SURAT JEMBATAN SEMBILAN:

3.


SEHARI DI NEGERI  BELANDA



Sepuluh tahun lebih aku tak ke Negeri Belanda. Sepuluh tahun lebih pula aku tak 
bertatap muka dengan Tossi. Selama ini, yang terjadi, paling-paling kami saling 
telepon. Kukira persahabatanku dengan Tossi, seperti halnya dengan Arief 
Budiman, Jomo K. Sundram, ekonom dari Malaysia, dan yang lain-lain adalah 
sejenis persahabatan yang tak akan hilang.  Ketiadaan korespondensi tidak 
menandakan lenyapnya persahabatan. Karena persahabatan kami ada dalam hati dan 
pikiran. Persahabatan tidak berarti kami selalu sepakat dalam pendapat. Tapi 
justru perbedaaan, jika terdapat perbedaan, yang membuat kami saling mengisi 
dan membuat persahabatan itu kian akrab dan tak terjaga kuat. Persahabatan 
adalah salah satu jenis hubungan mendalam dan  sangat perlu antar anak manusia 
dan di bumi kehidupan ini. Kukira! Bagiku sendiri, persahabatan begini, 
merupakan hal sangat hakiki sama hakikinya dengan yang termuat dalam istilah 
"soul mate" [sahabat kejiwaan]. "Soul mate" mempunyai nilai  lebih tinggi dari 
kekasih. Kekasih bahkan istri tidak serta-merta menjadi "soul mate".   Sekali 
pun aku tidak mempercayai kelanggengan mutlak, tapi kukira "soul mate" jauh 
lebih terjaga kelangsungannya, untuk mengelak penggunaan istilah langgeng. 
Agaknya dalam "soul mate" relatif langka terjadinya perceraian. Pada hubungan 
"soul mate" terdapat keberanian untuk bersikap obyektif pada diri 
masing-masing. Paling tidak demikianlah pemahaman sementaraku. 


Pada jarak waktu sekian lama tak bertatapan muka demikian, maka sejak di mobil, 
seperti dahulu-dahulu, aku dan Tossi terlibat dalam pengembaraan bicara dari 
satu masalah ke masalah lain. Pembicaraan ini berlangsung sampai larut malam di 
apartemennya yang tak jauh dari kanal-kanal Amsterdam. "Di Amsterdam, orang 
yang tinggal di dekat kanal  dipandang sebagai tergolong lapisan elite", ujar 
Tossi menjelaskan tentang kanal dan keadaan Amsterdam. "Aku sih hanya numpang 
saja",ujarnya. Dan aku tak mengomentari atau menafisirkan secara macam-macam 
tentang penjelasannya. Sepatah pun tidak. Kami sudah lebih dari cukup mengenal 
satu dengan yang lain.


Dari sekian banyak masalah yang kami pertanyakan bersama setelah 10 tahun lebih 
tak bertemu, adalah masalah kekaguman orang Indonesia, terutama angkatan muda 
sekarang, terhadap tokoh-tokoh kiri yang memegang tampuk kekuasaan di Amerika 
Latin, seperti Hugo Chavez dari Venezuela, Lula dari Brasilia, Morales dari 
Bolivia. Terhadap idola begini, kepada Tossi kukatakan kekhawatiran bahwa kita 
kehilangan daya kritik dan kemampuan menjadi diri sendiri.  Idola biasanya 
gampang terjerumus pada sikap membuta. Membuta sama dengan kehilangan daya 
kritik dan lepas dari keadaan nyata negeri sendiri. Ujud dari ketidakmampuan 
berpikir. Mengatakan hal ini, tidak berarti aku menolak belajar dari pengalaman 
negeri-negeri lain. Tapi belajar dari pengalaman negeri lain, tidaklah identik 
dengan nyontek. Nyontek, selain tidak mampu berpikir juga merupakan jalan 
pintas --cara pikir dan mentalitas produk Orba Soeharto yang hanya membolehkan 
warganegara mengatakan "ya" dan "tidak" dipandang sebagai  pembangkangan serta 
tindak subversif. Dengan demikian, apabila kita nyontek, maka dengan anggapan 
diri sudah kiri, tapi sesungguhnya tidak kiri. Kiri bagiku adalah semua orang 
yang berusaha memanusiawikan manusia. Kiri bukanlah monopoli orang-orang yang 
mengaku Marxis. Bukan tidak ada, orang yang mengaku Marxis tetapi pada 
kenyataannya anti Marxis bahkan anti kiri. Kiri adalah identik dengan 
kemanusiaan dan usaha memanusiawikan manusia, kehidupan serta masyarakat. 
Kucing hitam atau putih, jika berguna bagi usaha agung ini dan bisa menangkap 
tikus, kukira sudah bisa dikatakan kiri. Bahwa orang-orang kiri yang sekarang 
memegang tampuk kekuasaan, dalam politik luarnegeri memang anti imperialis, 
terutama anti imperialis Amerika Serikat, tidak kusangkal. Dan aku tidak ada 
niat, apalagi alasan nalar menegasi sikap mereka. Tapi untuk menata diri, 
mengelola keadaan dalam negeri serta menciptakan keadilan dalam masyarakat 
negerinya, kukira di sini kita patut lebih hati-hati lagi dan sikap nyontek 
akan sangat berbahaya. 


Mengenai keadilan, aku lebih setuju dengan pandangan filosof Amerika Serikat 
John Rawl almarhum yang mengatalkan bahwa keadilan itu relatif dan berada dalam 
perbandingan nalar serta realistis. Dalam sistem sosialis pun yang disebut 
keadilan itu tidaklah identik dengan kesamaan mutlak. Yang berlaku pada sistem 
sosialis adalah bekerja menurut kemampuan, mendapat sesuai dengan pekerjaan. 
Artinya tidak ada prinsip samarataisme. Secara angka, hal ini sudah ditunjukkan 
secara kongkret oleh Jan Myrdal dalam karyanya "Pedesaan Tiongkok" [Editions 
Maspero, Paris, 1964?! Lihat juga laporan-laporan tentang Komunde Rakyat, 
khususnya tentang perbedaan gajinya antara lelaki-perempuan serta posisi 
perempuan itu sendiri dalam masyarakat Tiongkok sekali pun sejak 1949 kekuasaan 
berada di tangan  Partai Komunis ].


Dalam konteks Amerika Latin ini, Tossi dan aku pun mempertanyakan masalah 
"Indianisasi" Morales. Apakah "Indianisasi" Morales tidak mengandung bahaya 
"purifikasi etnik"? Sehubungan dengan ini aku mengajukan masalah ethnosentrisme 
[yang kubedakan dengan ethnosentris, tanpa isme!], nasionalisme etnik  serta 
bahaya yang terkandung pada ide nasionalisme itu sendiri jika dipisahkan dari 
universalisme kemanusiaan seperti yang tertuang dalam ide Soekarno. 
Nasionalisme jika dipisahkan dari universalisme kemanusiaan, kukira, akan 
menjadi petaka. Aku mencurigai nasionalisme yang dibicarakan di negeri kita 
sekarang sebagai merosot. Nasionalisme yang bagaimanakah yang dikatakan merosot 
itu? Daripada membicarakan masalah nasionalisme, kukira mungkin lebih aman dan 
universal jika kita menggarisbawahi nilai-nilai republiken dan berkindonesiaan 
baik dari segi nilai-nilai filosofis, kenegaraan atau pun dari segi kebudayaan.


Singkatnya, mengidolakan Amerika Latin sekarang tanpa kritik kukira akan 
mengundang bahaya orang nyontek. Bukan tanda kepintaran dalam artian bisa 
memecahkan masalah negeri sendiri. Dalam konteks ini maka pertanyaan James 
Petras: "Apakah benar Amerika Latin Bergeser Ke Kiri?"barangkali perlu kita 
renungkan. 


Persoalan dan permasalahan seperti halnya kerinduan sepuluh tahun tak berjumpa 
tak kunjung habis kami, aku dan Tossi bicarakan di antara cangkir demi cangkir 
kopi atau gelas-gelas air putih. Malam kian menjelang subuh. Sedangkan esok jam 
09:00 pagi kami harus hadir untuk siaran hidup Radio Hilversum. Tentang hal 
ini, kukira perlu kusinggung soal Tossi dan orang-orang Indonesia yang bekerja 
di Radio Hilversum. Benarkah anggapan bahwa bahwa dengan bekerja di Radio 
Hilversum, putera-puteri Indonesia menjadi budak Belanda? Pertanyaan ini ingin 
kujawab dengan pertanyaan: Apakah masalahnya sesederhana itu? Sedangkan 
Djauhari Oratmangun, Kuasa Usaha Ad Interim KBRI di Den Haag sendiri 
menyampaikan penghargaannya kepada teman-teman yang bekerja di Radio Hilversum. 
Apakah ada bukti-bukti bahwa teman-teman yang bekerja di Radio Hilversum sudah 
mengkhianati kepentingan Republik dan Indonesia Indonesia serta membudak 
Belanda demi uang? Kukira Republik dan Indonesia sebagai suatu rangkaian nilai, 
justru menjadi patokan umum bagi siapa saja dalam berkata dan bertindak. 
Khianat dan tidak khianat, membudak atau atau tidak, kukira ditakar dari 
rangkaian nilai-nilai ini juga adanya. Nasionalisme pun diukur dari rangkaian 
nilai-nilai ini. Termasuk  bagi orang Indonesia yang berada di Indonesia. Yang 
berada di Indonesia sekali pun bukan gantang penakar kebenaran dan nilai 
republiken serta berkindonesiaan.


Sebelum pergi ke tempat tidur masing-masing, Tossi mengingatkan Puteri, anak 
sulungnya untuk membangunkan aku pada jam delapan pagi. Kukenal Puteri sejak ia 
masih bocah dan bayi. Sekarang ia sudah jadi gadis remaja. Di hadapan  Puteri 
yang masih kuingat suara tangis bocahnya, aku merasa diriku sudah sangat jompo 
dan betapa cepatnya waktu berlalu. Terasa juga bahwa sesungguhnya aku kurang 
pandai menggunakan serta memahami arti waktu. "Kita tidak berdaya di depan 
waktu", ujar Tossi menanggapi pernyataanku. Serta-merta aku teringat akan 
Meldiwa, anakku yang terus juga mendewasa sedangkan aku tidak ingin ia menjadi 
manusia dan penduduk negeri penambah barisan pengangguran atau pun bajingan. 
Boleh dan kurelakan anakku jadi bajingan, tapi jangan jadi bajingan tanggung. 
Kalau jadi bajingan, jadilah bajingan besar. Tidak tanggung dan standar tinggi 
adalah harapanku pada anakku. Walau pun aku sadar benar  antara harapan dan 
kenyataan selalun ada jarak. Tapi tanpa harapan, kehidupan akan seperti bumi 
tanpa matahari , bulan dan bintang. Inilah "Lullaby"ku untukmu, anakku, walau 
pun kehidupan nyata bukanlah suatu lagu "ninabobo".***   


Paris-Amsterdam, Agustus 2006
--------------------------------------------
JJ. Kusni


[Bersambung...]

[Non-text portions of this message have been removed]



______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke