Sayyidina Umar bin Khattab dan Burung ‘Ushfuriyah


Suatu siang yang teramat terik di bumi Madinah. Matahari tengah benderang.
Teriknya sungguh garang menyapa hampir setiap jengkal kota dan yang berpasir
lembah. Jalanan senyap, orang-orang lebih memilih istirahat di dalam rumah
daripada bepergian dan melakukan perniagaan. Namun tidak bagi Sayyidina Umar
Bin Khattab, lelaki tegap, berwajah teduh dan mengenakan jubah yang
sederhana itu berjalan menyusuri lorong-lorong kota sendirian. Ia tidak
peduli dengan panas yang menyengat. Ia tak terganggu dengan debu-debu yang
naik ke udara. Ia terus saja bersemangat mengayun langkah. Sesekali ekor
matanya berkerling ke sana ke mari seperti tengah mengawasi. Hatinya lega,
ketika daerah yang dilewatinya sentosa seperti kemarin.



Hingga ketika, saat ia melewati salah satu sudut Pasar di Madinah, tiba-tiba
ia berhenti. Langkahnya surut. Pandangannya tertuju pada anak kecil di sana.
Ditajamkan pendengarannya, samar-samar ia seperti mendengar suara lirih
cericit burung ‘ushfuriyah (sejenis burung emprit). Perlahan ia
mendatanginya dan dengan lembut ia menyapa bocah laki-laki yang tengah asyik
bermain.



“Nak, apa yang berada di tanganmu itu?” Wajah si kecil mendongak, hanya
sekilas dan menjawab. “Paman, tidakkah paman lihat, ini adalah seekor
burung,” polosnya ringan. Pandangan lelaki ini meredup, ia jatuh iba melihat
burung itu mencericit parau. Di dalam hatinya mengalun sebuah kesedihan,
“Burung ini tentu sangat ingin terbang dan anak ini tidak mengerti jika
mahluk kecil ini teraniaya.”



“Bolehkah aku membelinya, nak? Aku sangat ingin memilikinya,” suaranya penuh
harap. Si kecil memandang lelaki yang tak dikenalnya dengan seksama. Ada
gurat kesungguhan dalam paras beningnya. Lelaki itu masih saja menatapnya
lekat. Akhirnya dengan agak ragu ia berkata, “Baiklah paman,” maka anak
kecil pun segera bangkit menyerahkan burung kepada lelaki yang baru pertama
kali dijumpainya.



Tanpa menunggu, lelaki ini merogoh saku jubah sederhananya. Beberapa keping
uang itu kini berpindah. Dalam genggamannya burung kecil itu dibawanya
menjauh. Dengan hati-hati kini ia membuka genggamannya seraya bergumam
senang, “Dengan menyebut asma Allah yang Maha Penyayang, engkau burung
kecil, terbanglah…terbanglah…”



Maka sepasang sayap itu mengepak tinggi. Ia menengadah hening memandang
burung yang terbang ke jauh angkasa. Sungguh, langit Madinah menjadi saksi,
ketika senyuman senang tersungging di bibirnya yang seringkali bertasbih.



Hari berganti minggu, minggu berganti tahun dan seterusnya. Sehingga
sampailah Sayyidina Umar dipanggil ke hadapan Yang Maha Rahman dan Rahim.



Suatu ketika, jauh setelah Sayyidina Umar bin Khattab meninggalkan rakyat
yang sangat mencintainya, beberapa ulama bermimpi bertemu Sayyidina Umar bin
Khattab di Surganya Allah SWT. Diberi kesempatan bertemu dengan pemimpin
yang sangat dicintai, beberapa ulama serempak mengajukan pertanyaan kepada
Sayyidina Umar bin Khattab:



“Wahai Umar, kami semua ingin seperti anda, ingin bersama anda di dalam
surganya Allah yang indah. Amalan ibadah apa gerangan yang bias membuat anda
berada di tempat yang mulia ini?”



“Apakah karena keberanianmu berada di garis terdepan menghadapi musuh –
musuh Allah?”



“Apakah karena keadilanmu dalam memutuskan suatu perkara?”



“Apakah karena kezuhudanmu?”



Dengan berlinang air mata, Sayyidina Umar menjawab:



“Wahai saudaraku, ketahuilah bahwa pada saat jasadku kau masukkan ke dalam
liang lahat. Kemudian kau menimbun jasadku dengan tanah sampai memenuhi
seluruh ruang kuburku. Dan setelah kalian smeua meninggalkanku sendirian di
tempat yang gelap. Datanglah dua malaikat yang membuat saya merasa sangat
ketakutan luar biasa. Entah kenapa, saya belum pernah merasa ketakutan
seperti saat itu.”



Sayyidina Umar melanjutkan:



“Tiba – tiba saya mendengar Allah berseru kepada para malaikat yang membuat
saya ketakutan luar biasa tersebut. Wahai para malaikat-Ku, janganlah kamu
membuat takut hambaku yang sangat penuh kasih sayang ini. Yang telah dengan
belaian kasih sayangnya pula, dia telah membuat burung ‘ushfuriyah terbang
bebas di angkasa”



Allaahur rahmaanur rahiim. Berkasih sayanglah kamu terhadap seluruh makhluk
di muka bumi, maka niscaya seluruh penghuni langit akan menyayangimu.



Sumber:

Kitab Al Mawa’idhul ’Ushfuriyah karya Syaikh Muhammad bin Abu Bakar
Al’Ushfuri


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke