Iklan Freedom Institute Dianggap Menyesatkan

Jakarta, NU Online
Pencabutan subsidi BBM bukan cara yang tepat untuk mengatasi
ketidakadilan pemberian subsidi  bahan bakar minyak (BBM) yang
alokasinya lebih banyak diterima sektor industri dibanding masyarakat
yang hidup di bawah garis kemiskinan. Ketidakadilan tersebut
seharusnya diatasi dengan landasan aturan main dan pengawasan yang
ketat  untuk  meningkatkan efisiensi keuangan negara.

Demikian kesimpulan yang disarikan dari hasil wawancara NU Online
dengan Pakar Ekonomi Politik Ichsanuddin Noorsi dan Direktur Pusat
Studi Pedesaan dan Kawasan Universitas Gadjah Mada (PSPK-UGM) Dr. Ir.
M. Maksum,M.Sc, Kamis (2/03) via handphone.

Dalam wawancara, keduanya juga mempertanyakan tentang gerakan sejumlah
kalangan yang telah memanfaatkan pengaruh intelektualnya untuk
mendukung kebijakan pencabutan subsidi BBM dengan memasang iklan atas
nama Freedom Institute (Kompas, 26/2).   

"Terlepas dari mana mereka mendapatkan sumber dana untuk memasang
iklan sebesar itu, tetapi hal itu harus dipertanggungjawabkan sebab
rakyat menjadi pihak yang paling mereka lukai," kata Ichsanuddin
Noorsi mantan anggota DPR-RI yang juga komisaris independen perbankan
swasta ternama di Jakarta. 

Ketika ditanya apakah benar bahwa dukungan para intelektual kepada
Pemerintah dalam menaikkan harga BBM bagian dari upaya membersihkan
hambatan (barriers) atas pelaksanaan pasar bebas atau liberalisasi
pasar, Ichsan hanya mengungkapkan bahwa tindakan mereka justeru
mendorong pemindahan surplus perekonomian secara besar-besaran ke
asing. Padahal, kata Noorsi, rakyat telah bersusah payah mengumpulkan
surplus itu melalui kegiatan-kegiatan ekonomi selama bertahun-tahun.
"Jadi dengan dinaikkannya harga BBM, rakyat akan semakin menderita,
bohong bila kenaikan BBM justeru akan menurunkan angka kemiskinan.
Data-data yang dibuat mereka itu jelas menyesatkan," tandasnya.

Menurut Noorsi, mereka yang telah membuat dukungan atas nama Freedom
Institute itu memang menganggap pasar bebas sebagai segala-galanya.
Dia pun lantas mengatakan bahwa pandangan seperti itu akan selalu
dijunjung oleh mereka yang memeluk ideology pasar bebas sebagaimana
dikemukakan Ekonom kaliber internasional, Joseph Stiglitz.

"Ujung-ujungnya  adalah mereka menginginkan dominasi atau monopoli
perekonomian dalam satu tangan dengan
jalan liberalisasi," paparnya.

Akibatnya, imbuh Noorsi, rakyat telah dijadikan Pekerja Rodi atau
pekerja paksa, karena mereka terpinggirkan oleh proses liberalisasi,
sementara kekuatan asing memonopoli semua sektor ekonomi dan
mengendalikan lembaga-lembaga politik.
 
"Celakanya, orang-orang yang mengaku intelektual justeru turut membuka
jalan pemiskinan oleh liberalisme pasar itu," ungkapnya, mengomentari
perilaku sejumlah intelektual ternama seperti Ulil Abshar Abdalla,
Gunawan Moehammad, Rizal Malarangeng, Nono Anwar Makarim dan masih
banyak yang lain yang mengiklankan dukungannya untuk mendukung
kenaikan harga BBM.

Tanggapan yang senada juga diungkapkan M. Maksum, bahwa dia mengakui
ada ketidakadilan dalam pemberian subsidi BBM, tapi untuk mengatasinya
tidak harus dengan mencabut subsidi. Pencabutan subsidi itu justeru
menimbulkan pemiskinan baru, sebab pengalihan subsidi ke sektor
kesehatan dan pendidikan tetap tidak sebanding dengan peningkatan
biaya konsumsi barang dan jasa akibat kenaikan BBM itu.

"Jadi, saya lantas bertanya-tanya bagaimana mereka bisa menjadi
`tukang stempel' kebijakan yang bisa menjebak masyarakat dalam
kemiskinan yang lebih besar," imbuh pengamat ekonomi pertanian yang
juga wakil ketua pengurus wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) D.I.
Yogyakarta ini.

Karena kebijakan pengentasan kemiskinan yang diikuti dengan pemiskinan
baru yang lebih besar itu, staf pengajar di jurusan teknologi industri
pertanian UGM ini lantas menganjurkan para intelektual dari Freedom
Institute itu untuk tidak terlalu mengedepankan rasionalitas ekonomi.
Sebaliknya, ekonom yang meraih gelar doktoral dari University of
Philippine at Los Banos ini mengajak mereka untuk lebih mengedepankan
semangat sosial politik untuk mengatasi ketidakadilan itu. 

"Mari kita dorong agar subsidi diatur dan diawasi secara lebih baik
dan diikuti dengan efisiensi keuangan negara, karena uang negara yang
dikorup oleh birokrasi selama ini lebih besar dibanding yang
dialokasikan untuk subsidi pendidikan maupun kesehatan," ajaknya.

"Kalau untuk rekonstruksi Aceh dan Nias dialokasikan anggaran sebesar
Rp 40 triliun, maka pembiayaan pendidikan sebesar Rp 90 triliun selama
5 tahun tentu bisa dilaksanakan bila ada semangat sosial politik untuk
efisiensi keuangan negara," tambah Maksum. 

Sementara itu, menurut Noorsi, bila ditinjau dari aspek hukumnya,
alasan pencabutan subsidi BBM demi meningkatkan subsidi sektor
pendidikan dan kesehatan jelas menyesatkan. "Karena sebenarnya
tanggungjawab penyelenggaraan pendidikan  sudah menjadi perintah dari
konstitusi, UUD Dasar 1945, termasuk menjamin kehidupan bagi fakir
miskin," katanya.

Dengan demikian, lanjut Noorsi, pencabutan subsidi BBM yang dilakukan
dengan alasan untuk mengurangi ketimpangan subsidi antara dunia
industri dengan masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan sangat
tidak tepat. "Mengalihkan subsidi dari barang ke orang itu tidak
menyelesaikan masalah, begitu harga barang-barang dan transportasi
naik, budget (anggaran: Red.) untuk pendidikan dan kesehatan juga
naik, daya beli masyarakat miskin semakin jatuh," paparnya. 

Ibarat nasi sudah menjadi bubur, dukungan para intelektual Freedom
Institute yang disebut-sebut Maksum tidak lebih sebagai `tukang
stempel' itu pun semakin memerkuat pemerintah untuk menaikkan harga
BBM. Seruan Komisi XI agar pemerintah membicarakannya dahulu kenaikan
tersebut pada rapat APBN perubahan tak digubrisnya. Bahkan merasa di
atas angin, utusan pemerintah dalam rapat konsultasi hari Senin
mengatakan kepada Panitia Anggaran tentang ketidakpedulian mereka atas
penolak DPR-RI. Hasilnya, resmi sejak 1 Maret 2005, harga BBM naik
rata-rata 29 persen.

"Saya baru saja membuka undang-undang, bahwa kebijakan menaikkan harga
BBM menjadi  kewenangan presiden, sehingga tidak ada pelanggaran
Undang-Undang oleh presiden dalam hal ini. Tetapi DPR-RI
memiliki kewenangan untuk menanyakan kebijakan yang belum didukung
mereka, sebab meski tidak melanggar Undang-Undang, tetapi kenaikan
harga BBM itu telah mengabaikan nasib rakyat. Jadi kalau keberatan
Dewan tidak didengar, ya naik saja ke impeachment," saran Noorsi atas
sikap pemerintah kepada DPR-RI. (Dul)








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education!
http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke