LENYAPNYA SANG KHALIFAH,
PUDARNYA BANGSA,
SIRNANYA NEGARA
Oleh: Mayor Jenderal TNI (Purn) Saurip Kadi1
Allah tidak ada disana (menunjuk langit), Allah ada disini (menunjuk dada).
Karena dalam tubuh kita bersemayam Allah, maka ketika melihat ada manusia
menistakan dirinya dengan perbuatan-perbuatan yang tidak sepatutnya mendapat
gelar sebagai khalifah, kita perlu kasihan kepadanya, karena Allah bersemayam
pada jasad yang begitu nista. Sedih rasanya ketika ada orang yang melecehkan
Allah sepertinya Allah tidak lagi Maha Mendengar, tidak lagi Maha Tahu, tidak
lagi Maha Pemurah dan sepertinya Allah begitu pelit. Mereka yang begini,
sesungguhnya karena pembodohan yang terus berlanjut dari para penyebar agama,
sehingga iman tempatnya tidak lagi di perbuatan. Penghafal ayat, apalagi yang
berlatar belakang imbalan, kok kemudian disamakan dengan ketinggian iman
seseorang. 2
“Manunggaling Kawulo Gusti”
Adalah kekeliruan yang mendasar kalau kita membicarakan topik “Manunggaling
Kawulo Gusti” seolah kita membicarakan sesuatu yang berada diluar wilayah
agama. Hal ini terjadi karena pemahaman agama yang selama ini berkembang
bukanlah agama (DIN) dalam artian ajaran Tuhan, tapi lebih sebagai kelompok dan
simbol. Apalagi kalau dalam membaca ajaran lebih sebagai tekstual dan jauh dari
kontekstual. Lebih parah lagi ketika pendalaman ayat-ayat yang bersifat
perumpamaan (Jawa: sanepo) atau isyarah, kemudian dibaca sebagai bahasa
manusia. Padahal dalam masalah akidah ayat-ayat yang diwahyukan justru dalam
bentuk isyarah-isyarah atau “sanepan” (petunjuk yang disamarkan). Maka ketika
ayat-ayat tersebut dibaca secara harfiah semata, agama kemudian kehilangan
”api”-nya, kehilangan semangatnya. Sehingga dalam realitanya agama kemudian
tidak bisa menjawab tuntutan dan tantangan jaman.
Bicara “Manunggaling Kawulo Gusti”, Al Qur’an memberi penjelasan yang begitu
mudah dipahami, sebagaimana diwahyukan dalam Surat 2 (Al Baqarah) Ayat 30
(Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ”Sesungguhnya Aku
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”, Mereka berkata: ”Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau”; Tuhan berfirman: ”Sesungguhnya Aku
Mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Ayat ini kalau dirangkai dengan ayat
31, 32, dan 34 dari Surat yang sama maka jelas posisi sebagai kholifah langsung
diakui oleh para Malaikat, yaitu setelah Tuhan sendiri yang membuktikannya. Hal
ini dijelaskan dalam ayat 33 Surat yang sama, Allah berfirman: ”Hai Adam,
beritahukan kepada mereka nama-nama benda ini” Maka setelah diberitahukannya
kepada mereka nama-nama benda
itu, Allah berfirman: ”Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya
aku mengetahui rahasia langit dan bumi, mengetahui apa yang kamu lahirkan dan
apa yang kamu sembunyikan”.
Satu masalah yang mendasar yang perlu kita gali dari ayat 33 Surat ke 2 ini
adalah sebutan ADAM bagi sang kholifah. Karenanya kita perlu mengkaji apa,
siapa, mengapa dan bagaimana ADAM itu terlebih dahulu. Dalam Al Qur’an sudah
dijelaskan bahwa manusia dibuat dari lumpur hitam yang diberi bentuk dan
kemudian disempurnakan. Bahasa tersamar ”disempurnakan” sesungguhnya sudah
dijelaskan dalam bagian lain Al Qur’an bahwa Tuhan telah meniupkan Roh alias
Nur Muhamad alias Rohul Kudus kedalam Janin. Disinilah dua komponen yaitu Jasad
dan Roh yang tadinya terpisah telah menyatu. Kondisi ini terus berlangsung saat
bayi lahir didunia. Yang pasti sang bayi dalam beraktifitas hanyalah
dikendalikan oleh naluri atau instink dan Roh itu sendiri. Saat itu sang
manusia awal (pertama) belum menggunakan logika dan apalagi ilmu pengetahuan.
Namun ia hidup dalam kebahagiaan, ia tidak pernah berpikir mencari makan
apalagi kekayaan, tapi saat menangis karena lapar atau
karena menggigil kedinginan, semua orang, siapapun ia yang melihat pasti akan
mengulurkan bantuan, mendatangkan apa yang ia inginkan. Gambaran yang seperti
inilah yang diceritakan sebagai kehidupan ADAM yang berada di sorga. Dengan
kata lain, sebutan ADAM sesungguhnya diperuntukan oleh setiap manusia diawal
kehidupan mereka masing-masing, yaitu sejak ia berada dalam rahim ibu saat Roh
ditiupkan (umur 110 hari) sampai umur tertentu (kurang lebih sang bayi berumur
20 bulan). Artinya dialog antara Malaikat dengan Tuhan tersebut sama sekali
bukan latar belakang kejadian manusia pertama yang diciptakan Tuhan saja, tapi
latar belakang untuk semua manusia, karena dalam dialog tersebut jelas-jelas
malaikat menyebut sudah ada manusia.
Dengan kata, lain Adam adalah kondisi menyatunya unsur jasad yang dilengkapi
dengan nurani atau instink dengan Roh, tanpa dipengaruhi unsur lain atau
kepentingan apapun yang berasal dari sumber lain. Roh itu sendiri banyak
sebutannya, dalam Al Qur ‘an disebut juga dengan istilah Nur Muhammad, atau
Rohulkudus, dan dimasyarakat Jawa dikenal dengan istilah “Manungso Sejati”.
Untuk itu kita perlu mendalami ayat 35 dari Surat yang sama, disana Tuhan
Berfirman:
”Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah
makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai dan
njanganlah kamu dekati pohon ini (kuldi), yang menyebabkan kamu termasuk
orang-orang yang Zalim”.
Dalam ayat ini disebut istilah istrimu, makanan-makanan yang banyak, dan pohon
kuldi. Untuk itu kita harus kaitkan dengan ayat lain yang menjelaskan tentang
istilah-istilah tersebut.
Kuldi; Dalam proses selanjutnya sang Adam yang juga sebagai kholifah diberi
batasan dengan jelas oleh Allah untuk tidak mendekat ke pohon kuldi agar engkau
tidak termasuk orang-orang yang Zalim. Gambaran ini sesungguhnya terkait dengan
pertumbuhan jasad/organ sang bayi yang kemudian berkembang. Alat kelengkapan
Jasad ini antara lain nafsu dan juga akal yang melahirkan keinginan dan bahkan
keserakahan serta ketamakan. Ketika masih Adam, ia makan secukupnya, setelah
ada nafsu ia kemudian berkehendak untuk memperoleh lebih dari yang ia butuhkan.
Ia kemudian berkeinginan untuk mendapatkan lebih banyak dari pada yang
seharusnya.
Makanan-makanan yang banyak; Karena surga bukanlah sebuah tempat secara phisik
keduniawian, atau phisik lahiriyah, tapi kondisi yang penuh kebahagiaan
semuanya serba menyenangkan. Maka yang dimaksud makanan disini sama sekali
bukan berarti masakan ataupun buah-buahan. Makanan yang banyak adalah ilustrasi
untuk menggambarkan bahwa banyaknya pilihan terhadap informasi, ilmu
pengetahuan, suasana yang menyenangkan seperti pemandangan, dan semua hal yang
mengkait dengan kebutuhan non phisik. Makanan yang dimaksudkan adalah makanan
jiwa atau makanan bathin.
Budak; Tuhan melalui agama apapun melarang perbudakan. Tanpa memahami apa yang
tersirat dalam istilah budak maka ayat ini sama artinya Tuhan membenarkan
bahkan melanggengkan perbudakan. Maka dipastikan dalam ayat ini yang dimaksud
budak bukanlah artian manusia sebagai budak. Tapi semua kekuatan apapun yang
bisa menghambakan kepada manusia. Bisa jadi yang dimaksudkan budak disini
adalah Jin, ataupun kekuatan supra natural apapun yang bisa diperbudak oleh
manusia.
Istri; Istilah ini dijumpai dalam Surat 4 (An Nisaa’). Dalam ayat 3 antara lain
dijelaskan: kawinilah 2, 3, atau 4 minimal 1 atau budak-budak yang kamu miliki.
Ayat ini tidak didahului Hai laki-laki (pada ayat pertama Surat An Nisaa malah
disebut Hai manusia, sama sekali bukan Hai Laki-Laki) artinya ayat ini adalah
untuk manusia tanpa pandang jenis kelamin dan umur.. Perintah Tuhan dalam ayat
ini juga langsung untuk kawinilah 2, 3, dst...; bukan: 1, 2, dst. Artinya,
istilah kawin disini sama sekali bukan persoalan nikah antara laki dan
perempuan untuk membentuk rumah tangga. Kawin disini adalah persoalan hubungan
antara jasad manusia yang sifatnya lahiriyah dengan unsur-unsur non phisik
mulai dari nafsu, dan sifat-sifat lainnya yang kategorinya bathiniyah. Maka
kalau sang Jasad ini tidak bisa berlaku adil terhadap sifat-sifat Allah yang
Yatim (Tidak punya Bapak dan Ibu yaitu Tuhan itu sendiri) dan yang ke ”ibu ”an
(perempuan/ umi), maka kawinilah 2
yaitu Amarah dan Lamawah (marah dan Sabar), 3 Mutmainah atau 4 yaitu ditambah
dengan Sofiah, atau minimal satu yaitu Nur Muhammad itu sendiri ya Rohul Kudus,
ya “Manungso Sejati” itu sendiri. Maka menjadi masalah yang serius, ketika ada
manusia yang beragama tertentu, kemudian melupakan bahwa dalam manusia yang
kebetulan beda agama dianggap mereka tidak punya Nur Muhammad yaitu Utusan
Allah dalam diri mereka. Apalagi dengan justifikasi atau bahkan mengkondem yang
menegasikan peran Roh utusan Tuhan yang ada dalam diri mereka.
Pokok Persoalan yang perlu kita dalami adalah bagaimana perjalanan sang
Khalifah, yaitu Adam itu sendiri yang kemudian terjerumus dalam Zalim karena ia
tidak hanya mendekati pohon Kuldi, tapi bahkan memakan buahnya. Maka ia
akhirnya telah kehilangan sorga, ia telah diturunkan ke bumi, sebuah kehidupan
nyata. Apakah setelah ia turun ke bumi berarti tidak lagi ADAM? Dari
perkembangan jasad manusia setelah ia melewati umur kurang lebih 20 bulan
apalagi setelah akhil balik dan kemudian menjadi remaja dan dewasa, jelas ia
bukan Adam lagi. Namun ia bisa saja menjadi Adam yaitu saat ia bisa
meninggalkan semua keinginan, kemauan dan apalagi keserakahan, dalam bentuk
perilaku yang hanya hanya didasari pada dua unsur yaitu Nurani atau Instink
(sebagai bagian dari Jasad manusia) dengan Nur Muhamad saja. Maka siapapun yang
bisa melepas semua semua sifat-sifat nafsu, keserakahan, dan ketamakan
sesungguhnya ia Adam. Hal yang demikian banyak diisyaratkan dalam sejumlah
ayat Al Qur’an. Saat ia bisa melepaskan semua kepentingan, keinginan, dan
semua tuntutan hawa nafsu, maka saat itulah ia dalam posisi ”Manunggaling
Kawulo Gusti”. Pertanyaannya kapan ia bisa masuk pada kondisi ”Manunggaling
Kawulo Gusti”? Maka disini Al Qur’an menjelaskan dengan bahasa ”sanepan” atau
perumpamaan. Yang pasti tidak mungkin unsur Tuhan yang ada pada tubuh manusia
akan ”jumeneng” kalau peran jasad sendiri yang dikendalikan oleh nafsu, logika
dan ilmu pengetahuan sangat dominan dari peran ROH itu sendiri. Ia otomatis
akan eksis ketika sang Jasad dimatikan, maka dikenal dengan istilah ilmu Tuhan
adalah 1 dan 0. Ia akan eksis (1) ketika sang Jasad bisa mati (nol=0). Maka
disana Ibrahim kemudian menyembelih Ismail. Ayat ini adalah ”sanepan”, ketika
Ismail yang pandai tetapi tidak menggunakan peran Nur Muhammad atau ’Manungso
Sejati’ itu sendiri. Namun demikian untuk sampai kepada kehidupan yang mampu
memerankan
keberadaan Rohulkudus itu sendiri, ia haruslah Islam atau takwa, yaitu tunduk
patuh. Tunduk patuh terhadap aturan Allah itu sendiri, dalam artian perilaku
manusia ini haruslah yang sesuai dengan hukum yang telah digariskan oleh Tuhan
yang Maha Esa, baik yang tertulis maupun yang tersebar di alam nyata ini.
Tidaklah mungkin Wakil Tuhan akan eksis atau ”Jumeneng” ketika tubuh manusia
ini tidak memberi kesempatan untuk Ia berperan. Ibarat keris dan ”warongko”
(rumah atau sangkar keris), maka kemanunggalan keduanya baru akan terwujud
ketika ukuran warongko dan bilah keris itu sendiri cocok. Sebagai utusan Tuhan
(Rosul) sang Muhammad yaitu Dzat yang hanya berperilaku baik, tidak mungkin
akan Jumeneng pada jasad yang perilakunya tidak baik, kotor dan apalagi jahat.
Semakin jauh dari perilaku baik, maka peran Muhammad yaa sang Rosul itu sendiri
makin redup. Rosul sendiri adalah sebutan penyampai wahyu, wahyu adalah
kebenaran. Tugas menyampai kebenaran
dalam bahasa Jawa disebut Guru. Maka peran penyampai wahyu dalam bahasa Jawa
disebut sebagai ”Guru Sejati”. Persoalan menjadi ruwet, ketika kita menggunakan
istilah Rosul berarti Islam, tapi kalau menggunakan istilah ”Guru Sejati” akan
di sebut Kejawen.
Kesimpulan:
”Manunggaling Kawulo Gusti” hanya akan diwujudkan oleh orang-orang yang
berperilaku baik, yang mampu mengesampingkan tuntutan nafsu apapun, hasil olah
pikir apapun (logika), ataupun ilmu pengetahuan yang manapun dan hanya
menyandarkan pada kekuatan dua yang satu, yaitu kekuatan Nur Muhamad dengan
unsur jasad yaitu Naluri atau instink semata.
Catatan:
Bagi yang tidak setuju dengan penjelasan ini, mohon kita kembali kepada Surat
75 (AL Qiyamah) ayat 16 sampai dengan 19. Disana dijelaskan bahwa hanya Tuhan
yang menjamin kebenaran atas penjelasan Ayat-ayat Al Qur ’an. Tapi Ia pula yang
menjamin seseorang untuk bisa mengartikan ayat-ayat ”sanepan” ini. Karenanya
kebenaran harus dikembalikan kepada Al Qur’an yang telah ditiupkan kedalam dada
setiap orang, artinya janganlah keyakinan hanya karena kata sesorang termasuk
kata penulis dalam uraian ini.
Pancasila Pakeming Ngaurip.
Pancasila yang kita kenal dalam Pembukaan UUD-45 sesungguhnya juga ilmu yang
berasal dari paham ke Ilahian. Karenanya ia bukan hanya Dasar Negara, tapi ia
juga pakem atau aturan Dasar bagi kehidupan manusia (Pekeming Ngaurip).. Maka
menjadi sangat tepat ketika Panitya mengangakat masalah dua hal yang terkait
secara langsung yaitu Manunggaling Kawulo Gusti dan Pancasila Pakeming Ngaurip.
Karena Pancasila berasal dari paham ke Illahian atau ketahuidan yang sudah lama
berkembang dibumi Nusantara, maka datangnya juga dari sang Pencipta, maka
Pancasila pasti akan diterima atau cocok dengan agama apapun. Untuk itu kita
perlu medalami sila demi sila.
Sila Pertama: Ketuhanan. Pancasila menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai
sila pertama. Hal ini sama dan sebangun dengan pemahaman yang dijelaskan dalam
Al Qur’an, dimana asal kejadian manusia berangkat dari Sirrullah (Kehendak
ALLAH). Disisi lain faktor yang membedakan antara manusia dengan mahluk lain
adalah persoalan adanya ROH, Nur Muhamad , Rohul Kudus, atau ”Menungso Sejati”
yang terkadang pula disebut Rosullulloh atau ”Guru Sejati”.
Sila Kedua: Kemanusiaan. Dalam kehidupan manusia faktor kedua yang memegang
peranan yang menentukan dalam merealisasikan kehendak atau keinginan Tuhan
adalah manusia. Maka persoalan komponen jasad manusia, adalah penentu. Komponen
jasad bisa berupa phisik kebendaan maupun yang non phisik seperti logika,
instink, ilmu pengetahuan. Kehendak Allah sendiri tidak akan pernah menjelma
kecuali melalui keberadaan manusia. Disanalah maka posisi antara keris dan
”warongko” dalam posisi yang sejajar. Maka manusia dan Tuhan dalam kedudukan
yang egaliter. Menjadi wajar kalau manusia ketika menyebut Tuhan cukuplah
dengan sebutan Ia, Kamu, Mu atau Nya, bukan dengan sebutan Paduka, Yang Mulia,
atau Beliau dan sejenisnya.
Sila Ketiga: Persatuan. Makna Persatuan disini adalah menyatunya antara
komponen jasad yang terbuat dari tanak liat yang diberi bentuk dengan Roh yang
ditiupkan kedalam janin jabang bayi ketika masih berada dalam kandungan sang
ibu, sehingga ia sempurna. Dua yang satu ini yang membentuk senyawa yang
disebut manusia. Tubuh manusia tanpa roh tidak lagi disebut manusia. Sebaliknya
Roh tanpa tanpa jasad manusia, juga bukan manusia. Kesempurnaan jasad manusia
adalah sejak ditiupkan Roh atau Nur Muhammad yang bertindak mewakili Allah
Tuhan Yang Maha Kuasa itu sendiri, sampai keluarnya Roh itu dari tubuh / Jasad
manusia. Peran manusia sebagai kholifah atau wakil Tuhan di dunia, sekaligus
sebagai penampakan Tuhan akan menjadi Adam kembali ketika persatuan antara
Jasad dengan Manungso Sejati betul-betul tunggal, tidak terdistorsi oleh peran
komponen apapun yang berasal dari jasad manusia, baik berupa nafsu, keinginan,
logika, ataupun ilmu pengetahuan.
Sila Keempat: Kerakyatan. Keberadaan manusia yang terdiri dari dua komponen
yang menyatu tersebut sesungguhnya diarahkan untuk kepentingan seluruh organ
manusia. Karenanya seluruh bagian tubuh harus terkodinir dan diatur dengan
persamaan hak, disanalah maka konsep dasarnya bisa dengan permusyawaratan yaitu
ketika seluruh tubuh manusia harus disinergikan secara keseluruhan (total) atau
cukup diwakili (Perwakilan) oleh organ-organ tertentu yaitu ketika makan, rasa
enak hanya diwakili oleh unsur lidah, bernafas diwakili oleh komponen hidung,
saluran pernafasan dan paru-paru namun proses selanjutnya melibatkan seluruh
organ manusia tanpa kecuali. Disanalah maka peran dipimpin oleh hikmah
kebijaksanaan yaitu oleh unsur kebenaran dan kejujuran menjadi kata kunci.
Sila Kelima: Keadilan Sosial. Hal yang mendasar dalam proses kehidupan manusia
adalah pentingnya keadilan sosial, yaitu manfaat dari kerja tubuh manusia baik
oleh organ tertentu ataupun secara keseluruhan sesungguhnya bermanfaat untuk
semua organ manusia tanpa kecuali. Memang betul lidah yang mewakili enaknya
rasa makanan, tapi manfaat yang diperoleh Lidah, bisa dinikmati oleh semua
organ manusa secara keseluruhan. Sebagai satu kesatuan organis sesungguhnya
secara keseluruhan organ manusia adalah rangkaian tertutp yang saling
berinteraksi.
Dari gambaran ke Illahian yang berproses dalam tubuh manusia sebagaimana
penjelasan diatas, maka menjadi wajar kalau Pendiri Republik ini khususnya Bung
Karno menjadikan Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia.
Persoalan yang kemudian timbul adalah perubahan obyek dan juga subyek dari
proses Pancasila, yang semula ada pada tubuh Manusia diganti menjadi negara dan
bangsa yang notabene bukan benda hidup atau mahluk yang ”disempurnakan”.
Disanalah kepincangan dirasakan sejak awal kemerdekaan, karena Pancasila dalam
kontek ber negara belum dilengkapi dengan instrumen, bagaimana negara dan
bangsa ini menjalankan Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil Dan
Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmah
Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan / Perwakilan dan Keadilan Sosial Bagi
Seluruh Rakyat Indonesia. Belum siapnya instrumen untuk menjalankan kelima sila
Pancasila, disamping mengandung kelemahan tetapi juga membawa hikmah yang luar
biasa besarnya, yaitu ketika generasi penerus segera menyiapkan perangkat atau
instrumen berupa penjabaran sila-sila Pancasila kedalam batang tubuh UUD,
sehingga setiap penyelenggara negara siapapun dan dengan
ideologi apapun Presiden pemenang Pemilu akan menjadikan nilai-nilai Pancasila
sebagai Landasan Operasional bagi segenap penyelenggara negara dan juga segenap
warga negara. Sudah barang tentu setiap generasi juga mempunyai hak untuk
merevisi jabaran sila-sila Pancasila dalam batang tubuh UUD tersebut, sesuai
dengan tuntutan jaman masing-masing. Sehingga Pancasila akan selalu aktual. Dan
kunci semua itu letaknya pada kesetaraan negara terhadap setiap anak bangsa,
kelompok, golongan, etnis, agama, daerah dan juga budaya atau kearifan lokal.
Dengan demikian kedepan negara tidak terlibat dalam ataupun membiarkan
pendholiman antar manusia, kelompok, etnis, golongan dan juga agama apapun dan
oleh siapapun. Dengan demikian Indonesia adalah milik semua dan manfaatnya
dirasakan oleh semua pihak tanpa kecuali.
Kesimpulan: Pancasila sebagai Dasar Filsafat bangsa Indonesia sesungguhnya
bersumber dari paham ke Illahi an. Pancasila berangkat dari hubungan antara
unsur Tuhan (Nur Muhammad) dengan Jasad Manusia yang manunggal (”persatuan”).
Dan dalam rangka kepentingan manusia seutuhnya maka perlu diatur dengan model
Permusyawaratan/Perwakilan. Sehingga Keadilan bisa dirasakan oleh segenap
elemen yang ada dalam tubuh manusia.
Kemang Utara 33B, Jakarta Selatan, 19 Juni 2009.
Mayjen TNI (Purn) Saurip Kadi
1 Penulis buku Mengutamakan Rakyat, Mayjen TNI (Purn) Mantan Aster Kasad.
2 Menembus Batas, bagian Wawancara Dengan Mayjen TNI Saurip Kadi
[Non-text portions of this message have been removed]