http://www.gusdur.net/indonesia/detail.asp?catName=&contentOID=2511

      NU Milik Siapa?
     
      Sabtu, 26 Februari 2005
     
       
     
      Oleh: Abdurrahman Wahid*

      Ketika penulis terbaring di rumah, karena sakit di kaki dan tidak bisa 
berjalan, Sabam Sirait datang menjenguk. Kami pun berbicara panjang lebar 
tentang berbagai hal, termasuk keadaan PDI-Perjuangan dan Nahdlatul Ulama (NU) 
dewasa ini. Pada waktu berbicara tentang NU, ada ucapannya yang sangat menarik 
bagi penulis. Ia bercerita, pada suatu waktu ia menyatakan kepada sejumlah 
orang yang dikenalnya, bahwa NU itu adalah milik Nasional, bukan hanya milik 
Gus Dur dan kawan-kawan. Ia adalah asset kita juga sebagai orang-orang 
Nasionalis. Ucapan itu sangat menarik, bukan karena hanya menggambarkan sikap 
dan pandangan yang luas tentang rasa kebangsaan beliau, tetapi juga karena 
ternyata nama berbahasa Arab yang digunakan NU, untuk menyebutkan identitas 
spesifik yang dimiliki NU (sebagai organisasi keagamaan Islam). Ternyata dapat 
juga "menembus" perbedaan antar golongan yang ada di negeri kita. Walaupun 
namanya berbahasa Arab, ternyata semangatnya sebagai sebuah organisasi yang 
berpegang pada asas kebangsaan ternyata dirasakan demikian juga oleh orang lain.

      Dalam hal ini, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) hanya "kecipratan" saja 
oleh NU, karena usahanya "menjual" nama Kebangkitan (yang sebenarnya adalah 
terjemahan kata nahdah saja). Jadi, tanpa diterjemahkan ke dalam bahasa 
nasional kita pun, gagasan kebangkitan dalam artian bepegang teguh kepada asas 
kebangsaan telah diterima oleh pihak-pihak yang berkepentingan di negeri kita. 
Padahal kata kebangkitan (nahdah) yang digunakan NU itu, semula tidak 
berkonotasi demikian. Itu adalah "pengambilan" para pendiri NU, ketika mereka 
mendapati bahwa sebuah kalimat telah membangkitkan mereka untuk mendirikan 
sebuah organisasi di lingkungan kaum muslim tradisional, baik para ulamanya 
maupun pengikut mereka. Kalimat itu adalah kata-kata Ibn 'Atha'illah 
al-Sakandari dalam buku Syarah Al-Hikam, berbunyi: "janganlah engkau 
temani/jadikan guru orang yang perilakunya tidak membangkitkan kamu kepada 
Tuhan, dan kata-katanya tidak menunjukkan kamu kepada-Nya."

      Ungkapan diatas, yang dalam bahasa Arab berbunyi "La tashhab man la 
yunhidhuka ila Allah mahaluhu wa la yadulluka ila Allah maqaluhu" telah terjadi 
transformasi besar-besaran, dari sebuah kata yang berbicara kepada perorangan 
(membangkitkan kamu, dan menunjukkan kamu) kepada kelompok besar yang akhirnya 
berjumlah puluhan juta jiwa. Kita melihat, transformasi seperti ini sangat 
dahsyat sifatnya, mempengaruhi dan mengarahkan puluhan ribu orang pemimpin di 
berbagai tingkatan mengajak rakyat masing-masing kepada sebuah arah, yang 
kemudian sering dijadikan tujuan dari NU. Tujuan itu berbunyi "meluhurkan asma 
Allah yang sangat tinggi" (li I'lai kalimati Allah al-lati hiya al-'ulya). 
Tujuan yang demikian sederhana, menangkap dalam dirinya sebuah keinginan untuk 
mengembangkan pola hidup yang membawa manfaat untuk masyarakat secara 
keseluruhan. Inilah yang ditangkap oleh orang-orang tertentu sebagai bagian 
dari asas kebangsaan.
      *****

      Mengapa demikian, karena mereka melihat, ungkapan tersebut dalam 
kenyataan diarahkan kepada menciptakan sebuah bangunan yang di satu pihak, 
dapat dimiliki orang berfaham kebangsaan, di pihak lain dapat "dijadikan milik" 
orang-orang berfaham keagamaan yang luas. Hal itu dapat dicapai, karena 
pendirian organisasi keagamaan yang dikembangkan itu bersifat toleran dan 
mengabdi kepada kepentingan kemanusiaan. Ini menjadi sangat penting, karena 
dewasa ini dipermukaan tampak sekali adanya berbagai pihak yang memiliki jiwa 
sempit dalam pandangan mereka untuk dunia luar. Karena itu, bahwa ada kelompok 
yang ingin membakukan Islam dalam pandangan-pandangan yang eksklusif memang 
sangat mengkhawatirkan. Inilah ungkapan yang sering terdengar dan harus 
dihadapi.

      Penulis adalah seorang yang optimistik. Karena itu banyak yang 
beranggapan penulis terlalu tidak berhati-hati, terutama dalam mengembangkan 
pendapat. Dan sama sekali tidak menganggap tulisan-tulisan yang menghujat agama 
lain, sebagai sebuah pertimbangan serius dalam menentukan sikap kita. Karena 
itulah, ketika adik penulis bercerita, bahwa di Rumah Sakit Koja (Tanjung 
Priok) ada mubaligh yang menghantam kanan dan kiri, termasuk diri penulis 
sendiri, penulis hanya menyatakan biarkan saja, toch orang banyak tidak akan 
mengikutinya. Ketika Ia bertanya; mengapa? Penulis mengatakan, bagian terbesar 
dari bangsa kita sudah memilih untuk hidup berdampingan secara damai antara 
berbagai agama. Pihak yang mengundangnya akan di marahi orang, karena meminta 
ia berbicara. Adik penulis membenarkan hal itu dengan mengatakan bahwa 
management rumah sakit tersebut memarahi pihak penyelenggara, yang menyatakan 
bahwa iapun tidak mengira sang pembicara itu akan berpandangan sesempit itu.

      Dari uraian diatas, menjadi jelas bahwa sikap NU selama ini telah 
menunjang kehidupan bangsa kita dengan benar. Agama Islam yang demikian luas, 
ternyata telah dibawakan oleh para pemimpin NU sebagai sesuatu yang memberikan 
sumbangan cukup besar bagi kehidupan bangsa kita. Tentu saja, Islam akhirnya 
menjadi bagian pokok dari faham kebangsaan yang menjadi tiang kehidupan bersama 
sebagai bangsa. Di sini berlakulah apa yang oleh Kitab Suci Al-Qur'an nyatakan 
sebagai "Tiadalah Ku-utus Engkau, ya Muhammad, kecuali untuk membawa tali 
persaudaraan bagi manusia" (Wama arsalnaka illa rahmatan lil 'alamiin). Jika 
kata rahmat disini dimaksudkan untuk menunjukkan arti persaudaraan, dan 'alamin 
diartikan hanya sebagai manusia, bukannya seluruh alam. Tentu saja adanya 
pengertian seperti ini, menunjukkan bahwa wajah universal Islam seperti ini 
merupakan kekayaan kultural sangat besar untuk menunjukkan bahwa agama tersebut 
mementingkan juga aspek kemanusiaan, bukan hanya hal-hal ritualistik belaka.

      *****

      Atas dasar pengamatan ini, penulis melihat kedekatan antara Islam dan 
aspek kemanusiaan sebagai sebuah kenyataan yang menghidupi kaum muslimin, tidak 
ada alasan apapun untuk melihat dunia Islam telah terdesak dalam kehidupan 
bersama saat ini. Bahkan, justru penulis sering mendapatkan keluh kesah dari 
para pengikut berbagai agama, yang menganggap tekanan-tekanan modernisasi 
sebagai sesuatu yang "mengganggu kerukunan" jalannya kehidupan beragama mereka. 
Dalam posisi seperti ini, tentu kita harus berterimakasih kepada Tuhan yang 
telah memberikan kepada kita kemampuan untuk melihat perjalanan kehidupan kita 
di masa depan. Kita telah berjuang habis-habisan untuk menjaga kebersamaan kita 
dalam berbagai perkembangan keadaan, yang justru mendorong kita ke arah 
sebaliknya. Apalagi kalau hal itu dilakukan oleh sebuah pemerintahan Orde Baru, 
yang lebih mementingkan hal-hal formalistik, seperti digunakan untuk mendukung 
sistem kekuasaan yang ada, dan bukanya menegakkan kebenaran dan keadilan.

      Ke depan, penulis melihat bahwa diperlukan kemampuan untuk memperkirakan 
sistem politik yang akan berkembang. Dalam pandangan penulis, ada tiga pihak 
yang berperan sebagai kekuatan sosial politik. Pertama adalah para mahasiswa, 
lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan sejumlah intelektual. Kedua, adalah 
Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dua pihak ini bergerak secara informal, 
karena memang demikian ketentuan perundang-undangannya. Pihak ketiga, yang 
harus menghubungkan antara keduanya, adalah berbagai parpol. Penulis melihat 
perlunya ada tiga jenis parpol di negeri kita. Pertama, parpol yang 
berdasarkan, apa yang oleh kawan-kawan disebut sebagai kelompok Nasionalis 
Religius (berpandangan kebangsaan namun bersikap keagamaan). Kedua, adalah 
mereka yang mementingkan hidup keagamaan, namun tidak kehilangan rasa 
kebangsaan mereka, sehingga mereka disebut sebagai kaum Religius-Nasionalis. 
Pihak ketiga dalam hal ini adalah mereka yang berpegang kepada faham kekaryaan 
dan sama sekali tidak tertarik pada keterkaitan dengan ideologi atau agama 
tertentu. Masalah itu, bagi mereka dianggap sudah dianggap berlalu, yang 
terpenting adalah mengembangkan kekaryaan dalam kehidupan. Dapat diterka, 
golongan kekaryaan ini akan sangat banyak "diwarnai" oleh para anggota dan 
pimpinan Golongan Karya dewasa ini. 

      Nah, tentunya telah terjadi perkembangan sangat menarik di antara tiga 
elemen utama dari parpol-parpol yang ada. Jika Partai Golkar tampil sebagai 
salah satu kekuatan parpol dari jenis kekaryaan ini, maka PDI-Perjuangan dan 
PKB menjadi kekuatan dari nasionalis-religius dan religius-nasionalis. 
Percaturan antara kelima pihak itu, akan merupakan bagian dari proses 
melestarikan dan membuang yang biasa terjadi dalam sejarah diri manusia bukan?

      Jakarta, 24 Febuari 2005
     


[Non-text portions of this message have been removed]






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education!
http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke