LENYAPNYA SANG KHALIFAH, 
PUDARNYA BANGSA, 
SIRNANYA NEGARA 


Oleh: Mayor Jenderal TNI (Purn) Saurip Kadi1 


Allah tidak ada disana (menunjuk langit), Allah ada disini (menunjuk dada). 
Karena dalam tubuh kita bersemayam Allah, maka ketika melihat ada manusia 
menistakan dirinya dengan perbuatan-perbuatan yang tidak sepatutnya mendapat 
gelar sebagai khalifah, kita perlu kasihan kepadanya, karena Allah bersemayam 
pada jasad yang begitu nista. Sedih rasanya ketika ada orang yang melecehkan 
Allah sepertinya Allah tidak lagi Maha Mendengar, tidak lagi Maha Tahu, tidak 
lagi Maha Pemurah dan sepertinya Allah begitu pelit. Mereka yang begini, 
sesungguhnya karena pembodohan yang terus berlanjut dari para penyebar agama, 
sehingga iman tempatnya tidak lagi di perbuatan. Penghafal ayat, apalagi yang 
berlatar belakang imbalan, kok kemudian disamakan dengan ketinggian iman 
seseorang. 2 


“Manunggaling Kawulo Gusti” 
Adalah kekeliruan yang mendasar kalau kita membicarakan topik “Manunggaling 
Kawulo Gusti” seolah kita membicarakan sesuatu yang berada diluar wilayah 
agama. Hal ini terjadi karena pemahaman agama yang selama ini berkembang 
bukanlah agama (DIN) dalam artian ajaran Tuhan, tapi lebih sebagai kelompok dan 
simbol. Apalagi kalau dalam membaca ajaran lebih sebagai tekstual dan jauh dari 
kontekstual. Lebih parah lagi ketika pendalaman ayat-ayat yang bersifat 
perumpamaan (Jawa: sanepo) atau isyarah, kemudian dibaca sebagai bahasa 
manusia. Padahal dalam masalah akidah ayat-ayat yang diwahyukan justru dalam 
bentuk isyarah-isyarah atau “sanepan” (petunjuk yang disamarkan). Maka ketika 
ayat-ayat tersebut dibaca secara harfiah semata, agama kemudian kehilangan 
”api”-nya, kehilangan semangatnya. Sehingga dalam realitanya agama kemudian 
tidak bisa menjawab tuntutan dan tantangan jaman. 
  
Bicara “Manunggaling Kawulo Gusti”, Al Qur’an memberi penjelasan yang begitu 
mudah dipahami, sebagaimana diwahyukan dalam Surat 2 (Al Baqarah) Ayat 30 
(Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ”Sesungguhnya Aku 
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”, Mereka berkata: ”Mengapa 
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat 
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih 
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau”; Tuhan berfirman: ”Sesungguhnya Aku 
Mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Ayat ini kalau dirangkai dengan ayat 
31, 32, dan 34 dari Surat yang sama maka jelas posisi sebagai kholifah langsung 
diakui oleh para Malaikat, yaitu setelah Tuhan sendiri yang membuktikannya. Hal 
ini dijelaskan dalam ayat 33 Surat yang sama, Allah berfirman: ”Hai Adam, 
beritahukan kepada mereka nama-nama benda ini” Maka setelah diberitahukannya 
kepada mereka nama-nama benda
 itu, Allah berfirman: ”Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya 
aku mengetahui rahasia langit dan bumi, mengetahui apa yang kamu lahirkan dan 
apa yang kamu sembunyikan”. 
  
Satu masalah yang mendasar yang perlu kita gali dari ayat 33 Surat ke 2 ini 
adalah sebutan ADAM bagi sang kholifah. Karenanya kita perlu mengkaji apa, 
siapa, mengapa dan bagaimana ADAM itu terlebih dahulu. Dalam Al Qur’an sudah 
dijelaskan bahwa manusia dibuat dari lumpur hitam yang diberi bentuk dan 
kemudian disempurnakan. Bahasa tersamar ”disempurnakan” sesungguhnya sudah 
dijelaskan dalam bagian lain Al Qur’an bahwa Tuhan telah meniupkan Roh alias 
Nur Muhamad alias Rohul Kudus kedalam Janin. Disinilah dua komponen yaitu Jasad 
dan Roh yang tadinya terpisah telah menyatu. Kondisi ini terus berlangsung saat 
bayi lahir didunia. Yang pasti sang bayi dalam beraktifitas hanyalah 
dikendalikan oleh naluri atau instink dan Roh itu sendiri. Saat itu sang 
manusia awal (pertama) belum menggunakan logika dan apalagi ilmu pengetahuan. 
Namun ia hidup dalam kebahagiaan, ia tidak pernah berpikir mencari makan 
apalagi kekayaan, tapi saat menangis karena lapar atau
 karena menggigil kedinginan, semua orang, siapapun ia yang melihat pasti akan 
mengulurkan bantuan, mendatangkan apa yang ia inginkan. Gambaran yang seperti 
inilah yang diceritakan sebagai kehidupan ADAM yang berada di sorga. Dengan 
kata lain, sebutan ADAM sesungguhnya diperuntukan oleh setiap manusia diawal 
kehidupan mereka masing-masing, yaitu sejak ia berada dalam rahim ibu saat Roh 
ditiupkan (umur 110 hari) sampai umur tertentu (kurang lebih sang bayi berumur 
20 bulan). Artinya dialog antara Malaikat dengan Tuhan tersebut sama sekali 
bukan latar belakang kejadian manusia pertama yang diciptakan Tuhan saja, tapi 
latar belakang untuk semua manusia, karena dalam dialog tersebut jelas-jelas 
malaikat menyebut sudah ada manusia. 
  
Dengan kata, lain Adam adalah kondisi menyatunya unsur jasad yang dilengkapi 
dengan nurani atau instink dengan Roh, tanpa dipengaruhi unsur lain atau 
kepentingan apapun yang berasal dari sumber lain. Roh itu sendiri banyak 
sebutannya, dalam Al Qur ‘an disebut juga dengan istilah Nur Muhammad, atau 
Rohulkudus, dan dimasyarakat Jawa dikenal dengan istilah “Manungso Sejati”. 
  
Untuk itu kita perlu mendalami ayat 35 dari Surat yang sama, disana Tuhan 
Berfirman: 
”Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah 
makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai dan 
njanganlah kamu dekati pohon ini (kuldi), yang menyebabkan kamu termasuk 
orang-orang yang Zalim”. 
Dalam ayat ini disebut istilah istrimu, makanan-makanan yang banyak, dan pohon 
kuldi. Untuk itu kita harus kaitkan dengan ayat lain yang menjelaskan tentang 
istilah-istilah tersebut. 
  
Kuldi; Dalam proses selanjutnya sang Adam yang juga sebagai kholifah diberi 
batasan dengan jelas oleh Allah untuk tidak mendekat ke pohon kuldi agar engkau 
tidak termasuk orang-orang yang Zalim. Gambaran ini sesungguhnya terkait dengan 
pertumbuhan jasad/organ sang bayi yang kemudian berkembang. Alat kelengkapan 
Jasad ini antara lain nafsu dan juga akal yang melahirkan keinginan dan bahkan 
keserakahan serta ketamakan. Ketika masih Adam, ia makan secukupnya, setelah 
ada nafsu ia kemudian berkehendak untuk memperoleh lebih dari yang ia butuhkan. 
Ia kemudian berkeinginan untuk mendapatkan lebih banyak dari pada yang 
seharusnya. 
  
Makanan-makanan yang banyak; Karena surga bukanlah sebuah tempat secara phisik 
keduniawian, atau phisik lahiriyah, tapi kondisi yang penuh kebahagiaan 
semuanya serba menyenangkan. Maka yang dimaksud makanan disini sama sekali 
bukan berarti masakan ataupun buah-buahan. Makanan yang banyak adalah ilustrasi 
untuk menggambarkan bahwa banyaknya pilihan terhadap informasi, ilmu 
pengetahuan, suasana yang menyenangkan seperti pemandangan, dan semua hal yang 
mengkait dengan kebutuhan non phisik. Makanan yang dimaksudkan adalah makanan 
jiwa atau makanan bathin. 
  
Budak; Tuhan melalui agama apapun melarang perbudakan. Tanpa memahami apa yang 
tersirat dalam istilah budak maka ayat ini sama artinya Tuhan membenarkan 
bahkan melanggengkan perbudakan. Maka dipastikan dalam ayat ini yang dimaksud 
budak bukanlah artian manusia sebagai budak. Tapi semua kekuatan apapun yang 
bisa menghambakan kepada manusia. Bisa jadi yang dimaksudkan budak disini 
adalah Jin, ataupun kekuatan supra natural apapun yang bisa diperbudak oleh 
manusia. 
  
Istri; Istilah ini dijumpai dalam Surat 4 (An Nisaa’). Dalam ayat 3 antara lain 
dijelaskan: kawinilah 2, 3, atau 4 minimal 1 atau budak-budak yang kamu miliki. 
Ayat ini tidak didahului Hai laki-laki (pada ayat pertama Surat An Nisaa malah 
disebut Hai manusia, sama sekali bukan Hai Laki-Laki) artinya ayat ini adalah 
untuk manusia tanpa pandang jenis kelamin dan umur.. Perintah Tuhan dalam ayat 
ini juga langsung untuk kawinilah 2, 3, dst...; bukan: 1, 2, dst. Artinya, 
istilah kawin disini sama sekali bukan persoalan nikah antara laki dan 
perempuan untuk membentuk rumah tangga. Kawin disini adalah persoalan hubungan 
antara jasad manusia yang sifatnya lahiriyah dengan unsur-unsur non phisik 
mulai dari nafsu, dan sifat-sifat lainnya yang kategorinya bathiniyah. Maka 
kalau sang Jasad ini tidak bisa berlaku adil terhadap sifat-sifat Allah yang 
Yatim (Tidak punya Bapak dan Ibu yaitu Tuhan itu sendiri) dan yang ke ”ibu ”an 
(perempuan/ umi), maka kawinilah 2
 yaitu Amarah dan Lamawah (marah dan Sabar), 3 Mutmainah atau 4 yaitu ditambah 
dengan Sofiah, atau minimal satu yaitu Nur Muhammad itu sendiri ya Rohul Kudus, 
ya “Manungso Sejati” itu sendiri. Maka menjadi masalah yang serius, ketika ada 
manusia yang beragama tertentu, kemudian melupakan bahwa dalam manusia yang 
kebetulan beda agama dianggap mereka tidak punya Nur Muhammad yaitu Utusan 
Allah dalam diri mereka. Apalagi dengan justifikasi atau bahkan mengkondem yang 
menegasikan peran Roh utusan Tuhan yang ada dalam diri mereka. 
  
Pokok Persoalan yang perlu kita dalami adalah bagaimana perjalanan sang 
Khalifah, yaitu Adam itu sendiri yang kemudian terjerumus dalam Zalim karena ia 
tidak hanya mendekati pohon Kuldi, tapi bahkan memakan buahnya. Maka ia 
akhirnya telah kehilangan sorga, ia telah diturunkan ke bumi, sebuah kehidupan 
nyata. Apakah setelah ia turun ke bumi berarti tidak lagi ADAM? Dari 
perkembangan jasad manusia setelah ia melewati umur kurang lebih 20 bulan 
apalagi setelah akhil balik dan kemudian menjadi remaja dan dewasa, jelas ia 
bukan Adam lagi. Namun ia bisa saja menjadi Adam yaitu saat ia bisa 
meninggalkan semua keinginan, kemauan dan apalagi keserakahan, dalam bentuk 
perilaku yang hanya hanya didasari pada dua unsur yaitu Nurani atau Instink 
(sebagai bagian dari Jasad manusia) dengan Nur Muhamad saja. Maka siapapun yang 
bisa melepas semua semua sifat-sifat nafsu, keserakahan, dan ketamakan 
sesungguhnya ia Adam. Hal yang demikian banyak diisyaratkan dalam sejumlah
 ayat Al Qur’an. Saat ia bisa melepaskan semua kepentingan, keinginan, dan 
semua tuntutan hawa nafsu, maka saat itulah ia dalam posisi ”Manunggaling 
Kawulo Gusti”. Pertanyaannya kapan ia bisa masuk pada kondisi ”Manunggaling 
Kawulo Gusti”? Maka disini Al Qur’an menjelaskan dengan bahasa ”sanepan” atau 
perumpamaan. Yang pasti tidak mungkin unsur Tuhan yang ada pada tubuh manusia 
akan ”jumeneng” kalau peran jasad sendiri yang dikendalikan oleh nafsu, logika 
dan ilmu pengetahuan sangat dominan dari peran ROH itu sendiri. Ia otomatis 
akan eksis ketika sang Jasad dimatikan, maka dikenal dengan istilah ilmu Tuhan 
adalah 1 dan 0. Ia akan eksis (1) ketika sang Jasad bisa mati (nol=0). Maka 
disana Ibrahim kemudian menyembelih Ismail. Ayat ini adalah ”sanepan”, ketika 
Ismail yang pandai tetapi tidak menggunakan peran Nur Muhammad atau ’Manungso 
Sejati’ itu sendiri. Namun demikian untuk sampai kepada kehidupan yang mampu 
memerankan
 keberadaan Rohulkudus itu sendiri, ia haruslah Islam atau takwa, yaitu tunduk 
patuh. Tunduk patuh terhadap aturan Allah itu sendiri, dalam artian perilaku 
manusia ini haruslah yang sesuai dengan hukum yang telah digariskan oleh Tuhan 
yang Maha Esa, baik yang tertulis maupun yang tersebar di alam nyata ini. 
Tidaklah mungkin Wakil Tuhan akan eksis atau ”Jumeneng” ketika tubuh manusia 
ini tidak memberi kesempatan untuk Ia berperan. Ibarat keris dan ”warongko” 
(rumah atau sangkar keris), maka kemanunggalan keduanya baru akan terwujud 
ketika ukuran warongko dan bilah keris itu sendiri cocok. Sebagai utusan Tuhan 
(Rosul) sang Muhammad yaitu Dzat yang hanya berperilaku baik, tidak mungkin 
akan Jumeneng pada jasad yang perilakunya tidak baik, kotor dan apalagi jahat. 
Semakin jauh dari perilaku baik, maka peran Muhammad yaa sang Rosul itu sendiri 
makin redup. Rosul sendiri adalah sebutan penyampai wahyu, wahyu adalah 
kebenaran. Tugas menyampai kebenaran
 dalam bahasa Jawa disebut Guru. Maka peran penyampai wahyu dalam bahasa Jawa 
disebut sebagai ”Guru Sejati”. Persoalan menjadi ruwet, ketika kita menggunakan 
istilah Rosul berarti Islam, tapi kalau menggunakan istilah ”Guru Sejati” akan 
di sebut Kejawen. 
  
Kesimpulan: 
”Manunggaling Kawulo Gusti” hanya akan diwujudkan oleh orang-orang yang 
berperilaku baik, yang mampu mengesampingkan tuntutan nafsu apapun, hasil olah 
pikir apapun (logika), ataupun ilmu pengetahuan yang manapun dan hanya 
menyandarkan pada kekuatan dua yang satu, yaitu kekuatan Nur Muhamad dengan 
unsur jasad yaitu Naluri atau instink semata. 
Catatan: 
Bagi yang tidak setuju dengan penjelasan ini, mohon kita kembali kepada Surat 
75 (AL Qiyamah) ayat 16 sampai dengan 19. Disana dijelaskan bahwa hanya Tuhan 
yang menjamin kebenaran atas penjelasan Ayat-ayat Al Qur ’an. Tapi Ia pula yang 
menjamin seseorang untuk bisa mengartikan ayat-ayat ”sanepan” ini. Karenanya 
kebenaran harus dikembalikan kepada Al Qur’an yang telah ditiupkan kedalam dada 
setiap orang, artinya janganlah keyakinan hanya karena kata sesorang termasuk 
kata penulis dalam uraian ini. 


Pancasila Pakeming Ngaurip. 
Pancasila yang kita kenal dalam Pembukaan UUD-45 sesungguhnya juga ilmu yang 
berasal dari paham ke Ilahian. Karenanya ia bukan hanya Dasar Negara, tapi ia 
juga pakem atau aturan Dasar bagi kehidupan manusia (Pekeming Ngaurip).. Maka 
menjadi sangat tepat ketika Panitya mengangakat masalah dua hal yang terkait 
secara langsung yaitu Manunggaling Kawulo Gusti dan Pancasila Pakeming Ngaurip. 
Karena Pancasila berasal dari paham ke Illahian atau ketahuidan yang sudah lama 
berkembang dibumi Nusantara, maka datangnya juga dari sang Pencipta, maka 
Pancasila pasti akan diterima atau cocok dengan agama apapun. Untuk itu kita 
perlu medalami sila demi sila. 
Sila Pertama: Ketuhanan. Pancasila menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai 
sila pertama. Hal ini sama dan sebangun dengan pemahaman yang dijelaskan dalam 
Al Qur’an, dimana asal kejadian manusia berangkat dari Sirrullah (Kehendak 
ALLAH). Disisi lain faktor yang membedakan antara manusia dengan mahluk lain 
adalah persoalan adanya ROH, Nur Muhamad , Rohul Kudus, atau ”Menungso Sejati” 
yang terkadang pula disebut Rosullulloh atau ”Guru Sejati”. 
Sila Kedua: Kemanusiaan. Dalam kehidupan manusia faktor kedua yang memegang 
peranan yang menentukan dalam merealisasikan kehendak atau keinginan Tuhan 
adalah manusia. Maka persoalan komponen jasad manusia, adalah penentu. Komponen 
jasad bisa berupa phisik kebendaan maupun yang non phisik seperti logika, 
instink, ilmu pengetahuan. Kehendak Allah sendiri tidak akan pernah menjelma 
kecuali melalui keberadaan manusia. Disanalah maka posisi antara keris dan 
”warongko” dalam posisi yang sejajar. Maka manusia dan Tuhan dalam kedudukan 
yang egaliter. Menjadi wajar kalau manusia ketika menyebut Tuhan cukuplah 
dengan sebutan Ia, Kamu, Mu atau Nya, bukan dengan sebutan Paduka, Yang Mulia, 
atau Beliau dan sejenisnya. 
Sila Ketiga: Persatuan. Makna Persatuan disini adalah menyatunya antara 
komponen jasad yang terbuat dari tanak liat yang diberi bentuk dengan Roh yang 
ditiupkan kedalam janin jabang bayi ketika masih berada dalam kandungan sang 
ibu, sehingga ia sempurna. Dua yang satu ini yang membentuk senyawa yang 
disebut manusia. Tubuh manusia tanpa roh tidak lagi disebut manusia. Sebaliknya 
Roh tanpa tanpa jasad manusia, juga bukan manusia. Kesempurnaan jasad manusia 
adalah sejak ditiupkan Roh atau Nur Muhammad yang bertindak mewakili Allah 
Tuhan Yang Maha Kuasa itu sendiri, sampai keluarnya Roh itu dari tubuh / Jasad 
manusia. Peran manusia sebagai kholifah atau wakil Tuhan di dunia, sekaligus 
sebagai penampakan Tuhan akan menjadi Adam kembali ketika persatuan antara 
Jasad dengan Manungso Sejati betul-betul tunggal, tidak terdistorsi oleh peran 
komponen apapun yang berasal dari jasad manusia, baik berupa nafsu, keinginan, 
logika, ataupun ilmu pengetahuan. 
Sila Keempat: Kerakyatan. Keberadaan manusia yang terdiri dari dua komponen 
yang menyatu tersebut sesungguhnya diarahkan untuk kepentingan seluruh organ 
manusia. Karenanya seluruh bagian tubuh harus terkodinir dan diatur dengan 
persamaan hak, disanalah maka konsep dasarnya bisa dengan permusyawaratan yaitu 
ketika seluruh tubuh manusia harus disinergikan secara keseluruhan (total) atau 
cukup diwakili (Perwakilan) oleh organ-organ tertentu yaitu ketika makan, rasa 
enak hanya diwakili oleh unsur lidah, bernafas diwakili oleh komponen hidung, 
saluran pernafasan dan paru-paru namun proses selanjutnya melibatkan seluruh 
organ manusia tanpa kecuali. Disanalah maka peran dipimpin oleh hikmah 
kebijaksanaan yaitu oleh unsur kebenaran dan kejujuran menjadi kata kunci. 
Sila Kelima: Keadilan Sosial. Hal yang mendasar dalam proses kehidupan manusia 
adalah pentingnya keadilan sosial, yaitu manfaat dari kerja tubuh manusia baik 
oleh organ tertentu ataupun secara keseluruhan sesungguhnya bermanfaat untuk 
semua organ manusia tanpa kecuali. Memang betul lidah yang mewakili enaknya 
rasa makanan, tapi manfaat yang diperoleh Lidah, bisa dinikmati oleh semua 
organ manusa secara keseluruhan. Sebagai satu kesatuan organis sesungguhnya 
secara keseluruhan organ manusia adalah rangkaian tertutp yang saling 
berinteraksi. 


Dari gambaran ke Illahian yang berproses dalam tubuh manusia sebagaimana 
penjelasan diatas, maka menjadi wajar kalau Pendiri Republik ini khususnya Bung 
Karno menjadikan Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia. 
Persoalan yang kemudian timbul adalah perubahan obyek dan juga subyek dari 
proses Pancasila, yang semula ada pada tubuh Manusia diganti menjadi negara dan 
bangsa yang notabene bukan benda hidup atau mahluk yang ”disempurnakan”. 
Disanalah kepincangan dirasakan sejak awal kemerdekaan, karena Pancasila dalam 
kontek ber negara belum dilengkapi dengan instrumen, bagaimana negara dan 
bangsa ini menjalankan Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil Dan 
Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmah 
Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan / Perwakilan dan Keadilan Sosial Bagi 
Seluruh Rakyat Indonesia. Belum siapnya instrumen untuk menjalankan kelima sila 
Pancasila, disamping mengandung kelemahan tetapi juga membawa hikmah yang luar 
biasa besarnya, yaitu ketika generasi penerus segera menyiapkan perangkat atau 
instrumen berupa penjabaran sila-sila Pancasila kedalam batang tubuh UUD, 
sehingga setiap penyelenggara negara siapapun dan dengan
 ideologi apapun Presiden pemenang Pemilu akan menjadikan nilai-nilai Pancasila 
sebagai Landasan Operasional bagi segenap penyelenggara negara dan juga segenap 
warga negara. Sudah barang tentu setiap generasi juga mempunyai hak untuk 
merevisi jabaran sila-sila Pancasila dalam batang tubuh UUD tersebut, sesuai 
dengan tuntutan jaman masing-masing. Sehingga Pancasila akan selalu aktual. Dan 
kunci semua itu letaknya pada kesetaraan negara terhadap setiap anak bangsa, 
kelompok, golongan, etnis, agama, daerah dan juga budaya atau kearifan lokal. 
Dengan demikian kedepan negara tidak terlibat dalam ataupun membiarkan 
pendholiman antar manusia, kelompok, etnis, golongan dan juga agama apapun dan 
oleh siapapun. Dengan demikian Indonesia adalah milik semua dan manfaatnya 
dirasakan oleh semua pihak tanpa kecuali. 
Kesimpulan: Pancasila sebagai Dasar Filsafat bangsa Indonesia sesungguhnya 
bersumber dari paham ke Illahi an. Pancasila berangkat dari hubungan antara 
unsur Tuhan (Nur Muhammad) dengan Jasad Manusia yang manunggal (”persatuan”). 
Dan dalam rangka kepentingan manusia seutuhnya maka perlu diatur dengan model 
Permusyawaratan/Perwakilan. Sehingga Keadilan bisa dirasakan oleh segenap 
elemen yang ada dalam tubuh manusia. 


Kemang Utara 33B, Jakarta Selatan, 19 Juni 2009. 
Mayjen TNI (Purn) Saurip Kadi 

1 Penulis buku Mengutamakan Rakyat, Mayjen TNI (Purn) Mantan Aster Kasad.


2 Menembus Batas, bagian Wawancara Dengan Mayjen TNI Saurip Kadi




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke