Dari milis sebelah, yang tertarik, silahkan didiskusikan.

Di konteks ini, saya tertarik dengan pandangan-pandangan Gus Solah, dalam 
bukunya: "Turut Membangun Demokrasi''
Pengalaman Jadi Cawapres.


Nasrul AF

http://www.jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=67904


From: ahmad shidqi <[email protected]>
Subject: [bahtsulmasail-nu] NU, dari pilpres ke Pilpres
To: [email protected]
Date: Thursday, May 7, 2009, 5:09 PM











    
            
            


      
        
        tulisan Gus Solah di bawah ini menyebut milis bahtsul masail NU, 
khususnya soal pernyataan Hasyim Muzadi tentang kesesatan JIL. saya jadi 
teringat dengan tawaran Pak Nasar kemarin untuk menjembatani dialog / tabayyun 
soal ini, tapi nampaknya kok gak ada respek ya dari cholil nafis, payah...!, 
ternyata hanya bisa berwacana tapi gak berani beraksi....( he he he...)

ngapunten
shidqi

[ Jum'at, 08 Mei 2009 ]
        
        
                NU dari Pilpres ke Pilpres      
        
        
        
                Oleh: Salahuddin Wahid

Terpilihnya
Gus Dur sebagai presiden pada SU  MPR 1999 adalah puncak capaian NU
dalam kehidupan politik. Para pendukung Gus Dur di gedung MPR menangis
haru dan bersyukur, salawat badar pun berkumandang. Semua warga dan
tokoh NU merasa bangga.

Tahun 2000, Pesantren Tebuireng
mengalami lonjakan santri baru lebih dari 50 persen. Itu mungkin juga
terjadi di pesantren lain. Khitah NU 1926, tampaknya, terlupakan.
Terasa seakan politik adalah tugas utama NU dan juga seperti menjadi
alasan utama NU didirikan. Banyak sekali aktivis dan SDM terbaik dalam
kalangan NU terserap ke partai politik. 

Sayang, Gus Dur tidak
lama menjabat presiden RI. Lengsernya Gus Dur itu memang menimbulkan
pro-kontra, tetapi sudah menjadi kenyataan. Hampir semua warga NU tidak
bisa menerima pelengseran tersebut.


  Titian di Pilpres 2004


Pada Pilpres 2004, banyak sekali warga NU berpendapat bahwa NU
layak mempunyai presiden lagi. Pertama, karena merasa bahwa Gus Dur
diperlakukan dengan tidak fair sehingga tidak bisa menjabat sampai
akhir masa jabatan. Kedua, karena menganggap jumlah jamaah NU besar
sehingga layak kalau presiden RI adalah tokoh NU. Hal yang sama,
tampaknya, juga dirasakan warga Muhammadiyah.

Struktur NU,
tampaknya, juga merasa bahwa jamaah dan jam'iyyah NU layak mempunyai
capres atau cawapres. Dalam Konferensi Besar NU 2002, sudah terdengar
suara untuk mengajukan Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi sebagai
cawapres. Pada 2003, sejumlah ketua PW NU mengajukan usul serupa. 

Pada
Desember 2003, Presiden dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri
berkunjung ke Pesantren Al Hikam Malang, milik ketua umum PB NU. Di
sana, Megawati berjumpa sejumlah kiai NU berpengaruh di Jawa Timur.
Media menganggap kunjungan itu bagian dari pendekatan Megawati terhadap
jamaah NU untuk melamar ketua umumnya. PDIP, rupanya, berpendapat bahwa
dengan menggandeng ketua umum PB NU, sebagian besar warga NU akan
memilih Megawati.

Sementara itu, Gus Dur tetap ingin maju
sebagai capres dari PKB walaupun kondisi kesehatannya tidak mendukung.
Akhirnya, keinginan itu tidak terpenuhi karena Tim Ahli Kedokteran IDI
menyatakan bahwa dari sudut pandang kesehatan, Gus Dur tidak layak.

Tanpa
direncanakan dan tanpa meminta, ternyata saya menjadi cawapres
pendamping Wiranto. Karena itu, suara warga NU terbelah dan kedua tokoh
NU tidak berhasil menang. Warga NU ternyata tidak semua memilih dua
tokoh NU tersebut, bahkan pada putaran kedua lebih banyak yang memilih
SBY-JK. 


  Presiden Tidak Memihak


Saat ini jamaah dan jam'iyyah NU menghadapi realitas yang
menyedihkan dan tidak terbayangkan sebelumnya. Tidak ada seorang pun
tokoh NU yang meramaikan bursa capres/cawapres. Memang ada mantan ketua
umum PMII yang menjadi ketua umum dua partai papan tengah, tetapi
tampaknya ketokohan mereka belum membuat mereka menjadi cawapres yang
potensial. 

Sebenarnya ada tokoh NU potensial, yaitu Ketua Umum
PP Muslimat NU Khofifah, tetapi pamornya meredup setelah kalah dalam
pilgub Jatim. Potensinya besar karena warga Muslimat NU berjumlah
belasan juta dan loyal terhadap organisasi. Muslimat NU adalah
satu-satunya badan otonom NU yang eksis sampai ke bawah.
Keberhasilannya mengimbangi Soekarwo dalam pilgub Jatim adalah berkat
dukungan warga Muslimat NU Jatim.

Republika 27/4/09 memuat
pernyataan ketua umum PB NU: ''Nahdliyyin harus memilih presiden
Indonesia yang mau berjuang dan berdakwah untuk Islam. Sebab, akidah
Islam saat ini sedang dalam ancaman, terutama aliran-aliran sesat,
seperti Jaringan Islam Liberal (JIL)''. 

Selanjutnya dikatakan:
''Jadi, ini adalah tugas negara untuk menumpasnya. Selama ini, seperti
apa penanganannya? Maka itu, PB NU hanya mengarahkan nahdliyyin agar
memilih presiden yang ikut berdakwah memerangi ajaran-ajaran yang
menyesatkan. '' 

Pernyataan tersebut memancing reaksi banyak
sekali tokoh muda NU melalui milis "bahtsul-masail- nu". Memang banyak
keluhan kiai NU berpengaruh terhadap maraknnya perkembangan JIL. Tidak
jelas apakah sudah ada keputusan resmi dari organisasi NU tentang
sesatnya Islam liberal. Yang sudah jelas, PB NU belum bisa mencapai
kesepakatan tentang Ahmadiyah itu sesat walaupun disepakati ajaran itu
salah. 

Apakah presiden RI harus berdakwah untuk kepentingan
salah satu agama, apalagi sampai terlibat dalam masalah internal
seperti memerangi ajaran-ajaran sesat? Tugas presiden adalah menegakkan
UUD dan UU secara adil serta melindungi seluruh tumpah darah dan
rakyat, tidak boleh memihak kepada salah satu agama.

Pernyataan
ketua umum PB NU (''Jadi, ini adalah tugas negara untuk menumpasnya.
Selama ini, seperti apa penanganannya? '') dan pernyataan banyak tokoh
Islam menyiratkan kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah yang tidak
membubarkan Ahmadiyah. 

Dalam masalah Ahmadiyah, MUI dan ormas
Islam bisa menyatakannya sebagai aliran sesat, tetapi dalam masalah
pembubarannya, (kita) harus mengacu kepada UUD dan UU. UU No
1/PNPS/1965 yang menjadi landasan kebijakan pemerintah dianggap
bertentangan dengan UUD oleh sejumlah tokoh dan organisasi pendukung
HAM. Tetapi, kenyataannya, tidak ada satu pihak pun yang mengajukan uji
materiil UU tersebut ke MK. (*)


  *) KH Salahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang



--- Pada Kam, 7/5/09, alai nadjib <alaina...@yahoo. com> menulis:

Dari: alai nadjib <alaina...@yahoo. com>
Topik: Re: Bls: [bahtsulmasail- nu] Kitab Digital dalam Bahtsul Masail MWC NU 
Margoyoso
Kepada: bahtsulmasail- n...@yahoogroups. com
Cc: [email protected]. net.pk
Tanggal: Kamis, 7 Mei, 2009, 1:54 PM








    
      
      Saudara Abdurrahman,

Terima kasih info-nya,
saya senang pesantren yang sering diasosiasikan tidak melek teknologi, sekarang 
sudah berubah...

setahun yang lalu. saya pernah 'nunut' mobil seorang kyai ahlul bahts masail 
sepulang menjadi mustami' bahtsul masail di suatu pesantren di Kendal. Kyai 
bercerita bagaimana zaman sekarang, semuanya mudah diakses, juga kitab 
kuning-kitab kuning.
Karena itu beliau  mengkhawatirkan adanya "penyusupan" 2 ide-pikiran dalam 
kitab2 digital itu yang tidak bermaksud positif.
termasuk beliau suka syak kalau membaca kitab digital yang beliau belum temukan 
edisi print out-nya.
meskipun print out juga tidak
 menjamin tidak adanya "penyusupan" 
Jika prediksi ini ada, juga  terjadi,  bagaimana pesantren terutama masyarakat 
bahtsul masail
 mengantisipasinya?


Salam,
Ala'i









--- On Thu, 5/7/09, abdurrahman navis <abdurrahmannavis@ yahoo.com> wrote:

From: abdurrahman navis <abdurrahmannavis@ yahoo.com>
Subject: Bls: [bahtsulmasail- nu] Kitab Digital dalam Bahtsul Masail MWC NU 
Margoyoso
To: bahtsulmasail- n...@yahoogroups. com
Date: Thursday, May 7, 2009, 4:08 AM








    
      
      

--- Pada Sen, 4/5/09, niams <[email protected]. net.pk> menulis:


Dari: niams <[email protected]. net.pk>
Topik: [bahtsulmasail- nu] Kitab Digital dalam Bahtsul Masail MWC NU Margoyoso
Kepada: bahtsulmasail- n...@yahoogroups. com
Tanggal: Senin, 4 Mei, 2009, 12:52 AM





Kitab Digital dalam Bahtsul Masail MWC NU Margoyoso
Pada tanggal 3 Mei 2009 di Auditorium Pesantren Maslakul Huda, sekitar 150 
warga Nahdiyyin dari Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati berkumpul  dalam majlis 
mahtsul masail yang di selenggarakan oleh Syuriyah NU Margoyoso. Acara ini 
memang acara rutin bulanan yang di selenggarakan setiap Ahad Pahing, namun ada 
yang berbeda pada penyelenggaraan Bahtsul Masail kali ini, yaitu dengan 
pemanfaatan perangkan multimedia dan kitab digital.
Seperti tampak pada gambar, bahtsul masail kali ini di lengkapi dengan 
seperangkat komputer yang sudah di isi dengan ribuan kitab kuning digital dalam 
bentuk software maktabah Syameelah dan lainnya. Selain itu juga ada scanner, 
jadi ketika ada ibarat yang disampaikan  langsung discan  dan di tampilkan pada 
screen melalui proyektor.
Cara seperti ini terbilang baru tapi efektif dalam mencari ibarat yang ada 
dalam kitab kuning, selain itu dengan kitab digital juga bisa menyiasati 
pengadaan kitab-kitab kuning yang mahal.  
Forum ini mulanya adalah forum musyawarah yangt dibentuk KH. MA Sahal Mahfudh 
dengan nama Roudlotul Musyawirin pada sekitar tahun 1966 sekembalinya beliau 
dari perjalanan panjang menuntut ilmu di berbagai pesantren. Adapun tujuan dari 
dibentuknya forum ini adalah untuk meningkatkan silaturrahim warga NU dan 
memecahkan berbagai problem masyarakat yang bersifat aktual. Selang beberapa 
tahun kemudian setelah dirasa forum ini berjalan secara efektif dan dirasakan 
kebutuhannya sepenuhnya forum ini diserahkan kepada MWCNU 
Margoyoso.http://www.maslakul huda.net/ index.php 

        Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat.
Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang!
 

      


         
        
        


      
 

      


         
        
        

        Mencari semua teman di Yahoo! Messenger? 
Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang!
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke