Seluk-beluk dan hiruk-pikuk Pemilu 2009 (9)


Berikut di bawah ini bisa disimak  kumpulan terbaru berita atau tulisan
tentang seluk-beluk pemilihan legislatif dan pemilihan presiden 2009, yang
diambil dari berbagai sumber, Di samping disajikan di berbagai milis,
kumpulan berita ini juga bisa dibaca selanjutnya dalam website
http://umarsaid.free.fr/index.htm, yang sekarang menggantikan website
http://kontak.club.fr/index.htm,

Harap para pembaca  maklum hendaknya.



= = =       = = =

Tempo Interaktif, 9 Mei 2009

Sembilan Partai Lolos, 29 Partai Lainnya Lupakan Saja
TEMPO Interaktif, Jakarta: Komisi Pemilihan Umum menetapkan hasil pemilihan
umum secara nasional. Pengumuman ini dilaksanakan oleh Ketua Komisi
Pemilihan, Abdul Hafiz Anshary, dalam rapat pleno di kantornya, Jakarta,
Sabtu (9/5).

Dengan penetapan ini, Komisi Pemilihan telah memenuhi kewajiban menetapkan
hasil pemilihan legislator 30 hari setelah pemungutan suara. Jika tak
memenuhi kewajiban tersebut, Komisi Pemilihan terkena sanksi pidana.

Berdasarkan data yang dibacakan Komisi Pemilihan, ada sembilan partai yang
lolos ambang batas parlemen 2,5 persen. Berarti, ada 29 partai yang tak
lolos ambang batas dan tak diikutsertakan dalam penghitungan kursi anggota
DPR.

Partai Demokrat berada di urutan pertama dengan 21.703.137 suara atau 20,85
persen suara sah nasional. Posisi kedua ditempati Partai Golongan Karya
dengan 15.037.757 suara atau 14,45 persen, disusul Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan dengan 14.600.091 suara atau 14,03 persen suara
nasional. Suara sah nasional sebesar 104.099.785.

Partai yang Lolos Ambang Batas Parlemen 2,5 Persen

Partai, Perolehan Suara, Persen Suara Sah Nasional
1. Demokrat, 21.703.137 (20,85 persen)
2. Golkar, 15.037.757 (14,45 persen )
3. PDI Perjuangan, 14.600.091 (14,03 persen)
4. Partai Keadilan Sejahtera, 8.206.955 (7,88 persen)
5. Partai Amanat Nasional, 6.254.580 (6,01 persen)
6. Partai Persatuan Pembangunan, 5.533.215 (5,32 persen)
7. Partai Kebangkitan Bangsa, 5.146.122 (4,94 persen)
8. Partai Gerakan Indonesia Raya, 4.646.406 (4,446 persen)
9. Partai Hati Nurani Rakyat , 3.922.870 (3,77 persen)

* * *



Pikiran Rakyat, 9 Mei 2009



 Sri Bintang Kembali Berurusan dengan Polisi



YOGYAKARTA, (PRLM).- Sri Bintang Pamungkas, kembali jadi sorotan. Bintang
yang sempat mengejutkan dengan mendirikan Partai Uni Demokrasi Indonesia
(PUDI) di zaman Orde Baru (Orba), kali menyelenggarakan kongres golongan
putih (golput) di Yogyakarta. Namun, akibat ulahnya itu, dia berurusan
dengan aparat dari Poltabes Yogyakarta.

Setelah diamankan, hingga semalam, Bintang menolak untuk diperiksa dan
memberi keterangan. Kuasa hukum Sri Bintang Pamungkas, Muhammad Irsyad
Thamrin dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta mengatakan kliennya
menolak diperiksa atau memberi keterangan karena merasa tidak melakukan
pelanggaran.

Menurut Irsyad, Bintang harus segera dilepaskan. Polisi tidak menyebutkan
apa pelanggaran apa yang dilakukan Bintang. Jika memang tidak ada bukti
pelanggaran dan Bintang belum juga dibebaskan, hal itu berarti pelanggaran
hukum.

"Klien kami menyelenggarakan kegiatan tersebut merupakan interpretasi dari
hak menyampaikan pendapat dan hak berpolitik. Ini ada aturan dan
perundangannya," katanya kepada "Antara".

Sementara itu, Kapoltabes Yogyakarta Kombes Pol Agus Sukamso mengatakan,
pembubaran Kongres Nasional Golput tersebut karena pihak penyelenggara tidak
mengantongi izin kegiatan. (A-147)



* * *



Jawa Pos 9 Mei 2009



Kampanye Golput di Jogja, Sri-Bintang Ditangkap


JOGJAKARTA - Kongres Nasional Golongan Putih (golput) yang digelar di Hotel
Satya Graha, Umbulharjo, kemarin dibubarkan Kepolisian Kota Besar (Poltabes)
Jogjakarta. Polisi menganggap, kongres bertajuk ''Golput 45 Persen, Pilpres
Batal: Kembali ke Jiwa dan Semangat Cita-Cita Proklamasi 45'' itu diadakan
tanpa surat pemberitahuan. Kongres dihadiri sang penggagas, Sri-Bintang
Pamungkas.



''Karena itu, kami bubarkan,'' tegas Kapoltabes Jogjakarta Kombespol Agus
Sukamso kemarin. Dia memimpin langsung anak buahnya membubarkan kongres yang
dihadiri utusan dari 31 provinsi tersebut. Pembubaran berlangsung sekitar
pukul 16.00 di tengah hujan yang mengguyur kawasan Umbulharjo.



Tindakan represif itu sebenarnya telah terlihat dua jam sebelum acara.
Ratusan personel Satuan Samapta Poltabes Jogjakarta disiagakan di depan
hotel. Empat truk polisi terlihat di lokasi. Para polisi itu dilengkapi
tameng dan pentungan yang biasa digunakan untuk mengamankan kerusuhan.



Saat peserta mulai memasuki ruangan, Kasatsamapta Kompol Suwandi dan
Kasatintelpam Kompol Wahyu Pitoko didampingi puluhan polisi berseragam
mendatangi Sri-Bintang yang hendak membuka acara.



Mantan ketua Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI) itu sempat ditanya soal
surat pemberitahuan. Mendengar pertanyaan itu, adik ipar Menteri Negara
Peranan Perempuan Meutia Hatta Swasono itu membuka stopmap merah yang
tergeletak di mejanya. ''Ini surat pemberitahuan. Saya kirimkan ke Kapolri
dan Anda (poltabes),'' ucap Sri-Bintang sambil menunjukkan secarik kertas
yang ditekennya sebagai ketua penyelenggara.



Tak cukup itu, Sri-Bintang sempat ''menguliahi'' anggota poltabes tentang
kebebasan berpendapat. Dia mengingatkan, bila bertindak represif, polisi
akan diadukan ke Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri dan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). ''Silakan Anda semua sekarang keluar dari
sini. Masak sampai nanti berdiri terus,'' katanya. Mendengar perintah itu,
Suwandi dan anggota intelpam memilih meninggalkan lokasi.



Meski menghadapi tantangan, upaya pembubaran tetap dilakukan poltabes. Satu
jam setelah upaya anak buahnya gagal, Kapoltabes Kombespol Agus Sukamso
turun tangan. Kedatangan Sukamso terjadi saat Sri-Bintang mengadakan dialog
dengan peserta kongres.



Berbeda dengan Suwandi, Kapoltabes asal Sragen itu tak mau meladeni dialog
dengan Sri-Bintang. Dia hanya menanyakan surat tanda terima pemberitahuan
dari Kapolri. ''Mana tanda terimanya. Bawa, bawa,'' ucap Kapoltabes
memberikan perintah kepada anak buahnya.



