme dan fanatisme. Paris, Juli 2004. --------------- JJ.KUSNI ACUAN: From: Skalaras To: [EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, July 13, 2004 12:24 AM Subject: [budaya_tionghua] PERNYATAAN BERSAYAP KAUM RASIS PERNYATAAN BERSAYAP KAUM RASIS Sebenarnya, kalau kita jeli, kita bisa menilai sikap seorang tokoh dari statement yang pernah dia keluarkan. Dalam berbagai kesempatan, Amin Rais sering melontarkan ucapan yang sangat terkenal : "selama ini, golongan Islam telah terpinggirkan, telah mengalami ketidak adilan ekonomi, pemerintah telah melakukan politik diskriminasi !!!" Sekarang, mari kita kupas, mari kita bedah, apa sebenarnya makna dan maksud dari ucapannya ini: 1. Masyarakat Indonesia selalu mengklaim, 90% rakyat Indonesia adalah beragama Islam, jadi merupakan kelompok mayoritas. Jika memang ada diskriminasi terhadap kelompok ini, pasti polanya seperti pemerintahan apartaid di Afrika Selatan di masa lampau, di mana golongan minoritas (kulit putih) yang mendominasi pemerintahan. Apakah kenyataan indonesia seperti itu? Kita pun tahu, yang jadi presiden, yang jadi menteri, mayoritas juga yang beragama islam. Jadi pasti bukan ini yang dimaksud. 2. Suatu kenyataannya yang tak dapat dipungkiri, pembangunan ekonomi di Indonesia memang tidak merata, mayoritas rakyat (yang pasti mayoritas beragama Islam) masih termasuk golongan ekonomi lemah, Tapi, ini masalahnya bukan lagi masalah diskriminasi, ini adalah masalah keadilan sosial, ini adalah salah satu dampak dari sistem ekonomi yang sangat iberal dan kapistalistik! Seandainya kita berhasil mensejahterakan 90% dari rakyat Indonesia yang beragama Islam, itu akan sama artinya dengan mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia! Jika hal ini yang dimaksud, mengapa tidak langsung saja diutarakan niatnya, untuk memperjuangkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tidak hanya yang Muslim, tanpa ada terkecualian ??? jadi, rasanya juga bukan ini yang dimaksud. 3. Sebenarnya, yang tersirat dalam pernyataan ini adalah: Selama ini, ekonomi Indonesia lebih dikuasai golongan minoritas dari Etnis Tionghoa, (yang kebanyakan memang non Muslim). Golongan ini dapat menguasai ekonomi karena telah diistimewakan oleh pemerintah. Pemerintah selama ini dianggap telah melakukan politik diskriminasi dalam bidang ekonomi!!! Dalam memaparkan pandangan ini, Amin telah menutupi fakta yang sebenarnya terjadi: Pertama, kelompok Tionghoa yang mendapat fasilitas dari pemerintah bukan karena memang dianak emaskan, tapi karena pemerintah yang korup telah mau diajak berkolusi!!! Dalam melakukan kolusi, pemerintah tidak pernah pilih kasih, siapa yang dapat memainkan pola KKN paling canggih, dia yang akan mendapatkan manfaat ekonomi berlimpah! Coba lihat, yang menjadi kaya dengan cara ini juga termasuk para pengusaha non Tionghoa, seperti Keluarga Bakri, Fadel Mohamad, Nurdin Halid, Yusuf Kalla, Arifin Panigoro, Sudwikatmono, Probo Sutejo, Sukamdani, keluarga Cendana dll. Anehnya, mereka ini jarang sekali menjadi sorotan kelompok Amin. Memang, banyak golongan Tionghoa yang menjadi konglomerat karena kolusi, tapi lebih banyak golongan Tionghoa yang menjadi pengusaha menengah karena kerja keras , ini karena dibandingkan golongan masyarakat yang lain, golongan Tionghoa lebih memiliki sejarah panjang dalam usaha ekonomi. Tapi jangan menutup mata, ada juga golongan Tionghoa yang hidup di bawah garis kemiskinan! Coba lihat masyarakat Tionghoa yang hidup bertani di Kalimantan barat, dan terutama lihatlah yang hidup di Kampung Jepang (dekat Singkawang) !!! apakah mereka2 ini (yang kebetulan tidak beragama islam) tidak termasuk golongan yang harus diperjuangkan nasibnya? Amin memang sengaja mengaburkan masalah sebenarnya, karena maksud yang tersembunyi dari Statementnya adalah: Kelompok pengusaha Pribumi harus dapat merebut dominasi ekonomi dari golongan Tionghoa!!! yang terpenting, kelompok pengusaha Pribumi harus mendapat fasilitas yang lebih dari pemerintah, entah lewat cara KKN di bawah meja atau lewat peraturan pemerintah yang resmi berpihak (peraturan diskriminatif tentunya!). Dengan cara ini, diharapkan bertumbuhan kelompok konglomerat baru dari golongan pribumi!!! konglomerat hitam Tionghoa memang harus disingkirkan, dan konglomerat pribumi harus didukung, tak peduli hitam atau putih. Pertanyaannya kita adalah: seandainya cara ini berhasil, apakah sanggup mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia? apakah mayoritas rakyat Muslim golongan bawah otomatis dapat dientaskan dari jurang kemiskinan? apakah akan hadir keadilan sosial di bumi Indonesia? Rupanya, masalah ini memang tak menjadi perhatian, karena masalah ini memang bukan tujuan sebenarnya dari Amin Rais. Saat Suharto dituntut menindak koruptor, dia menampilkan wajah2 korptor di TV, anehnya wajah pengusaha Cina melulu. Amin Rais yang seorang cendekiawan pun, belajar dengan cara ini untuk memojokkan kaum Tionghoa. Ketika Ginanjar diusut kasus korupsinya oleh pemerintah yang baru, dia pun berkata membela: "mengapa para koruptor yang telah menyalah gunakan dana BLBI ( yang disebut adalah nama2 bankir Cina ) tidak ditindak lebih dahulu? kan dana yang dislewengkan lebih besar?". Di sini, dia telah dengan sengaja mengaburkan arti kata "KORUPSI !". Apakah kita telah menjadi bodoh? Hanyalah seorang pegawai atau pejabat yang mungkin melakukan kegiatan korupsi, yang dikorup adalah uang perusahaan atau kantor, di mana dia bekerja sebagai orang gajian. Seorang pengusaha, sebagai pemilik perusahaan mana mungkin mengkorup uangnya sendiri? Seorang pengusaha yang menyuap bukanlah koruptor, dia sedang berkolusi, yang koruptor adalah yang menerima suap. Bankir yang menyelewengkan dana BLBI juga bukan koruptor, yang dia selewengkan adalah uang negara, istilah yang tepat bagi para pengusaha semacam ini adalah "Manipulator! " Rupanya, supaya usaha pemberantasan korupsi tidak mengenai para pejabat, lebih baik dilemparkan saja mahkota Koruptor ke para pengusaha Tionghoa, biarlah mereka yang menjadi sorotan publik. Celakanya, pola berpikir seperti ini bukan hanya milik Amin seorang, tapi telah merasuki benak para cendekiawan Indonesia, baik yang Islam Fundamentalis atau yang mengaku kaum Nasionalis (dalam sebuah seminar, Mochtar Pobotinggi yang mengaku kelompok nasionalis, melontarkan pernyataan senada). Mereka telah membelokkan masalah keadilan sosial menjadi masalah Rasialis!!!. Dengan pernyataan2 seperti inilah, dengan berkedok agama, sentimen anti Cina berkali-kali disulut, sehingga lahirlah berbagai kerusuhan anti Cina yang tiada pernah berakhir !!!! Salam, ZFY [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/.DlolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
