Goenawan Mohamad dan "Manifes Kebudayaan": The Manifesto is Dead?

Choirotun ('Ntis) Chisaan*

Ada sesuatu mengganggu dalam benak dan pikiran saya ketika membaca catatan 
pinggir Goenawan Mohamad bertajuk "Untuk Boediono: Sebuah Titipan dari Sebuah 
Gedung Bersejarah" (Tempo, No. 3818/18-24/5/2009). Tulisan itu berisi 
pernyataan sikap Goenawan secara terbuka kepada masyarakat Indonesia. Dengan 
menggunakan bahasa "kami", Goenawan mendukung keputusan politik Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono (kini menjadi calon presiden dari Partai Demokrat) memilih 
Boediono sebagai calon wakil presidennya. Barangkali, catatan pinggir itu lebih 
tepat disebut sebagai semata-mata pernyataan sikap dan dukungan Goenawan 
terhadap sosok Boediono, seorang ekonom dan teknokrat, yang akhir-akhir ini 
disibukkan dengan tudingan sebagai neoliberalis (Revrisond Baswir, Kedaulatan 
Rakyat, 20/6/2009). 

Entah mengapa, dengan segera catatan pinggir Goenawan mengingatkan saya pada 
suatu peristiwa yang terjadi kurang lebih 52 tahun lalu. Saat itu, Maret 1957, 
tiga orang seniman Henk Ngantung, Pramoedya Ananta Toer dan Kotot Sukardi 
bersama dengan seniman-seniman lain menyatakan sikap dan dukungan mereka 
terhadap "Konsepsi Bung Karno" (Lentera, Bintang Timur, 3/3/1963), suatu 
konsepsi yang kemudian dikenal secara luas sebagai "Manifesto Politik". Ia 
menjadi dasar haluan negara. Ia menjadi landasan penerapan Demokrasi Terpimpin. 
Pandangan positif dan dukungan terhadap "Konsepsi Bung Karno" diberikan pula 
oleh seniman kenamaan Asrul Sani dalam sebuah esainya "Sumbangan Artis Film 
terhadap Pembangunan Jiwa Bangsa" (Asrul Sani, 1997). 

Apa sebab para seniman memberi dukungan terhadap "Konsepsi Bung Karno"? Mereka 
meyakini, "Konsepsi Bung Karno" dapat melahirkan suatu forum resmi bagi 
perkembangan seni yang berwatak keindonesiaan dalam tugasnya menyelesaikan 
Revolusi Nasional (Lentera, Bintang Timur, 3/3/1963). Dalam konteks ini, Asrul 
bahkan mencontohkan keberhasilan Sovyet-Rusia dalam membangun negerinya, 
memusnahkan susunan hidup lama dan membangun kehidupan baru dengan 
mengikutsertakan kaum seni. Dalam pembangunan, khususnya pembangunan jiwa, 
demikian Asrul mengatakan, kaum seni memiliki kedudukan amat penting (Asrul 
Sani, 1997). Atas dasar itulah maka kaum seni bersedia turut melaksanakan 
"Konsepsi Bung Karno" dengan sadar dan penuh rasa tanggung jawab. Aspirasi, 
harapan dan cita-cita kaum seni tercermin di dalam "Konsepsi Bung Karno". 

Namun, sejarah berkata lain. Dalam perjalanannya, kaum seni pendukung 
"Manifesto Politik" dituding telah menjadikan seni sebagai subordinasi politik 
(Detik, No. 032 Th. XVII, 13-19/10/1993). "Manifes Kebudayaan", yang 
ditandatangani oleh – salah satunya – Goenawan Mohamad, lahir sebagai 
perlawanan terhadap "Manifesto Politik" yang didukung para seniman dari 
organisasi-organisasi kebudayaan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), Lesbumi 
(Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia) dan LKN (Lembaga Kebudayaan 
Rakyat).

Mengapa saya mengaitkan tulisan Goenawan dengan peristiwa yang terjadi kurang 
lebih 52 tahun lalu? Pertama, saya menempatkan Goenawan sebagaimana halnya Henk 
Ngantung, Pramoedya Ananta Toer, Kotot Sukardi maupun Asrul Sani sebagai 
"seniman yang mendukung kebijakan presiden". Goenawan memberi dukungan terhadap 
kebijakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sementara Henk Ngantung, Pramoedya 
Ananta Toer, Kotot Sukardi dan Asrul Sani memberi dukungan terhadap kebijakan 
Presiden Soekarno. Kedua, saya menempatkan Goenawan sebagai (salah satu) 
penandatangan "Manifes Kebudayaan". Jadi, catatan pinggir Goenawan saya baca 
dalam kerangka pikir tarikan historis seperti itu. Ada Lekra (Henk Ngantung, 
Pramoedya Ananta Toer, Kotot Sukardi), ada Lesbumi (Asrul Sani), ada Manifes 
Kebudayaan (Goenawan Mohamad). Dua alasan ini cukup bagi saya untuk 
mempertemukan mereka, mempertemukan kedua peristiwa itu dalam bingkai "Sejarah 
Politik-Kebudayaan Indonesia 1960-an" dan menghadirkannya kembali dalam konteks 
kini. Sebuah reuni.

Jika dipahami dari sudut pandang pernyataan sikap dan dukung-mendukung 
kebijakan presiden, tak ada perbedaan antara dua peristiwa itu. Namun, jika 
dipahami dari sudut pandang "apa yang diperjuangkan" sehingga kaum seni 
menyatakan sikap dan memberi dukungan mereka terhadap kebijakan presiden, ada 
perbedaan sangat mendasar dalam dua peristiwa itu. Melalui "Manifesto Politik", 
kaum seni bersama-sama dengan Bung Karno mencita-citakan suatu masyarakat 
sosialis Indonesia. Sebuah sosialisme Indonesia. Sementara dalam pernyataan 
sikap Goenawan, dalam dukungannya terhadap pasangan Susilo Bambang 
Yudhoyono-Boediono, tak nampak adanya suatu ungkapan cita-cita masyarakat 
keindonesiaan seperti apa yang hendak dicapai. Yang nampak adalah sebuah 
pragmatisme ekonomi. 

Sekalipun Goenawan menghadirkan Bung Karno dalam catatan pinggirnya, namun ia 
gagal menghubungkan hasrat, semangat dan cita-cita masyarakat keindonesiaan 
yang hendak dicapai Bung Karno dengan hasrat, semangat dan cita-cita masyarakat 
keindonesiaan yang hendak dicapai Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono. Indonesia 
hendak ke mana?

***

Dalam penilaiannya seputar pro-kontra "Manifes Kebudayaan", Lesbumi, usai 
penyelenggaraan Konperensi Karjawan Pengarang se-Indonesia 1964, membulatkan 
pendapatnya:

..."'Manifes Kebudajaan' tersebut belumlah setjara sempurna mengungkapkan 
landasan idiel jang dapat dipergunakan oleh para pengarang Indonesia dalam 
pengabdiannja kepada Revolusi Indonesia dan dalam beberapa hal memberikan 
kemungkinan untuk penafsiran2 jang mengaburkan tudjuan Revolusi Indonesia tsb." 
(Duta Masjarakat, 10/3/1964)

***

"Manifes Kebudayaan", menurut Goenawan, sudah selesai, jika dilihat dari segi 
perlawanannya terhadap realisme sosialis Lekra (Detik, No. 032 Th. XVII, 
13-19/10/1993). Lebih dari sekedar itu, "Manifes Kebudayaan" memang sudah 
selesai. Sebab, lewat catatan pinggirnya, Goenawan sedang menghadirkan sebuah 
"Manifes Ekonomi". Sebuah jalan lempang menuju gerakan "ekonomi adalah 
panglima". Wallāhu a'lam.

***


* Penulis buku "Lesbumi; Strategi Politik Kebudayaan".


Bacaan:

Asrul Sani, Surat-Surat Kepercayaan, Penyunting: Ajip Rosidi, Jakarta, PT Dunia 
Pustaka Jaya, 1997.

Detik, "Tepiskan Racun Kecurigaan", No. 032 Tahun XVII, 13-19 Oktober 1993.

Duta Masjarakat, "Penilaian Lesbumi Sekitar Manifes Kebudayaan", 10 Maret 1964.

Foulcher, Keith, "The Manifesto is not dead": Indonesian literary politics 
thirty years on, Working Paper 87, Clayton, The Centre of Southeast Asian 
Studies Monash University, 1994.

Goenawan Mohamad, "Untuk Boediono: Sebuah Titipan dari Sebuah Gedung 
Bersejarah", Tempo, No. 3818, 18-24 Mei 2009.

Lentera, Bintang Timur, 3 Maret 1963 dalam D.S. Moeljanto & Taufiq Ismail, 
Prahara Kebudayaan: Kilas Balik Ofensif Lekra/ PKI dkk (Kumpulan Dokumen 
Pergolakan Sejarah), Bandung, Mizan dan HU Republika, 1995.

Revrisond Baswir, "Boediono dan Neoliberalisme", Kedaulatan Rakyat, 20/06/2009.


Kirim email ke