http://www.dutamasyarakat.com/1/02dm.php?mdl=dtlartikel&id=8269
Nahdliyin
Rabu, 24 Desember 2008
Indonesia Pemimpin Islam di Asia Tenggara
Gus Dur Prihatin Generasi NU Lupa Tradisinya
JAKARTA ? Mantan Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur 
menilai keberadaan Islam di Indonesia dengan tradisi dan interpretasinya 
terhadap ajaran Islam telah menempatkannya menjadi pemimpin di kawasan ini.

Hal ini dikatakannya ketika membuka seminar Culture, Gender and Human 
Right yang diselenggarakan oleh Fatayat NU dan The United Nations 
Population Fund (UNFPA) di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Mantan Presiden RI ini menambahkan, pemeluk Islam di Indonesia telah 
mampu melakukan reinterpretasi terhadap ajaran Islam disesuaikan dengan 
kondisi lokal tanpa mengubah substansi ajarannya. Hal ini berbeda dengan 
Islam yang berkembang di Arab yang berakar dari budaya di sana.

?Mana ada di dunia ini ada kiai yang mau salaman dengan perempuan, 
Kenapa? Karena kita lebih tahu daripada orang Arab yang menganggapnya 
ada unsur seksual. Kalau di sini, ini sekedar penghormatan,? katanya 
memberi contoh.

Kemampuan mengintepretasikan teks Al-Quran dan Hadits juga dilakukan 
para kiai NU agar tetap kontekstual dengan zamannya. Ia mencontohkan 
peran KH Bisri Syansuri, Rais Aam PBNU era 1970-an yang mendukung 
program KB untuk mengatur kelahiran anak demi mendapatkan keturunan yang 
berkualitas. ?Nabi memang membanggakan keturunanya yang banyak, tapi apa 
yang goblok-goblok?? tanyanya.

Karena itulah, para kiai akhirnya berkesimpulan bahwa program KB yang 
dimaknai sebagai pengaturan kelahiran didukung dan sukses berkat 
dukungan para ulama sehingga satu keluarga yang dahulu punya 10-15 orang 
anak sekarang hanya memiliki 1-4 anak.

Menurutnya, secara geografis, Islam dapat dibagi dalam enam wilayah yang 
meliputi pemeluk Islam di Sub Sahara Afrika Hitam, Arab dan Afrika 
Utara, Turki dan Persia, Asia depan dan Selatan, Asia Tenggara dengan 
pusat di Indonesia serta Islam di masyarakat Industri seperti Jepang, 
Korea, Amerika Utara dan Eropa Barat.

Mengutip sebuah buku, Gus Dur mengatakan, diperkirakan para pertengahan 
abad 21, separuh dari populasi di Eropa dan Amerika Utara merupakan 
pemeluk Islam.

Sayangnya, di tengah-tengah komunitas yang sudah maju tersebut, banyak 
imigran dari Arab dan Timur Tengah yang tinggal disana masih menggunakan 
cara berfikir yang sangat tradisional.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Dur juga menyatakan keprihatinan terhadap 
anak muda NU yang sudah tidak mau menjalankan tradisi. ?Anak-anak muda 
NU sekarang sudah tidak mau lagi ziarah kubur,? tandasnya. (nuo)

Kirim email ke