Dunia Arab vs Dunia Melayu Oleh: Farhan Kurniawan*
Dunia Islam (Al �Alam Al Islamy) kontemporer mempunyai sebuah sayap bernama Dunia Arab (Al �Alam Al �Araby) sebagai satu-satunya kawasan yang semenjak dahulu senantiasa memasok pelbagai pemikiran Islam dengan segala hitam putihnya ke seluruh penjuru. Dunia Arab lama (Semenanjung Arabia) adalah tempat turunnya wahyu (Al Quran) sekaligus kampung halaman Islam dari masa pertumbuhan hingga wafatnya Nabi Muhammad (Saw.). Namun Dunia Arab moderen dan kontemporer telah menjadi begitu luas seiring dengan penaklukan-penaklukan dan arabisasi yang dilakukan para penguasa Islam pada masa lalu. Dunia Arab kontemporer membentang dari Mauritania dan Sahara Arab ditepi Samudera Atlantik hingga ke tepi Teluk Persia (min al muhith ila al khaleej). Dunia Arab lama mempunyai peranan besar dalam peradaban ummat manusia sebagai tempat turunnya Islam yang disusul dengan kecemerlangan peradaban Islam jaman pertengahan dengan mengkodifikasikan hasil terjemahan ilmu-ilmu pengetahuan dan filsafat bangsa-bangsa sekitarnya seperti Babylon, Sumeria, Mesir, Yunani, Suryani, India, dll. ke dalam Bahasa Arab. Namun Dunia Arab kontemporer pada saat ini telah mengalami penurunan peran dan degradasi hebat dibanding masa lalu. Jika pada masa lalu Dunia Arab identik dengan kemajuan ilmiah dan peradaban, namun pada saat ini Dunia Arab identik dengan keterbelakangan serta berbagai wacana kekerasan yang mendominasi hampir segala sisi kehidupan. Konsep nasionalisme Arab ala Anton Saadah dan Gamal Abdul Nasser sebagai garda depan Dunia Arab kontemporer telah memunculkan berbagai problematika sosial politik yang belum pernah terjadi dalam sejarah Arab dan Islam. Berbagai reaksi bermunculan atas tumbuhnya fanatisme Arab di kalangan orang-orang Arab yang berpijak pada kebanggan pada kebesaran masa lalu (glory of past), seperti bangkitnya nasionalisme Kurdi di Syria dan Irak, nasionalisme Berber/Amazig di Maghreb Arab (Aljazair dan Maroko), nasionalisme Four di Darfour Sudan, tumbuhnya benih-benih ketidaksukaan pada orang-orang Arab di kalangan orang Nubah di Mesir. Jikalau Sayyid Quthb pernah memprediksikan bahwasanya rasisme adalah akhir supremasi manusia-manusia kulit putih setelah berpartisipasi dalam peradaban dunia dengan melahirkan Magna Charta, Revolusi Perancis, dan Revolusi Amerika (lih. Al Mustaqbal Li Hadza Diin), maka saya turut berprediksi bahwasanya munculnya nasionalisme Arab dan kebanggan diri berlebihan bertalian (intima�) dengan darah Arab adalah akhir supremasi orang-orang Arab terhadap Dunia Islam setelah melewati masa-masa kesuburan dengan melahirkan berbagai futuhat islamiyah, era transliterasi yang melahirkan keagungan peradaban pada Jaman Pertengahan Islam. Nasionalisme Arab dan kebanggan diri berlebihan bertalian (intima�) dengan darah Arab-lah yang sekaligus akan merobek negeri-negeri Arab sendiri yang tidak hanya berpenghuni orang-orang Arab. Bukankah Umar bin Khattab "Bapak Arab" pernah mengatakan: "Kami adalah kaum yang menjadi mulia karena Islam", artinya bangsa Arab menjadi bangsa terpandang, diakui oleh bangsa-bangsa lain karena menjadikan Islam sebagai pedoman hidup. Disamping Islam sendiri meletakkan ajaran yang egaliter antara sesama umat manusia dengan tanpa memandang Arab dan non-Arab, melainkan mendasarkan diri pada ketakwaan. Karena itu jika ada anggapan bahwasanya bangsa Arab pada masa lalu melakukan berbagai penaklukan terhadap bangsa-bangsa lain atas nama Arab atau arabisme, bukan atas nama Islam. Maka tak ubahnya penaklukan itu sama dengan invasi yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya terhadap Iraq, Afghanistan, dan bangsa-bangsa lain pada saat ini. Fenomena diatas jelas tidaklah menguntungkan bagi kita, bangsa-bangsa Melayu. Karena kita tidak berkaitan dengan orang-orang Arab sama sekali kecuali hanya karena faktor agama (Islam), lain dari itu tidak. Melihat fenomena degradasi di kalangan bangsa Arab ini, maka sudah tiba saatnya kita memikirkan alternatif yang mampu meneruskan risalah besar Islam, penutup agama-agama langit, dan agama rahmat bagi sekalian alam dan turut memberikan sumbangsih pada peradaban umat manusia. Kita perlu memunculkan sayap lain yang merupakan sebuah kekuatan baru dan berdarah segar di luar kawasan Arab. Sayap itu adalah apa yang bernama Dunia Melayu (Al �Alam Al Malayuwy/Melayu World) yang mampu memberikan dan menerjemahkan wajah Islam secara moderat, moderen, lembut, hijau (sehijau dedaunan tumbuhan tropik), sejuk (sesejuk alam dan iklim khatulistiwa), toleran, hi-tech, demokratis, tempat bertemunya peradaban Islam dengan peradaban lainnya (sebagaimana letak geografis Dunia Melayu), dan non-Arab (tidak bertutur Bahasa Arab). Sebuah wacana yang berkontradiksi dengan Dunia Arab yang kasar, panas (sepanas angin gurun), gersang (segersang padang pasir dan cadas-cadas Semenanjung Sinai), penuh dengan wacana kekerasan dan otoriter sesuai dengan latar belakang kulturnya. Kita, bangsa-bangsa Melayu, harus selalu meyakini bahwa hal ini bukanlah sesuatu yang mustahil. Bukankah pilar-pilar peradaban Islam (dan Arab) pada masa lalu adalah orang-orang non-Arab, seperti Al Bukhary, Sibawaih, Al Fairuzabady, Ibn Muqaffa� (pelopor transliterasi karya-karya Yunani dan Persia/India), Al Biruny, Ibn Miskawaih, Al Khawarizmy, Umar Al Khayam, Ibn Sina dan hampir semua filosof muslim kecuali Al Kindy, Al Ghazaly, Al Maturidy, dll. Sebagaimana sejarah mengajarkan kepada kita bahwasanya keruntuhan Damaskus telah melahirkan kecemerlangan Andalus yang multikultural, Keruntuhan Andalusia telah melahirkan kecemerlangan Utsmaniyah yang non-Arab, dst. dst. Namun bagaimanapun juga, Dunia Melayu dan Dunia Arab tetaplah bagaikan sepasang sayap kongruen dan dua sisi mata uang, jika Dunia Islam diibaratkan seekor burung atau sekeping mata uang, keduanya adalah dua sisi yang saling melengkapi Dunia Melayu (le monde malais) adalah deretan tanah air bangsa-bangsa Melayu dan bangsa-bangsa serumpun (Melayu Besar) penutur Bahasa Melayu sebagai lingua franca (bahasa pergaulan) dan bahasa resmi yang memanjang dari Tanah Semenanjung hingga Pulau Kepala Burung, terlepas dari bahasa ibu (mother tongue) bangsa-bangsa yang bersangkutan. Karena bagaimanapun juga kosakata Bahasa Melayu banyak dijumpai dalam bahasa-bahasa bangsa serumpun ini, disamping susunan bahasanya yang bermiripan. Dalam kesatuan Dunia Melayu inilah agama Islam adalah agama mayoritas sebagai pelanjut animisme, Hindu, dan Budha yang pernah dipeluk oleh bangsa-bangsa Melayu di kepulauan ini pada masa lalu. Konsep dari Dunia Melayu berpijak pada kenyataan geografis, kebudayaan, dan ekonomi negara-negara; Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura membentuk suatu kawasan maritim yang sangat luas di belahan selatan Asia Tenggara yang mengharuskan 40 % dari lalulintas maritim internasional untuk singgah. Dari segi kebudayaan, empat negara ini memiliki kesamaan yang erat : - Bahasa Indonesia dan Melayu, bahasa-bahasa resmi, berasal dari satu rumpun bahasa yaitu Bahasa Melayu Klasik, yang menyatukan 240 juta orang penggunanya didalam sebuah komunitas linguistik. - Islam, adalah agama mayoritas di Indonesia, Malaysia, dan Brunei. - Negara-negara ini juga memiliki kesamaan tradisi yang sudah berumur ratusan tahun, sejarah, dan budaya. Sedangkan pada periode sejarah yang lebih baru, masa penjajahan oleh negara-negara Barat serta pola pemikiran demokratis juga memiliki kesamaan yang tidak kalah eratnya. Sebuah hal yang tidak dimiliki belahan Dunia Islam manapun di luar Dunia Arab. Istilah Dunia Melayu sebaiknya selalu digunakan untuk menyebut kawasan ini mengingat pada masa lalu bangsa-bangsa di kepulauan Nusantara ini mempunyai sejarah yang bermiripan dan berhampiran. Kerajaan-kerajaan Nusantara pada masa lalu senantiasa menggunakan Bahasa Melayu sebagai lingua franca, seperti Melayu Riau, Malaka, Sambas, Sunda Kelapa, Demak (konon Sultan Demak yang didukung Wali Songo dan pernah mengirim ekspedisi ke Selat Malaka untuk mengusir Portugis tidak berbahasa Jawa, disamping naskah-naskah tua tafsir Al Quran yang didapatkan di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa berbahasa Melayu), Ternate, Tidore, dll. Bahkan prasasti-prasasti masa sebelumnya yang ditemukan di pelbagai tempat membuktikan akan hal ini, meskipun dalam bentuk Bahasa Melayu Kuno dan huruf Pallawa (sebelum huruf Jawi/Pegon) antara lain Kedukan Bukit (Palembang), Talang Tuo (Palembang), Kota Kapur (Bangka), Karang Berahi (Jambi), Pagaruyung (Sumbar), Batu Nisan Minye Tujuh (Aceh), Gandasuli (Jateng), Kedu (Jateng), Ampel (Surabaya), dll. Meskipun kultur budaya penjajahan memberi sekat berbeda antara bangsa-bangsa Melayu dan bangsa-bangsa serumpun (Melayu Besar), dimana Inggris menguasai Semenanjung Melayu dan Kalimantan Utara serta Belanda menguasai kepulauan Hindia Timur (Hindia Belanda), namun Inggris pernah juga menguasai Indonesia (Jawa dan Bengkulu) pada masa perang Napoleon ketika Perancis menduduki Negeri Belanda. Bahkan ketika Thomas Stamford Raffles diangkat oleh Lord Minto sebagai Gubernur Jenderal (1811-1816), ia memperkenalkan hal-hal baru yang belum ada sebelumnya, pemerintahan sendiri (partial self-government), penghapusan perdagangan budak, pajak tanah sebagai pengganti sistem Tanam Paksa, pembentukan 16 karesidenan (untuk mendukung pajak tanah), restorasi candi Borobudur dan candi-candi lainnya. Disamping Raffles menyusun chef d'oeuvre-nya "The History of Java" ketika Inggris sedang berjaya menguasai Indonesia (Jawa). The History of Java adalah buku yang senantiasa dijadikan referensi sejarah dan masih dijual bebas hingga saat ini. Sebagaimana ketika Inggris menduduki Sumatra (1814-1825) William Marsden menulis buku yang sama tentang sejarah Sumatra dan terbit tahun 1889. Dan yang perlu diingat adalah Dunia Melayu secara bersama-sama pernah merasakan pahitnya dibawah pendudukan Dai Nippon. Mengapa kita lebih bereuforia dengan pendudukan Dai Nippon yang �vandalis�, banyak membawa sengsara dan hanya seumur jagung (Maret 1942-Agustus 1945) daripada masa-masa Raffles yang �peduli budaya� dan berakhir dengan London Treaty 1814. Bukankah usaha-usaha mempersatukan Nusantara (Kepulauan Melayu) secara politis telah banyak dirintis semenjak dahulu, antara lain Ekspedisi Pamalayu Majapahit (meskipun kurang sukses), ekspedisi Adipati Yunus (Patiunus) Raja Demak untuk mengusir Portugis dari Malaka. Dan terakhir (hemmm �) Komando Dwikora (aneksasi Kalimantan Utara) dan Singapura (Semenanjung Melayu) pada era Soekarno yang berakhir tragis dengan naiknya militer Orde Baru dan ditandatanganinya Perjanjian Bangkok 1967. Jika integrasi secara politis kita pernah mengalami kegagalan, mengapa kita meninggalkan penyatuan budaya, bahasa (dan agama). Bukankah ada kaidah: �Ma la yudraku kulluhu, la yutraku kulluhu� (Apa-apa yang tidak diketahui seluruhnya, tidak boleh ditinggalkan seluruhnya). Mengapa kita menjadi bangsa yang sedemikian berputus asa? __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/.DlolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
