Seluk-beluk dan hiruk-pikuk Pemilu 2009 (11)


Berikut di bawah ini bisa disimak  kumpulan terbaru berita atau tulisan
tentang seluk-beluk pemilihan legislatif dan pemilihan presiden 2009, yang
diambil dari berbagai sumber, Di samping disajikan di berbagai milis,
kumpulan berita ini juga bisa dibaca selanjutnya dalam website
http://umarsaid.free.fr/index.htm, yang sekarang menggantikan website
http://kontak.club.fr/index.htm,

Harap para pembaca  maklum hendaknya.



* * *



      : Solo Pos, 14 Mei 2009

      Akhirnya, Mega-Prabowo
      Jakarta (Espos)   Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo
Subianto, akhirnya bersedia menjadi calon wakil presiden (Cawapres) bagi
calon presiden (Capres) PDIP Megawati Soekarnoputri.

      Hal ini diungkapkan Ketua DPP PDIP Tjahjo Kumolo, seusai rapat di
kediaman Megawati, Jl Teuku Umar, Jakarta Rabu (13/5). Sementara itu,
sebanyak 21 partai yang tak lolos parliamentary threshold (PT) juga
menyatakan dukungannya kepada Prabowo.


      Tjahjo menyatakan, pasangan Mega-Prabowo sudah final. ”Tinggal yang
lain-lain saja yang akan difinalkan,” ujar Tjahjo. Hal senada juga
disampaikan anggota Dewan Pertimbangan Pusat PDIP Sabam Sirait. Saat ditanya
apakah benar Prabowo bersedia turun posisi menjadi Cawapres, Sabam
mengiyakan. ”Yang saya dengar begitu,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari
tempointeraktif.com.


      Untuk mematangkan pasangan serta kebersamaan kedua partai, mereka akan
membentuk tim kecil. ”Ada tim kecil yang dipimpin Pak Theo Syafei (Ketua DPP
PDIP) dengan anggota Mas Pramono Anung (Sekjen DPP PDIP), Pak Sabam Sirait,
saya dan Mbak Puan Maharani akan bertemu dengan tim dari Gerindra,” ujar
Tjahjo.
      Menurut Tjahjo, keinginan ini sangat pas karena tokoh utama Gerindra
adalah Prabowo dan PDIP adalah Megawati. ”Yang saya tahu Gerindra hanya
punya tokoh utama Prabowo.”


      Secara visi misi dan platform, Mega dan Prabowo dinilai sudah sama.
Pasangan ini menjadi penantang pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono
setelah pasangan Jusuf Kalla-Wiranto.

      Komunikasi jalan terus
      Sementara Puan menyatakan, komunikasi antara PDIP dan Partai Gerindra
sudah sangat bagus. Karenanya tidak ada lagi yang perlu dibicarakan secara
mendetail.
      ”Komunikasi harus tetap dibuka, apapun itu. Yang memutuskan adalah Ibu
Mega. Dengan Gerindra tidak ada lagi yang perlu dibicarakan secara
mendetail,” kata Puan.
      Menurut Puan, sehari menjelang pendaftaran, PDIP akan mengumumkan
Cawapres Mega. Sampai saat ini komunikasi terus dijalin sampai masa
pendaftaran ditutup tanggal 16 Mei mendatang.


      Sementara itu, Partai Gerindra juga melakukan pertemuan dengan 21
Parpol yang tak lolos PT. Namun pertemuan ini belum menghasilkan keputusan.
      ”Mereka tetap minta Prabowo untuk jadi Capres. Tapi, ya
kemungkinan-kemungkinan untuk bisa, antara Capres-Cawapres dan lainnya masih
harus dilihat lagi,” ujar Ketua Umum Gerindra Suhardi, seusai menemui
perwakilan 21 Parpol di Kantor DPP Gerindra, Jl Brawijaya IX, Jakarta, Rabu.


      Menurut Suhardi, keputusan final Gerindra apakah akan mengajukan
Capres-Cawapres masih memerlukan komunikasi lebih lanjut. ”Besok pertemuan
dengan beberapa partai gurem dilanjutkan,” tambahnya.


      Partai-partai tersebut hingga kini berkeras mendukung Prabowo sebagai
Capres. ”Setiap partai ini akan menandatangani surat keputusan mendukung.
Jadi tidak hanya bicara,” ujar Sekjen Partai Buruh Sonny Pudjisasono di
Kantor DPP Partai Gerindra. Bagaimana dengan Cawapres? ”Seluruhnya kami
serahkan pada Pak Prabowo. Yang cocok dengan Prabowo saja,” ungkap pria
berkumis ini. Menurut Sonny ada 21 Parpol kecil yang mendukung Prabowo.
Sonny pun menolak jika Prabowo hanya dijadikan Cawapres. ”Kalau hanya
Cawapres tidak kami dukung,” jelasnya.


      Pada bagian lain, Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP Taufik Kiemas
yang rencananya ikut dalam pertemuan dengan Prabowo, batal mengikuti
pertemuan. Taufik dilarikan ke RS MMC sekitar pukul 14.30 WIB karena diduga
mengalami serangan jantung. Serangan jantung yang dialami Taufik diduga
terkait penentuan pasangan Mega-Prabowo. Taufik selama ini adalah penggagas
koalisi antara PDIP dan Partai Demokrat. Taufik sebelumnya juga menyatakan
telah tutup buku dengan Gerindra. Namun informasi penyebab serangan jantung
yang dialami Taufik ini dibantah Puan.


      Sementara itu, Megawati dilaporkan menunggui Taufik di rumah sakit.
Karangan bunga dari kolega juga tampak memenuhi rumah sakit. SBY melalui
Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng juga menyampaikan doa supaya
Taufik lekas sembuh. ”Kami juga mendapat info itu. Mudah-mudahan beliau
baik-baik saja,” ujar Jubir Kepresidenan Andi Mallarangeng.


      Mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung juga tampak mengunjungi
Taufik. Akbar datang sekitar pukul 21.30 WIB. ”Saya sebagai sesama teman
fungsionaris partai ingin menjenguk beliau,” kata Akbar. -



  a.. * *


      Solo Pos 14 Mei 2009

      Poros Alternatif berantakan...

      Jakarta (Espos)   Poros Alternatif yang digalang Ketua Majelis
Pertimbangan Partai (MPP) PAN Amien Rais bersama PKS dan PPP menyikapi
pemilihan Gubernur BI Boediono sebagai Cawapres SBY, semakin tak jelas
arahnya.

      Amien Rais menyatakan, umur poros ini bahkan hanya enam jam saja.
Sementara PKS hingga kini masih terus melakukan rapat internal untuk
menentukan arah koalisi. Pemilihan Boediono juga menimbulkan gejolak di PPP.
      ”Poros alternatif hanya enam jam. Tidak berwujud, eksis hanya
berlangsung berapa jam saja,” ujar Amien, seusai rapat dengan Kader PAN
se-DKI di Hotel Sofyan, Cikini, Jakarta, Rabu (13/5).


      Amien menjelaskan belum jelas langkah apa yang diambil oleh
partai-partai yang kecewa ini. Namun Amien mengaku perlu pembicaraan lebih
lanjut. Semuanya masih bisa berubah.
      ”Tidak bisa Amien Rais saja yang memutuskan karena ini belum final,
karena ini bisa berubah. Dunia ini kan seperti cuaca,” ujar Amien.


      Amien sebelumnya telah bertemu dengan SBY pada Rabu pagi untuk
menerima penjelasan soal pemilihan Boediono. ”Tadi pagi saya minta
klarifikasi kenapa kok berbelok ke Boediono. Memang alasannya rasional tapi
saya belum klik,” ujar Amien.
      Amien mempertanyakan pilihan SBY tersebut. Menurut Amien, dirinya
tidak yakin jika figur Boediono layak jual. ”Saya mengambil kesimpulan tidak
bisa menerima Pak Boediono yang tak punya kaki politik yang malah melambung
menjadi Cawapres Pak SBY. Lebih baik dari Parpol, agar permainan parlemen
bisa diamankan,” imbuh Amien.



      Dari tubuh PPP, perbedaan sikap juga muncul pascapemilihan Boediono.
Majelis Pakar DPP PPP meminta pengurus harian PPP mengalihkan dukungan dari
SBY ke pasangan JK-Wiranto. ”Dari pengkajian kami, melihat cara-cara SBY
yang seperti itu, kami cenderung merekomendasikan ke pengurus harian untuk
mengusung JK-Wiranto. Kami melihat kok SBY begitu caranya, tanpa ada
komunikasi, dipanggil-panggil begitu. Ini soal harga diri dan martabat
partai,” kata Wakil Ketua Majelis Pakar DPP PPP Lukman Hakiem.


      Namun, sikap Majelis Pakar DPP PPP ini pun berbeda dengan sikap
Majelis Pertimbangan PPP. ”Kami tetap mendukung SBY,” ujar Ketua Majelis
Pertimbangan Partai DPP PPP Bachtiar Chamsyah, sebagaimana dikutip dari
tempointeraktif.com.
      Menurut Bachtiar, dirinya belum mengetahui apakah dukungan itu
sekaligus dukungan ke Boediono. ”Kami tidak bicara tentang Cawapres. Memang,
akhir-akhir ini baru ada statemen tentang Cawapres,” katanya.


      Sementara itu, PKS hingga Rabu dini hari masih melakukan rapat
internal membahas pencalonan Boediono. Namun sebelumnya, Wasekjen DPP PKS,
Fachri Hamzah menyatakan, PKS masih belum bisa menerima Boediono sebagai
Cawapres SBY.
      ”Boediono ekonom yang reputasinya luar biasa dan dia tidak pernah
bicara politik. Kalau begitu dia kan dipaksa jadi politisi,” ujar Fachri.


      Menurut dia, Boediono termasuk orang yang sifatnya pendiam. Sifat itu
yang kemudian menimbulkan keraguan, apakah Boediono jika kelak menjadi
Wapres mampu berkomunikasi dengan parlemen dan partai-partai anggota
koalisi.
      Fachri juga meminta Demokrat tidak jumawa atas kemenangan yang diraih
dalam pemilihan legislatif. Kendati berhasil menjadi jawara Pemilu kali ini,
bukan jaminan PD akan keluar sebagai pemenang di Pilpres. -



      * * *


Cenderawasihpos12 Mei 2009



Internal PDIP Mulai Bergejolak


Kelompok Penentang Koalisi dengan SBY Mulai Muncul



JAKARTA - Rencana sejumlah elite PDIP untuk berkoalisi dengan Partai
Demokrat mulai menimbulkan gejolak di internal partai berlambang banteng
moncong putih itu. Secara terbuka, beberapa kader mulai menentang koalisi
yang akan mengusung SBY sebagi presiden itu.



Para penentang koalisi Demokrat-PDIP meminta Megawati tidak menempuh langkah
tersebut. "Lebih baik mempersoalkan pemilu yang tidak jurdil daripada
berpikir koalisi dengan Partai Demokrat," kata Wakil Sekretaris Badan
Pemenangan Pemilu (BP Pemilu) PDIP Hasto Kristianto di Jakarta kemarin
(11/5).



Menurut dia, selama lima tahun terakhir terdapat kontradiksi antara PDIP dan
Demokrat. Realitas itu tampak nyata dalam dinamika di DPR. "Kontradiksi itu
terutama dalam persoalan arah kebijakan politik ekonomi," ujar Hasto yang
juga anggota DPR itu.

Lebih lanjut, Hasto menyatakan bahwa PDIP menjadikan nasionalisme kerakyatan
dan demokrasi ekonomi sebagai paradigma. Karena itulah, tegasnya, PDIP
menolak praktik impor beras dan pemberian Blok Cepu ke ExxonMobil. PDIP juga
menentang UU Penanaman Modal dan UU Free Trade Zone. "Partai Demokrat justru
menjadi motor semua ini," tandasnya.



Bukan hanya itu, dalam pembahasan APBN, Demokrat mendorong kebijakan fiskal
yang ekspansif dengan memperbesar utang guna menutup defisit. Buktinya,
utang dalam negeri pemerintah SBY naik sampai 460 triliun untuk membiayai
defisit tersebut. Ironisnya, kualitas pertumbuhan tetap rendah. "Ini jelas
bertentangan dengan prinsip kemandirian ekonomi yang diperjuangkan PDIP,"
cetus Hasto.



Dalam politik luar negeri, menurut dia, PDIP menolak defence cooperation
agreement (DCA) dan tidak setuju terhadap sikap SBY yang menyerahkan
tanggung jawab Perang Iraq kepada masyarakat global. Padahal, masalah itu
akibat aksi unilateral Amerika. "Semua perbedaan fundamental ini akan
menjadi hambatan utama koalisi," tegasnya.



Di sisi lain, PDIP juga berpandangan bahwa pemilu legislatif tengah
menghadapi persoalan legitimasi. Sebab, terdapat lebih dari 45 juta warga
negara yang tidak bisa memilih. Bahkan, Komnas HAM menyebut itu terjadi
secara sistemik dan masif. "Fraksi PDIP sangat aktif mendorong hak angket
DPT (daftar pemilih tetap, Red) yang sasarannya adalah pemerintah," kata
Hasto.

Dia yakin Megawati pasti akan mempertimbangkan dengan matang tawaran koalisi
tersebut. Terlebih lagi, Rakernas PDIP sudah menetapkan Megawati sebagai
capres dari PDIP. "Saya lihat hubungan dengan Demokrat hanya bentuk
komunikasi politik antarpartai besar. Targetnya rekonsiliasi, bukan
koalisi," tandasnya.



Politikus muda PDIP lainnya, Aria Bima, juga mengatakan, konsepsi kerakyatan
PDIP sangat antineoliberalisme. Proses lima tahun sebagai oposisi adalah
kritik terhadap arah kebijakan SBY yang sangat dekat dengan paham
neoliberalisme. "Kalau pendekatannya ideologi, ini sangat sulit disatukan
dalam bentuk koalisi," ujar anggota DPR itu.



Realitas politik turunnya perolehan suara PDIP menjadi 14 persen, menurut
Aria, lebih disebabkan masyarakat belum terbiasa dengan tradisi oposisi.
Karena itu, tugas PDIP yang masih belum selesai adalah memperkuat tradisi
oposisi dalam sistem politik nasional. "Negara dan rakyat tidak hanya butuh
pemerintahan yang kuat, tapi juga oposisi yang efektif," tuturnya.

Aria percaya, manuver Demokrat mengirim Mensesneg Hatta Rajasa untuk menemui
Megawati, termasuk mendorong Gubernur BI Boediono dipasangkan dengan SBY,
tidak akan meluluhkan Megawati. "Konsistensi Megawati akan menjadi contoh
sikap seorang pemimpin parpol besar," tegasnya. (pri/tof)



* * *


Jawapos,  13 Mei 2009 ]



Keinginan SBY Gandeng Boediono
Mulai Ditentang



Empat Parpol Koalisi Merasa Tak Diajak Bicara

JAKARTA - Keinginan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menggandeng Boediono
sebagai cawapres pada pemilihan presiden (pilpres) mendatang mulai
ditentang. Kali ini oleh empat parpol pendukung SBY, yakni PAN, PKS, PKB,
dan PPP. Meski demikian, kubu Demokrat yakin parpol-parpol tersebut nanti
akhirnya bisa menerima.

Ketua Departemen SDM Partai Demokrat Andi Mallarangeng menyatakan, reaksi
keras sejumlah parpol itu muncul karena tidak utuhnya informasi yang
diterima. ''Mungkin mereka sama-sama dapat informasi sepotong-potong dan
tidak menyeluruh, sehingga cepat bereaksi,'' katanya di Kantor Presiden
kemarin.

Begitu mengetahui ada reaksi penolakan dari sejumlah parpol, SBY langsung
memerintah jajarannya untuk memberikan penjelasan kepada para pimpinan
parpol tersebut. ''Tadi sore (kemarin, Red) sudah diberi penjelasan.
Rasa-rasanya baik. Jadi, tidak ada masalah yang serius,'' ujar juru bicara
presiden itu.

Namun, Andi mengingatkan bahwa nama Boediono baru bersifat alternatif. Belum
ada keputusan resmi dari SBY. ''Ya tunggu saja nanti tanggal 15 kami
deklarasikan di Bandung,'' ungkapnya.

Selain penjelasan informasi sore kemarin, siang nanti Partai Demokrat
mengumpulkan secara formal parpol-parpol peserta koalisinya, yakni PKB, PKS,
PAN, dan PPP. ''Besok (hari ini) kami rapat dengan parpol peserta koalisi di
Hotel Sultan,'' jelas Ketua Fraksi Partai Demokrat Syarif Hassan.

Salah satu agendanya mengenai cawapres. Suami presenter Ingrid Kansil itu
menuturkan, sebenarnya SBY belum pernah secara formal menyampaikan nama
cawapres. Karena itu, Syarif meminta agar parpol-parpol bersabar menunggu
pengumuman resmi dari SBY.

Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum menambahkan, reaksi-reaksi parpol
peserta koalisi tersebut menjadi masukan bagi Partai Demokrat. ''Tapi,
statusnya tentu proposal. Saya harap partai-partai sahabat memberikan
kepercayaan kepada mempelai pria (SBY) untuk memilih yang paling tepat di
antara yang baik-baik semua,'' tegasnya.

Reaksi Parpol Koalisi

Mengapa empat parpol tersebut tak setuju pada sosok Boediono? Mereka merasa
kecolongan atas keputusan SBY memilih Boediono sebagai cawapres.
Partai-partai berasas Islam dan berbasis massa Islam itu bersikukuh calon
pendamping SBY harus dari kalangan parpol. Bahkan, mereka berjanji siap
legawa bila SBY memilih salah satu di antara cawapres yang diajukan
masing-masing parpol itu.

''Kalau soal figur, terserah SBY. Tapi, harus dari kalangan parpol. Kami
tidak berkeberatan apakah dari usul PKS atau yang lain. Kami tidak
bertengkar soal cawapres,'' kata Sekjen DPP PAN Zulkifli Hasan saat memberi
keterangan pers di gedung DPR kemarin.

Penegasan Zulkifli itu sekaligus membantah anggapan bahwa telah terjadi
persaingan antarparpol pendukung incumbent soal cawapres yang bisa berujung
pada perpecahan.

Sebagaimana diketahui, masing-masing parpol menyodorkan nama cawapres kepada
SBY. PAN mendorong Hatta Rajasa, PKS menawarkan Hidayat Nur Wahid, dan PKB
menjagokan Muhaimin Iskandar.

Menurut Zulkifli, kabar SBY telah memutuskan Boediono sebagai pendampingnya
sangat mengejutkan partainya yang akan berkoalisi dengan Demokrat. ''Ini
akan dikomunikasikan ke pimpinan partai,'' ujarnya.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Sekjen DPP PKS Anis Matta, Ketua DPP
PKS Mahfudz Siddiq, Ketua DPP PPP Lukman Hakim Saifuddin, serta Wasekjen DPP
PKB Jatim Imam Nahrawi.

Anis Matta menegaskan, PKS siap menerima keputusan cawapres SBY, asalkan
dari parpol peserta koalisi dan merepresentasikan umat Islam. Dia
mencontohkan duet Gus Dur-Megawati Soekarnoputri (1999-2001), Megawati
Soekarnoputri-Hamzah Haz (2001-2004), serta SBY-Jusuf Kalla (2004-2009).
''Jusuf Kalla notabene dari HMI dan didukung alim ulama,'' tuturnya.

Menurut Anis, duet SBY-Boediono tidak sejalan dengan aspirasi arus bawah
partainya yang menghendaki tetap ada keterwakilan Islam. "Kami ingin
menentukan sikap sesama partai lain dalam koalisi dan menyusun sikap baru
jika keputusan ini dipaksakan," katanya.

Ketua DPP PKS Mahfudz Siddiq menambahkan, hari ini Tim Sembilan Partai
Demokrat mengundang parpol-parpol bakal mitra koalisi untuk membahas
persiapan deklarasi SBY dan cawapresnya pada 15 Mei mendatang di Bandung.
"Jadi, nanti sekaligus kami tanyakan ke Tim Sembilan. Mudah-mudahan bisa
direspons dan sebelum 15 Mei sudah klir. Kalau nggak klir, kami nggak tahu
apa tanggal 15 Mei itu jadi atau tidak," ancamnya.

Tak seperti PKS dan PAN yang tampak bersikap keras, PPP dan PKB justru
berusaha menampilkan kesan kompromistis. Ketua DPP PPP Lukman Hakim
Syaifuddin menyampaikan, sejak awal partainya menyarankan SBY mengambil
cawapres dari kalangan parpol. Tapi, dia memahami bahwa penentuan cawapres
sepenuhnya menjadi kewenangan capres.

"Keduanya akan menjadi dwitunggal dalam menjalankan pemerintahan lima tahun
ke depan," katanya. Meski begitu, Lukman berharap ada komunikasi yang baik
antara SBY dan parpol-parpol pendukung koalisi. Apalagi, mencuatnya nama
Boediono sebagai cawapres SBY telah menimbulkan banyak pertanyaan.

"Ada baiknya kalau SBY bisa memberi penjelasan setelah klarifikasi. Apa
betul Boediono yang menjadi cawapres. Bisa jadi itu isu yang tak berdasar.
Tapi, kalau benar, apa alasannya," ujar Lukman.

Wasekjen DPP PKB Imam Nahrawi mengatakan, parpol-parpol peserta koalisi
seharusnya diajak berbicara. Itu penghargaan awal dari Demokrat dan SBY
kepada parpol mitra koalisi. Selanjutnya, baru cawapres itu diumumkan
bersama-sama.

"Kami ingin hubungan harmonis. Kalau belum pilpres saja sudah begini,
bagaimana nanti saat pilpres? Sebelum 15 Mei kami harus duduk bersama satu
meja dengan SBY, sehingga semua bisa ikhlas mengawal pilpres dengan baik,"
bebernya.

Secara terpisah Ketua DPP PKB Muhaimin Iskandar menegaskan, keberatan
parpolnya bukan terkait sosok Boediono, tapi karena tidak dilibatkan dalam
pembicaraan. Sebab, pada prinsipnya, PKB menyadari hak capres untuk
menentukan cawapresnya. "Saya hanya bisa menyarankan agar melibatkan
partai-partai lain. PKB tak akan meninggalkan SBY," ujarnya.

Kalau PKS bersikeras menolak Boediono, Hidayat Nur Wahid justru tidak
mempersoalkannya. Cawapres yang dicalonkan PKS itu menilai Boediono cukup
pantas menjadi pendamping SBY.

"Tentu presiden memahami dan mempertimbangkan siapa yang akan
mendampinginya," kata Hidayat seusai pembukaan acara Musyawarah Perencanaan
Pembangunan di Hotel Bhirawa, Kompleks Bidakara, kemarin. "Pak Boediono
seorang profesional. Kalau Pak SBY menilainya baik, itu semua ada di Pak
SBY, rakyatlah juga yang menilai," tambah Hidayat. (tom/pri/kum)

* * *



·







Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG.
Version: 7.5.557 / Virus Database: 270.12.11/2089 - Release Date: 30/04/2009
17:53


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke