Catatan A. Umar Said


Presiden Ramos Horta mendadak mengunjungi

Restoran Indonesia di Paris



Di luar dugaan banyak orang, Restoran koperasi INDONESIA di Paris secara
mendadak sekali mendapat kunjungan tamu terhormat, yaitu Presiden Jose Ramos
Horta dari  Republik Demokratik Timor Leste. Peristiwa ini terjadi pada hari
Sabtu malam tanggal 27 Juni 2009. Banyak hal-hal yang menarik  (dan juga
sangat penting) yang bisa diangkat atau diceritakan tentang kunjungan
mendadak ini, sebab mempunyai arti atau nilai sejarah yang tidak kecil.



Bahwa kunjungan Presiden Ramos Horta ini mendadak sekali bagi para pekerja
restoran (termasuk bagi managernya Bung Suyoso) adalah bahwa baru satu jam
sebelum kedatangan Presiden Ramos Horta di restoran  diketahui dengan pasti
bahwa ia bersama stafnya sudah memesan kamar  di Hotel  Senat yang letaknya
berdampingan (terpisah satu tembok) dengan restoran INDONESIA.  Presiden
Ramos Horta datang ke Paris hari Sabtu siang, untuk kunjungan yang bersifat
setengah privé, dan besoknya (hari Minggu) sudah meninggalkan Paris lagi.



Satu jam sebelum kedatangan presiden Ramos Horta ke restoran, kami mendapat
keterangan dari stafnya (3 orang) bahwa ia merencanakan bertemu pada jam 8
malam dengan 3 sahabat lamanya (A. Umar Said, Antonio Diaz dan Carlos
Semedo).



Adalah menarik untuk diketahui mengapa presiden Ramos Horta, sebagai kepala
suatu negara,  memilih Hotel Senat, suatu hotel kelas menengah bintang
tiga). Mungkin sekali karena hotel ini terletak berdampingan dengan Restoran
INDONESIA, atau karena pertimbangan-pertimbangan lainnya, yang berkaitan
dengan kunjungannya satu malam yang bersifat setengah prive di Prancis.
Namun, walaupun kunjungan ini bersifat setengah prive dan hanya satu malam,
pemerintah Prancis menyediakan 4 orang dari Dinas Securité untuk selalu
menjaga atau mengikutinya.



Pejuang Ramos Horta tidur di kursi restoran


Keputusan presiden Ramos Horta untuk berkunjung lagi ke Restoran INDONESIA
dan kali ini juga bertemu khusus dengan sahabat-sahabat lamanya mengandung
arti yang dalam.  Restoran INDONESIA memang mempunyai sejarah tersendiri
bagi perjuangan rakyat Timor Timur dan perjuangan rakyat Indonesia dalam
perlawanan bersama terhadap rejim militer Suharto.



Setelah Restoran  koperasi ini dibuka dalam bulan Desember 1982 (jadi sudah
lebih dari 26 tahun yang lalu) sering sekali diadakan pertemuan-pertermuan
antara berbagai orang (Prancis dll) dengan anggota-anggota Komite Setiakawan
dengan Timor Timur. Restoran INDONESIA dalam jangka lama sekali dianggap
oleh berbagai kalangan sebagai salah satu di  antara pusat-pusat kegiatan
perlawanan rakyat Timor Timur terhadap agresi rejim militer Suharto.



Bahkan pada suatu waktu ketika Ramos Horta berkunjung ke Paris untuk
kegiatan-kegiatan perjuangan rakyat Timor Timur,  ia pernah tidur di
kursi-kursi yang dijejer-jejerkan, dan mandi di bawah douche sederhana yang
terletak di ruangan bawah restoran. Hal ini diceritakan oleh presiden Ramos
Horta sambil makan malam itu di depan 3 stafnya dan 3 sahabat lamanya
beserta seorang tamunya dari Spanyol.



Cerita presiden Ramos Horta tentang tidurnya di atas kursi restoran dan
mandi di bawah douche (yang sebenarnya tidak digunakan sebagai kamar mandi),
dan cerita tentang kegiatan-kegiatan lainnya semasa ia masih sebagai
pejuang, mengingatkan kami semua kepada masa-masa silam ketika kami berjuang
bersama-sama untuk rakyat Timor Timur.



Tukang cat, sahabat lama Ramos Horta


Dalam pembicaraan santai antara sahabat-sahabat lama sambil makan itu
presiden Ramos Horta juga menceritakan di depan kami semua bagaimana pada
suatu saat ia pernah menginap di apartemen Antonio Diaz, dan terpaksa tidur
di lantai (tetapi pakai alas) karena tidak cukup uang untuk tidur di hotel.
Antonia Diaz adalah seorang Portugis, pernah bekerja sebagai tentara
Portugis di Timor Timur, dan sudah lama bekerja di Paris sebagai tukang cat
dan bangunan.



Carlos Semedo, seorang Prancis yang sudah lama sekali memimpin berbagai
kegiatan mengenai Timor Timur (dan khususnya soal-soal yang berkaitan dengan
Sanana Gusmao dan Ramos Horta), adalah sahabat karib Antonio Diaz.



Keinginan presiden Ramos Horta untuk bertemu dan makan bersama dengan
sahabat-sahabat lamanya (sekali lagi, antara lain yang bekerja sebagai
tukang cat) menunjukkan bahwa walaupun ia sekarang menjabat sebagai
presiden, tetapi tidak lupa kepada orang-orang yang di masa-masa yang lalu
telah melakukan perjuangan bersama-samanya. Sungguh, suatu hal yang indah !.



Begitu santainya, dan begitu pula hangatnya suasana dalam pertemuan sambil
makan itu, yang diselingi oleh acara tarian topeng diiringi gamelan dan
suling kecapi, sehingga Antonio tidak segan-segan selalu menyapa presiden
Ramos Horta dengan « kau » (dalam bahasa Prancis « tu »). Jadi, dalam
pertemuan antara sahabat lama  itu terutama sekali banyak dibicarakan
soal-soal masa lalu.



Perjuangan komite Timor Timur di berbagai negeri


Di antara pembicaraan itu kami tinjau bagaimana besar sumbangan
kegiatan-kegiatan untuk membantu perjuangan rakyat Timor Timur  yang
diadakan secara luas dan selama puluhan tahun , serta berskala
internasional, telah merupakan sumbangan penting untuk terisolasinya rejim
militer Suharto di hadapan opini internasional. Tidak salahlah kiranya kalau
dikatakan bahwa komite-komite Timor Timur yang melakukan berbagai kegiatan
di banyak sekali negeri di dunia sudah membantu jatuhnya rejim militer
Suharto.



Dari segi ini bisa dilihat bahwa membantu perjuangan rakyat Timor Timur
adalah satu dan senyawa dengan perjuangan menentang rejim militer Orde Baru.
Hal ini pulalah yang telah dilakukan melalui sebagian kegiatan-kegiatan
berbagai orang dengan  Restoran INDONESIA. Dalam kaitan ini telah disinggung
dekatnya hubungan berbagai tokoh Prancis dengan restoran, umpamanya istri
presiden Prancis François MITTERRAND (alm), Madame Danielle MITERRAND (yang
pernah berkunjung ke Timor Timur) dan Louis JOINET, ahli hukum yang menjadi
pembantu 5 Perdana Menteri Prancis berturut-turut dan merangkap wakil
Prancis di Komisi HAM di PBB. Louis JOINET adalah sahabat dekat Ramos Horta
dan juga sahabat dekat Restoran INDONESIA.



Kedatangan Ramos Horta ke Paris dalam tahun 1976


Yang juga banyak dikenang bersama adalah kunjungan pertama kali Ramos Horta
dalam tahun 1976 ke Paris, beberapa waktu setelah militer Indonesia di bawah
perintah Suharto melakukan agresi mencaplok Timor Timur. Setelah mengetahui
bahwa Ramos Horta ada di Holland dan bertemu dengan orang-orang dari Komite
Indonesia di Amsterdam (antara lain Prof. Wertheim dan  Go Gin Tjwan) maka
A. Umar Said bersama sejumlah sahabat-sahabat Prancis mengusahakan
kedatangan Ramos Horta  ke Paris.



Dalam tahun 1976 itu (lebih dari 32 tahun yang lalu), untuk pertama kalinya
diadakan rapat besar mengenai Timor Timur dengan pembicara utama Ramos Horta
dan sejumlah tokoh-tokoh terkemuka Prancis. Sebagai kelanjutan rapat besar
ini, maka terbentuklah untuk pertama kalinya Komite Setiakawan dengan Timor
Timur. Komite Timor Timor di Paris adalah salah satu di antara komite yang
tertua di dunia waktu itu. Semua ini rupanya merupakan kenangan bagi
presiden Ramos Horta, dan juga bagi kami semua.



Sudah tentu, dalam  pembicaraan santai antara sahabat-sahabat lama itu,
telah disinggung macam-macam soal. Antara lain tentang jalannya restoran,
yang menurut pendengaran presiden Ramos Horta tetap berjalan baik. Juga
telah dibicarakan Sobron Aidit (almarhum) dan Emil Kusni, yang kebetulan
tidak ada di Paris dan sedang berada di Kalimantan. Presiden Ramos Horta
sempat menanyakan beberapa hal mengenainya kepada Didien (istri Emil yang
bekerja di restoran juga).



Bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional di Timtim



Dalam pertemuan sambil makan yang sering diselingi dengan gelak-tawa itu ada
juga sesuatu yang bisa dianggap besar dan serius. Presiden Ramos Horta
mengatakan bahwa ia merencanakan untuk mengumumkan dalam bulan Agustus yad,
dalam rangka memperingati 10 tahun referendum Timor Timur, diresmikannya
bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional di Timor Timur.



Bagi kami, yang mendengar rencana ini dari presiden Ramos Horta, merupakan
hal yang baru dan penting sekali. Sebab, selama ini bahasa yang resmi
dipakai sebagai bahasa nasional adalah bahasa Portugis dan Tetum, sedangkan
bahasa Indonesia  dan Inggris dipakai dalam pemerintahan dan bisnis. Jadi,
bahasa Portugis akan digantikan dengan bahasa Indonesia. Kalau rencana
presiden Ramos Horta ini betul-betul dilaksanakan mulai Agustus, maka akan
merupakan tindakan yang realis,   berani, dan juga bisa membuka
dimensi-dimensi baru dalam hubungan Indonesia dan Timor Timur untuk masa
depan.



Sebab, sekarang ini, bahasa Indonesia sudah banyak dipakai oleh rakyat Timor
Timur, baik di kalangan penduduk untuk pergaulan dan dagang, maupun di
kalangan pemerintahan atau untuk urusan-urusan resmi dengan jawatan-jawatan.
Bahkan, persentasenya bisa mencapai 80% dari penduduk. Dengan makin
meningkatnya lalu lintas orang dan perdagangan dengan Indonesia, dan makin
lancarnya komunikasi, maka peran bahasa Portugis makin terasa menjauh.



Dengan dibeberkannya rencana pengumuman pemakaian bahasa Indonesia sebagai
bahasa nasional, maka presiden Ramos Horta menunjukkan kemauan politiknya
yang lebih besar dan lebih maju lagi dalam menggalang hubungan persahabatan
dengan Indonesia. Dan bahwa rencananya itu diutarakan di depan
sahabat-sahabat seperjuangannya yang lama dan juga di restoran INDONESIA
mempunyai arti tersendiri yang penting juga.



Presiden Ramos Horta adalah salah satu di antara tokoh-tokoh Timor Timur
yang selama puluhan tahun berjuang terus-menerus, dan sekeras-kerasnya,
menentang agresi rejim militer Suharto, sehingga ia menjadi tokoh
internasional dan mendapat hadiah Nobel untuk perdamaian. Ia juga mendapat
gelar doktor dalam ilmu hukum dari 6 universitas terkenal di berbagai negeri
dan meraih beberapa  hadiah (award) internasional.  Sekarang, sebagai
presiden Republik Demokratik Timor Leste ia berusaha membuka halaman-halaman
baru, demi kepentingan rakyat Indonesia dan Timor Timur.



Dengan perspektif yang seindah inilah kami melihat atau mengartikan
kunjungannya yang mendadak di restoran INDONESIA di Paris. Untuk itulah
telah dibuat banyak sekali foto-foto dengan sahabat-sahabat seperjuangan
lama dan juga dengan para anggota koperasi yang bekerja di restoran.



Paris, 28 Juni 2009



A. Umar Said

.




















































[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke