Vox Pupuli yang Terlupakan 

Setelah perhelatan akbar pemilu untuk memilih anggota DPR,DPD,dan DPRD,kini 
suara rakyat tampak “hilang”dari peredaran. Ibarat amblas ditelan bumi. 

Hiruk-pikuk politik terlalu ramai oleh komunikasi politik para elite yang mirip 
dagelan. Sodok kanan, sikut kiri, silaturahmi politik terus berlanjut dengan 
agenda politik dan kepentingan sendiri-sendiri. Dari sekian banyak berita 
tentang koalisi politik itu,tak satu pun tercetus gagasan-gagasan cemerlang 
dari pihak-pihak yang akan mencalonkan diri sebagai calon presiden dan wakil 
presiden.
Tak satu pun elite-elite partai politik memaparkan visi dan misinya dalam 
membangun pemerintahan yang kuat (minus baik dan bermanfaat). Untuk apa 
pemerintahan yang kuat—jika hanya mengamankan agenda politik partai,berbagibagi 
kekuasaan agar pemerintahan tidak digoyang ditengah jalan. 
Pemerintahan yang kuat seperti apakah yang mereka kehendaki? Apakah 
pemerintahan yang hanya didukung oleh parlemen semata, agar kelak presiden 
terpilih didak dimakzulkan di tengah jalan? Ataukah yang hendak dicapai adalah 
pemerintahan yang kuat sebagai akibat pelangi koalisi.
Kenapa para elit partai tidak mencoba untuk mengagas pemerintahan yang memiliki 
manfaat bagi rakyat. Saya kira para politisi kita sudah keblinger karena 
idealnya pemerintahan yang kuat yang akan mereka bangun itu adalah pemerintahan 
yang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan persoalan bangsa dan tentu 
mensejahterakan rakyat. 
Dua hal itu nyaris tidak pernah terdengar dari pertemuan para elite yang 
“kemaruk” kekuasaan. Kita disuguhi fragmentasi politik, dinamika politik elite 
yang berubah dan dinamis,yang semrawut, tanpa kejelasan apa yang akan mereka 
ingin capai dan perjuangkan. 
Pertanyaannya, lalu diletakkan di manakah kepentingan rakyat, yang memiliki 
suara dan kedaulatan dalam politik? Tampaknya, dari agenda politik setelah 
pemilu yang diselenggarakan 9 April 2009, kepentingan rakyat ditaruh dalam 
laci—masih terkunci rapat dan entah kapan akan dibuka. 
Koalisi Miskin Konsep dan Gagasan 
Setiap pemerintahan yang dibangun, menurut hemat penulis, haruslah memiliki 
visi agar kehadirannya bermanfaat bagi rakyat yang memilihnya.Pertanyaan kita, 
apa yang akan ditawarkan dan diberikan oleh para pemimpin tersebut untuk 
rakyat? Dengan mudah itu dapat dilihat dari visi dan misi apa yang akan dibawa. 
Kita masih ingat, fenomena Obamania, begitu ketika namanya mencuat menjadi 
calon presiden AS, orang disentakkan dengan pikiran-pikirannya yang brilian 
untuk mengatasi krisis yang sedang melanda AS. Maka, baik Obama maupun MacCain 
berdebat tentang konsep ekonomi, pendekatan mengatasi krisis yang dialami dunia 
usaha, dan tentu kesejahteraan rakyat yang akan diberikannya.
Perdebatan itu langsung dapat didengar oleh rakyat sebagai pemilik kedaulatan. 
Tetapi hal itu tidak terjadi pada calon-calon presiden/wakil presiden kita saat 
ini.Karena itu,koalisi yang sedang digagas dan dibangun oleh partai politik 
dapat dikatakan sebagai koalisi yang miskin konsep dan gagasan. 
Bahkan koalisi yang dibangun cenderung hanya sekadar bagi-bagi kekuasaan,bukan 
untuk mencari jalan keluar bagi harkat dan martabat bangsa. Kecenderungan ini 
tampak dari ke-aku-an masing-masing partai yang hendak mengusung calon presiden 
dan calon wakil presiden. 
Partai-partai politik terjebak oleh kungkungan kepentingan politik yang 
sesaat,jangka pendek,dan kesan pragmatisme politik bahkan politik dagang 
sapi.Baju primordialisme kelompok masih lekat dan kuat, akibatnya logika-logika 
politik kelompok tidak dapat disingkirkan,sehingga arah dan kecenderungan 
koalisi hanya menjurus pada politik pragmatisme. 
Menimbang Calon Independen (Alternatif) 
Perilaku elite politik partai yang semakin hari menjauhkan diri dari 
kepentingan rakyat, cenderung mementingkan dan memaksakan kepentingannya 
sendiri agar dapat berkuasa, bukanlah perkembangan politik yang baik bagi 
demokrasi kita. Karena itu, ada baiknya menimbang kembali perlunya calon 
alternatif di luar partai-partai politik. Ada tiga alasan atas hal itu. 
Pertama,partai-partaipolitikterlalu dihantui oleh proses pengaderan yang 
instan, yang serbacepat dan kurang tersedianya proses berjenjang. Tentu ini 
lambat laun dapat menimbulkan krisis kepemimpinan dalam tubuh partai,dan 
berdampak pada krisis kepemimpinan nasional. Kedua, partai-partai politik 
cenderung dipenuhi oleh kepentingan politik jalur keturunan. 
Hampir setiap partai politik membawa jalur keluarga untuk menjadi pengurus 
jajaran partai,mulai dari anak,istri, menantu, dan keponakan bahwa adik ipar 
dan lain sebagainya.Kondisi ini tentu tidak kita harapkan,karena justru akan 
membawa bangsa ini kembali pada zaman tradisional. 
Ketiga, nuansa kekuasaan yang sedang dirancang bangun lebih banyak didominasi 
oleh kepentingan elite,dan cenderung melupakan kepentingan rakyat yang memiliki 
kedaulatan. Berita di media massa cetakdantelevisisetelah9 April2009 terlalu 
didominasi oleh perspektif eliteuntukberkuasa,danmelupakan kepentingan bangsa 
dan rakyat yang seharusnya yang lebih diutamakan. 
Ketiga alasan itu minimal dapat membuka ruang perdebatan ulang, patutkah calon 
independen dalam pemilihan presiden dan wakil presiden dibuka kembali. Walaupun 
memang sebelumnya masalah ini sudah dimentahkan oleh Mahkamah Konstitusi,namun 
ada baiknya isu ini mengemuka. 
Para elite itu setidaknya akan berusaha pula membuat program yang tak kalah 
menarik dari program- program para calon independen yang keukeuh ingin maju. 
Dengan itu, semoga bangsa ini tidak terjebak pada masalah yang sama, dan 
pertarungan keturunan figurfigur politik yang kini berseteru untuk kembali 
terulang pada periode lima tahun mendatang.(*) 
Moch Nurhasim 
Peneliti Pusat Penelitian Politik 
LIPI Jakarta 
 
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/233990/


my facebook:
http://id-id.facebook.com/people/Wahyudi-Yudi/1484406851


      Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke