http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/05/02/03234037/profesi..yang.terlupakan

Sabtu, 2 Mei 2009 | 03:23 WIB 
Aguk Irawan MN

Novel spektakuler Harry Potter tidak akan bisa dinikmati jutaan penggemar novel 
di Indonesia bila tanpa melalui proses penerjemahan. Berita-berita 
internasional yang berasal dari berbagai belahan dunia bisa dinikmati pembaca 
dalam negeri juga tidak terlepas dari jasa penerjemah. 

Bisa dibayangkan, tanpa penerjemahan buku-buku berbahasa Inggris atau 
kitab-kitab berbahasa Arab, masyarakat akan kesulitan mengerti isi dari suatu 
buku atau kitab.

Namun, tahukah Anda, siapa yang berjibaku di balik penerjemahan karya JK 
Rowling sehingga karya itu bisa booming dan dinikmati jutaan orang di negeri 
ini. Siapa pula yang berperan besar dalam penerjemahan buku berbahasa Inggris 
atau kitab berbahasa Arab itu?

Pertanyaan seperti ini patut diajukan sebab harus diakui apresiasi masyarakat 
di negeri ini cenderung melupakan jasa seorang penerjemah. Hal ini bisa 
dibuktikan ketika karya terjemahan booming, penerjemahnya tak ikut terserempet 
rezekinya. Di dapur penerbit, seorang penerjemah sering menjadi bulan- bulanan 
editor dan penyunting. Ironisnya, tak sedikit redaktur penerbit itu, dengan 
sengaja atau tidak, sering alpa mencantumkan nama penerjemah dari buku-buku 
karya impor yang mereka terbitkan.

Kenyataannya memang, di negeri ini, profesi sebagai "penerjemah" masih terasa 
asing, bahkan cenderung tidak dipedulikan. Tak ada remaja atau anak muda yang 
berminat untuk menggelutinya atau merebutnya sebagai jalan hidup atau profesi. 
Buat orang tua, apalagi. Kerja semacam itu tidak memberi kebanggaan apalagi 
jaminan kesejahteraan.

Hal itu seperti "didukung" oleh industri buku karya terjemahan yang menjamur 
sekarang ini, masih belum memberikan penghargaan yang cukup pantas bagi seorang 
penerjemah. Hal ini bisa dibuktikan dengan sangat minimnya bayaran atas jerih 
payah mereka. Akibatnya, banyak penerjemah di negeri ini hidup dalam 
keprihatinan yang sangat.

Penerjemah dalam sejarah

Sebelum Islam datang di semenanjung Arab, terlebih dahulu telah berkembang 
pendidikan Sassanian yang dipelopori oleh Ardeshir Papakan, misalnya, dengan 
mengirimkan orang-orang terpelajar ke India dan kekaisaran Romawi untuk belajar 
bahasa mereka. Kemudian ia memerintahkan penerjemahan karya-karya tersebut ke 
dalam bahasa Pahlavi.

Mereka, kaum terpelajar yang menerjemahkan karya-karya itu, difasilitasi oleh 
penguasa. Tak sedikit nama-nama mereka dijadikan "simbol" kebesaran 
kekuasaannya sehingga tradisi penerjemahan terus terpelihara secara 
turun-temurun.

Lambat laun, dari kegiatan penerjemahan ini terbentuk lembaga-lembaga 
pendidikan baru di kota-kota penting Persia, seperti Akademi Jundi-Shapur dan 
Akademi Maan Beit Ardeshiri. Dari kedua akademi ini pula muncul beberapa 
penerjemah ulung dari bahasa Sanskerta, Pahlavi, dan Syria.

Ketika Islam datang dan menemukan kejayaannya, kejayaan itu tidak diperoleh 
dengan tiba-tiba. Kejayaan itu diperoleh berkat kesadaran penguasa akan 
pentingnya ilmu pengetahuan dan keuletan para penerjemah. Misalnya, Khalid ibn 
Yazid ibn Murawiya (704-708 M), seorang penguasa Umayyah dianggap sebagai orang 
yang mendorong para sarjana Yunani di Mesir untuk menerjemahkan buku- buku 
Yunani ke dalam bahasa Arab dengan imbalan yang sangat tinggi. Peristiwa ini 
sering disebut sebagai proses penerjemahan pertama yang terjadi dalam dunia 
Islam.

Harun al-Rasyid (786-809 M), salah satu penguasa Abbasiyah, mempunyai peranan 
aktif dalam kemajuan dunia penerjemahan. Bahkan diriwayatkan ia telah 
mewakafkan lebih dari separuh harta bendanya untuk kepentingan penerjemahan 
manuskrip-manuskrip kuno Persia ke dalam bahasa Arab.

Al-Makmun, penguasa Baghdad (786-833 M), khalifah Abbasiyah paling berpengaruh, 
merupakan pemrakarsa pengetahuan dan karya-karya ilmiah melebihi Harun 
al-Rasyid serta menjadikan pencarian dan penerjemahan manuskrip-manuskrip 
Yunani sebagai tujuan hidupnya. Ia secara khusus mengirim sebuah misi kepada 
Raja Byzantium, Leon De Armenia, demi tujuan itu.

Dorongan kerja penerjemahan pada masa kejayaan Islam (golden age) terlihat dari 
penghargaan penguasa kepada jasa para penerjemah. Hunain ibn Ishaq (808-877 M), 
misalnya, ketika diangkat dan sebagai pengawas perpustakaan Bait al-Hikmah, 
setiap selesai menerjemahkan buku diberi hadiah emas oleh Al-Makmun senilai 
dengan berat buku yang diterjemahkan. Karena itu, tak mengherankan bila Jamil 
Shaliba dalam bukunya, Al-Falsafah al-Arabiyyah, berkesimpulan bahwa munculnya 
peradaban Islam disebabkan oleh dua hal utama: penghargaan yang tinggi penguasa 
kepada penerjemah dan keuletan para penerjemah. Karena dua hal tersebut, 
pilar-pilar peradaban Islam berhasil melahirkan banyak filsuf, dokter, 
astronom, ahli matematika hingga hukum berkelas dunia.

Ketika Imperium Islam Bani Abbasiyah semakin lemah oleh konflik internal, dan 
ketika bangsa Mongol masuk untuk menghancurkan Kota Baghdad, rotasi transmisi 
ilmu pengetahuan dari Islam ke Barat berjalan juga dengan cara penerjemahan 
buku-buku. Koleksi buku berbahasa Arab di Kordoba sebagai pusat peradaban kaum 
Muslim di Eropa telah menjadi cahaya penerang bagi seantero jagat Eropa.

Kemudian ribuan peneliti, pengajar, dan siswa dari seluruh dunia dan terkhusus 
Eropa telah menjadikan Kordoba sebagai kiblat ilmu pengetahuan dan kemajuan 
sains. Seluruh ide awal Renaissance dan revolusi sains Eropa berawal dari Kota 
Kordoba itu. Terbukanya tirai kehidupan baru ini mendorong masyarakat 
intelektual Eropa untuk menerjemahkan kembali sisa-sisa manuskrip Arab yang 
berisi berbagai disiplin ilmu ke dalam bahasa Latin, Hebrew, Spanyol, Italia, 
Catalan dan bahasa lain pada abad ke-12 dan ke-13.

Komitmen kuat

Disadari atau tidak, ilmu pengetahuan yang kita dapatkan sejak sekolah dasar 
hingga sekarang ini pun tidak terlepas dari jasa seorang penerjemah.

Namun, sekali lagi, profesi penerjemah di negeri ini masih terpinggirkan, 
bayarannya kecil, dan hanya dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Karena itu, 
tak sedikit yang menjadikan profesi penerjemah sebagai profesi sampingan. 
Akibatnya, banyak buku terjemahan yang kualitasnya memprihatinkan.

Tidak bisa lain, jika negara ini ingin maju dalam ilmu pengetahuan dan 
peradaban, semua pihak harus punya komitmen kuat untuk meningkatkan penghargaan 
kepada profesi penerjemah. Sejarah telah membuktikan itu.

Aguk Irawan MN Pendiri Pesantren Kreatif Baitul Kilmah, Menerjemahkan dan 
Menulis Sejumlah Sajak, Cerpen, Esai, dan Novel, Menetap di Yogyakarta

 



Kirim email ke