Sejurus kemudian, ratusan anggota poltabes langsung merangsek. Sri-Bintang
pun ditangkap dengan kawalan ketat dan digelandang keluar ruangan. Peserta
maupun panitia kongres juga diberlakukan sama. Sri-Bintang kemudian dinaikan
ke truk. ''Sri-Bintang akan kami interograsi di mapoltabes,'' terang perwira
dengan melati tiga di pundak itu.



Sebelum dibubarkan, Sri-Bintang mengungkapkan bahwa Kongres Nasional Golput
itu rencananya dihadiri tiga orang jenderal purnawirawan TNI-AD dan Polri.
Mereka adalah dua mantan KSAD Ryamizard Ryacudu dan Tyasno Sudarto yang kini
memimpin Gerakan Revolusi Nurani. Satu lagi adalah mantan Kapolda Metrojaya
Irjen Pol (pur) Sofian Yacob.



Bahkan, Rymizard dijadwalkan berbicara di hadapan peserta kongres dengan
membawa tema Sistem Indonesia Baru. Paranormal Ki Gendeng Pamungkas juga
dijadwalkan datang. (kus/jpnn/agm)



++++



Jawa Pos, 9 Mei 2009



Angka Golput Berdasar Data Sementara Mencapai 45 Juta Pemilih



Jumlah Suara Sah Turun Drastis



JAKARTA - Angka golongan putih (golput) dalam Pemilu Legislatif 2009 amat
mencengangkan. Berdasar data sementara di 31 provinsi yang direkapitulasi
manual oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), total golput mencapai kisaran 45
juta pemilih.



Data itu diperoleh dari jumlah pemilih dalam daftar pemilih tetap (DPT) KPU
dikurangi jumlah suara sah dan tidak sah yang ada di rekap 31 provinsi.
Jumlah suara sah provinsi yang belum masuk adalah dari Sumatera Utara dan
Papua.



Jumlah suara sah di 31 provinsi tersebut adalah 98.269.205. Sedangkan yang
tidak sah mencapai 17.692.755 suara. Jika dijumlah, suara yang sudah masuk
di 31 provinsi itu adalah 115.961.960.



Sementara itu, jumlah pemilih dalam DPT KPU dikurangi jumlah pemilih pada
DPT Sumut dan Papua adalah 161.392.606. Karena satu pemilih adalah satu
suara, maka total golput yang telah direkap itu adalah 45.430.646 suara.
Angka tersebut adalah perkiraan pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya
di 31 provinsi.



Penghitungan minus Sumatera Utara itu dilakukan karena KPU tidak
memublikasikan DPT per dapil. Melainkan, KPU hanya mengumumkan DPT per
provinsi. Saat ini, untuk Provinsi Sumut, KPU belum mengumumkan hasil akhir
rekap di Sumut II. Karena itu, sulit diketahui jumlah pemilih yang tercantum
dalam DPT di Sumut I dan Sumut II.



Koordinator Nasional Komite Pemilih Indonesia Jeirry Sumampow mengatakan,
jumlah golput 45 juta itu sangat besar. Jika dibandingkan dengan Pemilu
2004, jumlah golput pada Pemilu 2009 jauh lebih besar. "Jumlah tersebut akan
bertambah karena masih ada dua provinsi yang belum dihitung," terang Jeirry.



Dia mengatakan, pada Pemilu 2004 yang jumlah pemilihnya 148.000.369, suara
sah yang masuk mencapai 113.462.414. "Itu beda jauh dengan sekarang.
Sekarang, dengan jumlah pemilih 171 juta, suara sah sangat sedikit,"
tegasnya. Kalau ditambah Sumut II dan Malut (yang belum disahkan), paling
bertambah 1,5 juta. "Artinya, suara sah tidak akan lebih dari 103 juta. Itu
kan jauh menurun jika dibandingkan dengan Pemilu 2004," jelasnya.



Jeirry mengatakan, besarnya golput itu, setidaknya, disebabkan tiga faktor.
Pertama, ghost voter yang berjumlah sampai sekitar 20 persen. ''Jadi, mereka
itu terdaftar, tapi tidak memilih," jelasnya. Jumlah ghost voter yang besar
tersebut juga memengaruhi jumlah partisipasi pemilih.



Kedua, lanjutnya, adalah faktor timing pelaksanaan pemungutan suara. Ketika
itu, pemungutan suara diadakan pada Kamis atau tepatnya 9 April. Setelah
itu, Jumat merupakan Hari Paskah. Praktis, Kamis hingga Minggu adalah libur
panjang. "Maka, banyak pemilih, khususnya di perkotaan, yang lebih memilih
menghabiskan waktu untuk berlibur," jelasnya.



Faktor ketiga adalah terkait dengan perubahan mendadak aturan mencontreng;
dari sekali menjadi dua kali. Itu menyebabkan potensi suara tidak sah
bertambah. (bay/agm)





* * *



Jawa Pos, 9 Mei 2009



ICMI Bangga, Empat Kadernya Masuk Bursa Cawapres



  a.. JAKARTA - Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) enggan terjebak
dukung-mendukung sosok yang layak menjadi capres-cawapres. Organisasi
ilmuwan muslim itu menyerahkan sepenuhnya kepada proses politik yang ada
terkait masuknya empat kader dalam bursa cawapres.

  Mereka adalah Hidayat Nur Wahid, Hatta Rajasa, Akbar Tandjung, dan Jimly
Asshiddiqie. Nama Hatta dan Hidayat cenderung menguat sebagai cawapres untuk
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

  Ketua Presidium ICMI Marwah Daud Ibrahim merespons positif kader-kader
ICMI menjadi bakal pendamping SBY. Bahkan, ICMI bangga apabila salah seorang
di antara mereka benar-benar menjadi cawapres pendmping SBY.

  Namun, kata politikus i Partai Golkar itu, ICMI tidak akan mengarahkan
masyarakat untuk memilih salah seorang di antara keder-kader tersebut.
''Soal dukungan ke cawapres tertentu, tidaklah. ICMI tidak ada kapasitas
untuk melakukan itu. Kami serahkan penentuan cawapres tersebut pada proses
politik yang ada,'' katanya.

  Marwah menambahkan, hingga kini pihaknya belum ada rencana untuk meminta
komitmen dan visi para cawapres tersebut. Sebab, belum ada kepastian bahwa
mereka akan menjadi pendamping SBY. ''Selain itu, ICMI akan lebih
memprioritaskan pengawasan pada program capres-cawapres yang memiliki dampak
langsung terhadap kesejahteraan rakyat. Siapa pun presiden dan wakil
presidennya, yang penting masyarakat sejahtera,'' katanya.

  * * *
Sinar Harapan, 9.  Mei 2009



Prabowo Tolak Jadi Cawapres Megawati



Jakarta - Ketua Dewan Pembina Partai (DPP) Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)
Prabowo Subianto menolak untuk menjadi calon wakil presiden (cawapres)
Megawati Soekarnoputri.



Selain itu, Prabowo juga siap untuk tidak menjadi calon presiden (capres)
dalam Pilpres 2009.

Kalau sampai tanggal 14 Mei 2009 nanti tak ada titik temu antara dua partai
tersebut, Prabowo siap untuk tidak menjadi capres dalam Pemilu 2009. "Bagi
Pak Prabowo cuma satu, mau jadi capres. Kalau tidak bisa karena tidak penuhi
syarat dukungan ya mendingan tidak usah maju sekalian. Pak Prabowo tak
pernah mau jadi cawapres," ujar anggota Dewan Penasihat Partai Gerindra,
Permadi, di Jakarta, Jumat (8/5).



Peluang PDIP mencalonkan Prabowo dalam Pilpres 2009 hampir tertutup karena
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) melalui Sekjen Pramono Anung
sudah menegaskan kalau PDIP tidak memiliki opsi lain dalam Pilpres dan tetap
mencalonkan Megawati.

Permadi mengatakan, antara Megawati dan Prabowo memang tak ada chemistry
kerja sama yang baik. Namun, PDIP dan Gerindra bisa menjalin kerja sama yang
ideal.



"Makanya Pak Prabowo meminta siapa saja calon dari PDIP untuk dipasang
dengan dia. Syaratnya, Pak Prabowo yang jadi capres, PDIP ajukan nama
cawapres," ujar Permadi yang juga mantan anggota FPDIP tersebut.

Adapun alasan Prabowo tidak mau jadi cawapres, katanya, karena tidak ada
jaminan program-programnya bisa terlaksana kalau hanya jadi cawapres.
Padahal, elektabilitas Prabowo naik karena program yang hendak
dikembangkannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini. "Tidak soal
kalau memang tak bisa jadi capres. Pak Prabowo tak mau sekadar cari jabatan
lalu mau jadi cawapres," tegas Permadi.



Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani mengaku komunikasi politik
dengan PDIP masih menemui jalan buntu. Namun, ia berharap selain komunikasi
antara tim masing-masing, komunikasi personal antara Megawati dengan Prabowo
diharapkan membawa sesuatu yang positif. "Masih ada waktu hingga tanggal 16
Mei 2009 ini. Tapi, sebaiknya memang kita tidak memaksa keduanya harus
begini dan begitu," tegas Muzani.



Tak Ada Calon Lain

Keputusan sepenuhnya diberikan terhadap Prabowo, baik untuk posisi tetap
menjadi capres ataupun cawapres mendampingi Megawati. Ini karena Gerindra
tidak memiliki tokoh selain Prabowo yang siap untuk dijadikan capres maupun
cawapres.



Menyikapi tentang hubungan antara Gerindra dan PDI-Perjuangan, Muzani
menuturkan saat ini Gerindra dan PDIP memang tengah dihadapkan pada
persoalan yang sangat krusial. Untuk itu, katanya, Gerindra terus melakukan
upaya komunikasi, baik secara institusi maupun personal, secara intensif.
Agar bisa mencairkan kebekuan-kebekuan yang menyangkut hal-hal prinsip.

"Komunikasi intensif terus didorong, baik antara partai maupun kedua
pemimpin. Supaya kebekuan yang menyangkut hal prinsip itu bisa dicairkan.
Dan komunikasi kita sudah sampai pada babak akhir," jelas Muzani.

Sementara Ketua DPP PDIP Adang Ruchiatna mengatakan, peluang koalisi
PDIP-Gerindra masih terbuka. "Masa iya sih dengan Partai Gerindra sudah tak
ada peluang. Kita lihat saja nanti," ucap Adang Ruchiatna.



Cawapres Demokrat

Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Ahmad Mubarok, mengatakan deklarasi
bakal dilakukan di Kota Bandung awal pekan depan. "Belum tahu tanggal 11
atau 12, yang jelas kita punya dua opsi untuk deklarasi di Jakarta dan
Bandung," kata Achmad Mubarok ketika dihubungi SH, Jumat (8/5).



Ketidakpastian kapan pendeklarasian cawapres juga diperkuat dengan adanya
pesan singkat dari Bravo Media Center (BMC) Kamis (7/5). BMC, dalam pesan
singkat mengatakan, akan ada acara deklarasi cawapres di Sabuga Bandung pada
Senin. Namun, acara deklarasi cawapres tersebut diralat dengan penjelasan
acara tersebut masih dalam tahap perencanaan.

Mubarok mengatakan, pada saat deklarasi nama cawapres, tokoh yang menjadi
pasangan Yudhoyono akan memberikan pidato. Namun, Mubarok enggan menyatakan
lebih lanjut siapa nama cawapres  itu. Ini karena hingga sekarang deklarasi
yang mengungkapkan nama cawapres merupakan kewenangan Yudhoyono dan hal itu
baru akan dilakukan usai hasil dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) selesai.

Sementara itu, menanggapi tentang hubungan Partai Demokrat (PD) dan PDIP,
Mubarok menuturkan, saat ini partainya memang tengah melakukan komunikasi
yang intens dengan PDIP. "Setiap pemimpin, pada saat tertentu akan ada
kesediaan untuk mengalah, saling memberi demi kebersamaan," imbuhnya.



Menurutnya, hubungan antara PD dan PDI Perjuangan diibaratkan lapang jalan
dan tidak dagang sapi. Baik PD dan PDI Perjuangan, juga lebih toleran untuk
bersikap bersama-sama membangun bangsa.



Sementara itu, Ketua DPP Partai Demokrat Andi Alfian Mallarangeng tidak
menampik adanya kemungkinan koalisi  Partai Demokrat dan PDIP. "Demokrat itu
membuka pintu komunikasi dengan semua pihak dan semua partai," ujar Andi.

Dia mengatakan, rakyat senang dengan rekonsiliasi. Namun, dia menjelaskan,
kunjungan Mensesneg Hatta Rajasa menemui Megawati sama sekali bukan
membicarakan koalisi melainkan persoalan rumah tinggal Megawati. Mengenai
cawapres bagi Yudhoyono, katanya, sudah sangat mengerucut. "Sekarang sudah
di kantong Pak Yudhoyono dan sudah sangat mengerucut," katanya.



Pengumuman cawapres itu, tambahnya, masih menunggu proses rekapitulasi suara
nasional. "Kita hanya mengikuti etika, harus menunggu dulu seluruh jumlah
suara partai biar tahu bagaimana harus berkoalisi, kita dengan pengumumannya
dulu dong secara resmi," ujarnya.



Mimpi Bersama

Sementara itu, Hatta Rajasa mengaku, dalam pertemuannya dengan Ketua Umum
PDIP Megawati Soekarnoputri, Rabu (6/5) kemarin, selain membicarakan soal
penyerahan rumah dinas, memang ada pembicaraan soal politik. Namun Hatta
membantah kalau pembicaraan tersebut berkenaan dengan masalah koalisi,
melainkan hanya berbicara soal politik makro saja.

"Saya ini tidak kompeten bicara soal koalisi. Kan saya sudah sampaikan kalau
saya komunikasi tentang politik, saya bicara yang makro, itu yang besar,
bagaimana membangun bangsa ini ke depan. Kalau kita memimpikan bersama, di
mana tokoh-tokoh itu bersama ke depan memanfaatkan momentum yang baik ini
untuk memajukan bangsa ini kan boleh. Itu komunikasi politik," ungkap Hatta
saat ditemui di depan Gedung Setneg, Jakarta, Kamis (7/5).



"Blunder" EtikaSementara itu, Ketua DPP Partai Golkar Burhanuddin Napitupulu
berharap PDIP tidak mempertimbangkan ajakan siapa pun untuk berkoalisi
dengan PD. Jika sampai terjadi koalisi antara kedua partai tersebut, maka
menurutnya telah terjadi blunder secara etika. "Kalau sampai PDIP dan
Demokrat berkoalisi maka itu blunder dari segi etika, " kata Burhanuddin
Napitupulu.



Dia mengingatkan, PDIP sudah menandatangani komitmen membentuk koalisi besar
bersama Golkar, Hanura, Gerindra, PPP, PBR, PDS dan beberapa partai lain
sehingga sangat tidak lazim jika koalisi dilakukan. "Kita kan sudah berjanji
koalisi di parlemen," katanya.

Mengenai kader Partai Golkar yang ingin maju menjadi cawapres partai lain,
kata Burhanuddin, harus meminta izin terlebih dulu. Dia menegaskan, Partai
Golkar sudah mempunyai pasangan capres dan cawapres, yakni Jusuf Kalla dan
Wiranto, karena itu semua elemen partai harus bersedia mendukung kedua
pasangan ini.

Jika ada kader Partai Golkar yang ingin  maju lewat partai lain, maka
mekanismenya harus melalui persetujuan Dewan Pimpinan Pusat (DPP). (vidi
vici/dina sasti damayanti)



* *  *


















Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG.
Version: 7.5.557 / Virus Database: 270.12.11/2089 - Release Date: 30/04/2009
17:53


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke