Seluk-beluk dan hiruk-pikuk Pemilu 2009 (8)


Berhubung dengan banyaknya persoalan-persoalan yang « rumit » dan parah yang
berkaitan dengan pemilu 2009, dan untuk memberi kesempatan kepada banyak
kalangan mengikuti sekedarnya perkembangan hal-hal itu, maka disajikan di
bawah ini kumpulan berita  tulisan atau analisa (pendapat) yang terbaru
tentang pemilu lesgislatif dan pemilu presiden 2009. Biasanya, kumpulan
berita dan tulisan ini disajikan juga di website
http://kontak.club.fr/index.htm,Tetapi berhubung dengan kesulitan teknis,
maka untuk sementara waktu website tersebut tidak bisa diperbarui, sampai
kesulitan teknis itu dapat diatasi.  Harap maklum, dan mohon ma'af.



A. Umar Said



=========     ===========



Proletar E-mail, 21 Mei 2009



Koalisi 24 Parpol Mengancam Tidak Tandatangani Hasil Pileg




JAKARTA] Sebanyak 24 partai politik (parpol) yang menurut penghitungan cepat
(quick count) tidak lolos parliamentary threshold (PT) mengancam tidak akan
menandatangani penetapan hasil Pemilu Legislatif (Pileg) 2009 jika Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak merespons surat penolakan PT yang telah
dua kali mereka kirim beberapa hari lalu.



"Kami menunggu sampai hari Senin (4/5). Kalau tetap tidak ada jawaban dari
Presiden, kami akan ambil langkah lain. Kami akan meminta Komisi Pemilihan
Umum (KPU) agar menunda penetapan hasil Pemilu Legislatif 2009 dan
menyatakan pemilu ini cacat hukum. Kami juga sepakat tidak akan
menandatangan penetapan hasil pemilu legislatif," kata Ketua Umum Partai
Buruh Sosial Demokrat (PBSD) Muchtar Pakpahan mewakili Koalisi 24 Parpol
seusai pertemuan tertutup di Jakarta, Jumat (30/4).



Dalam keterangan persnya, Muchtar didampingi antara lain, Ketua Umum Partai
Persatuan Daerah Oesman Sapta, Ketua Umum Partai Patriot Yapto SS, Pimpinan
Kolektif Partai Demokrasi Perjuangan Roy BB Janis, Ketua Umum PNI
Marhaenisme Sukmawati Soekarnoputri.



Muchtar menjelaskan, dari hasil pertemuan Koalisi 24 Parpol juga disepakati
bahwa daftar pemilih tetap (DPT) masih akan dipermasalahkan dan akan dibawa
untuk digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK).



Ketua Umum Partai Patriot Yapto SS yang ditugasi Koalisi 24 Parpol
menyerahkan surat ke Presiden SBY menyatakan, pihaknya sudah menyampaikan
surat melalui jalur formal, yakni Sekretariat Negara dan melalui jalur
partai.



"Mestinya, surat itu sudah di tangan presiden. Kita harapkan presiden bisa
mengambil keputusan yang bijaksana menyangkut hal ini," ujarnya.





Semakin Solid



Ketua Umum Partai Per- satuan Daerah Oesman Sapta menambahkan, Koalisi 24
Parpol semakin solid. "Kami 24 Parpol sudah bulat sepakat menjadi kekuatan.
Jadi tidak akan pecah. Kami siap melakukan negosiasi-negosiasi atau
pendekatan dalam rangka membangun bangsa," katanya.



Namun, Oesman mengatakan, sejauh ini mengenai calon presiden dan calon wakil
presiden dari Koalisi 24 Parpol belum dibicarakan secara khusus. Koalisi 24
Parpol tidak melarang parpol yang tergabung dalam koalisi ini untuk
melakukan pendekatan atau komunikasi politik dengan parpol lain. Tapi,
mereka tidak bisa membuat ikatan-ikatan yang dapat mengganggu kepentingan
koalisi ini.

Sebanyak 24 parpol yang tergabung dalam koalisi ini antara lain Partai
Persatuan Daerah, Partai RepublikaN, Partai Demokrasi Kebangsaan, Partai
Matahari Bangsa, Partai Demokrasi Pembaruan, Partai Penegak Demokrasi
Indonesia, Partai Peduli Rakyat Nasional, Partai Nasional Benteng Kerakyatan
Indonesia, Partai Pelopor, Partai Patriot, Partai Damai Sejahtera, Partai
Buruh, PNI Marhaenisme, Partai Merdeka, Partai Karya Perjuangan, Partai
Pengusaha dan Pekerja Indonesia, serta Partai Barisan Nasional. [M-17]



* * *



Kompas, 2 Mei 2009



PILPRES 2009



JK-Wiranto Dideklarasikan


Jakarta, Kompas - Setelah melewati pekan yang penuh gonjang-ganjing politik,
akhirnya Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golongan Karya Jusuf Kalla
dan Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat Wiranto mendeklarasikan diri
sebagai pasangan calon presiden dan calon wakil presiden.



Deklarasi JK-Wiranto dilakukan di halaman rumah yang dinaungi tenda di
sebelah selatan rumah dinas Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (1/5).



Pencalonan Kalla dan Wiranto dituangkan dalam kesepakatan bersama DPP Partai
Golkar dan DPP Hanura. Saat mendeklarasikan diri, Kalla dan Wiranto
didampingi Ketua Dewan Penasihat serta Sekretaris Jenderal Golkar dan
Hanura. Kesepakatan Golkar dan Hanura dibacakan Sekjen DPP Golkar
Soemarsono.



Dalam deklarasinya, Kalla menjanjikan upaya keras untuk mewujudkan
kesejahteraan rakyat dan mencerdaskan bangsa jika terpilih sebagai presiden.
Dengan bekal pengalaman panjangnya sebagai pengusaha, politisi, dan wapres,
Kalla yakin dapat mengatasi masalah yang dihadapi bangsa lima tahun
mendatang.



Dalam deklarasi itu, Kalla dan Wiranto saling memuji kelebihan masing-masing
yang dapat saling melengkapi untuk pemerintahan ke depan. Kalla disebut
Wiranto sebagai pengusaha yang juga piawai mewujudkan perdamaian di sejumlah
tempat di Indonesia. Wiranto disebut Kalla sebagai panglima yang piawai
menjaga keamanan, banyak pengalaman, dan pernah menjadi menteri.



”Sejak saat ini, kami akan mulai kerja keras bersama, secara lebih
sistematis, dan penuh perjuangan,” ujar Kalla.



Karena menjadi yang pertama mendeklarasikan sebagai capres dan cawapres,
Wiranto mengklaim sebagai pasangan yang paling berani. Kesediaannya menjadi
cawapres dimaknai sebagai bentuk keberanian juga karena sebelumnya ia ingin
menjadi capres. Pertimbangan rasional bahwa perolehan suara Hanura tidak
lebih dari 10 persen menjadi dasar keberanian itu.



Wiranto yang pada Pemilu Presiden 2004 dicalonkan sebagai capres Golkar
mengakui, Hanura, Golkar, Kalla, dan dirinya memiliki chemistry yang sama
dengan basis nasionalis. ”Begitu kami bergabung, tidak ada kecanggungan.
Warna seragam partai kami pun sama,” ujarnya.



Seusai deklarasi, Wiranto dan Kalla berfoto bersama dan memperkenalkan istri
mereka masing-masing. Mereka kemudian juga bertukar posisi saat berfoto.
Halaman sempit yang ditutup tenda menjadi riuh dan sesak. Dua cucu Kalla
juga ikut memeluk kaki kakeknya.



Golkar tak utuh



Wakil Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Marzuki Darusman berpandangan, Golkar
perlu melakukan rekonsiliasi secepatnya ke seluruh jajaran
pascapendeklarasian Jusuf Kalla-Wiranto sebagai pasangan capres dan calon
wapres. ”Saya lihat banyak yang tidak gembira. Tapi ini fakta politik yang
tidak bisa dibantah," ucapnya.



Tanda-tanda bahwa pendeklarasian itu tidak membahagiakan semua kader Golkar
terlihat dari acara pendeklarasian yang tidak dilakukan di Kantor DPP Partai
Golkar. Jajaran Dewan Penasihat maupun DPP pun tidak semuanya hadir. Wakil
Ketua Umum Agung Laksono dan anggota Dewan Penasihat Aburizal Bakrie pun
tidak kelihatan.



Menurut Marzuki, adanya pernyataan 25 DPD I yang pernah menginginkan
bergabung dengan Partai Demokrat maupun ratusan DPD II adalah juga fakta
politik yang tidak bisa dihilangkan. Ia khawatir apabila rekonsiliasi tidak
dilakukan, hal itu akan memunculkan dualisme dan membuat mesin partai tidak
bisa berjalan. ”Kalau rekonsiliasi tidak ketemu, tidak ada jalan lain,
musyawarah nasional perlu dipercepat,” kata Marzuki.



Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum menyambut gembira pendeklarasian
Kalla-Wiranto. ”Ini adalah bantahan politik yang nyata terhadap kekhawatiran
adanya calon tunggal,” ujarnya. (INU/SUT)



* * *



Kompas, 2 Mei 2009



POLITIKA



"It's Fair Play, Stupid!"


Salut kepada duet Jusuf Kalla-Wiranto yang mendeklarasikan diri sebagai
capres-cawapres pada Jumat (1/5). Golkar mencatat sejarah baru: untuk
pertama kalinya mencalonkan ketua umum sebagai capres.



Mestinya Golkar menyambut gembira pencalonan JK, melupakan politik faksional
dalam tubuhnya. Fakta menunjukkan JK sempat disebut the real president yang
fokus pada tugas dan pekerjaannya.



Apalagi JK, kini wapres, pernah menjabat sebagai menko kesra dan berjasa
mendamaikan konflik (Aceh, Poso, dan Maluku) yang mendapat pengakuan dunia.
Pencalonan JK disambut positif pasar karena peranannya sebagai pengusaha.



Nah, semoga tabulasi manual KPU usai sebelum pendaftaran capres-cawapres
dibuka 10-17 Mei nanti. Berdasarkan syarat dukungan minimal 20 persen jumlah
kursi di DPR, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono menyusul
JK mencalonkan diri.



Hampir selama sebulan kita disandera berbagai kekisruhan pemilu keblinger
yang merusak citra bangsa. Semoga pemerintah cepat menyelesaikan masalah dan
berhenti berlaku seperti alkoholik yang tak mau mengakui ada gajah duduk di
ruang tamunya.



Jangankan menyatakan diri siap dipecat atau secara kesatria mau bertanggung
jawab, merasa bersalah pun belum. Masih terdapat kesan bahwa mereka
seolah-olah berada di luar jangkauan hukum.



Bagaimanapun bangsa dan negara ini besar bak kapal kontainer, bukan kayak
speedboat yang hanya mampu memuat segelintir penumpang. Janganlah
terus-terusan menjadikan rakyat sebagai korban—cukup pemimpin-pemimpin saja
yang gemar teraniaya.



Itu sebabnya saya bolak-balik mewanti-wanti lewat rubrik ini bahwa pemilu
keblinger menjadi sebab yang berakibat buruk ke mana-mana. Rezim legislatif
dan eksekutif yang kelak terpilih akan mengalami proses delegitimasi alias
kurang bisa dipercaya.



Suasana politik seperti ”api dalam sekam” yang menimbulkan instabilitas
seperti di Thailand hampir setahun terakhir ini. Rakyat mendukung parlemen
jalanan, menyukai gosip politik murahan, dan memercayai teori konspirasi
yang menciptakan kondisi serba tak pasti.



Kondisi yang tidak pasti selalu jadi musuh abadi dunia bisnis dan ekonomi.
Setidaknya telah pecah dua rekor baru dalam sejarah negeri ini: utang luar
negeri mencapai Rp 1.667 triliun dan ekspor anjlok 36 persen untuk pertama
kalinya dalam 23 tahun terakhir ini.



Belum ada jaminan konsumsi domestik negara ini akan tetap mampu bertahan di
tengah krismon global sampai akhir tahun 2009. Pengalaman pada saat krismon
1998 membuktikan negara ini biasanya pingsan duluan dan siuman belakangan.



Suka atau tidak, dunia ini ternyata hanya selebar daun kelor sebagai akibat
globalisasi. Suka atau tidak, pemilu keblinger bukan tak mungkin menimbulkan
reaksi negatif dari luar negeri.



Tidak seperti tahun 1999 dan 2004, sampai kini belum ada negara sahabat yang
mengucapkan selamat kepada bangsa dan pemerintah kita. Lembaga-lembaga
pemantau pemilu dari mancanegara belum menyampaikan pula kesimpulan mereka.



Faktanya, sebagian media internasional memakai istilah electoral frauds—tak
lagi electoral complaints—dalam laporan mereka. Itu cerminan sikap
negara-negara demokratis yang menjunjung tinggi franchisment—bukan
disfranchisment alias peniscayaan hak memilih dan dipilih rakyat sebuah
negara.



Negara-negara demokrasi tutup mata jika selama kampanye terjadi money
politics atau intimidasi karena itu urusan dalam negeri. Kalaupun jumlah
golput membengkak, mereka mengacungkan jempol karena dianggap sehat bagi
demokrasi.



Namun, disfranchisment yang memaksa jutaan pemilih jadi golput terpaksa pada
Pemilu 2009 merupakan gejala yang tak bisa ditoleransi. Saya ragu Presiden
Amerika Serikat Barack Obama melawat ke sini jika disfranchisment di Pilpres
2009 terjadi lagi.



Nah, akibat lain kekisruhan Pemilu 2009 adalah sikap sebagian rakyat yang
sinis menanggapi manuver koalisi. Andai kondisi normal, rakyat justru
bergairah karena sebentar lagi memilih pemimpin negeri ini.



Jika boleh berasumsi, jumlah rakyat yang apatis pada pemilu keblinger makin
hari makin besar. Tak mustahil jumlah golput di Pilpres 2009, jika
pemerintah tidak cepat-cepat membenahi persiapannya, juga makin besar.



Di AS, jumlah golput yang lebih dari 50 persen tamparan keras bagi presiden,
gubernur, senator, maupun anggota DPR di sana. Oleh sebab itu, mereka
menyiapkan program prorakyat seperti peningkatan jaminan kesehatan atau
beasiswa.



Di sini? Wah, enggak janji.



Persoalannya, bagaimana merangsang animo rakyat agar tingkat partisipasi
rakyat pada Pilpres 2009 tinggi? JK sebagai wapres wajib memprakarsai
pengawasan untuk mencegah terjadinya manipulasi.



Jika menilai pribadinya, JK orang sportif yang ingin pertarungan bermutu,
jujur, adil, dan terbuka. Tekad itu juga yang dimiliki Megawati yang mungkin
berpasangan dengan Prabowo Subianto (Gerindra).



Bukan tak mungkin Pilpres 2009 berlangsung dua putaran dan tentu terlalu
dini mereka- reka apa yang akan terjadi pada putaran pertama 8 Juli. Paling
penting, sekali lagi, jika meminjam slogan dari AS, ”It’s fair play,
 stupid!”



*  * *



No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.557 / Virus Database: 270.12.11/2089 - Release Date: 30/04/2009
17:53


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke