--- In [EMAIL PROTECTED], "Muhammad Rizqi Ramadlan" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:

BAYAN DEWAN SYARI'AH PUSAT PKS
TETAP PARTAI DA'WAH, MESKI PKS TERUS DIFITNAH

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillahirabbil alamina wasshalatu'ala sayyidil mursalin, 
nabbiyina Muhammadin wa'ala alihi washahbihi ajma'in. Wa ba'du.

Fenomena partai da'wah PKS dalam blantika perpolitikan nasional telah 
mengundang banyak hal. Ada ketercengangan, ada pertanyaan, ada pula 
kekhawatiran bahkan kecurigaan. Menghadapi laju PKS di ranah politik 
sekaligus ranah da'wah, berbagai pihak melakukan berbagai ragam cara. 
Bertambah banyak yang simpati lalu mendukung, tapi tidak sedikit yang 
menebar halang rintang dengan langkah politis, bahkan ada yang 
menebar kedustaan dengan isu keagamaan. Cara yang terakhir ini 
berulangkali dimunculkan berbarengan dengan perjuangan politik PKS 
melalui pemilihan legislatif dan pilkada. Sebagai partai da'wah yang 
berfungsi memberikan pencerahan kepada masyarakat luas, PKS harus 
menjelaskan siapa ia sebenarnya. Sesuai AD/ART partai, lembaga yang 
berkompeten menjelaskan pandangan dan sikap keagamaan PKS adalah 
Dewan Syari'ah. Sedangkan pandangan atau sikap keagamaan kader PKS 
secara individual tidak mencerminkan pandangan dan sikap partai. 
Berikut ini pandangan resmi Dewan syari'ah Pusat PKS tentang beberapa 
masalah keagamaan yang telah dipolitisir.

1. PKS dan Ahlussunah Wal Jama'ah
Sebagai partai da'wah PKS berpegang teguh pada aqidah Ahlussunah Wal 
Jama'ah dengan sumber rujukan utama sebagaimana termaktub dalam 
Ittijah Fiqih PKS, berupa Mashdir Asasiyah ( Sumber hukum Primer ) 
yang disepakati oleh Jumhur Ahlussunah Wal Jama'ah, yaitu Al-Qur'an 
yang suci, ijma' dan qiyas.

2. PKS dan 'Wahabisme'
Tidak ada hubungan antara PKS dengan 'Wahabisme', yaitu gerakan yang 
dipimpin oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahab di negeri Hijaz yang 
bertujuan untuk memurnikan 'aqidah dari Takhayul, Bid'ah dan Khurafat 
(TBC), bekerja sama dengan Malik Abdul Azis yang menggunakan berbagai 
cara yang sifatnya halus sampai yang radikal. Jelas tidak ada 
hubungan historis karena PKS lahir pasca reformasi 1998. Tidak ada 
hubungan struktural organisatoris antara PKS dengan organisasi 
keagamaan di Saudi Arabia. Bahwa di antara pimpinan PKS pernah studi 
di Saudi Arabia, hal yang sama berlaku juga pada ormas Islam yang 
lain. Bahkan ada yang pendirinya pernah mukim di sana. Tapi tidak 
lantas ormas-ormas tersebut boleh dituduh sebagai 'Wahabiyah'.

3. Kolektivitas dan Keberagaman PKS
Sebagai partai da'wah yang berprinsip kejama'ahan, maka sifat 
kolektifitas menjadi ciri PKS yang mewadahi keberagaman, baik dalam 
rekruting kader maupun pandangan keagamaan dan politiknya.

- Ketua Majelis Syura PKS, KH. Hilmi Amminuddin alumni Universitas 
Islam Madinah, dekat dengan kalangan Persis. 

- Duta Besar RI di Saudi Arabia, DR. Habib Salim Segaf Al Jufri 
adalah seorang habib cucu pendiri Al Khairat dan salah satu seorang 
pendiri Partai Keadilan. Beberapa Habib yang lain fungsionaris PKS 
seperti Habib Abu Bakar Al Habsy, Habib Nabil Al Musawwa, dan Habib 
Fahmi Alaydrus.

- Presiden Pertama Partai Keadilan, DR. H. Ir. Nurmahmudi Ismail, 
MSc. Lulusan Amerika berlatang belakang Pesantren di Kediri yang 
kental ke NU-annya.

- Presiden kedua Partai Keadilan PKS yang kini ketua MPR RI, DR. H. 
M. Hidayat Nurwahid, MA lulusan Universitas Islam Madinah, berlatar 
belakang Muhammadiyah.

- Presiden PKS yang sekarang, Ir. H. Tiffatul Sembiring Alumni 
Sekolah Tinggi Teknik di Indonesia dan kursus Manajemen Politik di 
Pakistan yang punya latar belakang organisasi di PII.

- Ketua MPP-nya, Drs. H. Suharna Surapranata, MT lulusan UI dan 
Jepang berlatar belakang aktivis masjid kampus.

- Ketua Dewan Syari'ah PKS, H. DR. Surahman Hidayat, MA tamatan 
Universitas Al-Azhar Mesir yang bermahzhab Syafi'i, latar belakangnya 
NU dan PUI, sebelumnya PII dan HMI.

- Beberapa anggota Dewan Syari'ah Pusat juga berlatar belakang NU 
seperti, KH. DR. Muslih Abdul Karim, MA murid kesayangan KH. Abdullah 
Faqih, Langitan. H. Bukhari Yusuf, MA, sekretaris DSP, murid 
kesayangan KH. Noer Ahmad S ahli ilmu falak NU. H. Bakrun Syafi'i, MA 
Alumni Pesantren Al Munawwir, Krapyak Yogyakarta adalah murid 
kesayangan KH. Ali Ma'shum. H. Amang Syarifuddin, Lc,M.Si Alumnus 
Pesantren NU Cipasung, Tasikmalaya yang sering dipuji sebagai murid 
nomor 1.

- Beberapa Ulama seperti Prof. DR. KH.Didin Hafidhuddi, MS (Ketua 
BAZNAZ), DR. Ahzami Samiun, MA (putera Tokoh NU, KH.Samiun Jazuli), 
Prof.DR.Ahmad Syathori (Alumni Pesantren babakan Ciwaringin dan 
Buntet), adalah tempat bertanya dan rujukan kader PKS.

4. Furu'iyah di PKS
Da'wah PKS menekankan pada tema-tema besar yang bersifat prinsip 
(qadhya ushuliyah). Ini supaya da'wah PKS bersifat mempertemukan 
mempersatukan (jami'ah-tajmi'ah) dan tidak menimbulkan perselisihan/
perpecahan (tafriqiyah). Ittijah Fiqh (Orientasi Fiqih) Dewan 
Syari'ah PKS mendahulukan fiqh persatuan (i-tilaf) daripada fiqh 
perbedaan (ikhtilaf). Menggali dan mengambil faidah dari khazanah 
fiqhiyah yang ada dengan prinsip "Almuhafazhatu'alal qadimish shalih 
wal akhdzu bil jadidil ashlah' mengambil pendapat klasik yang masih 
cocok dan pendapat baru yang lebih maskahat. Tapi dalam praktik 
keseharian memperhatikan harmoni dengan mazhab yang banyak 
dipraktikan yaitu mazhab Syafi'i. Mengedepankan cara kompromi 
(thariqatul jam'i) atas tarjih, dan menggunakan prinsip keluar dari 
khilafah (khuruj'anil khilaf) sejauh dimungkinkan. Kemudian terhadap 
perbedaan dalam masalah cabang (furu') mengedepankan sikap toleran 
(tasamuh). Prinsip yang dipegang "NATA'AWANU FIMA ITTAFAQNA'ALAIHI WA 
YA'DZURU BA'DHAN FIMA IKHTALAFNA FIHI" bekerja sama dalam hal-hal 
yang disepakati dan saling menghormati dalam hal-hal yang 
diperselisihkan.

5. Sikap PKS dalam masalah Khilafiyah
Berikut ini beberapa masalah khilafiyah/furu'iyah yang sering 
dijadikan alat untuk menfitnah PKS dan pandangan resmi Dewan Syari'ah 
Pusat PKS tentang itu.

a. Do'a Qunut
Bagaimanapun do'a qunut status hukumnya adalah sunat. Yang disepakati 
adalah do'a qunut dalam shalat witir, qunut nazilah dalam shalat 
fardhu yaitu memohon tolak bala dari kaum muslimin dan mendo'akan 
bencana bagi musuh Islam. Adapun qunut subuh tetap saja merupakan 
masalah khilafiyah. Masalah pilihan, paling tinggi porsinya antara 
rajih dan marjuh, bukan antara sunnah dan bid'ah. Jadi tidak ada 
bid'ah dalam qunut shalat fajar. Dan mengamalkan yang marjuh bisa 
menjadi pilihan jika membawa kemaslahatan dalam mu'amalah. Jadi bukan 
sikap pilihan plin plan, tapi cerminan sikap bijak dan cerdas. 
Secerdas Imam Muhammad bin Al Hasan Al Syaibani murid Imam Abu 
Hanifah yang melakukan qunut ketika ziarah ke mesir dan menjadi Imam 
shlat shubuh. Ini karena beliau menghormati Imam Syafi'i imam madzab 
yang dominan di Mesir. Dan sebijak Imam Syafi'i yang tidak qunut 
shubuh ketika beliau ziarah ke Imam Muhammad di Baghdad. Dalam 
pengamalan di acara-acara PKS kadang qunut shubuh kadang juga tidak, 
tergantung imamnya. Dan itu tidak pernah ada masalah.

b. Membaca Do'a dan Tahlil untuk yang meninggal
Pada dasarnya membaca do'a untuk mayit dianjurkan (sunat). Berkat 
ikatan 'aqidah tauhid tidak terputus hubungan sesama muslim dengan 
yang sudah mati sekalipun. Dalam Al-Qur'an ada do'a "Rabbanagfirlana 
wa li-ikhwanina alldzina sabaquna bil imani, wala taj'al fi qulibina 
ghilan lilladzina amanu...rabbana innaka raufurrahim" (QS 59:10). 
Menghadiahkan bacaan surah al fatikhah atau lainnya untuk mayit, atau 
mewaqafkan/menshadaqahkan sesuatu atas nama atau menujukan pahalanya 
untuk mayit merupakan amal shalih yang diterima, sesuai pendapat 
jumhur ulama. Istighfar, tasbih, tahmid dan tahlil merupakan bagian 
dari keseluruhan do'a yang dibaca. Waktu berdo'a untuk mayit tidak 
harus dibatasi pada waktu atau hari-hari tertentu, dan tidak boleh 
disyaratkan, sehingga pilihan waktunya lebih luang dan leluasa sesuai 
kesempatan atau kemampuan..

c. Perayaan Maulid Nabi SAW
Perayaan memperingati maulid Nabi Muhammad Saw menurut sebagian 
riwayat, digagas oleh Sultan Salahuddin al Ayyubi di Mesir dalam 
rangka meningkatkan ruhul jihad umat Islam. Sampai hari ini 
Universitas Al Azhar sendiri mensyi'arkan peringatan maulid Nabi Saw. 
Bagi kepala pemerintahan seperti Sultan Salahudin, hal itu merupakan 
kebijakan yang sesuai syari'ah (siyasah syari'ah), yang didefinisikan 
Imam Ibnu Uqail sebagai perbuatan yang dilakukan karena lebih 
maslahat bagi masyarakat dan lebih menghindarkan mereka dari 
mafsadat, meskipun tidak pernah disabdakan atau dicontohkan oleh Nabi 
Saw. Adapun bagi masyarakat muslim, peringatan maulid Nabi Saw 
dipertimbangkannya adalah semata-mata kemaslahatan (mashalah 
mursalah). Dasar pertimbangan maslahat ini juga yang menyeleksi ragam 
acara yang dipandang membawa maslahat. Tentu saja dalam konteks ini 
ada ruang bagi tradisi dan kreasi yang baik, sehingga ada variasi 
dari tempat ke tempat lain dan dari waktu ke waktu yang lain. Jika 
dibarengi niat yang lillah, untuk meninggikan Dinullah dan tidak ada 
sesuatu yang melanggar syari'ah dalam mata acaranya, insyaAllah 
bernilai ibadah. Di lingkungan PKS, biasa diadakan peringatan maulid 
Nabi Saw oleh DPP maupun struktur di bawah. Bahkan dianjurkan agar 
pelaksanaannya bekerja sama dengan masjid, lembaga keagamaan atau 
masyarakat sekitar. Para Kepala pemerintahan kader PKS biasa 
memprakarsai atau mensponsori para Da'i atau asatidz kader PKS biasa 
menjadi penceramah dalam peringatan ini.

d. Yasinan
Disebutkan dalam sebuah riwayat Imam Ahmad bahwa Surah Yasin 
merupakan qalbunya al-Qur'an. Membacanya merupakan ibadah. Disepakati 
aturan membacanya di samping orang yang sakit parah. Boleh dibaca 
untuk pengobatan dengan ruqyah syar'iyah. Boleh membacanya untuk yang 
sudah meninggal, menurut jumhur ulama. Sejauh ada pendapat yang 
membuka peluang amal adalah tidak bijak menutupnya bagi siapa yang 
ingin melakukannya. Waktu membacanya luas, boleh siang apalagi malam 
dan pada waktu-waktu yang khidmat. Tidak perlu dibatasi waktu 
tertentu. Pertimbangannnya adalah kesempatan dan kekhidmatan. 
Membiasakan acara membaca al-Qur'an atau memilih surat-surat 
tertentu, insya Allah merupakan 'adah shalihah atau tradisi yang 
baik. Memilih surat tertentu untuk dilazimkan dibaca, bukan karena 
mensyaratkan atau membatasi, tapi karena lebih menyukainya atau lebih 
familiar, insya Allah merupakan kabajikan, semoga Allah mempertemukan 
pembacanya dengan surat yang dicintainya.

Secara umum, merupakan kebijaksanaan dalam da'wah PKS untuk 
menghidupkan sunnah yang telah ditinggalkan (ihyaul sunnah al 
mahjurah) dan tradisi Islami yang menyemarakkan syiar Islam sebagai 
cerminan ketaqwaan.

Melalui Bayan ini kami serukan kepada segenap pecinta kebenaran 
dengan semangat iman dan keadaban, agar tidak termakan oleh fitnah 
dan hasutan baik lisan maupun melalui selebaran gelap yang menuduh 
PKS adalah Wahabi dan Bukan Ahlusunnah Al Jama'ah. "Berbuat dusta dan 
menyebarkannya adalah dosa besar" (HR Bukhori)

Hasbunallah wani'mal wakil, wahuwal muwaffiq ila aqwamith thoriq


Jakarta, 21 Syawal 1529/21 Oktober 2008

Dewan Syari'ah Pusat
Partai Keadilan Sejahtera

KH. DR. Surahman Hidayat, MA
Ketua

(Dikutip Dari Koran Republika dan Pikiran Rakyat, Tgl 23 Oktober 2008)

--- End forwarded message ---


Kirim email ke