Subject: Re: Refleksi 80 Tahun NU: Membumikan Program Kerakyatan
Salam....
Terus apa sih yang telah di lakukan oleh penulis yang mengaku sebagai
pengurus di lembaga NU untuk perbaikan organisasi NU?
di NU semua orang mengeluh tentang kekurangan dan kelemahan NU. dari pengurus
yang paling di atas sampai warga yang ada di bawah...
Kalau semuanya mengeluh, terus sapa yang bekerja melakukan perbaikan kinerja
organisasi NU?
Orangnya yang mampu mengkritik dan menilai di NU banyak.. Tapi mencari orang
yang mau bekerja di NU masih sedikit...
Jangan di kira Muhamadiyah lebih baik.. pengalaman saya bekerja dengan
temen-temen Muhamadiyah ternyata mereka juga tidak sebaik yang kita duga. aku
berani mengatakan bahwa kita tidak kalah dan bahkan bisa lebih baik dalam kerja
organisasi daripada mereka. Kalau tidak peraya, tanya temen-temen di PM, IRM,
IMM, NA, Aisyiah, Dikti Muhamadiyah, PSAP dll!!!
Miftah
----- Original Message -----
From: Mukhlisin
To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [email protected]
Sent: Friday, February 10, 2006 2:28 PM
Subject: [lakpesdam] Refleksi 80 Tahun NU: Membumikan Program Kerakyatan
Refleksi 80 Tahun NU
Membumikan Program Kerakyatan
a.. Oleh Jamal Ma'mur Asmani
USIA NU sudah menginjak 80 tahun pada 31 Januari 2006 lalu (berdiri 31
Januari 1926). Pada usia yang relatif tua ini, selalu dipertanyakan, apa yang
telah diberikan NU pada masyarakat, khususnya masyarakat kecil. Kalau
Muhammadiyah secara intens mampu mendirikan rumah sakit, lembaga pendidikan,
panti sosial, lembaga perekonomian, dan lain-lain yang berfungsi untuk melayani
masyarakat bawah, menjaga kesehatan mereka, meningkatkan kwalitas SDM, dan
memberdayakan tingkat ekonomi mereka, maka apa yang dikerjakan NU untuk
warganya yang rata-rata berada di desa dengan profesi sebagai petani, tukang
ojek, penarik becak, pedagang kaki lima, nelayan, dan sebagai buruh kasar?
Bidang apa yang telah serius dikerjakan, apakah bidang pendidikan, dengan
mengoptimalkan Lembaga Ma'arif, atau bidang ekonomi, dengan maksimalisasi
lembaga perekonomiannya, atau bidang dakwah, dengan mengintensifkan lembaga
dakwahnya, atau bidang-bidang lainnya?
Penulis sampai saat ini belum melihat NU secara serius dan intensif
melakukan program-program sosial jangka panjang dan bervisi ke depan, untuk
mengangkat perekonomian dan tingkat pendidikan warganya. Yang mencolok justru
aspek politik praktis. Politik yang berorientasi kekuasaan dan jabatan. NU oleh
pengurusnya dijadikan sebagai kendaraan politik. NU dijual untuk mendapatkan
konpensasi materi, jabatan, dan kekuasaan.
Di mana-mana, sebagaimana sering dilansir media massa, para pengurus NU
terlibat dalam dukung-mendukung calon bupati dalam pilkada.
Tentu masyarakat akan menilai, di balik dukungan tersebut pasti ada
kompensasi materi. NU menjadi lahan empuk menumpuk-numpuk kekayaan. Massa NU
yang jumlahnya jutaan orang dieksploitasi tanpa batas, bukan untuk kepentingan
warga dan organisasi, tapi untuk kepentingan pribadi.
Politisasi NU semacam ini biasa dilakukan oleh para pengurus NU yang
aktif-struktural, dengan dalih, kebebasan pribadi, tidak mengait-ngaitkan NU.
Mereka terlibat aktif sebagai tim sukses calon bupati, berkampanye lewat forum
pengajian, diskusi, ceramah, dan lain-lain.
Spirit Perjuangan
Momentum harlah ke-80 ini harus dimanfaatkan untuk mengingat kembali
lembaran emas perjuangan founding fathers NU, khususnya trio pendekarnya, yakni
KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Hasbullah, dan K Bisyri Syamsuri. Dengan kedalaman
ilmu, keluhuran budi, keluasan relasi, dan kesungguhan dalam mengabdikan jiwa
raganya bagi rakyat, nusa dan bangsa, tiga pendekar ini berjuang habis-habisan
mengusir penjajah
dari Bumi Pertiwi, mendidik anak bangsa, mereformasi dekadensi moral,
memberdayakan ekonomi rakyat, dan mengupayakan kekompakan, kebersamaan, dan
kesolidan para ulama dan pemerintah dalam menyukseskan satu tujuan, merdeka dan
membangun bangsa.
Mereka sama sekali tidak minta konpensasi materi, jabatan, popularitas,
atau apa pun bentuknya. Mereka justru lebih memilih hidup bersama rakyat
miskin, mendidik, mendorong, dan mengangkat harkat-martabat mereka demi
menggapai keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran. NU adalah salah satu
peninggalan dari dedikasi dan perjuangan mereka. NU didirikan selain sebagai
reaksi defensif terhadap berbagai aktivitas kelompok reformis dan modernis
moderat yang aktif dalam gerakan politik, Syarikat Islam (SI), dan kelompok
anti mazhab pada saat itu, juga untuk memberdayakan masyarakat bawah.
Spirit perjuangan sosial founding fathers NU itulah yang menjadikan jamiyah
ini menyebar dengan cepat dari Sabang hingga Merauke dengan jumlah anggota
mencapai jutaan orang. Para warga NU diperhatikan oleh pengurusnya, dibina
bagaimana mengembangkan ekonomi, meningkatkan kualitas pendidikan, dididik
memperhalus budi pekerti, mengutamakan keharmonisan dan kedamaian dari pada
percekcokan, konflik, dan konfrontasi.
Mereka tidak mencari penghidupan di NU, tapi sebaliknya, bagaimana bisa
menghidupi NU, dalam arti menjalankan program-programnya yang dapat dirasakan
manfaatnya oleh warga NU, khususnya mereka yang dari kalangan bawah. Untuk
itulah, mereka rajin mengunjungi warganya untuk sosialisasi program dan
memberikan dorongan dan pengarahan terus menerus. Lailatul ijtima (forum
berkumpulnya pengurus dengan warga NU) dilaksanakan rutin untuk memberikan
informasi yang positif dan mendorong kemajuan mereka.
Syahwat Politik
Masih jelas dalam ingatan kita pada waktu Kiai Hasyim Muzadi menjadi
cawapres Megawati. Bagaimana NU diseret-seret dalam arus politik praktis besar
yang tidak terkendali. Arus politik tersebut membawa perubahan mental warga NU,
dari mental perjuangan ke mental proyek, dari mental pengabdian ke mental
bisnis,dari mental keikhlasan ke mental pamrih, dari mental kita ke mental aku,
dan sebagainya. Ego pribadi dan kelompok diutamakan dari pada kepentingan
warga. Yang ada dalam pikiran adalah mana capres/calbup/calgub yang mampu
membayar dengan harga tinggi, mereka lah yang didukung, bukan mana
capres/calbup/calgub yang lebih mementingkan warga dengan sepak terjang yang
sudah teruji (dari sisi dedikasi sosial, pendidikan, dan ekonomi).
Pengalaman berpolitik NU sejak 1952 sampai 1984 membuktikan tesis bahwa
politik praktis adalah musuh utama NU dalam menyukseskan program-program
kerakyatannya.
Momentum harlah ini harus menjadikan pengurus NU lebih intensif membumikan
program-program kerakyatannya, agar eksistensi NU membawa kemanfaatan maksimal
bagi warganya, tidak hanya dimanfaatkan elitenya untuk mencari uang dan
jabatan. Program kerakyatan yang urgen dilakukan adalah: pertama soal ekonomi.
Melihat warga NU yang rata-rata tinggal di desa dengan profesi petani, buruh
kasar, nelayan, pedagang kaki lima, dan peternak, maka mereka perlu dibina, dan
diberdayakan secara serius. Sudah saatnya NU memfasilitasi berdirinya kelompok
petani di semua kantong-kantong NU. Kelompok petani tersebut nanti akan menjadi
forum komunikasi antar petani dan antara petani dengan pengurus NU. Lewat forum
itu diadakan pelatihan-pelatihan, baik mengenai cara cocok tanam yang baik,
memilih bibit yang baik, dan cara memasarkan hasil pertaniannya. Lewat forum
tersebut diadakan kerja sama dengan instansi-instansi terkait, seperti Dinas
Pertanian, Bulog, Dinas Perdagangan, dan pabrik pupuk.
Tidak hanya petani, pengurus NU harus membentuk kelompok nelayan, pedagang
kaki lima, dan lain-lain. Dengan mengorganisir kekuatan kecil inilah, arah
perjuangan menjadi fokus, jelas, efektif, dan efesien.
Kedua, bidang pendidikan. NU sebenarnya sudah punya Lembaga Maíarif untuk
mengurusi masalah ini, namun keberadaannya, khususnya di level cabang, tidak
banyak bermanfaat. Pengurus Maíarif hanya sibuk mengurus lembaga pendidikannya
sendiri-sendiri, sehingga tidak mampu memajukan secara keseluruhan semua
lembaga pendidikan di bawah naungan Maíarif. Di sinilah diperlukan tim yang
solid, dan profesional yang akan memajukan lembaga pendidikaan di bawah naungan
Ma'arif.
Ketiga, pemberdayaan politik. Di tengah permainan politisi yang
menghalalkan segala cara, warga NU perlu dilatih menjadi warga negara yang
kritis, cerdas, dinamis, dan
responsif, agar tidak dapat dikelabui politisi.
Semoga momentum harlah ke-80 ini dapat menjadi sumber inspirasi dan
motivasi bagi para pengurus NU untuk membumikan program-program kerakyatannya,
sehingga eksistensi NU dirasakan ada manfaat optimal bagi warganya. (24)
-Jamal Ma'mur Asmani, kader NU Pati, pengurus harian Rabithah Ma'ahid
Islamiyah (RMI) Pati.
Jl. H. Ramli No.20 Menteng Dalam, Tebet
Jakarta web: http://www.lakpesdam.or.id email: [EMAIL PROTECTED]
Ph: 021-8298855
SPONSORED LINKS Graduate school education High school education Home
school education
Middle school education New york school education School education
in california
----------------------------------------------------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS
a.. Visit your group "lakpesdam" on the web.
b.. To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
c.. Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
----------------------------------------------------------------------------
[Non-text portions of this message have been removed]
______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/