PERLUKAH KOTER DIPERTAHANKAN..?
oleh : Herri Permana Komando Teritorial (Koter) adalah doktrin dan sistim pertahanan yang dipakai TNI khususnya sejak masa Orde Baru.Sistim ini memecah dan menyebar satuan TNI dalam unit yang kecil-kecil sampai ke pelosok. Salah satu hal yang konyol dari doktrin Koter TNI adalah menempatkan kesatuan TNI Angkatan Darat sebagai satuan utama pertahanan RI sementara Angkatan Udara dan Angkatan Laut hanya sebagai pendukung.Dan ini dimuat dalam GBHN 1983 dimana kemudian komando teritorial AU (Kodau) dan AL (Kodal) dibubarkan. Padahal negara kita adalah negara kepulauan dengan wilayah yang terpencar.Semua operasi militer di Indonesia bisa dipastikan akan selalu membutuhkan operasi pendaratan maritim ataupun lintas udara. Di negara-negara kepulauan lain kesatuan AU ditambah AL selalu lebih besar daripada AD contohnya Inggris yang memiliki kekuatan 130.000 AD, 67.000 AL dan 90.000 AU lalu Jepang dgn 120.000 AD, 55.000 AL dan 75.000 AU, atau Filipina dgn 68.000 AD, 25.000 AL dan 21.000 AU, Thailand : 170.000 AD, 60.000 AL dan 52.000 AU, Malaysia: 80.000 AD, 12.000 AL dan 14.000 AU, Australia: 30.000 AD, 17.000 AL dan 21.000 AU (World Defence Almanac 1999-2000): sementara di Indonesia justru tampak timpang sekali dimana 340.000 AD berbanding dengan 38.000 AL dan 25.000 AU. Jadi doktrin yang menempatkan kesatuan darat sebagai kesatuan pertahanan utama negara sama sekali bertentangan dengan kondisi geografis Indonesia. Salah satu pertimbangan utama dari pemilihan sistim Koter ini adalah pada murahnya biaya pertahanan.Tapi ini pun relatif karena sesungguhnya justru dengan koter dengan tanpa disadari biaya pertahanan kita justru menjadi boros dan membengkak. Biaya pembentukan satu batalyon AD memang jauh lebih murah daripada membangun 1 skuadron pesawat pemburu atau pengadaan satu buah kapal fregat.Tapi biaya pemeliharaannya rutinnya menjadi sangat mahal , anggap saja gaji seorang prajurit 1 juta per bulan jadi untuk memelihara 1 batalyon reguler AD diperlukan biaya sekitar 1 miliar rupiah per bulan hanya untuk gaji belum lagi makan , biaya akomodasi dll.Dan dana yang dikeluarkan tersebut tidak sebanding dengan apa yang didapatkan. Satu skuadron pesawat tempur atau sebuah fregat berpeluru kendali memiliki cakupan wilayah operasi yang jauh lebih luas daripada satu batalyon AD yang hanya bisa mengontrol wilayah maksimum 100 KM2.Jadi tentu saja akan memerlukan banyak sekali pasukan darat bila kita hendak mengontrol dengan ketat wilayah negara kita. Dan pasukan reguler AD Indonesia sebenarnya lebih mirip dengan milisi atau geriliawan daripada sebuah pasukan reguler dari negara yang berdaulat.Bukan hanya dari sisi persenjataan tapi yang paling penting adalah dari sisi kedisiplinan, moral dan kesiapan tempur personel TNI yang juga sangat rendah. Pada saat kerusuhan di daerah-daerah misalnya terlihat bahwa pasukan dari kodam-kodam bersangkutan tidak mampu untuk berbuat banyak, sehingga akhirnya harus dikirimkan pasukan dari Jawa untuk mengatasinya.Dari sisi ini saja sangat terlihat jelas bahwa dari ratusan ribu personel TNI AD hanya sekitar 10-30 % nya saja yang siap tempur.Pasukan TNI AD yang memiliki persenjataan dan pelatihan yang memadai hanya dari Kostrad ditambah beberapa batalyon di Jawa dan Sumatera. Dan untuk mengatasinya akhirnya TNI pada masa Jendral Wiranto membentuk satuan-satuan tempur dari tiap kodam masing-masing satu batalyon yang kemudian diberi nama Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC).Pasukan ini akhirnya dibubarkan dan dibentuk batalyon-batalyon baru dengan spesifikasi Raiders dari tiap Kodam yang dilatih selama berbulan-bulan di Batujajar sebelum akhirnya diterjunkan dalam operasi militer di Aceh bersama kesatuan TNI yang siap tempur lainnya yaitu dari Kostrad dan Marinir.Lucunya Kodam I Bukit Barisan yang (waktu itu) juga membawahi wilayah Aceh memiliki pasukan terbanyak diantara Kodam-kodam lainnya . Itulah sebabnya penanganan konflik di Indonesia terjadi berlarut-larut , ini karena pasukan kita tidak siap tempur sehingga tidak bisa diterjunkan sewaktu-waktu dengan cepat.Tapi sebenarnya ini pun tidak bermasalah kalau saja moral dan kedisiplinan prajurit TNI tinggi. Pada masa pemberontakan PRRI-Permesta pernah dilakukan operasi penerjunan pasukan dari udara dimana pasukan yang diterjunkan itu sama sekali tidak pernah diajarkan dan dilatih untuk penerjunan dari udara sama sekali, mereka hanya diberi teori beberapa jam sebelum operasi dan sejarah mencatat operasi ini sukses besar karena para pemberontak PRRI-Permesta yang mendapatkan persenjataan dan sumber intelejen dari Amerika Serikat tidak menyangka mendapat serangan dari udara karena TNI waktu itu belum memiliki kesatuan Linud.Jadi bukan saja pasukan PRRI-Permesta tersebut dikalahkan tapi juga sejumlah senjata canggih yang di drop oleh Amerika berhasil dirampas. Tapi apakah kisah seperti ini akan bisa terulang di masa sekarang..? Dan inilah yang menjadi pertimbangan apakah sistim Koter yang kita pakai saat ini layak untuk dipertahankan. Karena sistim Koter ini bukan saja memboroskan biaya pertahanan kita tapi juga berimbas pada turunnya moral , kedisiplinan dan kesiapan tempur prajurit TNI.Dan ini sama sekali tidak bisa ditoleransi. Para Jendral dan Perwira kita lebih banyak mengurusi hal-hal yang di luar masalah Pertahanan.Dan akibatnya pengawasan, pembinaan dan pelatihan bagi personel-personel TNI menjadi terabaikan.Contoh rendahnya moral dan kedisiplinan dari personel TNI AD bukan saja terlihat dari seringnya berita mengenai ulah prajurit TNI yang membuat malu seperti jadi centeng , tukang palak sampai bikin keributan setiap ada keramaian 17 Agustusan atau juga dari tingginya angka prajurit yang disersi . Tapi yang paling parah adalah pada kasus konflik antar angkatan yang terjadi beberapa tahun belakangan ini.Dari peristiwa-peristiwa ini kita bisa melihat bahwa kedisiplinan prajurit TNI dalam hal penyimpanan , pengambilan dan pemamfaatan senjata sudah sangat rendahnya.Kasus di Pontianak misalnya mereka menyerbu markas Brimob dengan Panser.Ini bukan senjata ringan lagi ini masuk persenjataan berat yang harusnya prajurit kelas rendahan tidak bisa seenaknya begitu saja mengeluarkannya dari tempat penyimpanan, dan yang lebih konyolnya lagi mereka kalah, beberapa dari mereka termasuk sang pengemudi panser tewas tertembak.Kasus Linud 100 PS pun sama saja , ini adalah salah satu batalyon elite TNI AD tapi dari sisi moral dan disiplin sangat memprihatinkan sekali seorang sersan bahkan lebih dihormati dan dituruti daripada perwiranya dan konyolnya lagi dalam konflik dengan Brimob ini lagi-lagi mereka kalah. Dan ini bukan masalah kecil tapi sebuah masalah yang sangat serius.Bila prajurit kelas rendahan bisa dengan seenaknya mengambil senjata dari tempat penyimpanan lalu menggunakannya dengan tidak semestinya apalagi dengan Jendralnya.Bila ketidakdisiplinan ini tidak segera diperbaiki maka bisa saja prajurit berpangkat Kopral atau Sersan melakukan kudeta di Indonesia. Tapi apa yang dilakukan petinggi TNI.Mereka hanya cuci tangan dan berkilah bahwa itu semua hanya perbuatan "oknum".Padahal perilaku prajurit TNI memperlihatkan sampai sejauh mana pembinaan yang ia dapat dari intitusi TNI sehingga perbuatan dari "oknum" ini sesungguhnya adalah cerminan kegagalan dan kekurangan yang fatal dari pembinaan anggota di tubuh TNI.Dan ini sangat serius. Kurangnya persenjataan atau kurangnya dana untuk latihan mungkin bisa ditolelir.Tapi kurangnya moral dan disiplin prajurit sama sekali tidak boleh ditolelir.Dan para perwira harus bertanggung jawab penuh atas masalah ini , karena prajurit tidak pernah salah yang bersalah adalah para jendral. Doktrin Perang Kepulauan Para petinggi TNI kita dalam menghadapi kritikan bahayanya konsep pertahanan negara kita selalu berkilah dengan penuh percaya diri bahwa kalau musuh menyerang mereka mungkin bisa menang di laut dan udara tapi di darat nanti dulu.Tapi dengan menyimak paparan diatas rasanya kita pun pesimis kalau matra darat bisa menahan invasi asing.Karena bukan saja dari sisi peralatan yang ketinggalan zaman dimana sebagian besar peralatan tempur kita adalah peninggalan jaman Orla bahkan Perang Dunia II , jangankan panser atau artileri bahkan truk tahun 50an pun masih digunakan di AD kita, tapi juga dari sisi moral , disiplin dan kesiapan tempur pun masih dipertanyakan. Konsep perang geriliya pun perlu dipertanyakan karena konsep koter kita sesungguhnya hanya konsep koter banci.Konsep koter seharusnya memerlukan partisipasi aktif maupun pasif dari warga sipil dalam pertahanan negara.Tapi di Indonesia hal itu tidak terlihat , konsep pertahanan kita mengandalkan 100 % hanya dari kesatuan regular militer, sementara sipil tidak dilibatkan sama sekali.Dan ini bukan saja bertentangan dengan UUD 1945 tapi juga menandakan rapuhnya sistim pertahanan kita.Padahal dalam konsep perang geriliya kesatuan militer harus menyatu dengan rakyat. Dan ini semakin menunjukkan bahwa sesungguhnya konsep koter kita bukan disusun untuk membangun pertahanan negara yang kuat , melainkan hanya penterjemahan dari konsep militer negara fasis dimana militer menjadi alat dari kekuasaan untuk mengintrol rakyat.Konsep koter kita memandang rakyat sebagai potensi ancaman bukan sebagai mitra untuk mempertahankan kedaulatan negara. Kalaupun kesatuan regular AD kita kuat benarkah kita akan mempu menahan serbuan pasukan asing.Dalam sejarah perang , jarang sekali sebuah negara mampu mempertahankan diri setelah kekuatan laut dan udaranya lumpuh. Dalam perang 7 tahun antara Inggris dan Prancis misalnya yang merupakan dua negara superpower pada masa itu , Inggris berhasil mencatat kemenangan besar , sejumlah jajahan Prancis seperti Canada dan India jatuh ke tangan mereka sehingga Inggris menguasai 2/3 dunia.Perang 7 tahun ini adalah perang strategi maritim v.s perang darat yang terbesar dalam sejarah.Dalam perang ini Inggris memfokuskan pada kekuatan angkatan lautnya sementara Prancis pada kekuatan angkatan darat, dan Inggris mencatat kemenangan karena dengan dominasinya di lautan mereka berhasil memotong jalur supply Prancis sehingga daerah jajahannya pun dengan mudah dapat direbut. Di Jawa sendiri Belanda yang waktu itu mendukung Prancis juga memakai strategi perang darat dengan membangun jalan raya pos antara anyer ke panarukan yang memakan banyak tenaga kerja paksa Indonesia tewas.Dan sejarah mencatat Belanda ternyata juga tidak mampu bertahan lama menghadapi gempuran Inggris yang unggul di lautan. Dan melihat rapuhnya kekuatan AL dan AU kita dimana bisa diperkirakan akan hancur dalam hitungan hari bahkan jam saja mampukah AD kita bertahan pula.Dengan kondisi geografis Indonesia yang terpencar-pencar mampukah militer kita bertahan apabila jalur supply dikontrol oleh musuh. Untuk membangun kekuatan milisi memerlukan waktu.Untuk sekedar dasar penggunaan senapan memerlukan setidaknya 3-7 hari , sementara kemampuan militer dasar memerlukan waktu 2-4 minggu.Apakah cukup waktu yang tersedia untuk membentuknya. Itulah kesalahan fatal dari konsep pertahanan kita yang menyepelekan kekuatan laut dan udara dan terlalu mengagungkan AD padahal kita adalah negara kepulauan.Untuk apa kita memelihara sekian ratus ribu pasukan darat dengan mengorbankan matra laut dan udara tapi dengan kemampuan tempur yang di bawah standar. Bila pasukan reguler AD kita hanya memiliki kemampuan tempur seperti sekarang untuk apa negara menghabiskan uang untuk menggaji mereka. Membangun kekuatan AD bisa dilakukan dengan cepat hanya dalam hitungan hari dan minggu tapi membangun kekuatan AU dan AL memerlukan waktu yang lama dan perancangan yang cermat.Itulah sebabnya kenapa matra udara dan laut harus mendapat prioritas dalam pembangunan kekuatan pertahanan sebuah negara. Apalagi dengan kondisi geografis Indonesia kekuatan AL dan AU yang kuat mutlak diperlukan.Seluruh invasi asing terhadap wilayah kedaulatan Indonesia bisa dipastikan sebagian besarnya akan melalui jalur laut dan udara.Karena itulah konsep pertahanan kita haruslah menitikberatkan pada kemampuan untuk menahan dan menghancurkan atau meminimalisir kekuatan maritim dan udara lawan sebelum mereka mencapai wilayah darat kita. Dan kalaupun tidak mampu menang kekuatan laut dan udara harus bisa menahan lawan selama mungkin untuk memberi waktu bagi kekuatan darat menyusun kekuatan. Dan invasi besar-besaran hanya mungkin dilakukan melalui laut.Karena itulah konsep pertahanan kita haruslah mengandalkan konsep pertahanan maritim. Seluruh matra harus disiapkan untuk menghadapi invasi dari laut.Pesawat-pesawat tempur yang dibeli dan akan dibeli haruslah memiliki kemampuan untuk mengangkut missile anti kapal.Dan konsep pertahanan darat pun harus mengandaikan bahwa pulau-pulau kita adalah sebuah kapal besar sehingga arsenal peralatan tempur darat harus juga terfokus ke laut misal dengan pengadaan artileri pertahanan pantai atau pengadaan missile anti kapal yang diangkut truck atau helikopter yang berbasis di darat. Dan yang terpenting adalah kekuatan reguler AD harusnya kembali menjadi divisi-divisi tempur ditambah sejumlah resimen tempur dengan fungsi khusus dimana masing-masingnya mampu untuk bertempur secara mandiri di wilayahnya masing masing sekaligus memiliki juga kemampuan mobilitas yang tinggi apabila diperlukan untuk konflik di luar wilayahnya. Wilayah pertahanan kita sebaiknya dibagi menjadi 3-4 kompartemen pertahanan yang didasarkan oleh Alur Laut Kepulauan Indonesia, dimana kekuatan matra AL , AU dan AD terintegrasi menjadi satu dalam kesatuan wilayah, jadi bukan lagi didasarkan oleh pembagian wilayah pemerintahan sipil seperti sekarang.Dimana fokus utama pertahanan kita diarahkan pada pengamanan dan kontrol terhadap alur-alur laut kepulauan kita bukan lagi pada pengamanan wilayah darat seperti yang terjadi sekarang. Kekuatan teritorial lebih baik diberikan pada kesatuan-kesatuan cadangan yang terdiri dari wajib militer dan pasukan suka rela yang hanya bertugas dalam jangka pendek.Keberadaan pasukan-pasukan cadangan ini bisa menghemat banyak biaya untuk gaji dll sekaligus menyediakan banyak rakyat sipil terlatih yang bisa dimobilisasi dengan cepat apabila terjadi invasi dari negara asing. Tapi yang penting adalah apapun konsep pertahanan yang kita pilih dan kita buat harusnya didasarkan pada konsep pertahanan terhadap potensi ancaman kedaulatan negara bukan lagi hanya menjadikan militer sebagai alat kontrol kekuasaan terhadap rakyat. ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
